Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez

Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
15 (Season 02)


__ADS_3

Terima kasih buat yang udah ngevote cerita ini, saya harap kalian enggak akan pernah bosan buat vote, jempol dan komentar yaa:)


Sebelum baca saya harap kalian nyiapin kantong keresek, karena chapter ini puanjanggg kayak tembok China!


Ok! Selamat membaca :)


***


"MBAK GITA!!!"


"MBAK!"


"MBAK GITA!"


Ardo berteriak memanggil dokter pribadi keluarganya setelah sampai di lobby rumah sakit milik keluarga Vazquez.


"MBAK GITA!"


Teriak Ardo lagi, ia sudah berkeringat dingin tetapi dokter itu belum menampakkan dirinya.


Orang-orang berlalu lalang tiba-tiba langsung memperhatikan Ardo yang sudah seperti orang gila itu.


"Eh, istri aku mana?" tanya Ardo karena tidak melihat keberadaan Viola dibelakangnya.


Apa jangan-jangan Viola pingsan di belakangnya?


Atau, Viola melahirkan di halaman rumah sakit?


Atau,


"Astagfirullah, masih di mobil!"


Tergesa Ardo kembali lagi ke mobil. Ia sudah seperti induk ayam kehilangan anaknya.


Sesampainya di mobil ia melihat Viola masih duduk santai dengan beralaskan handuk kecil agar air ketubannya tidak merembes sembarangan.


"Viola, kenapa enggak turun? Aku nyariin kamu tau enggak, aku udah kaya orang gila karena kehilangan kamu. Aku udah berfikir macam-macam!"


Viola memutar bola matanya malas mendengar ocehan Ardo. Sedari tadi Ardo terus saja mengoceh dengan bahasa yang tidak ia mengerti.


"Mas kan emang udah kayak orang gila," ucap Viola sambil mengelus perutnya yang mulai merasakan kontraksi tetapi masih jarang.


"Aku kan--"


"Enggak usah ngoceh, Mas. Malu diliatin orang, mana Ardo yang dulu pendiamnya minta ampun itu?"


"Kan aku-- apa?" ucapan Ardo terpotong ketika Viola mengulurkan tangannya.


"Bantuin, aku mau keluar dari mobil, Mas. Enggak bisa gerak," ucap Viola.


Tidak menunggu lama Ardo langsung membantu Viola turun dari mobil.


"Eh eh mau ngapain?" tanya Viola ketika Ardo sudah berjongkok di hadapannya.


"Mau gendong kamu," kata Ardo polos.


Tiba-tiba wajah Viola memanas mendengar ucapan polos Ardo. Haduh bapak-bapak ini bisa aja bikin klepek-klepek.


"Enggak usah, Mas. Aku jalan sendiri aja, sekalian buat ngurangin nyeri."


Ardo mengangguk, ia harus menuruti kemauan istrinya. Untuk saat ini ia tidak akan bertingkah macam macam demi istri yang akan melahirkan buah hati mereka.


"MBAK GITA!"


Lagi-lagi Ardo berteriak memanggil nama Gita itu.


"Enggak usah teriak-teriak! Malu didengar orang!" kata seseorang yang muncul di balik pembelokan.


"Istri saya mau melahirkan, cepat urus!" titah Ardo.


Wanita ber-name tag Gita Sarasvati Vazquez itu mendelik, lalu membimbing tangan Viola.


"Dokter Obgyn juga sudah berada di tempat karena perintah bos kamu itu,"


Viola tertawa kecil, kepalanya menoleh pada Ardo yang mengekor dibelakangnya.


"Kayak dia aja yang mau lahiran, Mbak," ucap Viola.


Dokter Gita tertawa kecil. "Semoga aja dia enggak ngamuk kalau udah masuk ruangan nanti,"


Ucapan dokter Gita membuat Viola mengernyit bingung, untuk apa Ardo ngamuk?


***


"Kamu?!" tunjuk Ardo pada seorang dokter yang sudah stay diruangan khusus buat Viola.


Mata Ardo menajam, rahangnya mengeras. "Ngapain kamu di sini?!" tanyanya.


"Oh, ternyata Viola yang mau lahiran?"


Viola mengangguk mendengar ucapan sang Dokter.

__ADS_1


"Kalau begitu kamu pasien aku dong?"


"Viola, kita ganti dokternya!" kata Ardo.


Dahi Viola mengernyit. Ganti apalagi sih? Viola udah dari tadi nahan sakit eh udah mau diganti lagi dokternya. "Kenapa?"


"Aku enggak mau dia yang bantu persalinan kamu," ucap Ardo. Ardo tidak bisa membayangkan jika orang itu akan meraba-raba aset pribadi istrinya, apalagi mantan istrinya! Si Donald Bebek itu! Astaghfirullah, ia tidak akan membiarkan hal tersebut.


"Enggak papa, Mas. Dia kan dokter kandungan,"


"Enggak! Pokoknya ganti!" keukeuh Ardo.


"Mas? Udah--"


"Ganti!"


Reynald hanya bisa berdiri menyaksikan drama seorang suami yang sedang cemburu kepada mantan istri, dan lebih mirisnya ia juga masuk ke dalam drama tersebut.


"Mbak Gita?! Saya mau dokter yang lain dan harus perempuan!" ucap Ardo yang entah kapan sudah menelpon seseorang yang sudah pasti itu adalah dokter Gita.


Viola hanya bisa pasrah, ingin protes pun tidak ada gunanya malah hal tersebut akan semakin membuat perutnya sakit.


"Hanya dokter Reynald yang stay di rumah sakit--"


"Saya enggak peduli! Saya minta ganti sekarang!"


"Lho enggak--"


"Masih mau jadi dokter kan?" tanya Ardo datar.


"Ardo,"


"Saya enggak segan-segan nyabut ijin kamu kalau enggak nurutin apa kata saya," lalu telepon itu terputus.


Perintah mutlak dari Ardo itu membuat dokter Gita di seberang sana tidak bisa berkutik lagi. Entah bagaimana caranya ia bisa mencari dokter pengganti buat Viola.


***


"Ayo Bunda, silahkan berbaring," ucap seorang dokter pada Viola, namanya Ardo tidak ingat yang pastinya adalah dokter perempuan yang sudah senior. Bukan hal yang sulit bagi Ardo untuk menemukan dokter pengganti, dengan sedikit menggertak dokter Gita saja maka ia akan mendapatkan dokter pengganti tersebut.


"Saya cek ya, Bun."


Viola mengangguk.


"Rileks aja, Bun. Bukan persalinan yang pertama kan?" tanya sang dokter.


Lagi-lagi Viola mengangguk ia deg degan sekarang, meskipun hanya sekedar mengecek saja. Ardo senantiasa menggenggam tangan Viola. Laki-laki itu juga berdebar dilihat dari tangannya bergetar saat menggenggam jemari Viola.


Viola tersenyum, dalam hati ia berterima kasih kepada Ardo yang selalu bertingkah yang menurutnya sangat lucu sehingga mengalihkan rasa sakit tersebut.


"Kira kira berapa lama bayinya keluar, dok?" tanya Ardo.


"Tergantung, Pak. Ada yang cepat ada yang bukaanya sempurna hanya dengan waktu dua jam, ada yang sampai dua puluh empat jam. Tapi saya rasa Bunda Viola tidak akan lama menunggu bukaannya sempurna," jawab sang dokter.


"Bunda, kalau ngerasa sakit bawa gerak ya, Bun. Nari atau jalan-jalan intinya gerak, Bapak juga harus menemani Bunda, dukungan dari suami dan kerabat terdekat juga akan mempengaruhi proses persalinan nanti. Saya tinggal ya, Bun, Pak. Saya juga memantau Bunda, kok."


Dokter Markonah itu langsung meninggalkan ruangan Viola.


"Mas, keluarga udah kamu kasi tau?" tanya Viola. Ia turun dari brankar karena ia merasa tidak nyaman berbaring.


Ardo membantu Viola turun. "Udah, mereka bentar lagi sampai,"


"Mas aku mau jalan-jalan," kata Viola ketika ia mendapati kontraksi lagi.


Dengan sigap Ardo membawa Viola berjalan. Sudah sekitar tiga puluh menit mereka berjalan namun sakit itu bukannya menghilang tetapi bertambah.


"Mas, rasanya aku enggak mampu," ucap Viola lirih. Mereka sekarang sudah berada diruangan Viola.


Ardo memijat betis, kaki, tangan hingga bahu Viola. "Kita cesar aja, ya?" usul Ardo, ia juga khawatir melihat wajah Viola yang seperti tidak dialiri darah itu.


Viola menggeleng lemah. "Aku mau normal, aku pasti masih kuat,"


"Aku khawatir sama kamu Viola, kita cesar aja ya?" pujuk Ardo lagi, sungguh ia tidak tega melihat perjuangan sang istri. Jika saja ia bisa bertukar peran maka akan dengan senang hati ia menggantikan Viola.


Lagi-lagi Viola menggeleng. "Kita udah membicarakan ini, Mas," ucapnya. "Aku mau kita dansa,"


Ardo melepaskan pijatannya, ia mengangguk meskipun sebenarnya ia tidak tau berdansa. Namun demi istrinya apapun ia pasti bisa.


Mereka pun mulai berdansa secara otodidak, dengan gerakan asal-asalan yang penting rasa sakit Viola mengurang.


Hampir satu jam mereka berdansa namun rasa sakit itu juga tidak mengurang sama sekali, sedari tadi tidak ada yang mengurang bahkan bertambah.


Viola meringis kala rasa sakit itu semakin bertambah. Ia sudah menangis merasakan sakit itu, rasanya ia juga mau mengejan.


"Bunda, apakah sudah mau ngeden?" tanya dokter Markonah yang baru masuk bersama para perawat dan bidan.


Viola mengangguk.


"Jangan ngeden dulu, kita cek dulu ya."


Lalu Viola dibaringkan lagi di atas brankar.

__ADS_1


"Wah sudah bukaan sembilan Bunda, Anda Bunda yang hebat," pujian dokter Markonah hanya dibalas senyuman lemah oleh Viola.


"Viola," panggil Mami Tania yang baru masuk diikuti para orang tua lainnya.


Viola mendongak, ia turun perlahan dari brankar dan langsung memeluk sang ibu. "Mi, maafin Viola Mi. Viola banyak salah sama Mami, hiks. Doain Viola supaya lahirannya lancar," ucap Viola yang sudah berderai air mata.


"Mami maafin kamu, dan Mami akan selalu doain kamu supaya kamu dan bayi kalian selamat," ucap Mami Tania yang juga berderai air mata. Ia mengecup pipi putrinya itu.


Lalu Viola beralih pada Mama Lia. "Maafin, Viola Ma. Viola minta doa dari Mama,"


"Kita selalu doain kamu dan bayi kalian, kamu jangan lupa beristigfar, minta pertolongan sama Allah, semoga diberi kelancaran dalam persalinannya," nasehat mama Lia.


Viola mengangguk, ia mengusap air matanya.


"Dok, akh saya pengen ngeden lagi," kabar Viola.


"Ayo berbaring lagi, mungkin bukaannya sudah sempurna."


Lalu Viola berbaring lagi dengan bantuan Ardo. Laki-laki itu sedari tadi terdiam, hanya hatinya saja yang selalu berdoa agar Allah mempermudahkan persalinan Viola.


"Benar, Bunda. Sudah sempurna, kita akan melakukan proses persalinannya. Hanya suami saja ya yang boleh bertahan, yang lain harap tunggu di luar," ucap sang dokter.


Merekapun keluar menyisakan Ardo, Viola, beserta tim medis yang akan membantu persalinan Viola.


"Rileks Bunda, tarik nafas dulu sebelum mengejan ya," kata dokter Markonah.


Viola menarik nafasnya, lalu mengejan.


"Engghh!" cengkraman di tangan Ardo pun semakin menguat.


"Tarik nafas, ngeden!"


"Engghh!!" belum ada tanda-tanda dari sang bayi akan keluar. Peluh sudah sebesar biji jagung menghiasi kening Viola.


Dengan sigap Ardo mengelap tetes demi tetes keringat istrinya.


"Mas, rasanya aku--"


"Sayang! Kamu bisa, kamu kuat! Semangat sayang! Kalau perlu kamu jambak rambut aku," Ardo menyodorkan kepalanya pada Viola.


Viola menggeleng. "Rambut kamu bagus nanti rusak,"


"Nggak papa, sayang."


Namun Viola masih menggeleng hingga suara dokter Markonah mengintruksi mereka.


"Kalau mau ngejan lagi bilang ya, Bun."


"Dok saya mau ngeden lagi,"


"Ayo Bun, tarik nafas, ngeden!"


"Enggghhhh!!!" rasanya ini adalah tenaga terakhir Viola, tubuhnya sudah mulai lemah rasanya ia tidak mampu lagi.


"Sayang! Ayo semangat, demi Bocil!"


Sedikit tenaga Viola terisi mendengar ucapan suaminya. Ia perlahan mulai mengeden lagi.


"Tarik nafas, Bun. Ngeden!"


"Engghh!!"


"Ayo, Bunda. Kepalanya udah nampak nih,"


Viola juga merasakan ada yang mengganjal di **** * nya.


"Sekali lagi, Bunda. Tarik nafas, ngeden!"


Viola mengumpulkan sisa tenaganya, lalu ia mengejan diikuti tangis bayi setelahnya.


"Engghhhhhh!!!"


Oakk


Oakk


Oakk


Suara tangisan bayi itu membuat tenaga Viola terasa langsung full. Suara tangisan bayi itu seperti alunan musik yang sangat merdu di telinga Ardo dan Viola.


Ardo mengucap syukur, ia menciumi permukaan wajah Viola.


"Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu, aku mencintaimu anak-anak kita, kamu Bunda yang hebat," setetes air jatuh ke kening Viola. Dan saat itu juga Viola tau bahwa Ardo menangis. Viola pun tak kuasa menahan haru, apalagi sang anak sudah berada dalam dekapannya.


***


Haiii, selamat bermalam minggu dan berakhir pekan :)


Mon maap yak kalau proses persalinan salah, proses bukaannya kecepetan atau hal yng enggak masuk diakal lainnya. Percaya deh, saya nyarinya di gugel. Jadi saya ikutin semua :v


Btw, Anak mereka cewek atau cowok, hayooo??

__ADS_1


Jangan lupa jempol dan komentar nya yaa :) see u :*


__ADS_2