Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez

Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
28 (Season 02)


__ADS_3

Jangan lupa juga jempol untuk chapter sebelumnya, karena saya juga memantau jumlah jempol yang kalian berikan hehe.


Maaf kalau terlalu maksa :)


Happy Reading, semoga suka :)


***


"Liat-liat ya, kalau Varo nemu buah nanti Om ambilkan,"


"Buah? Seperti maga-maga?"


Dahi Kevin mengkerut. "Maga-maga?"


Varo mengangguk. "Maga-maga,"


"Buah apa tu? Om enggak tau," kata Kevin. Selama dua puluh tahun hidupnya ia sama sekali tidak pernah mendengar buah itu.


Varo menaruh telunjuknya di dagu, seolah ia sedang berfikir. "Bunda bilang, se man ga, ha! Semaga, maga-maga Om Kepin," ucap Varo.


Akhirnya Kevin mengerti ucapan Varo itu, ternyata maga-maga itu adalah semangka. Jauh banget dari semangka ke maga-maga, bahasa dari mana.


"Coba Varo ikutin Om, Se?


"Se?"


"Mang?"


"Maa?"


"Mang Varo Mang,"


"Manggg!"


"Nah abis itu ka,"


"Ka?"


"Se mang ka,"


"Memaga!"


Kevin mendengus kesal, ternyata mengajari anak-anak berbicara itu membuat darahnya cepat naik. "Semangka Varo, bukan memaga. Udah punya adik lho masa bilang semangka aja enggak bisa,"


Varo terkikik seraya menutup mulutnya. "Semangka, Varo tau Om, Varo tipu-tipu aja hihihi," ucapnya.


Kevin menggeleng, anak ini memang jahil dan pintar. Mungkin saja orang tuanya adalah orang yang pintar.


"Om, mau cium Keong,"


Kevin mencondongkan tubuhnya, ia mendekatkan Keo ke arah Varo.


"Keong lucu ya Om? Seperti boneka Yaya," ucapnya ia mengecup pipi adiknya yang masih terlelap itu, lalu mengusap pipi tembamnya.


Arah pandang Kevin tertuju pada pergelangan tangan Varo. "Varo, itu jam tangan Varo bisa telpon?" tanyanya meskipun Kevin orang yang tidak punya tetapi ia cukup tau benda yang namanya watch phone itu.


Varo mengangguk. "Kenapa Om? Om mau? Nanti Varo suruh ayah belikan Om," jawabnya.

__ADS_1


Kevin menggeleng. "Boleh Om pinjam, siapa tau bisa nelpon orang tua kamu," ucap Kevin.


Varo menepuk pelan kening nya. "Varo lupa! Kata ayah kalau Varo mau hubungi ayah lewat ini. Tapi Om, ndak idup nih?"


"Sini Om lihat dulu,"


Varo pun melepaskan watch phone miliknya.


"Hidup kok, tapi enggak ada sinyal," kata Kevin setelah menghidupkan watch phone itu.


"Sinal?" beo Varo.


"Nanti Om jelasin, Varo bisa pangku Keong kan?" tanya Kevin.


"Bisa Om, tapi di sini banak namuk,"


Benar, di sini memang banyak nyamuk. Tubuh Varo saja sudah banyak bentol-bentol, sama juga dengan Keo pipinya memerah akibat gigitan nyamuk. Kalau Kevin tidak usah ditanya lagi.


"Om Kepin, kaki Om beldarah!" seru Varo.


Kevin melihat ke arah kakinya yang tidak memiliki alas kaki itu, dan benar kakinya mengeluarkan darah. Ia tidak sadar bahwa kakinya terluka, mungkin karena tadi berlari dengan menggendong Varo dan Keong. Kevin awalnya memakai sandal, tetapi karena berlari dengan sandal itu sulit maka dari itu ia meninggalkan sandal nya.


"Enggak apa-apa kok, enggak sakit. Kan Om Kevin kuat," jawab Kevin. "Om mau buat asap dulu supaya nyamuk nya pergi, Varo pangku dedek ya,"


Varo mengangguk lalu duduk bersila di tanah.


Kevin pun langsung menghidupkan api unggun, untung saja hutan ini banyak ranting-ranting dan dedaunan kering jadi Kevin bisa dengan mudah membuat asap.


"Varo duduk sini dulu, Om mau panjat pohon ini supaya bisa hubungi ayah kamu," ucap Kevin lalu mulai memanjat salah satu pohon besar di sana, berharap ia bisa mendapatkan sinyal.


Kepala Kevin berputar kala ia sudah mencapai puncak, kakinya gemetar ketika ia melihat ke bawah. Ia pernah memanjat namun tidak setinggi ini. Dan alhamdulillah Kevin mendapatkan sinyal meskipun hanya setitik dua titik.


Ia menekan simbol wajah laki-laki yang ia yakini adalah ayah Varo dan Keong itu.


Tak lama kemudian telepon itu tersambung, Kevin bahagia bukan main.


"Varo! Kamu dimana, sayang? Ayah nyariin kamu!" ucap orang di seberang sana, raut wajahnya nampak begitu khawatir. Namun setelah melihat bukan wajah Varo melainkan wajah Kevin membuat orang itu mengernyit.


"Siapa kamu? Dimana anak saya?! Mengapa kamu memiliki barang anak saya?! Jawab!"


"Pak, anak-anak bapak sama saya, tolong kami Pak, kami berada di hutan, tolong! Varo dan Keong kelaparan, saya tidak tau jalan pulang Pak,"


"Dimana posisi kalian?!"


"Saya tidak tau, kami berada di tengah-tengah hutan, kami tersesat. Tolong bantu kami, Pak."


"Kalian tetap disana! Tolong jaga anak-anak saya!"


Lalu wajah ayah Varo itu menghilang. Kevin bernafas lega, sebentar lagi mereka akan ditemukan. Tetapi apa yang akan dia katakan, bahwa ia yang menculik anak-anak itu? Yang pastinya ia akan menjelaskan semuanya apapun resikonya nanti.


Kevin mengikatkan watch phone Varo ke ranting pohon karena ia yakin watch phone Varo pasti memiliki gps sehingga akan lebih memudahkan ayahnya untuk menemukan mereka.


Kevin turun dengan perlahan, ia melihat Varo yang sedang bercanda dengan Keong. Untunglah Keong tidak kenapa-kenapa, Kevin sangat takut jika terjadi apa-apa dengan mereka berdua itu terutama Keong yang masih sangat kecil.


"Varo tetep di sini ya, Om mau cari kayu dulu di sekitar sini doang,"


Varo hanya mengangguk lalu bermain lagi bersama adiknya.

__ADS_1


Kevin mengumpulkan kayu untuk ia bakar, selain melindungi mereka dari berbagai macam ancaman api itu mungkin bisa membuat tanda keberadaan mereka agar ayah Varo bisa lebih mudah menemukan mereka.


"Sini dedek nya Om pangku," Kevin mengambil Keong dari pangkuan Varo. Ia bersandar di pohon kayu yang ia panjat tadi. "Varo ke sini juga, biar Om pangku. Kalau mau tidur, tidur aja sambil nunggu ayah Varo," ucap Kevin.


Lama kelamaan Varo tertidur di pangkuan Kevin, Keong yang tadinya bangun juga tertidur.


Kevin yang memang pada dasarnya sudah sangat kelelahan itu juga ingin memejamkan matanya, apalagi kepalanya masih pusing dan tubuhnya masih gemetar hingga tak sadar kegelapan pun menghampirinya.


***


Brak!


Joshua terkejut, ia menoleh ke pintu yang baru saja di dobrak itu.


"Apa yang lo lakuin?!"


"Santai dong, kan gue cuma mau liat doang," kata orang yang tersangka pembukaan pintu itu. "Gue fikir kalian udah maen, ternyata belom,"


"Ya maen juga pake perasaan dong," jawab Joshua.


Grace mendekati ranjang yang Joshua dan Viola tempati.


"Wanita ini, wanita si*lan yang selalu membuat hidup gue hancur!" Grace tersenyum devil, "tapi gue puas, anaknya pasti udah menghilang dan gue dapat memastikan keluarganya hancur beberapa saat lagi,"


Joshua mengernyit mendengar ucapan Grace, udah dia mengacaukan aksi mengeksplornya wanita ****** itu juga mengucapkan kata-kata yang enggak ia mengerti.


"Anak, keluarga? Maksud lo?"


"Gue udah nyuruh seseorang nyulik anaknya, dan gue yakin anak itu sudah berada dalam neraka,"


"Anak yang mana?" tanya Joshua.


"Enggak tau, kalau dua-duanya ya lebih bagus, biar keluarga itu hancur sehancur hancurnya!"


Joshua menggeleng takjub. "Gila lo Grace, jahat lo udah kayak gunung merapi, seram! Dosa lo kayaknya udah spektakuler banget,"


Grace tertawa. "Makanya sayang, jangan macam-macam dengan gue,"


Joshua menyengir. "Satu macem boleh?"


"Dan gue akan bales bermacam-macam," Grace tertawa. "Cepetan lo maen sebelum dia sadar, kalau lo enggak mau maen sama dia biar gue suruh bodyguard gue aja,"


"Eh! Enggak bisa dong, kan ini jatah gue,"


Grace tertawa lagi. "Ya cepet dong, rasain sensasi maen sama bini orang sekaligus ibu muda itu,"


Grace langsung melenggang keluar dengan anggunnya. Joshua hanya menggeleng, kok bisa ia ngelepasin penjahat seperti Grace itu.


Ya teman-teman, Joshua lah yang membebaskan Grace dari penjara. Saat itu Joshua sedang mengunjungi temannya yang masuk penjara akibat ditipu orang. Tanpa sengaja ia bertemu dengan wanita itu, awalnya ia menolak jaminan mengeluarkan Grace itu sangat besar bisa saja ia langsung bangkrut seketika. Tapi karena bujuk rayuan Grace akhirnya ia luluh juga, apalagi diimingi dengan sel*ngk*ng*n yang pastinya membuat mata Joshua berbinar.


Fokus Joshua teralihkan pada Viola yang belum sadar, benar-benar besar efek obat bius yang diberikan Grace itu.


Joshua menggeleng kala pandangan auto fokus ke daerah dada. Selama ini ia memang sering bermain dengan istri orang tetapi itupun bukan paksaan darinya melainkan rayuan dari istri-istri muda miliader. Tetapi jika yang seperti ini ia sama sekali tidak pernah, meskipun ia penjahat kel*min tapi menjadi pebinor bukan Joshua sekali.


Joshua berfikir, pasti suami Viola kelimpungan mencari istri dan anaknya. Apalagi anak mereka mungkin masih bayi. Joshua tidak bisa membayangkan kalau dia berada di posisi Ardo. Timbul rasa prihatin melihat rumah tangga Viola yang kacau akibat Grace itu, apakah ia harus meneruskan ini atau membatalkannya dan menyelamatkan Viola?


Entahlah tetapi nyicip dikit enggak papa lah, ya kan? Kapan lagi nyicip ikan segar yang terkapar tak berdaya di hadapannya ini hehe.

__ADS_1


***


Happy weekend!


__ADS_2