Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez

Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
Tigapuluhtujuh


__ADS_3

Viola mengerjap-ngerjapkan matanya karena penglihatannya kabur, ditambah lagi pencahayaan yang minim sekali di sini.


Di sini Viola dapat melihat ini adalah sebuah ruangan seperti gudang terbengkalai, banyak sekali debu, daun kering, tanah, maupun pasir yang berserakan di dalam ruangan ini. Sarang laba-laba yang sudah membesar menambah kesan angker tempat ini. Gila banget cocok buat penelusuran team DMS. Coba dong request ke team DMS agar mau penelusuran dan pembuktian di sini.


Viola masih merasakan pusing di kepalanya. Saat ia ingin memegang kepalanya ia baru sadar bahwa tangan dan kakinya terikat di kursi.


Viola juga baru sadar akan dirinya yang sedang diculik saat ini. Tapi, ia tak habis fikir, kenapa orang ini menculikknya? Rasanya Viola tidak pernah memiliki musuh atau apapun, karena ia tidak memiliki banyak teman. Atau, enggak mungkin kan mantan yang nyulik terus ngajak balikan? Big no! Viola nggak mau balikan sama mantan, inget itu! Lagipula di rumah sudah ada iblis berhati malaikat berparas tampan yang sedang menunggunya.


Tiba-tiba Viola dilanda rasa takut dan cemas memikirkan orang yang menunggunya tersebut. Apakah Ardo tau bahwa dia diculik? Apakah Ardo sedang mencarinya sekarang?


Ditengah lamunannya, Viola mendengar suara pintu berdecit. Jantungnya serasa lepas dari sarangnya. Viola sangat ketakutan, ia tidak takut jika itu manusia, kalau bukan? Mengingat tempat ini sudah seperti sarangnya miss K dan kawan-kawan.


Ardo, tolongin ...


"Viola," panggil seseorang. Ia berharap yang memanggilnya ini beneran orang.


Dengan takut Viola perlahan membuka matanya. Wanita itu terkejut saat mengetahui orang yang berdiri di depannya itu.


"Anton?" kernyit Viola. Benarkan ini Anton?


"Yes, it's me, Anton. Kita bertemu lagi Mrs. Vazquez, mungkin kita berjodoh." Anton tertawa, namun meskipun tertawa namun tawa Anton terdengar menyeramkan di telinga Viola.


Anton mendekat ke arah Viola sambil menyeringai. Viola sudah gemetaran, keringat dingin pun sudah membanjiri tubuhnya. Dia cabut perkataannya tentang tidak takut kalau itu manusia. Tapi kayaknya Anton sudah bukan manusia lagi.


"A-apa maumu? Kenapa kau--"


Anton semakin mendekat ke wajah Viola. "Kamu maunya apa? Menciummu, atau menghabiskan malam ini denganmu? Kita akan menghabiskan malam yang panjang di sini? Bagaimana?"


"Cuih," Viola meludahi wajah Anton. "Jangan coba-coba kau melakukan itu sialan!"

__ADS_1


Anton mengelap wajahnya yang terkena ludahan Viola itu. "Sayang, atau kita ke hotel saja? Aku akan melepaskan jika kau setuju,"


"Cuih!" lagi-lagi Viola meludahi Anton. "********!"


PLAKK


Suara tamparan menggema dalan ruangan menyeramkan itu. Sudut bibir Viola mengeluarkan sedikit noda darah. Saking kerasnya tamparan Anton kursi yang di duduki Viola jatuh ke samping.


"Beraninya kau berteriak di hadapanku, j*lang!"


Viola tersenyum sinis ditengah ketidakberdayaan nya. "Kenapa?! Kenapa jika aku berani berteriak di hadapanmu?!" tantang Viola.


Anton membangunkan kursi Viola yang terjatuh.


Ia mencengkram pipi putih Viola. "Aku menawarkan hal yang nikmat tapi kau malah meneriaki ku!"


PLAKK


Anton memandangi tubuh Viola yang lumayan membuat para lelaki ileran melihatnya. Dengan ukuran dada yang besar, ditambah lagi dengan wajah rupawan, siapa sih yang nolak?


"Sudah berapa lelaki yang memasuki mu ini? Lelaki tua berdompet tebal? Atau lelaki jelek gendut berdompet tebal? Atau jangan-jangan pria yang sudah beristri?"


Viola dibuat geram oleh ucapan Anton. "Tutup mulutmu, b*jingan!"


Plak!


"Lagi! Tampar lagi aku!! Bila perlu bunuh saja aku!" ucap Viola. Sialan! Ini pipi rasanya udah kebas banget.


Anton tertawa. "Hahaha tentu! Tentu aku akan membunuhmu! Itulah tujuanku, untuk membunuhmu seperti apa yang Ardo lakukan dulu!" ucap Anton.

__ADS_1


"Apa maksudmu?"


"Kau tidak tau? Oh aku akan memberitahumu, tapi tidak sekarang. Aku ingin bermain dulu denganmu. Dan ku pastikan kau akan mengikuti permainan ku dengan baik," ucapnya. "Tapi, bukankah bermain hanya dengan dua orang itu sangat membosankan? Aku akan memanggil teman bermain yang lain." Lanjutnya.


Viola mengernyit bingung mendengar ucapan Anton. Artinya ada orang lain lagi selain Anton. Tapi siapa? Apa alasannya? Dia saja tidak tau kenapa Anton menculiknya.


Lalu tiba-tiba terdengar suara ketukan heels yang di iringi dengan seseorang masuk kedalam ruangan itu. Viola dapat melihat siluet seorang wanita.


Wanita? Siapa? Pacar Anton?


"Hai," sapa wanita itu.


Viola mengernyitkan dahinya, antara mengenal dan tidak mengenal wanita itu. Maklum saja penerangan sangat minim di sini.


"Enggak kenal, heh?"


Viola melototkan matanya tak percaya, tidak mungkin bahwa wanita itu adalah—


"Grace?!" pekik Viola. Senyum Viola merekah, luka yang berada di sudut bibirnya tidak terasa lagi saking baahgianya. Akhirnya Tuhan mengabulkan doanya dengan mengirimkan teman terbaiknya itu. Tapi ada yang aneh di sini, kenapa Grace menggunakan baju kurang bahan kayak jal*ng seperti ini? Biarkan saja, mungkin ia ingin menggunakan baju seperti itu. Pikir Viola. Yang penting sekarang sudah ada dewi penyelamat nya.


"Bernad tolongin gue, gue- gue takut Nad," ucap Viola hampir menangis. Beneran, Viola takut sekarang.


Dengan cepat Grace mendatangi Viola. "Lo enggak apa-apa 'kan?" tanya Grace khawatir. Ia sudah berjongkok di hadapan Viola sehingga Viola dapat melihat dengan jelas bahwa penampilan Grace benar benar seperti seorang ****** yang merayu pria.


Viola menggeleng. "Gu-gue enggak papa, gue takut, bebasin gue Nad, Anton ... Anton dia jahat, dia nyulik gue—"


"Tenang Viola, di sini udah ada gue yang akan membantu—" Grace mengelus pipi Viola sayang.


"—dia menghabisi nyawa lo!"

__ADS_1


__ADS_2