Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez

Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
19 (Season 02)


__ADS_3

Viola memandang kepergian Ardo dengan tatapan tak terbaca. Setelah mendengarkan kalimat panjang dari suaminya hati Viola terasa dihantam oleh tombak yang tak kasat mata.


Kini pandangannya beralih pada sepiring nasi dan segelas air putih. Ia mengambil piring itu, seperempat saja nasinya belum habis.


Viola menghirup udara untuk mengisi paru-paru nya yang terasa sesak. Tanpa terasa air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Ardo hanya makan dengan lauk ayam goreng, itupun lauk sisa tadi malam yang ia taruh di kulkas.


Viola merutuki dirinya yang tidak bisa menjadi istri yang sempurna untuk Ardo, ia hanya bisa mengomel tanpa mendengarkan penjelasan sang suami.


Tanpa berkata-kata, Viola langsung memasak makanan untuk malam ini. Ia akan menyuruh Ardo makan lagi karena hanya sedikit saja asupan makanan itu masuk ke dalam tubuhnya.


Selama ia berkerinah, air mata terus mengalir dari matanya. Ia kesal, tentu saja kesal dengan dirinya ini. Viola bodoh, tentu saja ia sudah tidak becus dalam menjadi istri dan ibu.


Ia mematikan kompor elektrik itu setelah ia rasa semua makanannya sudah selesai. Melepaskan apron, ia melirik jam yang sudah menunjukan hampir setengah enam. Ia meringis, wajar saja Ardo marah padanya, Viola sudah keterlaluan. Memang selama ini Viola yang mengurus anak-anak dan dapur, tapi bukankah itu kewajiban seorang istri?


Viola melangkahkan kakinya untuk mendatangi Ardo serta membangunkan anak-anaknya, tidak bagus tidur di hampir maghrib seperti ini.


"Mas," panggil Viola. Ia melihat Ardo sedang berbaring di samping anak-anaknya dengan lengan menutupi kedua belah matanya.


Ia tidak menyahut, diam saja. Padahal Viola tau bahwa Ardo tidak tidur.


"Mas, ayo makan dulu. Belum makan kan?" ajak Viola.


Ardo masih tidak bersuara.


"Mas, aku tau Mas belum tidur, kalaupun mau tidur enggak baik tidur diseperempat Maghrib begini," kata Viola lagi. Sedari tadi ia menahan air mata yang sudah menggenang itu, selama ini Ardo tidak pernah mengabaikan Viola seperti ini.


"Mas,"


"Saya kenyang,"


Jleb!


Tiba-tiba hati Viola terasa seperti tertusuk ribuan jarum.


Saya? Viola tersenyum masam. Ternyata kesalahannya udah fatal bagi Ardo.


Viola berusaha untuk tersenyum meskipun rasanya pedih.


"Makan yuk Mas, dikit aja," pujuk Viola lagi.


"Nanti malam saja," jawab Ardo lagi. Cukup singkat bagi Ardo yang biasanya bicara panjang lebar.


Viola mengangguk, lalu mendekati ranjang untuk membangunkan Varo.


"Sayang, bangun dulu,"


Varo mengkelih lalu mata bocah itu terbuka. "Bunda?"


"Iya, Varo udah mandi?" tanya Viola. Ia mengelus pucuk kepala anak itu.


Varo mengangguk. "Udah, mandikan Ayah," jawabnya.


Lagi-lagi Viola merasa kesal dengan dirinya, selama ini Ardo tidak pernah memandikan anak-anak karena ia takut. Takut sabun masuk mata, shampo masuk mata, anak-anak tergelincir atau hal semacamnya. Pasti sangat berat bagi Ardo untuk melakukannya.


"Yaudah, cuci muka aja ya."


Varo mengangguk, lalu Viola membimbing Varo untuk membasuh wajahnya.


Setelah itu ia mengambil Keo, bayi itu sudah bangun dengan menghisap jempolnya.


"Popoknya penuh ya, Nak?"

__ADS_1


"Anak Bunda harum, udah mandi ya? Siapa mandiin? Ayah? Bilang apa? Terima kasih Ayah," ucap Viola ia terus berbicara kepada Keo.


Ia melirik Ardo yang sama sekali tidak bergeming dari posisi seperti Viola pertama kali masuk.


Menghela nafas, Viola membuka kancing bajunya untuk memberikan Keo ASI. Air matanya kembali menetes melihat masih ada bekas merah di kulit Keo meskipun sudah samar. Ia sebisa mungkin menutupi isakannya agar tidak kedengaran oleh Ardo.


Sebenarnya Ardo tau bahwa Viola menangis. Siapa yang tidak tau dengan seseorang menarik hingus dengan isakan kecil itu? Yang pastinya ia sedang menangis. Ardo diam saja, membiarkan Viola meluapkan emosi yang ada pada dirinya.


***


Makan malam kali ini terasa mencekam, Varo yang biasanya cerewet saja tidak banyak bicara seperti biasanya. Dan hal tersebut dirasakan oleh mama Lia dan papa Martin.


"Saya selesai," ucap Ardo. Ia meninggalkan meja makan tak lupa ia mengecup puncak kepala Varo.


"Kok--"


Mama Lia memberi isyarat diam untuk papa Martin yang ingin menyerukan pertanyaan itu.


Dengan patuh Papa Martin menghentikan ucapannya.


Viola memandang sendu kepergian Ardo. Suaminya itu masih marah padanya. Mungkin kalian berfikir Ardo itu kenak-kanakan, tapi Viola memaklumi itu. Siapa sih yang enggak marah beratus-ratus chat bahkan panggilan yang diabaikan? Viola bukan mengabaikannya tetapi ponselnya saat itu sedang silent mode.


"Keo mana?" tanya Mama Lia.


"Di kamar Ma, abis aku kasi ASI dia tidur lagi," jawa Viola.


"Varo mau semangka?" tanya Papa Martin.


Varo mengangguk.


"Tapi Varo harus tidur sama kakek nenek, ok?" syarat Papa Martin.


Viola mengusap kepala Varo. "Gosok gigi jangan lupa, udah tau cara gosok gigi kan?"


"Tau dong, Bunda. Varo kan udah besaarrrlll,"


Lalu papa Martin berlalu dengan Varo meninggalkan Viola bersama Mama Lia.


"Kalian kenapa?" tanya Mama Lia karena ia melihat seperti ada yang tidak beres antara Ardo dan Viola.


Viola menghela nafasnya. "Aku yang salah, Ma," jawab Viola.


Mama Lia tersenyum. "Sayang, ketika masak kita harus memasukkan bumbu agar rasanya terasa lezat, begitu juga dengan berumah tangga." Mama Lia memandang Viola, "Mama tidak tau apa masalah kalian, tapi jika itu masalah yang besar jangan sampai kalian mengucapkan hal yang bakal kalian sesali, dan jika masalah kecil jangan buat menjadi besar," nasehat Mama Lia. Viola mengangguk mendengarkan.


"Mama, mau nyusul Papa sama anak kamu dulu, Mama enggak bantu beresin ya? Soalnya Mama lagi sakit pinggang,"


Lagi-lagi Viola mengangguk lalu ia membereskan bekas makan mereka itu.


***


Viola memutar kenop pintu dengan secangkir kopi yang asapnya masih mengepul. Di sana ia langsung melihat Ardo yang duduk dengan menghadap beberapa tumpuk kertas serta layar laptop yang menyala.


Malam ini merupakan malam minggu, tadi Ardo tidak bekerja karena sabtu dan minggu merupakan hari libur.


"Mas, kopi." Viola meletakan secangkir kopi itu di sisi meja yang lapang.


"Hm," Ardo hanya berdehem.


"Sibuk ya?" tanya Viola. Baby Keo masih tidur di keranjang bayi miliknya, bayi itu jika sudah tidur maka pagi hari nanti baru terbangun.


"Kelihatan kamu?"

__ADS_1


"Lagi sibuk," ucap Viola.


Viola menunggu Ardo hingga tiga puluh menit berlalu, selama itu tidak ada pembicaraan yang menghiasi keterdiaman itu.


"Sudah larut, tidur. Kamu enggak capek?" suara Ardo terdengar setelah keterdiaman mereka.


Viola tersenyum, meskipun Ardo sedang marah tetapi laki-laki itu tetap memikirkannya.


"Mas, aku minta maaf," ucap Viola. "Aku tau aku udah keterlaluan, belanja dari pagi sampai petang enggak mikirin keluarga."


Ardo menutup laptopnya, ia membereskan berkas-berkasnya.


"Aku janji ini, aku enggak akan belanja lagi," lanjut Viola.


"Aku enggak pernah ngelarang kamu belanja," jawab Ardo. Ia menatap Viola yang sedang menunduk. "Aku tau kamu butuh itu untuk melepaskan penat karena mengurus rumah tangga, aku tau Viola," lanjutnya.


"Maaf... " lirih Viola, air mata itu lagi-lagi menggenang di pelupuk matanya.


"Kamu enggak salah,"


Viola mendongak menatap Ardo, air matanya langsung luruh. Ia langsung memeluk tubuh Ardo. "Maafin aku, tolong jangan marah kayak gini aku takut, Mas. Maafin aku, aku enggak akan ngulangin lagi, aku janji, aku janji, Mas."


Viola masih memeluk erat Ardo dengan sesegukan.


"Aku enggak marah, aku hanya kesal karena kamu enggak jawab telepon aku, aku khawatir kamu kenapa-napa, mana Keo nangis terus untung aku sempat nelpon mbak Gita," ucap Ardo. Ia membalas pelukan Viola.


"Hp aku mode silent, Mas. Aku enggak tau kenapa bisa gitu, padahal aku pergi hp aku ada deringnya." Masih dalam pelukan Ardo ia mengatakan itu. "Mas jangan marah lagi, aku takut,"


"Aku enggak marah, aku kesal aja ditambah lagi denger kamu ngomel, aku makin tambah kesal."


"Maafin aku, kamu tau aku suka ngomel. Maafin aku, Mas, jangan marah--"


Cup


"Aku enggak marah, udah berapa kali aku bilang hm?"


"Beneran?"


"Iya," jawab Ardo, ia mengusap air mata Viola lalu mengecup kelopak mata itu. "Kamu mau belanja atau mau hang out, aku ijinkan. Asal kamu tau kewajiban kamu," kata Ardo.


Viola mengangguk.


"Mas Ardo harus makan, tadi makannya cuma dikit. Tambahin lagi ya, aku takut kamu sakit," ucap Viola, ia menarik tangan Ardo. Namun Ardo menahannya.


"Aku emang lapar,"


"Ayo makan, biar aku masakin lagi," ajak Viola lagi.


"Tapi aku pengen makan kamu, udah dua bulan lho, Yang."


Tiba-tiba pipi Viola terasa panas, alhamdulillah suaminya kembali lagi.


"Lagi dapet, Mas," jawab Viola.


Seketika itu wajah Ardo memurung. Ia mengumpat dalam hati. Salah satu hal yang paling ia benci adalah tamu bulanan istrinya itu. Nanti ia akan membuat Viola hamil lagi biar si tamu enggak dateng.


Viola terkekeh melihat wajah murung suaminya, ia suka yang begini daripada wajah beberapa waktu lalu. "Yang sabar sayang, makan nasi aja. Biar kenyang,"


***


Vote, komen, dan jempol jangan lupa!

__ADS_1


__ADS_2