MISTERI PERJODOHAN MASA LAMPAU

MISTERI PERJODOHAN MASA LAMPAU
Minta jaminan untuk tanda pengikat


__ADS_3

Malam ini Dera bisa tidur dengan nyenyak, mungkin karena ia capek di perjalanan tadi. Tapi berbeda dengan Aran yang hanya berkedip- kedip di atas ranjang besarnya itu. Ia masih bingung bagaimana ia akan tahu siapa sebenarnya Dera itu. Tak mungkin ia akan mengutarakan apa yang ia ketahui barusan. Dengan ponsel pintarnya akhirnya ia menemukan apa yang bisa memikat Dera. Tak sabar dengan esok hari akhirnya ia memutuskan untuk memejamkan matanya agar esok ia bisa lebih rileks kembali dengan pikiran yang lebih jernih.


Bayangan betapa sibuknya di tempat konveksi saat ini terlihat jelas karena permintaan dari berbagai daerah yang mendesak. Dibantukan oleh ratusan pegawai akhirnya konveksi Aran bisa berkembang pesat seperti saat ini. Pahala ia dulu hanya bermodalkan tekad dan keyakinan yang akhirnya bisa membuat ia seperti ini. Sekarang apa yang ia inginkan sedikit begitu mudah ia dapatkan selain masalah hati yang tak bisa ia isi dengan sosok siapapun.


Adzan subuh Dera bangun dan langsung melakukan aktivitas yang ia bisa lakukan. Sambil memperhatikan semua posisi tempat ia sekarang berada, ia mulai bisa mengenal setiap ruangan yang ada di dalam rumah besar itu. Setelah selesai membersihkan semua ruangan ia langsung menuju ke dapur dan mencari bahan makanan yang tersedia di almari pendingin. Ya namanya hidup sendiri semua yang ada didalam kulkas itu hanya makanan cepat saji yang mungkin tinggal di panaskan saja. Kalau Aran mungkin tahu bagaimana makanan itu bisa di olah lagi tapi tidak dengan Dera yang akhirnya hanya mengambil seikat bayam yang sudah sedikit layu dan tempe saja. Pikirannya hanya pada sup bayam dan tempe garit seperti menu yang setiap hari ia hidangkan untuk Teo sang anak kesayangan.


Karena yang begitu fasih masak semuanya matang tak butuh berjam-jam, Dera sering melakukan hal itu. Harum masakan bisa menyerbu Indra penciuman yang ada di sekitar rumah Aran, apalagi Aran yang masih tertidur. Tak pernah ia merasa hari seperti ini setelah 3 tahun yang lalu. Walaupun ia sering belanja sayuran segar setiap seminggu sekali, tapi pasti akan berakhir di tempat sampah saja. Berbeda dengan hari ini ia yang terbangun karena harum masakan langsung turun ke dapur untuk mencari tahu apa yang bisa seharum ini. Langkah demi langkah akhirnya ia tiba di ruangan dimana Dera masih sibuk menata piring di meja makan.


" Kok piringnya hanya satu Dera? 'Kan kita berdua disini". Ucapan Aran yang mengagetkan Dera. Posisi Dera yang membelakangi Aran membuat ia kaget setengah sadar.


" Kan Dera makan di dapur aja mas, gak enak jika makan ikut di meja makan". Sambil menoleh ke arah lawan bicaranya ia menjawab seperti itu. Rasanya tak pantas ia duduk di meja makan bersama orang baik yang sudah menolongnya semalam.


" Aku ingin ada teman makan Dera, aku sudah sering makan sendiri ijinkan aku merasakan makan bersama. Oya ambilkan aku teh hangat biar aku langsung makan saja, sepertinya masaknya enak sampai aku saja terbangun", ucapan Aran yang langsung di lakukan Dera. Karena Aran yang sudah duduk di kursi saat ini. Sambil duduk dan melamun akhirnya ia mengamati setiap gerakan gerik Dera. Tak sabar ia ingin meminta apa yang tadi malam ia mau. Sampai akhirnya ia lupa jika Dera yang tiba dengan segelas teh pun sudah ada didepannya.

__ADS_1


" Mas kok pagi-pagi sudah bengong sih, pamali lho nanti pasti ada yang bikin mas marah". Ucapan Dera yang asal keluar saja. Ya itu emang perkataan ibunya jika melihat Dera bengong di pagi hari.


" Eh, mana piring kamu kita makan bareng ya aku udah lapar", perintah Aran yang membalik piring yang ada didepannya itu tanpa menanggapi ucapan Dera yang akan membuatnya salah tingkah. Akhirnya Dera makan bersama Aran di meja makan itu sambil mengambilkan apa yang Aran ingin makan. Tak terasa suapan demi suapan telah termakan habis oleh Aran. Ia mengagumi keahlian Dera dalam memasak.


Hingga Dera yang melihat hal itu sedikit bingung pasalnya tadi Sore mereka makan bersama juga. Tapi mas Aran makannya sampai seperti ini. Apakah karena lapar atau apa sehingga sang laki-laki makan begitu lahapnya.


" Oya Dera aku minta sesuatu yang bisa buat jaminan kamu kerja disini. Bukanya aku tak percaya padamu tapi aku hanya ingin lebih hati-hati saja. Apa yang masih dapat kamu jaminkan padaku agar aku percaya padamu?", entah pikiran apa Aran langsung terbuka pada Dera. Berharap apa yang tadi malam inginkan terwujud hari ini.


" Tapi mas aku tak ada apapun untuk aku jadikan jaminan. KTP, kartu pengenal yang aku punya hilang ikut didalam dompet itu. Oya hanya ada satu yang masih ada di dalam koper masih ada Ijasah SMA aja, apa itu bisa baut jaminan aku disini mas?", tanpa curiga Dera menjawab itu semuanya. Ia juga akan memberikan jika itu mampu untuk ia jadikan jaminan.


Akhirnya Dera pergi ke kamarnya untuk mengambil ijazah yang ia bawa itu. Pas ia ingin menyerahkan barang itu pada Aran Dera sengaja menarik ijazah itu lagi seolah-olah ia tak jadi menyerahkan pada Aran. Sampai Aran yang akan mengambilnya langsung melirik wajah ayu Dera.


" Kenapa di tarik lagi? ,kemarahan Aran yang tak jadi mengambil ijazah Dera nampak jelas oleh Dera saat ini. Jangan buat aku marah ya Dera. Sentak Aran takut akan di permainan Dera yang tak jadi menyerahkan barang itu.

__ADS_1


" Aku boleh pinjam ponsel mas, aku ingin mengabari Ayah Ibuk sama Teo mas. Seperti anak kecil yang merengek, Dera terlihat imut di mata Aran yang entah kenapa tak jadi marah karena ulah Dera saat ini.


" Boleh tapi siapa saja yang kamu sebutkan tadi?. Ayah, ibu dan Teo, ulang Aran penasaran pada Teo. Siapa Teo sebenarnya", tanyanya sambil melihat ke arah Dera.


" Iya kami dulu hidup berempat mas, dan Teo adalah anakku", jawabnya sambil mengambil ponsel yang diserahkan dari Aran tadi. Karena tak sabar akhirnya Dera langsung mengabari keluarganya tanpa melihat ekspresi wajah Aran yang seperti kaget karena baru tahu jika Dera sudah memiliki anak.


Karena kenyataannya yang baru ia ketahui membuatnya marah sampai-sampai Aran mengambil ijazah yang dibawa Dera tadi dengan kasar dan membawanya ke kamar tanpa membaca apa yang jadi tujuannya itu. Dan tak ingin ikut mendengarkan percakapan Dera dengan keluarganya. Dengan rasa marahnya Aran langsung mandi dan bersiap untuk ke pabrik konveksinya. Apalagi ini hari pertama ia akan ajak Dera ke pabriknya agar tak terlambat nantinya. Sedangkan Dera masih bercakap-cakap dengan keluarganya. Pas Aran tiba dalam keadaan sudah rapi Dera juga ternyata baru selesai membersihkan meja makan dan mencuci piringnya.


" Ayo siap-siap, kamu aku ajak ke pabrik aja biar bisa sambil kerja di sana nantinya. Kamu pasti akan mengirim uang untuk keluarga kamu juga kan". Aran tak ingin terlihat seperti berbeda pada Dera maka ia hanya bisa mengucapkan itu padanya. Dera yang memang sudah mandi dari tadi pagi langsung mengikuti langkah Aran untuk pergi ke konvensinya. Ada rasa bahagia setelah Aran mengucapkan kata mengirimkan uang untuk keluarganya.


Akhirnya keduanya sampai di pabrik konveksi itu. Dera yang keluar dari mobil bos mereka menjadi pusat perhatian semuanya. Waktu di mana semuanya baru absen pakai sidik jari di depan pos satpam. Apalagi baru kali ini semuanya melihat wanita yang bosnya ajak itu.


" Cantik.."

__ADS_1


kata semua karyawan laki-laki yang ada di situ. Dera terlihat seperti masih gadis dan belum terlihat jika Dera sudah memiliki anak. Tapi untuk para pekerja wanita semuanya penasaran hubungan apa mereka berdua karena setau mereka bosnya orang yang tak langsung bisa terbuka jika dengan lawan jenisnya. Apalagi ini sampai sedekat dalam satu mobil.


Walaupun banyak pasang mata yang melihat ke arah Dera tapi ia nampak biasa sambil senyum pada semaunya. Tak mau dianggap sombong ia menyapa satu demi satu yang melihat padanya. Berbeda dengan Aran yang nampak tak suka dengan ulah para pekarjanya yang hanyalah memperhatikan wanita yang ia ajak satu mobil tadi. Dengan menarik tangan Dera akhirnya Aran bisa mengajak Dera masuk ke ruangannya saja. Biar dia juga biasa memberitahukan pada semuanya agar tak usah sok tahu urusan pribadinya itu.


__ADS_2