
"Tapi Mah, aku tak akan bisa hidup tenang jika seperti ini terus. Aku hanya ingin hidup damai dengan Gendis dan anak kita tanpa bayangan dia Mah".
"Udah kita tunggu anak kamu aja Gus, toh itu juga cucuku kita kan", kata sang Papa yang mengajarkan sang anak untuk melupakan kenangan masa lalunya.
"Iya Pah, Bagus akan usahakan itu. Karena Bagus hanya ingin meminta maaf dan bisa kenal dengan anak Bagus juga Pah. Selama ini Bagus jadi Ayah yang pecundang baginya". Entah penyesalan yang tiba di akhir cerita kenapa munculnya pas sang istri sedang melahirkan juga. Ya sebenarnya Bagus sudah mencari informasi dari dua bulan yang lalu tapi ia tak menemukan apa yang ia cari. Sampai-sampai ia kadang berbohong pada Gendis jika ia ada miting di luar kota, padahal hanya ingin mengetahui keberadaan sang mantan istrinya dulu.
Entah kebetulan atau tidak seperti ini sudah peringatan jika kita menanam kepedihan untuk orang lain maka suatu saat kita juga akan merasakan apa yang ia rasakan lebih dari berlipat-lipat ganda. Apalagi ia tahu jika sang istri yang sedang bertarung nyawa sudah di campaka oleh sang kakaknya, jadi hanya dia dan keluarganya yang jadi keluarga kelak.
"Ya udah Papa beli minuman untuk kalian dulu ya biar Bagus lebih tenang lagi. Mau punya anak kok jadi kaya gini hatinya", sindir sang Papa pada anaknya itu.
"Papa aku kan udah punya anak sebelumnya, jadi ini akan Bagus yang kedua kan", jawab Bagus sedikit agak marah.
"Sejak kapan kamu mengakui anak itu anak kamu Bagus?
Apa jangan-jangan kamu lupa ya kita hidup seperti ini karena Gendis lho. Kita gak boleh melupakan hal itu lho Bagus", sebelum akhirnya pergi Papanya mengingatkan apa yang sudah diperjuangkan oleh sang menantu untuk mereka.
Mungkin setelah kepergian sang Papa tadi Bagus hanya diam di sisi sang Mama. Walaupun sang Mama mengkhawatirkan sang menantu tapi ia juga binggung kenapa sang anaknya berubah seperti itu. Padahal dari dulu anaknya yang paling gak mau jika membahas tentang hal itu. Semoga saja ini akan baik-baik untuk hubungan keluarga sang anaknya saja.
Hingga akhirnya pintu kamar operasi dibuka oleh sang dokter dan satu suster yang membawa bayi cantik di bok bayi. Nampak kuning sekali kulit wajahnya yang begitu mungkin. Tak pikir panjang Bagus menangis di lantai sambil terduduk. Begitu berat cobaan yang ia terima saat ini. Apalagi ini yang terjadi, melihat sang anak begitu rapuh akhirnya sang Mama yang memberanikan diri untuk menanyakan pada dokter mengenai sang cucu.
__ADS_1
"Dok, mau dibawa kemana bayi ini dok?
Apakah ini bayi dari Nyonya Gendis?", tanya sang Mama yang masih berharap jika itu cucunya.
"Ini benar bayi dari nona Gendis yang harus dapat penagan buk, karena tadi sempat minum air ketuban, jadi bayinya kuning harus butuh sinar yang lebih", jelas dokter tadi.
Seperti petir yang begitu mengenai pohon besar yang membuat tumbang sang pohon. Kabar ini yang baru saja di dengar oleh sang Papa habis dari beli kopi pun menjatuhkan minumannya karena kaget. Ia tak menyangka jika ini akan seperti ini. Walaupun ia sendiri tak tahu bayinya seperti apa tapi jika bayinya kuning itu harus mendapatkan penanganan yang penuh.
"Sudah nak kita harus kuat karena ini adalah jalan hidup kita. Kita tetap akan menjaga Gendis dan bayinya karena tak ada lagi keluarganya Bagus", Mama yang begitu ingin sang anak kuat.
****
Aran yang menuntun sang istri dan Dera yang fokus pada pegangan perutnya tak sadar jika ia di lihat oleh orang yang ada di tempat itu juga. Aran hanya fokus untuk cepat pulang dan merawat Dera di rumah tanpa melihat sekitarnya. Padahal ada orang yang begitu hancur dan sehancurnya melihat apa yang ia lihat itu. Ia yakin jika ini bukanlah kebetulan tapi sudah jalan yang harus ia jalani.
"Dera kita langsung pulang saja ya", tanya Aran yang masih membantu Dera untuk naik kembali.
"Ehem... kita ke rumah Ibuk Ratmi dulu mas untuk ambil baju-baju aku, sekalian untuk pamitan mas", kata Dera pelan-pelan takut menyinggung perasaan sang suami dikira hanya ingin bertemu dengan mas Qosim.
"Gak usah Dera kita langsung pulang aja. Baju kamu sudah diambil oleh Raka tadi aku yang suruh. Tapi jika hanya ingin berpamitan besok saja kita ketemu dengan Ibuk Ratmi", jawab Aran tegas. Ia tak ingin Dera bertemu lagi dengan tuan Qosim. Entah kenapa ia tak suka jika Dera memandangnya saja. Bucin.. Siapa yang kaya gitu sama pasangannya!!!☝️.
__ADS_1
Di dalam mobil Aran terus memberikan perhatian Dera tentang kondisi perut dan makanan yang ia inginkan. Rasanya ia tak mau jika anaknya menginginkan sesuatu tapi Dera tak mau memintanya. Hingga akhirnya Dera melihat penjual arum manis yang mangkal di pinggir jalan.
"Mas, Dera mau itu", ucapannya sambil menunjuk sang pedangan yang sudah sedikit tua. Tampak wajah Dera yang begitu manis saat itu. Kecantikan wanita itu semakin terpancar saat ia seperti ini. Akankah jika di masa kehamilan ia tampak tambah cantik itu menandakan jika ia sedang mengandung anak perempuan. Entahlah tapi Aran begitu memanjakan wanita itu saat ini.
Aran yang langsung turun dan membelikan apa yang Dera inginkan langsung meminta semua makanan itu ia beli untuk sang istri sekali-kali ia juga ingin bantu pedagang seperti bapak itu.
"Mas, kok banyak banget sih mas?", tanya Dera pada Aran yang sudah masuk ke dalam mobil dengan beberapa palasik arum manis tersebut.
"Gak apa-apa toh itu juga buat kamu kan, sama bantu bapak itu kasian belum pulang jam segini", jawab Aran sambil mengemudikan mobilnya lagi.
Akhirnya ia bisa pulang kerumahnya lagi bersama Dera. Setelah sampai di gerbang tinggi mobil pabrik yang di kendarai oleh Aran langsung masuk. Sedangkan Dera yang tadi makan Arum manis langsung menghentikannya dan diam. Rasanya ia masih mengingat perlakukan dari Gendis yang tak menyukainya. Aran yang melihat Dera berubah langsung mengajaknya untuk turun.
" Dera kita turun yuk, gak akan ada apa-apa kok kamu ada aku yang akan menjaga kamu".
"Tapi mas, aku masih takut rasanya", tahan Dera lagi.
"Udah gak akan kok, kamu istri aku jadi harus nurut sama aku Dera", paksa Aran agar mereka bisa cepat turun dan masuk ke dalam.
*****
__ADS_1
Akan ada hal apa lagi ya untuk besok kita tunggu kakak semua..