
"Wihh kamarnya gedong bingits ye cyin, kayak lapangan sepak bola aja," ucap Angel ketika masuk ke dalam kamar Viola dan Ardo.
Viola hanya tertawa mendengarnya.
Angel mulai mengkreasikan make up pada Viola. Dengan jari jemarinya yang lentik, dia berkutat dengan beberapa alat make up. Jangan salah, meski begini Angel merupakan MUA yang pernah belajar di luar negeri. Tidak main-main, Angel pernah menjadi make up artis selebritis berkelas seperti T*ylor Swift, L*dy Gaga, Elle F*nning, dan masih banyak lagi.
"Alemong!! Ente cakep bener! Kok eyke kayak bercermin ya? Oh iya eyke lupa, kan kita kembar ye," Angel berdecak kagum pada Viola. Dengan rambut yang digerai dan polesan make up sederhana, Angel mampu menyulap Viola menjadi wanita cantik, elegan sekaligus seksi dalam bersamaan.
"Awas kamu naksir aku, aku udah punya suami," kekeh Viola.
Angel mendelik. "Hei bo! Eyke lebih suka suami ente, uhh hot bingits, jadi pen gigit."
Viola menatap Angel garang. "Coba aja! Kalau mau retak gigimu."
"Alemong, Angel takut!" katanya. "Tinggal pake dress cyin, mau eyke bantu enggak?"
Viola menggeleng. "No, kamu tunggu di sini aja."
Viola pun membawa gaun yang sudah disediakan Angel.
Tak lama kemudian ia keluar dengan gaun tadi, gaun panjang menyapu lantai dengan belahan sampai di atas lutut di bagian kaki sebelah kiri yang membuat Viola semakin menawan. Gaun itu berwarna krem, dengan kombinasi seperti kipas dari dada ke sebelah tangan kanan, sedangkan tangan sebelah kiri juga memiliki model seperti kipas tetapi tidak sebesar disebelah kanan.
Lagi-lagi Angel berdecak. "Alemong alemong, cyin! Ini sih cuco meong!" seru Angel. "Eyke jadi ngerasa lagi membelah diri."
"Ah bisa aja si Angel mah," ucap Viola. Ia sedikit mengangkat gaun itu agar lebih memudahkannya dalam berjalan.
"Ini kardus dari your micua."
"Kardus?"
Angel langsung mengeluarkan kotak persegi panjang dengan ukuran 20*10 cm.
Viola mengambil kotak tersebut lalu membukanya.
"Wow!" seru Viola. Kotak itu ternyata berisi sebuah kalung mutiara beserta sepasang anting yang indah.
"Wowwww! Sini Angel pasangin, biar tambah cucok meong."
Viola menurut, dengan sigap Angel memasangkan perhiasan itu.
Untuk kesekian kalinya Angel berdecak. "Alemong! Anggel enggak nyangka kembaran Angel kayak gini, bener-bener cucok meong!"
Angel melirik jam yang melingkar pergelangan tangannya.
"Kereta kuda ente udah dateng, ayuks putri Cinderella biar eyke anter ke pangeran," ucap Angel. "Eits, sepatu besi cyin jangan lupa."
Viola menepuk dahinya, ia belum memakai alas kaki. Masa iya sih dia nyeker, kan enggak banget. Udah dandan cantik gini eh malah nyeker.
Angel memberikan sepasang heels yang mampu membuat Viola menelan ludahnya. Di hadapannya ini adalah Stiletto buatan Stuart Weitzman dijual dengan harga yang sangat mahal. Terbuat dari kulit asli dan terbaik dari Italia, stiletto ini dihiasi dengan berlian Kwiat seberat 595 karat dan tali pergelangan kaki dari berlian 535 karat.
__ADS_1
Sisi sebelah kanan sepatu ini bertatahkan 5 karat berlian langka Amaretto yang ditaksir mencapai harga USD 1 juta atau setara dengan Rp 13 milyar.
Menggunakan material yang sangat mewah, Stuart Weitzman Cinderella Slippers menjadi stilletto yang sangat cocok dikenakan oleh para puteri. Dibanderol dengan harga USD 2 juta atau Rp 26 miliar, stiletto bertumit setinggi 4,5 lagi lagi membuat Viola menelan ludahnya, salah salah jika hilang maka ia akan rugi besar.
"Ini punya siapa, Ngel?" tanya Viola.
"Ya punya ente lah, your micua yang pesan, ayo dipake kayak enggak pernah liat barang mewah aja sih cyin."
Gila! Ardo memang gila, masa iya ia ngeluarin uang milyaran cuman beli sepasang sepatu? Viola merasa ia akan menginjak tumpukan uang.
Sehabis ini ia akan memuseumkan heels ini, ia akan membuat ruangan khusus untuk heels sultan itu.
***
Viola mengernyit, mengapa mobil yang menjemputnya ini membawanya masuk ke dalam hutan?
Apalagi hutan ini sangat menyeramkan, rasa senangnya berganti dengan rasa ketakutan. Ia takut bahwa orang yang membawanya ini bukan orang suruhan Ardo, melainkan orang yang ingin menculiknya, lagi.
"Mas?" panggil Viola pada supir. Sedari tadi supir yang berpakaian hitam-hitam ini terus saja diam, tidak berbicara sepatah katapun. Ia baru sadar ternyata supir ini mengenakan topi dan juga masker.
Mengapa tadi Viola tidak memperhatikan pakaian supir yang membawanya ini?
"Mas?" panggil Viola lagi, tapi tetap saja supir itu tidak menjawab.
Viola bergerak gelisah. Apa yang harus ia lakukan? Ingin berteriak? Tidak mungkin karena pasti tidak ada yang mendengarnya. Nekad melompat? Bukan hal yang bagus mengingat orang ini membawa mobil seperti orang kesetanan.
"Mas! Kalau Anda tidak mau menurunkan saya sekarang, saya akan lompat sekarang juga!" ancam Viola.
"Lompat saja," jawabnya.
Viola membulatkan matanya, dia kan cuma ngancem doang enggak beneran kok. Dia enggak bodoh untuk mati percuma, masih ada suami dan anak-anaknya di dunia ini.
"Saya beneran, lho!"
"Jangan berisik! Tolong jangan mempersulit tugas saya!" sentak orang itu.
Viola meneguk ludahnya, gila! Apa yang harus ia lakukan?
Tak berapa lama kemudian mobil itu berhenti.
Supir itu turun, ia mengelilingi mobil untuk membukakan pintu Viola.
"Turun," katanya dingin. Suara orang ini seperti suara Ardo dulu, tapi tidak sedingin Ardo.
Perlahan Villa turun, biarlah dia di sini daripada harus mengikuti orang ini.
Tiba-tiba sebuah cahaya sangat menyilaukan datang dari arah samping mobil.
Cahaya itu berasal dari lampu tinggi mobil yang parkir tak jauh dari mereka berhenti.
__ADS_1
Viola menggunakan lengannya agar tidak terpapar cahaya yang sangat silau itu.
Dari arah cahaya itu terlihat siluet laki-laki mulai mendekati mereka.
Setelah agak dekat Viola langsung mengenali orang itu.
"Mas Ardo?"
Masih dengan ketakutannya, Viola berlari mendekati Ardo. Ia langsung memeluk lengan itu untuk melindungi diri dari supir yang ingin menculiknya ini.
"Mas, dia mau nyulik aku. Aku takut," ucap Viola.
Ardo berdecak. Bukan seperti ini rencananya, ia ingin Viola datang dengan senyum merekah lalu menggandeng tangannya, bukan malah ketakutan seperti ini.
Bukan salah istrinya, tapi salah supir dadakan yang ia perintahkan ini.
"Kamu di apain sama dia?" tanya Ardo.
"Aku disuruh lompat dalam keadaan mobil melaju kencang," adu Viola. "Mana dia bawa mobil kayak orang kerasukan, Mas. Aku kan jadi takut," katanya lagi.
"Dion!"
Mata Viola membola, ia lalu melihat supir yang membawanya tadi.
Di sana supir itu sudah tidak memakai masker lagi, dan ternyata itu adalah Dion, si kampret yang gagal move on.
Viola menatap garang Dion yang sudah terbahak itu.
Viola mengangkat gaunnya, ia menghampiri Dion, entah bagaimana tangannya langsung bersarang di telinga Dion. "Dion! Kamu mainin aku ternyata!"
"Ah kak sakit! Lepas,"
Viola langsung melepaskan jewerannya. "Kalau aku beneran lompat tadi, orang yang pertama aku gentayangin ya kamu!"
Dion mengusap telinganya. "Yah, salah sendiri ngapain takut. Sekalian aja aku kerjain," ucap Dion.
"Jadi kamu sengaja?!" ucap Viola tak percaya, emang sinting nih sepupu atu. Masa mas nya udah capek-capek bikin acara romantis eh malah diancurin oleh pria gagal move on ini.
"Iyalah!--"
"DION! Kamu udah ngacauin acara romantis saya! Awas kamu!" kata Ardo. Ia langsung menggandeng lengan Viola. "Ayo, Yang. Jangan urusin orang yang gagal move on itu," ucapnya.
Dion berdecak. "Gue doain semoga dinner kalian gagal!" teriaknya.
"Saya doain doanya balik ke kamu,"
***
Sengaja bikin dua bab wkwk
__ADS_1
Lanjoeettt