
Dera langsung bercerita sedikit tentang apa yang ia alami. Tapi tak sanggup Dera ceritakan tentang ia yang sudah nikah siri itu, takut nanti sampai ke telinga keluarga Santi dan akan menyebar ke kampung halamannya.
Karena Santi yang tadi sedang mencari sarapan pun langsung mengajak Dera ke kontakannya. Apalagi ia juga harus berangkat kerja siang ini. Namanya juga pabrik kaleng biskuit jadi pabrik itu akan beroperasi 24 jam. Setelah tiba di kamar petak yang di pakai Santi untuk tidur dan untuk melepas lelahnya Dera langsung di persilahkan untuk masuk dan istirahat. Santi juga menawari makan untuk Dera walaupun tadi ia hanya beli makanan satu bungkus ia tetap membaginya pada Dera. Santi kerja di sini sudah lama tapi ia juga tak berfoya-foya atau boros sehingga ia bisa membahagiakan keluarga di rumah.
"Dera ayo kita makan dulu, aku bentar lagi mau berangkat kerja. Kamu gak apa-apa kan di kamar ku sendiri", tanya Santi.
"Iya Santi, aku gak apa-apa sebelum aku dapat kerja juga ya. Tapi aku udah makan kok tadi".
"Ya udah aku makan dulu ya, habis ini aku mau mandi dan siap-siap". Semua kebutuhan Dera sudah di beritahu oleh Santi dimana letaknya. Jangan sampai Dera kesusahan jika ada di kamar kosnya nanti.
Dera yang tiduran sambil memikirkan nasibnya semakin sulit itupun menangis sendiri. Ia tak tahu bagaimana nasibnya selanjutnya untuk dia dan calon anaknya nanti. Tak mungkin ia akan pulang ke rumah orangtuanya dalam keadaan hamil seperti ini. Dan Dera juga takut kalau Santi tahu ia sedang hamil. Maka dari itu nanti jika Santi berangkat kerja ia akan berusaha untuk mencari kerja dan pergi dari kamar kost Santi.
Akhirnya Santi yang sudah siap untuk kerja langsung berpamitan pada Dera. Sambil memberikan kunci pintu kamarnya. Dera juga menerimanya sambil berterima kasih pada temannya tadi. Jika tak ada Santi ia tak tahu mau pergi kemana.
Setelah sepeninggalan Santi tadi Dera juga ikut keluar dan jalan menuju kemana ia mendapatkan pekerjaan. Karena ia yang hanya bermodalkan tenaga pun tak bisa jika harus kerja di pabrik sebelumnya.
Di tempat lain Aran yang sudah pulang dari pabrik langsung menuju ke toko ponsel terbaik di kota itu. Ia ingin membelikan ponsel untuk Dera. Setelah ia meminta pada petugas toko akhirnya ia mendapatkan apa yang ia temukan. Ponsel keluaran terbaru yang berwarna biru yang sangat bagus untuk Dera.
__ADS_1
Dengan semangat 45 Aran langsung pergi dari tempat tadi dan membayar tagihannya. Cara mengendara Aran juga sedikit laju agar ia cepat sampai di rumah dan bertemu dengan Dera. Ia membelikan ini semua untuknya tanpa memberitahu Dera dulu agar menjadi surprise. Terbayang bagaimana nanti expesi wajah Dera yang bahagia.
Rasanya jika ia bisa membuat bahagia Dera itu adalah rasa syukurnya yang telah membahagiakan orang tua juga. Pas mobil itu masuk kompleks rumah, ada pak satpam yang tunduk dan memberikan hormat padanya. Mungkin karena sering memberikan uang untuk beli rokok maka sedikit di hafali sama pak satpam tadi.
"Pim,"
Suara bel mobil Aran yang langsung masuk ke dalam perumahan. Setelah melewati beberapa petak rumah akhirnya ia sampai di depan rumahnya. Dengan mengunakan remote pembuka gerbang akhirnya gerbang itu berhasil langsung terbuka. Aran langsung masuk ke rumahnya sambil terus menerus tersenyum sambil melihat ke arah paper bag yang ia tenteng. Tapi ia begitu kagetnya waktu pintu rumahnya tak dikunci dan sedikit terbuka. Karena khawatir Aran langsung berlari masuk kedalam dan langsung mencari keberadaan Dera.
"Dera, Dera",
"Mas Aran, kok teriak-teriak sih jadi kebangun akunya", ucapan wanita yang sedang bangun tidur di kamar Aran tadi. Ia langsung mendekati Aran yang masih mematung di depan pintu sambil memegang slot pintu kamarnya.
"Kok kamu datang gak ngabarin mas sih, jadi aku gak tau tadi kalau kamu disini?", ucapan Aran yang sedikit memaksakan expesi wajahnya untuk biasa aja.
"Mas sih gak angkat telfon Gendis tadi pagi. Eh pas udah sampai Gendis hanya ketemu wanita ****** yang menggoda mas. Siapa yang gak marah jika mas berduaan dengan wanita lain dan itupun sekamar", ucapan Gendis tadi yang begitu marah. Ia tak menyangka jika ia melihatnya sendiri perlakukan mas Aran.
"Terus Dera kemana sekarang Gendis?
__ADS_1
Nanti mas Aran jelasin ke kamu yang sebenarnya".
"Gak tau tadi ia pergi bawa bajunya, itupun gak aku suruh kok. Coba mas Aran hubungi aja deh aku muak dengan semua ini", sombongnya Gendis yang tiduran lagi.
Aran yang mendengar jawaban itupun begitu marah sambil membanting pintu kamarnya. Ia tak menyangka jika jawaban Gendis seperti itu. Itu yang paling Aran tidak suka dari Gendis. Beda pikiran dan keras kepala tak pernah menganggap Aran ada.
Karena Aran yang marah ia langsung pergi ke luar rumah sambil mencari keberadaan kunci mobilnya yang entah terselip dimana. Ia ingin sekali menemukan Dera. Tak berharap jika Dera sampai tak ketemu. Belum juga ia ingin bertemu dengan orang tua Dera eh malah ada saja yang ia alami. Apalagi Dera tak punya saudara yang akan ia temui Aran begitu frustasi sambil memukul-mukul kemudinya. Bagaimana ia sampai terlupakan atas Dera siang ini. Apalagi ia sampai mengijinkan Dera sampai tak ikut ke pabrik. Biasanya dia tak mau sebentar saja jauh dari Dera. Karena hanya memutari jalan yang biasa ia lewati dengan Dera ia sampai tak rasakan jika sudah 3x putaran. Tapi tak menemukan keberadaan Dera sama sekali.
"Akh", suara Aran. Ia binggung mau mencari Dera kemana lagi. Tak ada ponsel yang ia bisa hubungi. Tak mungkin Aran akan menghubungi orang tua Dera pasti akan membuat orang tua itu juga ikut binggung.
"Kemana kamu bawa anakku pergi Dera", ucapan Aran yang tak bisa berfikir jernih lagi. Bayangan anaknya yang akan Dera lakukan setelah ini Aran tak tahu.
@@@@
Salam sehat kakak,,,
Kalau suka tap ❤️ dong buat tanda sayang ke aku ni. Jangan lupa ya dukung sebanyak-banyaknya lho, Caranya sentuh tanda ❤️ dan tambahkan ke yang kakak suka lalu jangan lupa ningalin jejaknya untuk komen biar kita tambah akrab kakak🥰😍😘.
__ADS_1