Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez

Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
36 (Season 02)


__ADS_3

Chapter menuju ending🤗🤗


***


"Assalamualaikum! Mi, ini Viola!"


"Waalaikum salam, sebental Bunda. Ini Varo," jawab orang di dalam. "Ish! Nenek! Tangan Varo endak nyampe, tinggilah!"


Mami Tania keluar dengan membawa semangkuk semangka merah dan kuning yang baru ia kupas.


"Varo pendek sih," jawab mami Tania.


"Varo tinggi, tapi pintunya jauh," elaknya.


"Iya deh terserah cucu Nenek," mami Tania langsung membukakan pintu untuk Viola.


"Keong, hai!" sapa Varo pada adiknya.


Keo tertawa seraya menepuk tangannya.


"Bunda keluarin Keong, Varo mau ajak maen bola!" kata Varo.


"Jangan main bola, nanti bola nya kena Keo,"


"Kenape?"


"Nanti Keo nangis," jawab Viola.


"Alahh, Varo maen sama siapa?"


"Varo mau main?" tanya sang bunda.


Varo mengangguk semangat.


"Di sekolah banyak teman-teman lho, makanya Varo harus sekolah ya? Yaya kan juga ada di sana," pujuk Viola.


"Iyeke, Bunda? Varo bisa main bola sama teman baru?" tanyanya. Anak itu bertanya dengan semangat.


Viola mengangguk, dalam hatinya pasti Varo akan mau bersekolah dengan diimingi bermain bola itu.


"Bolehlah," jawab Varo. Bocah laki-laki itu kembali bermain sendiri dengan bolanya.


"Jadi Varo mau masuk sekolah?" tanya Viola penuh harap.


"Ha?"


"Varo mau masuk sekolah?" ulang Viola.


Varo menggeleng. "Varo endak mau sekolah, Varo mau maen sama teman baru,"


"Loh kok gitu? Kan harus sekolah juga,"


Varo tetap keukeuh dengan gelengan kepalanya, entah apa yang membuat anak itu tidak mau bersekolah. Atau mungkin tingkahnya menurun dari Ardo kecil yang tidak mau bersekolah? Ya mungkin aja. Emang ya, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.


"Udahlah Vio, entar dia mau sendiri kok. Enggak perlu di paksa," kata mami Tania.


Viola menghela nafasnya, ia memperhatikan Varo yang masih bermain bola itu. Sedangkan Keo juga ikut bermain tetapi dengan merangkak.


"Oh iya, Mi. Bang Marvel tadi malem pulang enggak?" tanya Viola, karena tujuannya kesini selain menjemput Varo ia juga ingin meminta penjelasan tentang ucapan Dion tadi.


"Pulang, tapi subuh si pulangnya sekitar jam duaan. Eh paginya berangkat lagi, heran deh Mami sama abang kamu itu, kadang Mami juga ngerasa takut,"


"Kenapa, Mi?" tanya Viola.


"Semenjak papi enggak ada, Marvel jadi kayak pendiam gitu. Terus dia jadi workaholic banget, Mami takut kesehatan Marvel menurun, Mami takut Marvel jadi semakin menutup diri pada wanita," lirih mami Tania sedih. Memang semenjak kepergian sang ayah, Marvel menjadi sedikit berbeda. Itu menurut pandangan sang ibu.


"Mungkin perasaan Mami aja, atau mungkin Mami ngerasa sendiri karena abang pulang larut terus? Nanti aku suruh bi Lilis tinggal di sini aja, biar ada yang temenin Mami," kata Viola. Bi Lilis merupakan salah satu pembantu mami Tania yang dekat dengannya.


"Tapi kan bi Lilis juga punya keluarga," jawab mami Tania.


"Hah? Bukannya bi Lilis enggak punya keluarga ya, Mi?" tanya Viola. Karena sepengatahuan nya, bi Lilis hanya seorang diri. Suaminya sudah meninggal semasa Viola kuliah, dan juga saudara bi Lilis sudah mencar hingga tidak ada yang tahu keberadaan saudaranya. Sedangkan anak, bi Lilis punya hanya saja anaknya pergi entah kemana.


"Punya, minggu lalu anak bi Lilis dateng,"


"Beneran?"

__ADS_1


"Iya, dan ternyata anak bi Lilis cewek. Lumayan sih wajahnya, Mami kemarin sempat liat,"


Viola mengangguk mendengar ucapan mami Tania. Wajar sih anaknya cantik, orang bi Lilis itu manis meskipun wajahnya sudah termakan oleh usia.


"Bunda! Keong eek! Ish, bauuuu!" Varo berlari ke arah Viola dengan menutup hidungnya.


Viola tertawa. "Beneran?" tanya Viola.


Varo mengangguk. "Beneran, Bunda. Varo liat Keong sepelti gini," Varo mempraktekkan tadi apa yang dilihatnya.


Anak itu menjongkok lalu seperti mengejan. "Nah gitu, Bunda. Terus Varo cium bau-bau busuk, ish Varo geliii," ucapnya. Varo memang tidak tahan geli, bocah itu selalu berterima ketika melihat apapun yang menurutnya menggelikan.


Lagi-lagi Viola tertawa, ia lalu mengambil Keo yang masih jongkok itu. Bayi itu memang buang air besar terbukti dengan bau tidak sedap dari arahnya.


"Hueekk, Keong bau! Haha Keong bau," olok Varo ketika Viola membawa Keo melewati Abang Keo itu.


Viola dan mami Tania hanya tertawa.


***


"Kamu enggak pulang?"


"Mami ngusir aku?"


"Ya enggak, maksudnya Ardo enggak nyariin kamu?"


"Mas Ardo tau aku di sini, pulang kerja nanti dia bakal jemput," jawab Viola.


"Eh, perasaan Mami kamu gemukan deh, bener enggak sih?" tanya mami Tania. Ia memperhatikan Viola dari atas sampai ke bawah.


"Beneran, Mi? Aku juga ngerasa gitu, soalnya Keo enggak bisa lepas dari susu, makanya aku makan terus," jawabnya. Mungkin karena bayi itu sudah semakin besar hingga porsi minum susunya semakin bertambah.


"Wajar sih, apalagi Keo kan bayi laki-laki. Bayi laki-laki kan emang kuat namanya nyusu," ucap mami Tania.


Sekarang mereka sedang bersantai menunggu kepulangan Marvel, Viola tidak akan pulang sebelum berbicara pada saudara laki-lakinya itu.


"Ke dalem aja yuk, udah Maghrib nih," ajak mami Tania.


Viola mengangguk lalu mereka pun masuk ke dalam. Namun tak berapa lama deru suara mobil langsung memenuhi halaman hingga ke parkiran.


"Enggak tau, bentar biar Nenek liat dulu,"


Mami Tania bergegas melihat parkiran. Ternyata itu adalah Marvel. Marvel mencium tangan mami Tania.


"Tumben balik jam segini?" tanyanya.


"Kerjaan selesai cepat ya aku pulang cepat, Mi," jawab Marvel.


"Uncle!"


"Eh, ada Varo. Sama siapa?" tanya Marvel, ia membimbing Varo untuk masuk ke dalam.


"Sama Bunda, ada Keong juga. Uncle tau enggak, Keong eek! Bauuu uncle, sepelti Uncle Epel kentut, hihihi." Bocah itu menutup mulutnya.


Marvel mendelik. "Mana pernah Uncle kentut, Varo boong nih," ucapnya.


"Hihihi benelan Uncle, baunya sepelti Uncle kentut, Varo endak boong,"


"Ish iyadeh, terserah Varo yang penting?"


"Varo senang!" serunya.


"Pinter! Sini cium Uncle dulu,"


Varo langsung mencium pipi unclenya itu.


"Bang,"


Marvel menoleh, lalu ia melihat Viola yang sedang menatapnya.


"Apa?" tanya Marvel.


"Tau Milen hamil?" tanya Viola langsung.


Marvel mengernyit. "Milen? Hamil? Enggak tau, kenapa?"

__ADS_1


"Siapa yang hamil?" tanya mami Tania, ia hanya mendengar kata hamil saja.


"Milen, Mi. Tau kan Milen yang mana?"


"Iya tau kok, hamil sama siapa?"


"Ini aku lagi nanya Abang," Viola memincingkan matanya ke arah Marvel. "Beneran enggak tau?"


Marvel menggeleng. "Enggak tau, emang hamil sama siapa? Bagus dong kalau dia hamil, artinya dia enggak ada infertilitas," jawabnya acuh.


"Hus! Enggak boleh gitu," tegur mami Tania.


"Loh, kan aku beneran, Mi. Bagus dong, artinya dia enggak mandul," jawabnya lagi. "Dah ah, aku mau mandi, gerah." Marvel berlari dari sana.


"Mi tau enggak, kata Dion bang Marvel itu pacaran sama Milen, terus Milen hamil, artinya?" tanya Viola.


Mami Tania membulatkan matanya. "Milen hamil anak Marvel?!"


***


"Bunda, Varo mau lihat,"


"Ssttt, Varo diem dulu. Bunda mau denger uncle Marvel bicara apa," ucap Viola berbisik. Sekarang Viola dan Varo sedang mengintip di celah pintu kamar Marvel. Sedangkan orang tersangka pengintipan itu sedang berbicara serius di telepon.


"Bunda, Varo endak bisa dengel," bisik Varo.


"Makanya diem dulu, kalo Varo denger apa-apa Varo harus bilang Bunda ya?" bisik Viola lagi.


Varo mengangguk. Lalu bocah itu dengan patuhnya menurut pada ucapan sang ibu.


"Ngapain kalian?"


"Astaghfirullah, Mas ngagetin," bisik Viola. Ternyata orang itu adalah Ardo yang memandang ibu dan anak yang sedang mengintip itu.


"Kalian lagi apa?" tanya Ardo, sekarang ia juga ikut berbisik.


"Ayah lihat kita lagi ngapain?" Varo membalas ucapan sang ayah dengan pertanyaan juga.


"Ngumpet,"


"Ish Ayah, kita lagi dengel uncle Epel ngomong! Shuttt, diem nanti paman dengar," ucapnya lagi.


Ardo masih dengan raut kebingungannya itu menggeleng pelan. "Enggak boleh lho nguping pembicaraan orang,"


"Bukan nguping, tapi kita lagi mencari kebenaran," jawab Viola.


"Varo kan sepelti Papa Zola, harus membela kebenaran, ye kan Bunda?"


Viola mengangguk.


"Kebenaran takkan pernah terkalahkan," ucap Varo meniru ucapan salah satu karakter kartun kesukaannya. "Eh Ayah mau ngapain?" tanya Varo ketika melihat ayahnya mulai menghimpit tubuhnya.


"Ayah juga mau tau, karena Ayah juga pembela kebenaran," jawabnya. "Eh sebenernya kita nguping apa sih?"


"Nguping pembicaraan Marvel sama Milen," jawab Viola.


Ardo semakin mengerutkan keningnya bingung.


Viola memutar bola matanya, sebelum suaminya bertanya ia harus menjelaskannya terlebih dahulu. "Kata Dion, Marvel sama Milen pacaran, terus Milen hamil--"


"Hamil?! Milen--"


"Siapa di sana?!"


***


Selamat malam Minggu!!!


Mohon maaf sekali lagi kalau saya jarang update, bener sih saya di rumah terus tapi tugasnya numpuk! Udah kayak cucian yang menggunung. Belum lagi deadline tugas yang hampir setiap harinya ada, jadi bikin otak saya terbagi-bagi antara ngerjain tugas kuliah, tugas rumah, sama tugas ngehibur kalian.


Sekali lagi saya minta maaf, kuliah online itu enggak enak :( saya lebih suka kuliah tatap muka :(


Semoga virus korona ini cepat hilang, aamiiinnn.


Oh iya, jempol dan komentar jangan lupa! Okeee?!

__ADS_1


__ADS_2