
Haii, karna saya author baik hati dan tidak sombong🙄 saya update lagi, dannnnn part ini agak panjang jadi siapkan kantong keresek siapa tau kelen mual bacanya😂😂. Oke gaess Happy reading para readers ku tercintahhhhhh, kiss kiss gemesh dari saya muachhhh shhhhhh elllllttt🐍🐍🐍🐍🐍 paan sih thor, jyjyk yang ada🙄🙄
.
.
.
"Aww ..." ringis Anton saat Prilly terlalu kuat menekan luka akibat pukulan Ardo dan Marvel.
Seminggu yang lalu Anton sudah keluar dari rumah sakit, dan hari ini sesuai janji mereka Ardo dan Marvel menggebuki Anton sampai pingsan, bukan main pukulan dua lelaki jantan itu. Sungguh Anton enggak mau lagi terkena pukulan para sumo itu, entah makan apa mereka.
"Emang enak?! Makanya cari tau dulu apa yang terjadi sebenarnya, bukan malah ambil kesimpulan seenak dengkul mu. Kalau kayak gini 'kan aku yang repot! Siapa yang sakit? Kamu! Udah dapat dosa ehh di keroyokin orang lagi! Mau aku keroyok juga?!" omel Prilly.
"Mau dong kamu keroyokin. Asal ngeroyoknya pakek cinta, "
Prilly memukul lengan Anton. "Gombal aja terus,"
"Sakit sayang," rengek Anton.
"Mau di obatin enggak nih?" ketus Prilly.
"Baby bilangin mommy dong, jangan marahin daddy terus, gitu. Daddy takut sama mommy kalau lagi galak gini," adu Anton seraya mengelus perut Prilly.
Prilly terkekeh, lalu mengelus kepala Anton yang masih berada di depan perutnya. "Daddy aja yang bandel makanya mommy marah," ucap Prilly dengan menirukan suara anak kecil.
Anton menatap Prilly lembut. "Dua minggu lagi kamu jadi istri aku, sayang," ucap Anton tersenyum. Prilly mengangguk tersenyum lalu memeluk Anton.
Ya, Anton dan Prilly akan menikah dua minggu lagi.
***
"Anton itu kayak apa sih?" tanya Viola yang sedang bersantai bersama Ardo.
"Seperti Antonio," jawab Ardo seadanya.
Viola berdecak kesal. "Maksud aku sifatnya, Ardo."
"Kamu ngapain nanya laki-laki lain?!" ketus Ardo.
"Yakan nanya doang, gitu aja cemburu," ucap Viola lalu menselonjorkan kakinya seraya mengamati padatnya lalu lintas Jakarta.
Ardo menoleh kearah Viola. "Siapa yang cemburu?" ucapnya menikmati pemandangan itu lagi. "Kamu searching aja, ada tidak 'wanita yang sudah bersuami tapi malah nanyain laki laki lain dengan suaminya'? Tidak ada Viola. Yang ada malah kamu di katain selingkuh! Terlebih lagi kamu di katain pelakor. Mau kamu jadi pelakor? Ini tuh udah jaman jamannya pelakor merajalela. Lagipula si Anton itu udah mau nikah, jadi jangan cari-cari tau tentang dia, entar kamu di gebukin si Prilly, mau? Tidak mau kan? Nah gitu!" ucapnya panjang. Ia terengah-engah setelah mengucapkan itu. Gini ya rasanya ngomong tanpa jeda ckck.
Viola ternganga mendengar ocehan Ardo. Ardo yang biasa hanya berbicara sepatah dua patah kata sekarang menjadi Ardo yang sangat cerewet.
Ini Ardo bukan sih? Atau kesambet lagi?
"Ardo kamu ... enggak sakit kan?"
"Apa? Saya tidak sakit, kenapa kamu nanya gitu? Seneng ya kalo liat saya sakit? Seneng? Kamu bisa main sama lelaki lain? Iya? Kamu—"
"Astaghfirullah, kamu mikir apa sih?! Aku nggak pernah berfikir sedikit 'pun mau main dengan laki-laki lain dibelakang kamu! Kamu tega!" ucap Viola marah lalu meninggalkan balkon.
Ardo mematung. Salah bicara ya? batinnya.
Tanpa fikir panjang Ardo langsung menyusul Viola.
***
Viola yang merasa Ardo sudah mulai tidak mempercayai dirinya hanya bisa menangis di tepi jendela kamarnya.
"Ardo kok gitu sih? Sebegitu bencinya kah sama aku hiks ..." Entahlah, akhir-akhir ini ia mudah sekali menangis, bukan Viola banget kan. Mellow banget si Viola? Kadang ia juga jijik dengan air mata yang selalu ia keluarkan padahal cuma masalah sepele. Dulu aja Ardo sering berkata pedas tapi Viola B aja tuh, kenapa sekarang beda?
__ADS_1
Tiba-tiba sepasang lengan kekar merengkuh pinggang Viola dari belakang lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Viola. "Maaf ... " lirih orang itu.
"Maafin saya," ucapnya. "Saya tidak tau kenapa akhir-akhir ini emosi saya tidak stabil," lanjutnya.
Viola hanya diam, tidak ada niatan untuknya menjawab ucapan maaf Ardo. Ia kesal, enak aja kulkas itu sembarangan tuduh orang is!
"Maaf, Viola," lirihnya sekali lagi. Viola tetap diam. Biar tau rasa kek mana didiemin itu, selama ini kan Ardo sering banget diemin Viola.
"Viola," panggil Ardo.
"Hm,"
"Maafin saya,"
"Hm,"
"Saya janji, saya tidak akan seperti ini lagi,"
"Hm,"
"Viola, saya janji."
"Hm,"
Ardo menghela nafasnya. "Saya akan lakukan apapun asal kamu mau maafin saya,"
Mendengar itu sontak membuat Viola menoleh Ardo. "Apapun?"
Ardo tersenyum. "Apapun. Tapi jangan membeli sebuah negara, saya belum mampu,"
"Janji?" Viola mengacungkan jari kelingking nya.
"Janji,"
Ardo mengangkat sebuah alisnya, itu saja? Batinnya. "Kita beli sekarang," ajak Ardo
Viola menggeleng. "Enggak mau beli, tapi dibikin sendiri"
"Baiklah, kita bikin sekarang."
Lagi-lagi Viola menggeleng. "Bukan kita yang buat,"
Ardo mengernyit bingung. "Terus?"
Viola menyengir. "Dion,"
Astaga!
***
"Bahannya sudah, habis itu apalagi, yang?"
"Telur. Pisahin kuning sama putihnya," ucap seorang gadis di seberang sana.
"Jangan dipisah! Kasian, nanti kangen. Kayak aku sama kamu, ga bisa pisah. Kalo pisah kangen mulu bawaannya,"
"Astaga! Manis banget ya mulutnya," sinis gadis itu.
"Iya manis. Kamu belum pernah coba 'kan? Nanti kamu aku cium deh supaya kamu bisa rasain manisnya mulut aku. Terus kamu minta dan min—"
"Mesum! Mau diajarin gak nih?"
"Eh-eh ajarin dong. Kalo kamu udah selesai ajarin aku, nanti aku ajarin kamu juga. Aku bakal ajarin kamu cara kecup mengkecup—"
__ADS_1
"Aku matiin ya!"
"Eh jangan! Ayo ajarin lagi,"
Ardo dan Viola hanya mampu menggelengkan kepalanya mendengar pembicaraan absurd Dion di telepon.
"Dion! Cepetan ih. Udah lapar ini!" teriak Viola.
"Yaelah kak! Sabaran dikit napa, ini udah gue masukin ke oven," kesal Dion
"Sayang, ini nunggunya berapa lama sih?" tanya Dion pada Ana yang di sebrang sana.
"Tunggu aja sekitar 45 menit. Tapi kamu harus liat-liat juga kalau sudah ada bau gosong sebelum 45 menit langsung matiin,"
"Iya sayang. 45 menit ya? Jangankan 45 menit, seumur hidup pun aku mampu kok nungguin kam—yah yahh ... kok dimatiin. Belom selesai ini ngomongnya. Aduh punya pacar kok gini amet yak," gerutu Dion saat sang kekasih mematikan sambungan telponnya.
Ardo dan Viola terkikik geli. "Kamu itu kebanyakan gombal, Yon. Mana receh lagi, dasar Playboy Stasiun," kekeh Viola
Dino mencebikkan bibirnya lucu. "Bang Ardo bilangin kak Viola dong, stop panggil Dion 'Playboy Stasiun'. Orang ganteng gini dibilang Playboy Stasiun. Kan kesel,"
Ardo memutar bola matanya malas mendengar ocehan tak bermutu sepupunya itu.
Tring.
Suara alarm itu membuat Dion bergegas mengambil kue di dalam oven. Bau harum kue pun tak terelakkan lagi membuat Viola semakin ngiler. Ibarat kan kartun pasti air liur Viola udah jatuh ke lantai.
"Kue ala chef Dion yang gantengnya pake BGT udah siyaap," ucap Dion mengangkat piring yang berisikan potongan kue kemudian meletakkan piring tersebut ke meja.
"Silahkan dicicipi Tuan dan Nyonya Vazquez," ucap Dion seraya membungkuk hormat. Ala chef kerajaan. Dion itu emang penuh drama, sama kayak hidupnya.
"Terima kasih." Viola langsung mencicipi brownies ala si bujang Dion dengan tidak sabaran.
Jantung Dion berdegup kencang kala kue itu masuk ke mulut Viola, ia sudah seperti peserta lomba Master Chef saja. Dion takut kue itu menjadi racun karena yang memasaknya adalah DION.
"Bagaimana?" tanya Dion dan Ardo bersamaan.
Viola mengangguk anggukkan kepalanya. "Hm lumayan,"
Seketika Dion dan Ardo bernafas lega.
"Tapi kok perut aku sakit ya?"
***
Dua minggu kemudian.
"Sah?"
"SAH!!"
Suara yang menggema itu menandakan bahwa seorang lelaki dan perempuan telah menjadi sepasang suami dan istri.
Tidak ada yang lebih bahagia lagi selain mendengar pak Penghulu mengucapkan kalimat sakral itu.
"Alhamdulillah!"
Viola tak kuasa menahan tangis saat melihat mempelai wanita yang nampak cantik dengan hijab yang terpasang di kepalanya itu sudah menjadi seorang istri dan calon seorang ibu.
Viola masih terharu, fikirannya melayang jauh saat pernikahannya dengan orang disampingnya itu, Ardo. Pernikahan tanpa cinta. Tapi sekarang berbeda lagi, Viola sudah mencintai suaminya itu.
Viola menatap Ardo lalu tersenyum. Ardo bingung kenapa Viola memandangnya seperti itu.
Namun seketika itu pula ucapan Viola membuat jantung Ardo serasa ingin lepas dari tempatnya.
__ADS_1
"Ardo, I Love You,"