MISTERI PERJODOHAN MASA LAMPAU

MISTERI PERJODOHAN MASA LAMPAU
Dera yang mencari pekerjaan


__ADS_3

Dera yang siang ini di tinggalkan oleh Santi untuk bekerja langsung cuci muka dan bersiap untuk pergi mencari pekerjaan. Ia tak mau menyusahkan Santi terlalu lama. Apalagi jika Dera dan Santi sering bersama akan membuat Santi tahu jika dirinya sedang hamil. Dera menghindari itu semua jangan sampai kedua orangtuanya juga akan tahu hal itu.


Dengan mengganti bajunya Dera langsung berjalan ke luar untuk mencari informasi yang ia cari. Jangan sampai ia hanya berpangku tangan nantinya. Hingga akhirnya Dera berjalan dari ruko satu ke ruko selanjutnya dan melihat papan pengumuman tentang lowongan pekerjaan. Karena ia tak punya ponsel dan ijazah yang di sita oleh Aran maka akan sulit baginya untuk melamar kerja di pabrik atau toko besar.


Dengan pertimbangan itu Dera akhirnya memilih pekerjaan yang sekiranya ia bisa lakukan untuk menanggung hidupnya lagi. Pekerjaan yang halal tanpa harus ia menjual diri. Hidup di kota Jakarta ia tahu sangat tak mudah baginya maka ia harus melakukan apapun untuk menyambung hidupnya. Dengan pelan-pelan Dera berjalan akhirnya ia menemukan apa yang ia cari. Sambil minum teh hangat ia membaca selembar yang tanpa sengaja ia temukan di bungkus nasi kucing. Karena uangnya tinggal sedikit ia memilih jajan di angkringan yang sedikit harga terjangkau. Memesan teh hangat satu dan 2 goreng masih bisa Dera bayar dengan 5 ribu saja. Karena penasaran akhirnya Dera membaca lagi alamat lengkap pekerjaan yang ia baca tadi.


"Pak kalau jalan Pramuka no 78 itu arahnya mana ya pak?", Dera bertanya pada pak penjual angkringan itu.


"Ya gak jauh sih neng paling tinggal beberapa ruko langsung putar arah aja kalau jalan kaki, tapi kalau pakai mobil atau motor harus putar balik lagi".


"Ya udah pak makasih ya, berapa habis saya pak?"


Setelah membayar makanan Dera tadi langsung berjalan ke arah dimana ia di tujukan tadi. Walaupun ini baru pertama lewat jalan ini tapi Dera yakin jika ia tak akan hilang arah karena ia sudah menuruti apa ucapan bapak tadi. Tapi pas ia mau nyebrang jalan alangkah ia terkejutnya karena ia tak menengok kanan kiri dulu. Ada mobil yang sedang melaju di depannya saat ini.


"Chit,,


Terdengar keras mobil itu sedang mencoba menghentikan laju mobilnya. Orang yang ada di sekitar situ langsung memijit ke arah timbulnya suara. Dan Dera yang menutup matanya itu langsung duduk tak berdaya. Walaupun ia tak sampai di tabrak tapi Dera sangat kaget dengan apa yang ia alami. Entah pikiran kosong ia menyebrang atau mobil itu yang maju dengan cepat.


Penumpang yang ada di mobil langsung keluar dan mendekati Dera, memegang pundak Dera agar ia bisa melihat ke arah lawan bicaranya.


"Kamu gak apa-apa kan sayang?", suara wanita yang sedikit sudah usia senja. Karena terlihat dari cara berpakaian pun sepertinya orang yang anggun sekali.


"Iya Ibuk mungkin saya hanya syok saja".


"Ya udah kita cari minum dulu buat kamu biar lebih tenang ya". Ibuk itu langsung menuntun Dera untuk berdiri.

__ADS_1


"Sudah buk, saya barusan saja minum. Saya lanjutkan jalan saya saja buk, permisi" dengan ramah Dera langsung menundukkan badannya untuk berpamitan.


"Hati ya nak, maaf in supir saya sudah membuatmu kaget seperti ini". Rasanya ia harus memberikan uang untuk tanggung jawab ke orang yang hampir ia tabrak tapi keburu orang itu pergi dan tasnya juga ada di mobil. Dengan bujukan untuk minum dulu saja juga Dera tolak apalagi ingin memberikan uang pastinya Dera tak mau menerimanya.


Setelah kepergian Dera ibuk tadi hanya mematung dan menatap ke arah Dera pergi tanpa ada niat untuk menyusulnya lagi. Karena sedang ada urusan akhirnya sopir tadi langsung menegur bosnya untuk melanjutkan perjalanan pulang lagi.


*****


Sedangkan Dera yang berjalan sedikit lambat karena masih berdebar-debar pun langsung duduk di trotoar jalan sambil meratapi nasibnya. Entah apalagi yang akan ia rasakan kenapa ini terjadi padanya. Mung sekitar 15 menit Dera istirahat karena perutnya sedikit kram. Takut kemalaman untuk pulang akhirnya Dera langsung berjalan lagi untuk menuju ke alamat tadi yang ia baca. Akhirnya Dera menemukan alamat itu dengan cepat. Karena toko yang sedikit rame akhirnya Dera pelan-pelan masuk untuk menanyakan tentang pekerjaan yang sudah ia baca tadi.


"Permisi kak, apakah masih ada lowongan pekerjaan?", tanya Dera sopan pada pelayan wanita yang sedang membungkus nasi. Ya emang yang Dera datangi saat ini kedai nasi Nusantara yang menyediakan masakan khas Jawa. Karena banyaknya bungkusan yang sedang tertata rapi dapat dipastikan jika kedai itu sangat populer.


"Aduh kak saya kurang tahu, tapi sepertinya sudah terisi kemari kak", jawab wanita yang Dera tanyai tadi dengan masih sibuk dengan pekerjaannya juga.


"Ya udah kak terima kasih", balas Dera yang akan keluar dari kedai tapi baru saja ia akan berjalan suara panggilan dari arah dalam ruangan menghentikan Dera untuk melangkah.


Dera langsung menengok ke belakang dan ternyata Ibuk yang tadi sempat akan menabrak Dera tadi. Buka Ibuk tadi yang binggung tapi Dera juga tak kalah takutnya kenapa ia masih bisa bertemu dengan Ibuk tadi. Karena Dera takut ia disalahkan karena menyebrang tanpa tengok jalan sebenarnya tadi ia langsung pergi.


"Iya buk, saya pamit dulu ya buk".


"Sini duduk dulu kita butuh bicara nak", ajak Ibuk tadi yang menuntun Dera untuk duduk di kursi panjang paling pojok. "Saya sempat dengar kamu tanya pekerjaan tadi apakah benar nak?".


"Em,, iya buk saya mau ngelamar kerja tapi tak ada ijazah ataupun KTP yang saya punya".


"Saya tak butuh ijasah ataupun KTP kamu nak, asal kamu mau kerja sungguh-sungguh. Tapi bukan untuk di kedai, kamu kerja di rumah saya dan jika saya di kedai kamu ikut gak apa-apa. Saya butuh orang yang bisa merawat Ibuk saya di rumah".

__ADS_1


"Berarti ini kedai Ibuk?".


"Iya apakah kamu mau?, tapi kamu jika malam hari harus nunggu Ibuk saya. Saya kadang kurang telaten nak". Ibuk tadi berharap jika Dera mau menjaga Ibuknya yang kadang tak cocok dengannya.


"Mau buk tapi saya mau jujur sama Ibuk langsung daripada nanti saya di benci Ibuk, saya saat ini sedang hamil kira-kira 1 Minggu dan ini hamil akan saya yang kedua. Saya sedang ada masalah dengan suami saya tapi saya janji akan fokus dengan pekerjaan saya buk", penjelasan Dera pada Ibuk itu.


"Deg..


Rasanya Ibuk tadi tak percaya akan ucapan Dera barusan. Apakah ia jadi akan menerima Dera untuk bekerja lagi. Ia tak tahu jika ternyata hubungan Dera juga sangat rumit.


"Tapi apakah tak masalah jika kamu kerja dengan saya nak?.


"Tidak buk saya yakin, tolong saya buk agar bisa mengirimkan undangan untuk keluarga saya di kampung nantinya", Dera memohon sambil menangkupkan kedua tangannya untuk memohon.


"Ya udah saya akan bantu kamu asal kamu mau cerita sama saya agar saya tahu yang mana yang benar darimu".


"Sebenarnya saya baru satu bulan di Jakarta buk, dan saat itu juga uang, telfon dan KTP saya hilang saat masih di bus. Pas saya makan dan akan membayar makanan saya saya baru tahu itu semua dan ada yang baik dengan saya untuk membayar tagihan makan saya. Dengan baiknya lagi ia mengajak saya untuk kerja di rumah untuk bersih-bersih rumah dan kerja di pabrik jika siang hari. Berjalannya waktu saya dan orang itu menikah tapi nikah siri buk, dan saya sepertinya tak bisa bersama dengannya untuk saat ini. Makanya saya memilih pergi dari rumahnya dan ingin mandiri", Dera menjelaskan itu semua pada calon bosnya yang tak mau jika suatu saat itu menjadi masalah besar bagi pekerjaannya.


Masalah hidup emang tak ada yang sama apalagi nasib orang. Semuanya sudah ada tulisannya sendiri-sendiri. Dan benar saja Ibuk tadi menatap Dera dengan tatapan yang Dera juga tak tahu itu apa. Ia binggung antar di terima atau tidak karena sudah 10 menit Ibuk tadi diam.


"Buk apakah saya masih bisa berkerja di rumah Ibuk?".


"Ma..asih nak Oya siapa namamu? , panggil Ibuk Ratmi saja biar lebih akrab nantinya.


"Makasih Ibuk Ratmi, nama saya Dera. Nanti saya pulang dulu mau pamitan sama teman saya buk sekaligus ambil baju saya. Oya saya harus nunggu Ibuk Ratmi di sini lagi ya besok?".

__ADS_1


"Iya buk makasih buk, saya pamit dulu ya buk". Dera yang akan beranjak berdiri pun di tahan lagi sama buk Ratmi. Ibuk Ratmi memangil karyawannya untuk membawakan Dera makanan untuk dimakan nanti malam. Sungguh baik sekali Ibuk Ratmi pada Dera sampai karyawan di kedai salin melihatnya. Tak ada yang bisa sedekat Dera dengan Ibuk Ratmi saat ini mereka akan ada batasan bos dan karyawan sedangkan Dera dengan mudah langsung akrab.


Satu tenteng kantong besar sudah di tangan Dera. Malam ini Dera bakalan makan enak, walaupun Santi tak ada di rumah tapi Dera akan menunggu Santi pulang besok pagi baru pamitan padanya.


__ADS_2