
Jakarta, Indonesia.
"Huh ... huh Ardo—Ardo gimana, Ma?" dengan nafas terengah-engah Viola menghampiri Mama Lia yang sedang berada di depan ruang inap Ardo, disusul Dion di belakangnya yang juga terengah-engah mengejar wanita berperut buncit itu, bukan apa Dion takut saja dengan keadaan Viola.
Ya, Viola memaksa Dion untuk kembali ke tanah air setelah mendengar Ardo kecalakaan dan lebih parahnya koma. Mereka sampai ke tanah air sekitar +-24 jam setelah keberangkatan.
Flashback on
"Jadi ... Ardo beneran koma?"
Nafas Dion tercekat saat mendengar suara lirih itu, Dion membalikkan tubuhnya dan benar saja Viola sudah berdiri dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya.
"JAWAB GUE DION!" bentak Viola yang entah kapan sudah berada di depan Dion.
Dion menjadi sangat bingung, apa yang harus ia lakukan sekarang. Dion ingin sekali memberitahukan Viola perihal Ardo namun disisi lain Dion masih ingat perkataan dokter tadi, Viola tidak boleh tertekan itu akan membahayakan kandungannya.
"DION! Hiks ... jawab aku! Ardo ... hikss," dengan cepat Dion membawa Viola kedalam rengkuhannya.
"Sstt tenang dulu Kak, gikirin—"
"Gimana aku bisa tenang, Yon?! Suami aku! Suami aku koma di sana, Dion! Ka-kalian bener ... keegoisan akulah yang membuat Ardo kayak gini, semua ini salah aku! Istri macam apa aku ini?!" Viola menangis histeris dalam pelukan Dion.
"Bukan Kak, gak ada yang salah disini. Kita hanya mampu berdoa aja semoga Mas Ardo gapapa," ucap Dion yng masih menenangkan Viola.
Viola melepaskan pelukan Dion, ia memandangnya datar. "Pulang,"
Dion cengo dengan perkataan Viola. "Hah? Pu-pulang? Maksudnya Kakak nyuruh aku pulang? Kakak ngusir aku?" tunjuk Dion pada dirinya sendiri.
"Hiks ... gue Dion aku! Hiks kenapa kamu **** banget sih hiks ... aku mau pulang,"
"Ta-tapi, bahaya buat kandungan kakak—"
"GUE BILANG GUE MAU PULANG!!"
flashback off
__ADS_1
Setelah sampai di rumah sakit Viola terus berlari tanpa mempedulikan teriakan Dion akan keselamatan bayinya. Viola pun seakan lupa bahwa ia sedang mengandung sekarang.
Mama Lia terkejut dengan kedatangan Viola. Lalu Mama Lia melotot ke Dion.
"Ma! Jawab Viola, Ma!" sentak Viola. Sopan santunpun entah ke mana lagi sejak mendengar Ardo kecelakaan.
Belum sempat Lia menjawab, tiba-tiba Viola ambruk tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir dari paha yang tertutupi dress soft pink yang dikenakannya.
"Viola!!"
***
Aku membuka mataku perlahan. Rasanya tidur ini sangat nyaman sekali. Pemandangan yang pertama kali kulihat adalah hamparan rumput hijau dengan pepohonan rindang serta bunga-bunga yang menghiasi taman ini. Ini jelas bukan kamarku, entah di mana aku berada sekarang. Rasanya aku berada di negeri dongeng, tepatnya di negeri awan yang sering Mami ceritain dulu.
Angin yang sepoi-sepoi membuat perasaan ku tenang. Rasanya semua beban yang ku tanggung terlepas semua. Rasanya tubuhku seringan bulu tiada beban atau apapun.
Pandanganku beralih pada anak kecil yang sedang berlari menangkap kupu-kupu cantik yang terbang di sekitar bunga-bunga yang mekar. Gaun putih lucu yang digunakan bocah itu nampak terbang seirama dengan langkah mungil itu. Bocah itu sangat lucu sekali, bahkan aku akan menebak jika ia dewasa nanti maka ia akan menjadi primadona di sekolahnya.
Gadis kecil itu sesekali tertawa saat kupu-kupu itu hinggap di kepalanya, aku merasakan sangat bahagia ketika melihat tawa menggemaskan milik gadis kecil itu. Gadis kecil itu menoleh kearah pohon di belakangku atau lebih tepatnya kearahku, dia melambaikan tangannya entah mengapa hal itu membuat jantungku berdebar. Entah mengapa aku merasa wajah gadis kecil itu sangat familiar sekali.
Gadis kecil itu berlari menghampiriku, rambut ikal berponinya terbang terbawa angin saat berlari, pipinya yang gembul pun nampak naik turun seirama ketukan kaki mungilnya melangkah.
"Bunda, bunganya cantik!" serunya padaku. Aku hanya tersenyum menanggapinya. Aku masih mengelus surai lembut itu.
Tangan mungilnya menyelipkan bunga tadi ke telingaku. "Bunda cantik, aku pengen cantik kayak bunda!" ucapnya dengan mata berbinar membuat ia semakin menggemaskan dimataku. Aku tak kuasa lagi menciumi pipi gembul itu, kuciumi kedua pipi itu sehingga ia tertawa dan menunjukkan beberapa giginya yang copot.
"Hihi bunda geli," katanya masih dengan tawa. Namun aku masih menciumi pipi gembul itu sesekali menggelitiki perutnya.
Tiba-tiba saja gadis kecil itu melepaskan pelukanku. Gadis kecil itu menatapku sendu lalu tersenyum semanis mungkin. "Bunda harus pergi," ucapnya. Aku menggelengkan kepalaku dengan air mata yang sudah mengalir. Mana mungkin aku meninggalkannya sendiri disini.
"Bunda jangan nangis." Gadis kecil itu mengusap air mataku. Ku ambil tangan mungil itu dan kuciumi seluruh permukaan tangan itu.
"Bunda harus pergi," ucap gadis itu lagi. Lagi-lagi aku menggeleng sambil menggenggam tangannya.
*Gadis itu juga menggeleng pelan. "Tempat bunda bukan di sini."
__ADS_1
Lagi-lagi hanya gelengan yang mampu aku berikan*.
Gadis kecil itu tersenyum lalu mengecup pipiku. "Bunda harus pergi, aku sayang bunda sama ayah, juga sama kakak,"
Setelah mengucapkan itu tiba-tiba gadis itu menghilang dan digantikan dengan ribuan kupu-kupu yang sangat cantik. Dan saat itu pula aku merasakan kegelapan.
***
Viola mengerjap-ngerjapkan mata untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke indera penglihatannya. Badan Viola terasa sakit semua, apalagi di daerah perut rasanya seperti diremas-remas. Mungkin efek dari jetlag fikirnya.
Viola meringis saat ia menggerakkan sedikit tubuhnya. Ringisan tersebut membuat Milen yang tertidur di sofa terbangun dan tergopoh-gopoh menghampiri Viola.
"Kamu mau apa? Biar aku yang ambil," ucap Milen setengah tertidur. Maklum saja dia tidak tidur semalaman, dia juga keukeuh untuk menemani Viola hingga tersadar.
"Minum," lirih Viola
Milen dengan sigap mengambilkan air mineral yang disediakan memang untuk Viola. "Pelan-pelan," kata Milen.
"Terima kasih,"
Milen mengangguk. "Badan kamu masih sakit?" tanya nya sambil duduk di tepi ranjang.
Viola mengangguk, kemudian mengelus perutnya. "Ini sakit banget," Viola merasa janggal dengan perutnya. Ia masih mengelus-elus perut rata itu.
Kegiatan Viola yang mengelus perutnya itu tak luput dari pandangan Milen.
"Udah berapa lama aku pingsan?" tanya Viola.
"Sekitar empat hari," jawab Milen. Viola membulatkan matanya tetapi tangannya masih setia dengan perut rata tersebut seakan-akan perut itu menghilang jika tidak di pegang.
"Perut aku kok rata? Ba-bayi aku?" tanya Viola yang seakan sadar dengan keadaanya sekarang.
Milen yang mematung di tempatnya tidak bisa berkata-kata. Apa yang harus ia katakan?
Milen yang terdiam membuat Viola emosi. "Jawab, Mbak! A-anak aku? Hiks ... Please jawab Mbak jawab ... " Viola memohon dengan air mata yang sudah mengalir.
__ADS_1
Milen tak kuasa lagi melihat Viola, dia juga ikut menitikkan air mata. "A-anak kamu terpaksa lahir duluan,"
***