Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez

Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
02 (Season 02)


__ADS_3

Hallo, sesuai janji kalo jempolnya udah 350 saya bakal update lagi ehehe dan ini udah lebih, makasih loh yaaaa๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Oh iya, bantu like di ig dong postingan saya tentang lomba di MangaToon, ig nya @ptrmyllln, satu like dari kalian sangat berarti buat saya๐Ÿ˜ข


Typo bertebaran, harap maklum๐Ÿ˜‰


***


"Sayang, hari ini jadwal periksa dedek kan?" tanya Ardo di seberang sana.


Hari ini dia terpaksa pergi ke kantor karena paksaan dari sang istri tercinta. Padahal niat awal dia hari ini tuh manja-manjaan sama istri, mumpung Varo lagi sama mama Lia. Tapi yah ekspektasi enggak seindah realita, kan?


"Iya, sekitar jam sepuluhan gitu. Kenapa?"


"Aku ikut! Pokoknya harus! Aku pulang sekarang,"


Viola memutar bola matanya, gini nih semakin ke sini keras kepala Ardo makin nambah, pusing lama-lama Viola mikirin nya. "Kan kamu baru kerja, Mas. Ini juga masih jam sembilan," jawab Viola melirik pergelangan tangannya. Percaya nggak percaya Ardo tuh baru setengah jam berangkat dari rumah, dan sekarang ia udah mau pulang lagi, gila enggak sih?


"Nggak ada penolakan!"


"Tapi Mas--tutt ... tutt."


Viola mengerang kesal, sungguh ia lebih senang mengurus Varo dari pada mengurus bapaknya. Bukan apa bapaknya Varo ini kalau kata dia A ya harus A nggak boleh B atau C, intinya harus A.


"Unda, Alo nak maga maga," ucap seorang anak kecil yang duduk anteng di samping Viola. Sekarang Viola sedang berada di gazebo rumah Mama Lia.


"Varo mau mangga? Yaudah, duduk sini enggak usah kemana mana, Bunda mau ambil mangganya dulu, ok?"


Varo mengangguk lucu. Viola mengecup pipi tembam balita itu lalu mengambil mangga yang sudah dikupas nya tadi. Kebetulan juga tadi pagi Ardo ngidam ingin makan mangga matang dan masih ada lebihnya.


"Varo udah cuci tangan?"


Varo mengangguk lagi. "Udah belsih, Unda."


"Ini, makannya pelan-pelan ya."


Varo menatap mangga itu lalu menatap Bunda nya lagi. Dan itu dilakukannya berulang kali.


"Kenapa, sayang? Katanya mau mangga, kok enggak dimakan?" tanya Viola, ia mengusap surai hitam legam milik anaknya itu.


"Alo taknak inila, Unda. Alo nak maga maga," tolak Varo. Beberapa hari ini cara Varo berbicara udah kayak kartun anak kembar botak produksi negara tetangga itu. Karena setiap pagi, siang, sore, malam kartun itu menjadi kartun favorit Varo. Entah mengapa cepat sekali Varo menangkap gaya bicara kartun itu, mungkin saja ingatan seorang anak lebih tajam jadi dia mudah menangkap hal apapun yang dilihat dan disaksikannya.


Viola mengerutkan dahinya bingung. "Varo mau mangga kan? Itu mangga, Nak."


Balita itu menggeleng dengan bibir mengerucut sambil bersedekap, astaga lucu sekali, anak siapa sih? tanya batin Viola.

__ADS_1


"Maga maga, Undaaa. Yang besaaaallll, acam bola Alo," jelas Varo. Bocah itu mengepakkan tangannya ketika mengucap 'besar'.


Viola masih bingung, maga maga? Besar? Kayak bola? Apa sih? Astaga kadang Viola merasa gagal menjadi seorang ibu, karena ia tidak bisa mengerti ucapan yang dimaksud anaknya itu, ibu macam apa sih dia?


"Bunda masih nggak ngerti, sayang."


"Ish, Undaaa, uah maga maga, yang walna biluu. Tadi Opah kaci Alo tapi sikit je, Alo kan nak banyaaaakkk."


Viola menggaruk pipinya, ia masih bingung buah apa yang di maksud Varo ini. Buah warna biru dan besar, tapi emangnya Varo udah kenal warna?


"Ini kan maga maga juga, sayang."


"Ukanlah, Unda. Ini ukan maga maga, ini assccam," bantah balita itu.


Viola mengerang dalam hati, jadi Mangga itu beda ya sama buah asam?


"Kan sama sayang,"


"Undaaa. Ish OPAAAHHHHHH!" teriak Varo.


Tiba-tiba Mama Lia datang ke arah mereka mendengar suara keributan di belakang rumahnya itu. "Kenapa, sayang?"


"Alo nak maga maga, Opah, tapi Unda kaci Alo ascam, Alo taknakla Opah."


Mama Lia memandang Viola yang juga menatapnya bingung. "Aku enggak tau Ma, Varo mau buah apa, dia bilang maga maga ya aku ambilin mangga, tapi katanya itu buah asam, terus bedanya di mana?" tanya Viola bingung.


"Semangka Viola, maga maga itu semangka," jawab Mama Lia. "Tadi dia juga minta ini sama Mama, waktu itukan Mama sama papa lagi makan semangka tuh nah dia mau ya kita kasi. Terus nanya namanya apa, papa bilang semangka, dia ikutin eh enggak taunya maga maga," cerita Mama Lia.


Viola menggeleng tak percaya, dari Semangka jadi maga maga? Aneh enggak tuh? Anak siapa si? Aneh banget.


"Jadi, sayangnya Bunda mau semangka?" tanya Viola pada anaknya yang masih ngambek itu.


Mendengar bunda nya ngerti apa yang ia mau Varo menganggukkan kepalanya semangat. "Iye, Unda! Maga maga, Alo nak banyaaaakkk ye, Unda?!"


"Itu maga maganya," tunjuk Viola pada piring mangga tadi, sengaja sih Viola mau ngejahilin anaknya.


Varo mencebik lagi. "Undaaaaaaa!"


"Ada apa ini?" tanya seseorang dengan tas kerja dijinjingnya.


Varo menoleh ke asal suara. "Ayahhh!" bocah itu berlari mendatangi sang ayah.


Ardo langsung menggendong anak laki-lakinya itu. "Varo kenapa? Coba cerita sama Ayah,"


"Unda ebelin, Ayah. Alo kan nak makan maga maga, tapi Unda tak au pun maga maga," adu Varo.

__ADS_1


Dan kali ini dahi Ardo mengerut bingung. "Maga maga?"


"Iyelah, Ayah. Maga maga, Alo nak makan maga maga,"


"Mangga?"


"Ish Ayahhhhh maga maga!" kesal Varo lalu terdengar suara tangisan nyaring Varo dari gazebo itu.


***


"Itu Varo tadi, kata maga maga dapet darimana sih, Yang?" tanya Ardo setelah mereka melakukan check up kandungan Viola, sekarang mereka masih berada di taman rumah sakit karena Viola ingin berjalan jalan dulu.


Seketika itu tawa kecil milik Viola muncul mengingat tingkah absurd anaknya itu. "Aduh anak kamu tuh, Mas. Masa semangka dibilang maga maga," tawa Viola. "Dia bikin sendiri tuh kata maga maga, mungkin karena nggak bisa nyebut semangka,"


Tawa Viola menular ke Ardo, meskipun hanya tawa kecil. Karena Ardo masih Ardo yang dulu ketika berada diluar, dikit dalam menggunakan ekspresi. "Jauh banget dari semangka ke maga maga," Ardo menggeleng pelan.


"Anak kamu tuh,"


"Iyalah, bibit paling unggul itu," kata Ardo bangga. Hanya anaknya saja yang bisa kayak gitu, yang lain mah kagak.


"Padi kali ah unggul," cebik Viola. "Mas haus, beliin minum," pinta Viola.


"Kenapa enggak bilang dari tadi sih? Kamu cape kan? Yaudah duduk kamu duduk sini dulu, aku beliin minum," Ardo mengecup puncak kepala Viola.


Viola mengangguk lalu memainkan handphone nya, ia mengecek sosial media miliknya yang udah beberapa bulan ini ia abaikan.


"Cekrekkk cekkkrek, hengpong jadul ketemu sesembak model kelas papan nichhh, kira kira sesembak lagi ngapain yes! Mamasnya kenalin dong mbak sama minceuu,,, bala bala minceuu penasaraan nich... Nyimak aja yukks sambil nyemill biji kopiee๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…" tulis caption akun gosip seluruh Indonesia itu, Lalu nampaklah foto seorang model yang sangat Viola kenal.


"Mbak Milen?" Viola terkejut, ya sesembak itu adalah Milen. "Kapan pulang? Kok enggak kasi tau ya?" tanya Viola heran. Biasanya Milen selalu memberi kabar jika ia pulang ke Indonesia.


"Viola? Viola kan?" tanya seseorang tak jauh dari Viola.


Viola mendongak, matanya membola kala orang itu semakin mendekat.


"Beneran kamu ternyata, aku kira salah orang," kata orang itu yang sudah mendekati di mana Viola duduk barusan.


Viola langsung berdiri, ketika orang itu mendekat. "Reynald?!"


Ya orang itu adalah Reynald, mantan Viola.


***


Hayoloh, ngapain tuh si mantan hehe, apakah ada bau2 pebinor?๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Pantengin terussssss, jempol 550 gasspoll update berikutnya hehehe

__ADS_1


Itu tentang 'maga maga' yng Varo bilang itu nggak boong ya, maksudnya benar benar ada di kehidupan saya, sepupu saya waktu masih kecil juga gitu bilang semangka tuh maga maga. Kan saya bingung๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ makanya saya tuangkan disni lagi, semoga terhibur yaa๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜โคโค


Selamat membaca readers2 tercinta๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2