Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez

Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
14 (Season 02)


__ADS_3

Ada yang kangen?


Kalau kangen sini tak peluk onlenšŸ¤—


***


Dua bulan kemudian,


"Kamu enggak kerja lagi, Mas?" tanya Viola pada seseorang yang sedang bermain bersama anaknya itu.


"Ayah, jangan ganggu Varo! Varo nak makan maga-maga!"


Oh bukan bermain lebih tepatnya mengganggu sang anak. Oh iya Varo sudah tidak cadel lagi, yah meskipun masih ada sedikit kecadelan yang ia miliki. Wajar saja umur Alvaro sudah menginjak empat tahun.


"Semangka, Varo." Koreksi Ardo.


"Suka-suka Varo, Yaya suka dengal Varo bilang maga-maga," katanya. Anak itu memakan kembali maga-maga yang dikupaskan Viola.


"Yaya siapa sih?" Ardo tau, cuma pengen ngetes anak kebanggaannya aja.


"Pacar Varo,"


"Dasar anak kecil, emang Yaya mau?"


Varo menatap ayahnya dengan bibir mengerucut. "Varo bukan anak kecil lagi! Varo udah besar!"


"Kata siapa?"


"Yaya!"


"Yaya aja terus, kemarin Ayah liat Yaya maen sama temen laki-laki lho di sekolahnya,"


Anak Anton dan Prilly itu memang sudah sekolah, gadis kecil yang biasa dipanggil Yaya merengek ingin disekolahkan jadilah dia masuk PAUD terlebih dahulu.


"Beneran, Ayah?" tanya Varo.


Ardo mengangguk.


"Ish, Yaya nih! Biarin deh,"


Dahi Ardo mengernyit. "Varo biarin aja? Kan katanya pacar Varo?"


Varo mengangguk. "Kata uncle Dion kalo Yaya main sama laki-laki lain, Varo cali Yaya yang lain juga,"


Seketika tawa Viola pecah. Makin hari makin cerdas saja murid Dion ini. Melihat dari tingkahnya saat kecil beginui enggak menjamin kalau Varo ini akan menjadi seperti ayahnya yang tidak memiliki pacar.


"Heh! Anak kecil enggak boleh pacar-pacaran!"


"Ayah! Varo bukan anak kecil lagi! Ayah yang anak kecil," geram Varo.


"Ayah anak kecil? Yang ada Ayah bisa bikin anak kecil," jawab Ardo enteng.


"Mas," tegur Viola.


"Kenapa, sayang? Mau bikin anak kecil lagi?"


Viola memutar bola matanya, masa iya dalem perut aja belum berojol mau bikin anak kecil lagi? Dikira Viola ini mesin pencetak anak apa?!


"Kamu belum jawab pertanyaan aku lho?"


"Yang mana?"


"Kamu enggak ngantor?"


"Males, Yang."


"Mas! Kamu tuh udah empat hari bolos, enggak takut bangkrut apa?!" omel Viola, karena Ardo ini sudah empat hari bolos dan semua pekerjaannya dilimpahkan pada Anton dan Dion. Viola sih sebenernya biasa aja kalau saja si Dion enggak neror supaya Ardo balik kerja. Viola kasihan sih sma Dion mana dia lagi pusing mikirin masalah hidupnya yang enggak pake kelar-kelar itu.


"Sayang, kamu kan mau lahiran. Prediksi dokter kan tinggal dua atau tiga hari lagi, jadi aku mau jadi suami yang siaga," ucapnya.


"Kan ada orang tua kamu yang jagain aku disini, jadi kamu enggak usah khawatir."

__ADS_1


"Pokoknya aku pengen jagain kamu!"


Viola menghela nafasnya, kalau sudah seperti ini Viola tidak bisa ngapa-ngapain lagi, dia hanya bisa mengikuti sang suami tercinta.


"Varo, Varo main sama Nenek gih," suruh Ardo.


"Ayah mau pacaran sama Bunda ya? Kata uncle Dion kalo Ayah nyuruh Varo lari artinya Ayah mau pacaran,"


Ardo mendengus tak suka mendengar ucapan Varo yang selalu mengikuti ucapan Dion itu. Sebenarnya Varo ini anak dia atau Dion sih?


"Iya, Ayah mau pacaran. Sana kamu, enggak usah jadi racun nyamuk,"


"Iya, Varo lari. Tapi Ayah jangan apa-apain Bunda, nanti Ayah bakal Varo," Varo menaruh telunjuknya di sisi leher sebelah kiri lalu ke sebelah kanan. "Erk! Mati, ha ha ha." Anak kecil itu langsung melenggang pergi membawa semangkuk semangka.


"Bar-bar banget sih Mas anak kamu," ucap Viola terkekeh.


"Ngikutin siapa coba? Kayaknya aku enggak dapet apa-apa dari dari Varo, semuanya mirip kamu heran deh padahal aku yang lebih dominan bikinnya daripada kamu,"


Viola mencebik. "Terserah kamu, kamu ngapain nyuruh Varo lari?"


Tiba-tiba Ardo memandang Viola intens. Hal itu membuat Viola gugup, tidak biasanya Ardo memandangnya seperti ini.


"Ke-kenapa?" tanya Viola.


Ardo mengelus pipi Viola, ia menyelipkan anak rambut Viola yang berantakan itu ke telinga istrinya itu. Meskipun rambut Viola terkesan acak-acakan namun di mata Ardo Viola sangat cantik. Rasanya hanya Viola wanita tercantik yang pernah ia temui di dunia ini.


"Aku enggak pernah ngajarin kamu buat jadi pencuri," tiba-tiba Ardo berkata datar. Ia mencengkram dagu Viola.


Viola meringis, cengkraman itu memang tidak kuat tetapi mengapa rasanya sangat sakit?


"A-apa maksud kamu, Mas? Aku enggak pernah nyuri," jawab Viola. Melihat tatapan dingin Ardo hati Viola semakin sakit.


"Kamu pencuri Viola!" sentak Ardo.


Viola terjengkit, air matanya tiba-tiba luruh. "Apa maksud Mas? Aku-aku enggak pernah nyuri apapun," ucapnya disertai isakan kecil.


"Kamu pencuri! Kamu udah berani nyuri hati aku!"


Lalu Viola merasakan seseorang memeluk tubuhnya. Hangat dan nyaman itulah yang ia rasakan.


Viola semakin menangis mendengar ucapan Ardo. "Mas Ardo ... "


"Kenapa jantungku selalu berdebar jika kita berdekatan gini? Kamu denger suara jantungku kan?"


Viola mengangguk didalam dekapan Ardo, ia bisa mendengar detak jantung pria itu semakin menjadi.


"Kenapa Viola?" Ardo melerai pelukannya ia menatap Viola yang sudah berderai air mata. "Kenapa?"


"Karena aku mencintaimu," ucap Viola. "Karena aku sangat mencintai Mas Ardo, hanya Mas Ardo."


Ardo menggeleng. "Enggak, kamu enggak mencintai Mas Ardo," Ardo masih menggeleng, "tapi kamu mencintai orang yang berada di hadapanmu ini, mencintai orang ini meskipun dikehidupan nanti namanya bukan Ardo tetapi jiwanya akan selalu kau cintai," ucapnya.


"Begitupun aku, Viola. Tidak perduli kamu gendut, jelek, atau kamu cacat. Aku akan selalu mencintai orang yang berada dihadapan ku ini, selalu mencintaimu meskipun kamu bukan Viola, aku akan selalu mencintai pemilik raga ini."


Viola memeluk Ardo dengan tangis yang semakin menjadi. "Mas Ardo belajar dari mana? Jangan bilang dari Dion,"


"Dion yang banyak belajar dari aku, Viola."


Viola mengangguk, entah untuk apa ia mengangguk yang jelas ia sangat terharu saat ini. Ia sangat bahagia karena bisa bersama orang yang ia cintai dan mencintainya, jika ia bisa ia akan berdoa ingin hidup abadi bersama orang di hadapannya ini.


"Kamu terharu enggak?" tanya Ardo.


"Aku sangat terharu, sampai-sampai rasanya si Bocil mau keluar sekarang juga,"


"Apa?! Ayo kita kerumah sakit! Kamu mau melahirkan!" ucap Ardo cemas, ia sudah mau membopong Viola.


"Belum, Mas."


"Ta-tapi perut kamu sakit,"


Viola tersenyum ia mengelus rahang tegas Ardo lalu mengecupnya. "Sayang, ini biasa kok. Aku masih mau ngomong sama kamu,"

__ADS_1


"Apa?"


"Mas inget nggak waktu Mas ngasi aku pertanyaan terus kalau aku dapet jawabnya platinum card kamu jadi milikku,"


"Tapi kan udah aku kasi sama kamu," ucap Ardo. Platinum card itu sudah berada ditangan Viola, untuk apa lagi wanita itu menanyakannya?


"Aku mau jawab,"


"Yaudah, jawab aja."


"Jawabannya karena kamu mencintaiku, kamu akan terasa mati kalau aku pergi darimu. Bukannya aku geer atau apa tetapi faktanya memang seperti itu," ucao Viola.


"Kelihatan banget ya, Yang?"


Viola mengangguk. "Kita sama, Mas. Kamu mencintai aku, dan aku juga mencintai kamu. Aku enggak akan bosan bilang ini, I love you, I love you so much, I love you today and tomorrow, tomorrow again, tomorrow tomorrow again, and until the end of my life. I will always love you,"


"Sayang, aku pengen terbang, pegangin."


Viola tertawa hingga rasanya perutnya ini menjadi keram.


"Jadi, Mas udah cinta sama aku dari awal kita nikah?"


"Mungkin kamu enggak akan percaya namanya cinta pandangan pertama, tapi aku beneran ngerasain, Viola. Aku suka kamu dari awal kita ketemu, waktu kamu nabrak aku. Jadi peribahasa gini, dari tabrakan jatuh ke hati."


"Kan kamu yang nabrak, bukan aku," kata Viola. Seingatnya Ardo lah yang menabraknya.


"Emang kamu liat aku? Kamu aja asyik telfonan,"


Viola menyengir. "Jadi kamu udah cinta aku sudah selama itu?" Viola mencolek-colek dagu Ardo.


"Iya,"


"Tapi kenapa dulu waktu aku bilang aku cinta kamu, kamu kayak enggak suka gitu?"


Viola teringat akan pertama kali ia mengucapkan cinta pada Ardo, reaksi laki-laki itu menunjukkan bahwa ia tidak memiliki rasa yang sama.


"Aku kaget, Yang. Aku mau bilang cinta sama kamu juga waktu itu, tapi suaraku rasanya ketahan sampe tenggorokan gitu. Enggak tau deh kenapa,"


"Aku tau kenapa, karna kamu itu kulkas isi bon cabe,"


Ardo mencebik. "Jahat banget sama suami,"


Viola lagi-lagi tertawa, perutnya semakin keram.


"Mas, aku minum dulu."


Viola beranjak dari tempat duduknya, namun baru saja ia berdiri suara nyaring Ardo membuatnya mengurungkan niatnya untuk mengambil minum.


"Sayang! Kamu ngompol!"


Ngompol?


Seketika itu ia melihat kakinya, ya ia juga melihat cairan bening merembes ke bawah kakinya.


"Sa-sayang, ka-kamu mau la-lahiran atau pipis di celana?" tanya Ardo gugup.


Viola memutar bola matanya. "Aku mau lahiran Mas Ardo, ayo kita ke rumah sakit,"


Ardo meneguk ludahnya, ia memperhatikan punggung Viola yang mulai menjauh.


Viola mau lahiran?


"MAS ARDO NGAPAIN MELAMUN?! AKU KESAKITAN NIH!"


***


Selamat hari Jum'at!


Vote, komen, dan jempol jangan pernah lupa ya hehee :)


Tebak dong anak Ardo dan Viola cewek atau cowok? Atau dua-duanya?

__ADS_1


Yang udah pernah lahiran kasi tau dong gimana rasanya lahiran, biar chapter selanjutnya feelnya dapet, karena saya belum pernah ngerasainn :)


Nantikan kelanjutannya yaaa, nantikan juga kehebohan para kakek dan dan nenek, beserta uncle-uncle baru itu. See u :*


__ADS_2