Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez

Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
Enampuluh


__ADS_3

Iklan lewat๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


Ayo baca cerita fantasi, cerita yang membubuhkan segala macam bentuk magis, saya jamin cerita ini akan berbeda dengan cerita kebanyakan cerita roman lainnya. Oke check it out!


Awalnya Hera Athena Demeter hanya seorang manusia biasa yang mendapat beasiswa di Universitas Johannes Gutenberg Mainz, Jerman.


Namun semua itu berubah ketika ia mendapati fakta bahwa ternyata ia merupakan manusia serigala. Objek yang selama ini ia teliti untuk memenuhi tugas akhirnya. Ia juga mendapati kejadian yang berada diluar nalar manusia awam.


Tidak hanya itu, ia juga mendapati kejutan-kejutan lain yang mengantarkannya pada seorang Alpha yang tertidur, Zeus Ares Asklepios. Salah satu dari kejutan itu adalah Hera merupakan Queen of the Earth yang berikutnya.


Namun sebelum itu ia harus menemukan Queen of the Earth sebelumnya dahulu untuk melakukan perjanjian darah. Lantas bagaimana perjalanan Hera dalam menemukan Queen of the Earth sebelumnya itu? Lalu, kejutan-kejutan apa lagi yang akan didapatkan Hera? Ikuti kisahnya hanya di 'Queen of the Earth'.


Cerita ini akan membawa kalian merasakan kehidupan di dunia fantasi yang berada diluar nalar manusia.


Iklan selesai๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


***


Happy Reading :)


Rasanya berat sekali untuk membuka mata. Tapi tangan mungil yang sedang memainkan wajah saya ini terasa menganggu, terkadang saya juga merasakan seseorang mencium pipi saya. Dengan perlahan saya membuka mata, pemandangan yang pertama saya dapatkan adalah senyuman manis bocah perempuan yang yang saya taksir umurnya baru tiga atau empat tahun. Tapi, kenapa wajah bocah ini sangat mirip dengan ... saya? Astaga! Anak siapa ini? Kenapa begitu menggemaskan?


Saya bangun lalu tersenyum pada bocah menggemaskan itu. Dia tertawa lalu tanpa disuruh ia duduk di pangkuan saya. Entah kenapa saya merasakan ikatan yang sangat kuat dengan anak ini. Surai kecoklatan itu saya belai dengan lembut dan sesekali saya mencium puncak kepalanya yang terasa sangat harum. Entah mengapa saya teringat akan seseorang dengan surai seperti ini.


"Ayah, ayo main!" ajaknya semangat.


Ayah?


Kaki kecil itu berlari ke ayunan yang tak jauh dari kami duduk tadi. Saya baru sadar ternyata kami sedang berada di taman yang indah. Ayunan tadi terbuat dari kayu. Talinya terbuat dari tumbuhan yang berbunga, saya pun tidak tau apa nama tumbuhan itu yang jelas semuanya hidup. Tumbuhan lain menyelipkan bunga ke telinga bocah tersebut. Ia tertawa, saya baru sadar ternyata gigi depannya hilang dua batang, meskipun begitu ia tampak sangat menggemaskan dengan gigi tersebut. Bocah itu melambaikan tanganya pada saya agar saya kesana. Dengan senang hati saya pun menghampirinya.


"Ayah, Ayah mau ikut denganku?" tanya bocah itu ketika saya sampai dan mengayun ayunannya.


Saya bingung, apakah saya harus pergi atau tetap tinggal. Gadis kecil itu menatap saya dengan tatapan sayu. Saya tak kuasa untuk menolaknya. Jadi saya putuskan untuk ikut bersamanya.


"Tentu, Ayah akan pergi bersamamu," tak lupa saya memberikan senyuman kepada gadis kecil ini. Dia tidak cadel di usianya yang masih bisa disebut balita ini.


Dia tersenyum sumringah kemudian turun dari ayunan tersebut lalu menarik tanganku.


"Ayo!" ucapnya semangat, namun baru saja beberapa langkah, bocah itu berhenti lalu menatap saya lagi. Kali ini tatapan yang sulit saya artikan.


"Kenapa berhenti, sayang?" tanya saya.


"Sebenarnya, Ayah gak boleh ikut aku," jawabnya. Lah bukannya dia yang ngajak?


"Kenapa? Ayah ikut kamu aja," ucap saya lagi.


"Jangan ... bunda dan kakak lebih butuh Ayah," bocah itu tersenyum manis, "itu lihat! Bunda udah jemput." Bocah itu menunjuk kebelakang saya. Saya pun mengikuti arah tunjukkan itu.


Di sana, eaya dapat melihat seorang wanita cantik sedang menggendong bocah laki-laki, ia tersenyum pada saya. Dia merentangkan tangannya pada saya seakan ingin memeluk saya. Saya bingung siapa yang harus saya ikuti, anak ini? Atau wanita itu? Oh Tuhan.


"Ayo Ayah, pergi. Bunda sudah menunggu," ucap anak itu. "Aku sudah cukup bermain dengan Ayah."


Saya menggeleng. "Ayah ikut kamu aja,"


Dia juga menggeleng, lalu mendorongku pelan agar menjauh darinya. "Aku akan menangis jika ayah tidak menurutiku," ucapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ya ampun saya mana tega.


"Baiklah," ucap saya final dari pada dia menangis saya ikuti saja kemauannya. Saya pun berbalik tapi entah bagaimana kaki saya bisa tersangkut akar dan terjungkal.


Brukk


Gelap!


Saya ingin membuka mata namun tidak bisa. Saya merasakan kegelapan yang sangat gelap entah dimana saya berada saya pun tidak tau.


Tapi saya mendengar seseorang mengatakan saya ... ehem ganteng. Saya ingin sekali membuka mata tapi ah saya juga tidak tau kenapa rasanya mata ini dilumuri lem yang sangat kuat. Saya masih berusaha untuk membuka mata, namun tiba-tiba saya merasakan benda kenyal yang sedikit basah itu mendarat di pipi saya. Dan ajaibnya mata saya langsung terbuka. Hanya satu nama yang akan dan selalu saya ingat.


"Viola ..."


***


Semua orang bernafas lega saat mengetahui Ardo telah sadar dari komanya. Selama satu bulan koma lebih tepatnya satu bulan lima hari dan sempat juga kehilangan detak jantung selama beberapa detik, itu tidak membuat keluarganya patah semangat. Mereka saling bahu membahu untuk menguatkan sesama.


Sedari tadi tangan Ardo tak lepas dari tangan Viola, ia menggenggam erat tangan yang serasa pas di genggamannya itu. Mata Ardo pun tidak berpaling sedikit pun dari Viola membuat wanita itu salah tingkah dengan pipi yang memanas.


"Mentang-mentang udah lama nggak ketemu, udah kayak lem peralon aja lengkeet terus," cibiran Milen membuat Viola semakin salah tingkah.


Mau dilepasin, tapi dia juga rindu.


"Bilang aja kamu iri," celetuk Marvel. Mereka sudah dekat semenjak saling bergantian menjaga Ardo dan Viola. Milen yang lagi libur syuting selalu stay di rumah sakit membuat mereka saling bertemu.


"Jomblo mah emang gitu, Do. Kurang belaian dia," kekeh Marvel, tak ayal membuat orang disana tertawa.


Wajah Milen tertekuk. "Bully aja terus! Entar aku bawa undangan tiba-tiba kerumah kalian baru tau!" ucapan Grace membuat tawa Marvel pecah.


"Mana ada orang yang mau sama kamu! Orang dandanannya aja kayak anak funk gini," ucap Marvel masih dengan tawanya. Entahlah mengolok Milen rasanya menyenangkan sekali.


Bibir Milen makin manyun mendengar ucapan Marvel. "Gak ada yang mau nolong aku nih?" kesal Milen.


Lagi-lagi orang di sana tergelak. "Mi, papi mana?" tanya Viola yang sedari tadi tidak menemukan keberadaan ayahnya.


"Masih di kantor, sayang. Tadi ada meeting mendadak," jelas Tania.

__ADS_1


"Ardo, kamu udah minum obat nya?" tanya Lia.


Ardo hanya mengedipkan matanya sebagai jawaban.


"Gue mau pulang deh, La. Nanti malem gue sama Anton ke sini lagi," kata Prilly yang sedang berkemas-kemas pulang.


"Lo enggak usah ke sini lagi, Pril. Kasian gue, perut lo udah gede, enggak baik kalo lama-lama di sini."


"Heh santai aja,"


Viola mengangguk. "Hati-hati ya, lo pulang sama siapa?"


"Sama pak Imin, La." sahut Prilly.


"Yaudah, hati-hati aja. Jaga baek-baek tu bayi lo," ucap Viola. Siapapun yang mendengarnya pasti merasakan juga kesedihan saat Viola mengucapkan itu. Genggaman Ardo semakin mengerat kala merasakan juga kesedihan yang istrinya rasakan itu.


Prilly menatap Viola sendu. "Pasti, La. Gue balik ya. Cepat sembuh, Do," ucap Prilly. "Mari, saya pulang dulu," pamit Prilly ke semua yang ada di ruangan itu.


"Aduh kakak-kakak, abang-abang, tante-tante. Dion mau pulang dulu nih, mau balik ke Amrik lagi hehe,"


"Ck harusnya kamu enggak usah pulang ke sini, Dion. Kan capek kalo kamu bolak-balik gini,"


"Hehe, aku kangen sama Mama, Tante," jawab Dion pada mama Lia.


"Yaudah, pulang sana!"


Dion mencebikkan bibirnya. "Tante ngusir aku?"


Mama Lia menatap Dion malas, dan hanya dibalas cengiran oleh remaja itu.


"Dion, nebeng ke apartemen," Dion mengangguk. "Aku pulang dulu," pamit Milen.


"Mami nggak pulang?" tanya Viola pada Mami Tania yang sedang makan buah bawaan orang yang menjenguk Ardo.


"Kamu ngusir, Mami?"


Viola meringis melihat pisau buah yang ditodongkan mami padanya.


"Yakan nanya doang, Mi." jawab Viola.


Marvel terkekeh. "Yok lah, Mi kita pulang. Itu kode aja supaya kita pergi dari sini,"


"Bang Marvel ... " rengek Viola.


"Kamu temenin Viola jaga Ardo ya Vel, kasian Mami kamu," kata mama Lia. "Tante juga mau pulang, belum mandi soalnya." Lanjutnya.


Marvel mengangguk. "Mami pulang sama tante Lia aja, Mi."


"Iya-iya, kamu temenenin Viola."


"Ck! Tau merintah aja, Abang aja gih!" gerutu Viola.


"Abang mau ngomong sama suami kamu sebentar,"


"Iya! Tapi awas kalo berani macam-macam!" ancamnya.


"Satu macem doang,"


"Abang ... "


"Iya-iya sono lu!"


Akhirnya tinggal Marvel dan Ardo di ruangan ini, dan keadaan pun jadi hening.


"Ehem," Marvel yang merasa jengah akan keheningan ini pun berdehem guna mencairkan suasana.


"Lo nggak ada yang mau di ucapkan?" tanya Marvel datar. Ia menatap tajam Ardo yang tidak berdaya itu.


"Saya ... minta maaf," ucap Ardo lemah. Rasanya mulutnya itu masih kaku untuk berbicara.


"Gue maafin, gue juga minta maaf udah nonjok lo sebelum kecelakan itu. Sumpah gue nyesel Do udah mukulin lo, lo boleh pukul balik gue."


Ardo menggeleng pelan. "Saya enggak marah, pukulan itu ... hukuman buat saya,"


"Gue emang keterlaluan sama lo, tapi semua ini karna gue sayang sama adek gue. Gue enggak mau dia menderita lagi cuma karna laki-laki--"


"Lo enggak ngapa-ngapin Ardo 'kan, Bang?" tanya Viola memotong ucapan Marvel.


"Yaelah, liat sono! Suami kamu lecet enggak?" ketusnya.


Viola terkekeh. "Kali aja,"


"Aku mau ke kantin nih, laper. Kamu mau nitip enggak?"


"Ada bakso nggak ya?"


"Ada lah, tapi 'kan kamu belum boleh makan itu,"


"Udah boleh, tapi jangan pedes."


"Hem baiklah, aku tinggal ya,"

__ADS_1


Viola mengangguk, lalu ia menatap Ardo yang juga menatapnya.


"Kenapa?"


Ardo menggeleng.


"Ardo,"/"Viola," ucap mereka bersamaan


Mereka saling berpandangan lalu tertawa.


"Kamu dulu," ucap Ardo.


"Kamu aja, aku ... malu," cicit Viola dengan wajah memerah.


"Yaudah saya duluan," ucap Ardo. Viola pun menunggu dengan tak sabaran dan mengira-ngira apa yang akan Ardo bicarakan.


"Saya juga malu," kata Ardo mau tidak mau Viola pun terbahak.


"Kok gitu? Emang mau ngomong apa?" tanya Viola.


"Lah kamu? Mau ngomong apa?"


"Kok nanya aku? Kamu lah,"


"Kok nanya saya? Kamu lah,"


"Iih Ardo rese!!" gerutu Viola.


Ardo terkekeh. "Aw," ringisnya ketika merasakan nyeri di lehernya.


"Maaf," ucap Ardo.


"Hah?"


"Maaf," ulangnya lagi.


"Maaf?" beo Viola


"Saya minta maaf, karena saya kamu jadi kabur, karena saya kamuโ€”"


"Kamu enggak perlu minta maaf," ucap Viola, ia menggenggam tangan Ardo yang bebas dari infus. "Di sini aku yang salah, aku yang udah bikin kamu kayak gini. Aku ... " suara Viola melirih, "aku minta maaf."


"Ini bukan salah kamu. Ini adalah balasan dari Tuhan untuk saya, untuk semua kesalahan yang saya lakuin ke kamu, kesalahan saya yang enggak mau terbuka dengan kamu."


Viola menggeleng, air mata itu tak dapat Viola hindari lagi. "Aku yang jahat Ardo, aku egois, aku yang bikin kamu kayak gini, aku udah bunuh anak kita, aku jahat ... aku ibu yang jahat." Katakan lah dia ingkar janji untuk tidak menangis, tapi kalau urusannya macam gini beda lagi.


"Maksud kamu?"


"Anak kita ... anak kita kembar," ia menunduk sesekali menarik cairan yang keluar dari hidungnya. "Tapi, hanya satu yang selamat," ia kembali menatap Ardo, "itu karena aku! Karena aku hiks,"


"Ka-kamu boleh marah sama ku, boleh pukul aku, boleh caci maki aku, ka-kalau kamu minta ce-cerai ... akuโ€”aku siap, aku siap lahir batin, hiks." Viola menangis tergugu. Nyatanya ia tidak mau jika Ardo menceraikannya, nyatanya ia tidak mau berpisah dengan lelaki itu. Tapi apalah daya jika Ardo ingin menceraikannya, ia akan dengan ikhlas mengabulkannya.


Ardo menggenggam erat tangan Viola. "Sampai kapanpun saya enggak akan ceraikan kamu, Viola."


"Anak kita tidak tertolong, itu bukan karena kamu. Itu udah takdir. Semua ini adalah rencana Tuhan, saya yakin ini adalah cara tuhan untuk menguji pernikahan kita. Makanya kita harus kuat, masih ada satu anak kita lagi yang harus kita rawat." Lanjutnya. Viola menunduk dengan sesekali tangannya mengusap air mata itu.


"Kamu jangan sedih lagi, ya?"


Viola mengangguk lalu dia menatap Ardo. "Kamu, ada masalah apa waktu itu?"


"Masalah perusahaan, biasalah saham turun. Belum lagi isu yang bilang perusahaan mau gulung tikar, perusahaan bangkrutlah. Jadi, banyak para investor membatalkan kerja samanya," jelas Ardo.


Viola menunduk sedih. "Harusnya aku lebih mengerti kamu,"


"Tidak apa, itu semua sudah berlalu. Dan sekarang adalah"- jedanya, -"kamu mau kan melanjutkan pernikahan kita? Kamu mau kan hidup bersama dengan lelaki brengsek ini?"


Viola menegang, be-benarkah? Benarkah Ardo mengajaknya untuk melanjutkan pernikahan mereka?


"Jawabannya hanya ada tiga 'iya', 'mau', 'bersedia'. Selain itu saya haramkan," lanjut Ardo datar.


Viola tertawa di balik tangis nya. "IMB," ucap Viola tersenyum kemudian mengecup punggung tangan Ardo. "Iya, Mau, Bersedia."


Ardo tersenyum,


Akhirnya,


Akhirnya Viola-nya kembali,


Ia kembali bersama Ardo,


Ia kembali bersama anak mereka.


Dan kali ini Ardo tidak akan pernah lagi melepaskannya. Ardo berjanji akan menjaga Viola sebisa yang ia mampu, ia akan menebus segalanya, ia akan membuat keluarga kecilnya bahagia, ya Ardo janji itu, janji seorang Mr. Vazquez pada istrinya, Mrs. Vazquez.


Tamat.


***


(yeayyy tamaatttt, tenanggg masih ada kelanjutannya kok ehehe tapi kalian mau nggak nih saya bikinin epilognya? Supaya nggak gantung2 amet gitu. Mau nggak? Tulis MAUU kalau mau, tulis GAK TERTARIK kalau nggak mau, oke?!) (Bisa nggak ya part ini tembus 500 jempol?๐Ÿค”)


Btw part ini berisi 1900an kata loh, banyaakkk banget si menurut saya eheheh

__ADS_1


Ehh jempolllll jangan lupaa~~~


(Saya akan update kalau udah nyampe 500k reader, makanya ayo rekomendasikan cerita ini sama temen2 kalian. Maafin ya kalau saya terlalu maksa :(


__ADS_2