
Karena dari siang tadi ia tak melihat wajah Dera di manapun akhirnya Aran meminta Raka untuk makan sebenar. Sudah selama Dera hilang selera makannya menghilang, tapi ia sadar jika harus tetap makan untuk mengisi tenaganya.
"Raka kita makan dulu yuk, aku lapar banget".
"Siap bos, makan dimana?", tanya Raka yang akan mengikuti perintah bos besarnya tadi.
"Kita berhenti di kedai itu aja sepertinya ramai dan enak. Mumpung aku lagi pingin kalau nanti-nanti takut selera makan ku hilang lagi".
Sesampainya disama Aran mengambil makanan yang tersedia di sana. Karena modelnya prasmanan maka ia mengambil apa yang lagi ingin ia makan. Pelayan hanya menanyakan menu tambahan atau minumannya saja. Pas piring itu sudah terisi separo Aran tak sengaja mendebarkan obrolan yang sangat buat ia mengingat sosok istrinya Dera.
"Masak iya Ibuk bos pamit pulang karena ingin mengantarkan makanan yang ia buat tadi untuk pengasuh nenek. Kan dia juga baru dua hari kerja di rumah Ibuk bos tapi udah bisa membuat bos suka padanya. Emang sih dia cantik tapi kan kita gak tahu sebenarnya dia itu siapa. Jangan-jangan dia utusan musuh Ibuk besar, kita kan gak tahu juga", nyinyiran dua pekerja wanita yang sedang membakar ayam tak jauh dari Aran berdiri.
Di meja Aran makan tak begitu lahap. Ia sangat mengingat wanita yang berparas cantik yang sudah meninggalkannya itu. Bagaimana Dera hidup dan makan untuk setiap harinya. Karena ia tak punya uang sama sekali.
"Bos kenapa bos?".
"Aku gak selera makan Raka. Kita pergi aja, aku ingin Dera cepat ketemu".
Raka binggung kenapa bosnya sangat berbeda dari biasanya. Jika ia begitu mencintai istrinya kenapa ia tak menikah secara negara dan hanya nikah siri, batinnya.
Aran sangat gelisah kenapa ia tak bisa cepat menemukan Dera. Sampai kapan ia akan kehilangan Dera seperti ini. Sampai-sampai ia tak begitu menghiraukan panggilan dan pesan WhatsApp dari Gendis. Ia hanya memikirkan Dera dan Dera saat ini.
Saat ini Aran hanya bisa mengusap gambar foto Dera yang ia pun di ponselnya. Hadiah yang ia belikan untuk Dera juga masih tersimpan rapi di brangkasnya. Ia tahu pasti Dera sendiri dan tak punya siapa-siapa lagi. Dia bodoh karena telah meninggalkan Dera sendiri hari itu.
__ADS_1
****
Sedangkan di rumah Ibuk Ratmi yang masih didepan pintu kamar Dera masih berharap mendengar rahasia yang selama ini di tutupi oleh anaknya. Ia akan ikhlas jika anaknya Nanang akan memilih pasangan yang ia cintai asalkan jika itu Dera bersedia memutuskan pernikahan sirinya. Karena Ibuk Ratmi hanya ingin melihat anaknya bahagia seperti dulu lagi.
"Genduk apakah kamu masih memiliki rasa cintai untukku. Aku berharap jika itu masih, aku akan buat kamu bahagia Genduk", Nanang yang masih berharap tak ingin membiarkan jika ia di lupakan begitu saja. Bayangan kebahagiaan waktu itu bersama Genduk terus teringat dalam memorinya.
"Mas Qosim, aku mohon sekali lagi jangan harapkan aku. Aku sudah memiliki akan dan akan melahirkan akan lagi. Aku ingin kau bahagia dengan wanita yang sempurna mas". Dera sangat canggung di posisi ini. Akankah ia akan meninggalkan pekerjaan ini untuk menghindari mas Qosim. Ia buntu dan binggung mau seperti apa selanjutnya. Kekasih yang dulu ia lukai ternyata jalan kehidupan yang sekarang baginya.
Teresa air mata Dera tak henti-hentinya terjatuh. Ia yakin ini sudah jalan Tuhan untuk ia menebus dosa untuk mas Qosim yang ia tinggalkan menjadi depresi. Sehingga pernikahannya yang untuk kedua kalinya juga tak tahu akan seperti apa.
"Genduk mas tahu ini mustahil tapi ingat mulai hari ini aku akan tetap disampingmu. Mencoba untuk selalu ada untuk kamu dan anakmu. Walaupun aku bukan Ayahnya tapi suatu saat akan kecil itu akan memanggil aku dengan Ayah juga. Tinggallah disini bersamaku aku akan terus memupuk rasa cintaku untukmu", puitis banget mas Qosim aku yang membaca pun tersenyum tapi entah dengan Dera ia malah binggung.
"Ya Tuhan berilah jalan untuk anakku Nanang mendapatkan cintanya. Aku juga ikhlas jika itu Dera aku akan menyayanginya. Karena dialah yang di inginkan anakku ya Tuhan", doa seorang Ibuk yang tahu bagaimana perjuangan anaknya untuk melupakan dan berujung dipertemukan lagi.
"Jika kamu mau kita ambil anakmu yang besar, kita rawat berdua dan ajarkan ia memanggil aku dengan panggilan Ayah Dera. Aku ingin merasakan kehidupan bersamamu", sambil memohon Nanang ingin di izinkan oleh Genduk.
"Tapi mas, aku masih memiliki suami aku tak bisa bersama denganmu. Apalagi mengajak Teo anakku ke sini itu tak akan bisa kedua orang tua ku tak akan mengizinkan hal itu pastinya". Dera tak mungkin mengajak Teo datang ke rumah ini dan menganggu kehidupan Nanang. Jika ia sudah bisa terlepas mungkin ia akan menunggu waktu itu pergi dari rumah ini juga. Ia tak mungkin memberikan harapan untuk mas Qosim yang akan bisa bersatu lagi dengannya. Karena Dera tahu ada kehidupan yang masih ia jaga untuk mas Aran yaitu anaknya ikatan darah mas Aran yang tak bisa ia putuskan begitu saja nantinya jika anaknya wanita yang harus sebagai wali untuknya.
"Ya udah aku akan ambil keperluan ku di apartemen, kamu mau aku belikan apa?
Tak usah sungkan jika kamu menginginkan sesuatu aku akan usahakan mendapatkannya untukmu", ucapan Nanang yang begitu menyentuh kalbu Dera tapi ia tepis dengan bayangan Aran yang murka melihat hal itu. Entah ia tak tahu rasanya anaknya begitu ingin melihat sang Ayah setiap saat. Merindukan mas Aran yang begitu perhatian padanya. Mengusap perut ratanya dan pastinya kangen belaian manjanya juga. Tak di pungkiri pernikahan kadang ada yang tak begitu mulus tapi ia tahu mungkin ini semua sudah di haruskan untuknya.
"Iya mas Qosim hati-hati ya. Aku nggak ingin sesuatu kok. Aku hanya ingin sendiri dulu untuk saat ini", ijinnya untuk memikirkan apa yang akan ia lakukan lagi.
__ADS_1
" Ok aku tinggal kau di rumah ini, tapi jangan sekalipun kau berniat untuk lari lagi dariku Genduk jika itu bukan suamimu yang menjemputmu. Aku minta nomor ponsel kamu agar aku tahu kondisi kamu setiap saat".
"Tapi aku tak memiliki ponsel mas, aku akan tetap menjaga nenek seperti tujuanku pertama masuk ke rumah ini. Jadi tak akan aku tinggalkan hal itu mas, sana jika mas mau pergi aku ingin sendiri mas".
Akhirnya Nanang keluar dari kamar yang Dera tempati tadi. Ia tak tahu jika pembicaraannya tadi sempat di dengarkan oleh sang Ibuk. Sedangkan Ibuk Ratmi yang ada di balik pintu sebelah tersenyum karena melihat anaknya bisa tersenyum bahagia seperti dulu lagi. Mungkin beliau egois tapi ia ingin melihat anaknya sepertinya saat ini terus maka dengan cara ia menahan Dera untuk tetap ada di rumah ini. Obat paling mujarab bagi anak tercintanya.
Setelah kepergian Nanang tapi Ibuk Ratmi mengetuk pintu kamar Dera. Ia ingin memberikan apa yang tadi ia buat untuk Dera. Masakan yang mungkin sudah dingin tapi tetap masih lezat untuk dimakan.
"Dera ibuk membuat makanan untuk mu. Apakah kamu mau memakannya untuk membuat aku bahagia karena sanjunganmu", ucap Ibuk Ratmi yang duduk di sebelah Dera yang masih duduk di ranjang seperti ada Nanang tadi.
"Ibuk terima kasih atas perhatiannya. Aku sudah merepotkan di rumah ini buk. Apalagi Ibuk yang tahu jika aku hamil tapi tak mempermasalahkan hal itu. Apakah aku bisa kerja di kedai saja buk biar saya cari kontrakan saja nantinya", akhirnya Dera meminta hal itu pada Ibuk Ratmi karena ia datang juga di ajak oleh beliau.
"Tidak Dera, aku tak menginginkan hal itu. Jika kamu di kedai resikonya kandungan kamu. Pelajaran di sana sangat berat. Apalagi nenek juga sudah sayang padamu. Apa karena kamu kangen anak kamu?
Jika iya kamu bisa pakai telfon rumah untuk menghubunginya. Menanyakan kabar semuanya", sungguh bijak hati seorang Ibuk ini.
"Tapi buk, aku tak bisa jika diperlakukan istimewa di sini. Aku akan merepotkan semuanya untuk aku".
"Sudah kita makan bersama yang makanan ini. Walaupun sudah dingin pasti kamu suka karena aku suka sekali masakan ini. Kolak timun yang begitu segar di siang ini yang begitu panas.
Akhirnya Ibuk Ratmi menyuapi Dera dengan berhati-hati. Sebenarnya Dera menolak tapi Ibuk Ratmi menjelaskan jika ia ingin memiliki akan perempuan sepertinya. Jadi Dera pun pasrah dengan itu. Dan yang membuat Dera kaget setelah semangkuk itu habis Ibuk Ratmi memegang perut Dera dan mengucapkan sesuatu yang begitu ngilu untuk di dengarkan siapapun.
"Sayang jaga ibukmu, dan anggap aku nenekmu yang tetap akan menyayangi mu", kebahagiaan yang tak bisa ia bayangkan sebelumnya.
__ADS_1
Akankah Dera bisa cepat di temukan oleh Aran. Ini semua akan kita tunggu sampai saatnya tiba. Upaya apa saja yang di lakukan oleh Aran untuk menemukannya, kita tunggu besok lagi ya. ❤️😘🥰🥰