Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez

Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
01 (Season 02)


__ADS_3

Happy new year para readers tercinta๐Ÿ˜˜๐ŸŽ‰๐ŸŽ‰๐ŸŽŠ๐ŸŽŠ coba dong harapan kalian di tahun 2020 ini apa? Tulis di kolom komentar ya ehehe


Hari ini spesial tahun baru saya mau kasih bonus chapter untuk cerita Mr. Vazquez dan Mrs. Vazquez yeayy๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ


Kira kira masih ada peminat nya nggak ya?๐Ÿค”


Bismillah, semoga sukaa๐Ÿ˜—


***


Huekk


Huekkk


Viola terbangun mendengarkan suara seseorang yang berada di dalam kamar mandinya. Ia meraba ke samping dan tidak menemukan apapun di sana.


Dengan langkah gontai Viola masuk ke dalam kamar mandi. Ia langsung memijat tengkuk orang yang baru saja mengeluarkan cairan bening itu.


"Hoamm, masih mual?" tanya Viola dengan mata setengah terpejam. Gila aja ini tuh baru jam tiga subuh. Mana tadi malem tu dia baru tidur jam dua subuh akibat terlalu semangat mantap-mantap. Hedeh memikirkan itu rasanya ia pengen lagi, di kamar mandi kayaknya ok ehehe.


Ardo mengangguk lemas. "Mau rebahan," kata Ardo lagi. Dengan sabar Viola memapah tubuh jangkung Ardo yang hanya mengenakan celana piyama abu-abu. Sedangkan Viola hanya memakai daster rumahan.


"Aku bikinin teh anget, mau?"


Ardo menggeleng lalu mengeratkan pelukannya pada Viola. "Mau peluk aja," katanya. Viola hanya menurut, gini nih kalo elu hamil tapi laki lu yang mual, ngidam, dan segalanya itu laki lu, lu bakal jadi babu. Enggak diturutin entar ngambek, kalo udah ngambek Varo yang umurnya baru dua taun lebih itu aja kalah dibante bapaknya.


Oh iya, sekarang Viola lagi hamil anak ketiga, udah tiga bulanan. Alhamdulillah mereka dikasi lagi, padahal belum lama ia cesar tapi udah hamil lagi. Kata dokter sih ini mukzizat juga dari Allah SWT, ya sebisa mungkin dijaga dengan baik.


"Mau aku--"


"Enggak mau apa-apa, mau peluk doang." Potong Ardo cepat, ia menggusalkan hidungnya di belahan dada Viola yang terbuka, jadi Viola emang nggak ngancingin daster nya karena si bayi besar itu suka ndusel gitu. "Wanginya aku suka," kata Ardo teredam dada Viola.


Iyalah suka orang dia ndusel sambil icip-icip, ibarat kata nih ye menyelam sambil minum air. Viola mah udah kagak heran sama sifat alamiah seorang laki-laki, apalagi udah nikah kayak Ardo.


"Enggak usah dibikin tanda lagi, dadaku udah penuh bercak-bercak!" Ketus Viola.


Sedikit cerita nih yah, Varo itu umurnya 8 bulan udah nggak mau minum ASI lagi soalnya takut sama bercak-bercak di dada Viola akibat serangga besar itu. Jadilah Varo minum susu formula yang makin membuatnya semakin montok. Dan hal tersebut jadi kesenangan buat Ardo karena dia tidak perlu berbagi lagi sama Varo, heran deh sama bapak satu ini, sama anak sendiri aja dicemburuin, Viola hanya bisa geleng-geleng aja.


"Tapi kan aku suka, Yang," Ardo masih ngedusel di sana. "Yang, mau bobok. Elusin," pinta Ardo manja.


Viola hanya bisa menghela nafas, gini nih sifat Ardo yang manjanya minta ampun membuat Viola beristighfar terus. Jadi satu lagi nih kebiasaan Ardo sebelum tidur, ndusel di dadanya Viola sama dielusin kepalanya, kayak anak kecil banget enggak sih? Iya kan.


"Udah aku elusin, tidur." Perintah Viola, lama kelamaan Ardo pun tertidur, disusul Viola yang juga mulai memejamkan matanya.


***


"Unda, cucu abish."


Viola mengangkat Varo yang berdiri di sampingnya dengan botol susu kosong ditangannya. "Abis ya? Pinter banget sih anak Bunda," Viola menghujami ciuman kedua pipi anaknya itu.


"Hihihi geyi, Unda," ujar Varo kegelian. Bocah yang berumur dua tahun empat bulan itu sudah bisa berbicara walaupun masih dengan pelafalan bayi pada umumnya.

__ADS_1


"Kan aku bilang nggak usah angkat Varo, nanti dedek nya kejepit," ucap Ardo yang baru bergabung dengan anak dan istrinya. Ia mengambil alih Varo dalam gendongan Viola.


Ia mencium kening Viola. "Selamat pagi, Yang."


Ardo mencium pipi anaknya. "Selamat pagi anak Ayah,"


"Agi, Ayah."


Ardo mencium pipi anaknya lagi. "Anak ayah bau susu,"


"Kan Alo inum cucu Ayah," kata bocah itu.


"Eh iya ya, Varo kan minum susu. Pinter banget, anak siapa sih?" tanya Ardo gemas. Sungguh anak ini sudah seperti Viola versi laki-laki maka dari itu bawaan nya Ardo pengen cium anaknya terus.


"Anak Unda Olav,"


"Hanya Bunda nih?"


"Ma Ayah Dodo,"


"Kan Ayah bukan dot bayi, Varo."


"Dodo dodo tu hana au dodoooo," anak itu tertawa setelah menyanyikan sepenggal lagu iklan dot bayi itu. Lagi-lagi Ardo menciumi pipi anaknya disertai gelitikan di perut balita itu.


Viola hanya menggeleng melihat interaksi ayah dan anak itu. Hatinya selalu menghangat melihat pemandangan yang akan setiap pagi ia saksikan.


"Kamu enggak pusing lagi, Mas?" tanya Viola. Ia memang menggunakan 'Mas' karena protes dari sang suami. Katanya ia pengen seperti pasangan pasangan lain, Viola mah manut aje.


"Mau dibikin teh atau kopi?"


"Kopi deh, kopi tanpa gula. Karena cukup dengan mandang kamu aja kopinya jadi manis, Yang."


Viola mendelik, yah ni bapak gilanya kumat. Astaghfirullah, Viola mengelus perutnya yng membuncit. Maafkan Bunda sayang, udah ngatain Ayah kamu gila.


Begini teman-teman, Ardo itu berubah total semenjak mengetahui Viola hamil lagi. Dari yang biasanya pake 'saya' jadi pake 'aku', dari yang lempeng jadi perayu ulung, kalian enggak ngeh dari tadi subuh Ardo manggil Viola 'Yang'? Nah itu juga perubahannya. Kalo mulut cabe mah masih tetep tuh, enggak berubah.


Viola sedang asyik meracik kopi tiba-tiba sebuah lengan memeluk perutnya yang membuncit.


Ardo mengecup pipi Viola. "Wangi banget,"


"Iyalah, kan udah mandi. Enggak kayak kamu bau iler," kata Viola. "Udah ah, ada Varo."


Ardo mengecup bibir Viola sekilas. "Enggak ada, udah dibawa Mama," kata Ardo. Memang sekarang Ardo serumah dengan mama Lia mengingat Ardo adalah anak tunggal jadi mama Lia membujuk Ardo agar mau tinggal bersamanya. Dan karena Viola hamil pun menjadi pertimbangan Ardo untuk tinggal bersama ibu dan ayahnya.


Ardo membalikkan tubuh Viola, ia menyamakan tingginya pada perut yang menonjol itu. Ardo menyingkap kaos yang dikenakan Viola lalu menciumi permukaan kulit perut Viola. "Selamat pagi anak Ayah. Sehat-sehat ya dalem perut Bunda, jangan nyusahin Ayah terus,"


Viola terkekeh, ia menyisir rambut Ardo yang berantakan menggunakan jarinya. "Enggak janji lho, Ayah," kata Viola menirukan ucapan seorang anak-anak.


Ardo berdiri setelah menyapa anaknya, ia menatap Viola lalu menundukkan wajahnya. "Maafkan aku," ujar Ardo.


Dahi Viola mengernyit, kenapa lagi? "Kan enggak salah, kenapa minta maaf?" tanya Viola halus. Entahlah Ardo ini udah kayak anak kecil, saja mood nya berubah-ubah kayak perempuan lagi menstruasi.

__ADS_1


"Maaf, karena kelakuan aku yang dulu. Kamu ngelewati kehamilan pertama tanpa kehadiranku, seandainya aku lebih dewasa lagi," lirih Ardo.


Oh yang itu, sebenarnya bukan hanya Ardo yang salah tetapi Viola pun sama. Tapi kejadian itu sudah berlalu bukan? Biarlah semuanya menjadi kenangan saja.


Viola meraih tubuh Ardo dalam pelukannya, ia mengusap punggung lelaki itu bergetar karena menangis. "Sudah, itu biarlah tinggal cerita yang selalu kita ingat. Sekarang waktunya kita menata hidup yang lebih indah,"


Ardo mengangguk dengan isakan yang masih terasa di bahu Viola.


"Cengeng banget sih, suamiku."


"Enggak tau, Yang. Kan selama kamu hamil aku yang kena dampaknya. Aku yang mual, aku yang ngidam, aku yang sensitif, tapi aku bersyukur karena aku bisa rasain apa yang kamu rasakan saat hamil Varo dan Varasya--"


Cup


"Udah, nggak usah diinget lagi."


"Hmm,"


Alvarasya Athena Vazquez, adalah nama anak perempuan Ardo dan Viola, kembaran dari Alvaro Zeusares Vazquez. Nama itu adalah keinginan dari Viola karena ia ingin sekali menghadiahkan nama itu sebagai hadiah pertama dan terakhir Varasya. Mengingat anaknya itu Viola berdoa dalam hatinya, Bunda, Ayah dan Kak Varo selalu sayang Varasya. Yang tenang di sana ya, Nak. Kami akan selalu mendoakan Varasya.


"Lepas ah, aku mau nata sarapan nih.


Namun Ardo semakin mengeratkan pelukannya. "Enggak mau,"


Viola memutar bola matanya. "Mandi sana,"


"Enggak mau,"


Astaga! Apa sih mau bapak-bapak ini?


"Mas enggak kerja?"


Seketika itu Ardo melepaskan pelukannya. "Astaghfirullah! Aku lupa!" ia melirik jam di dinding. "Gimana dong, Yang? Udah jam tujuh. "


"Yaudah cepet sana mandi,"


"Enggak ah, udah telat juga. Aku mau di rumah aja manja-manjaan sama kamu."


Astaghfirullah haladzim!


***


See uu di bonchap selanjutnya yaaa๐Ÿ˜˜


Komentar sebanyak-banyaknya biar saya semangat lagi nulis bonchap buat kalian.


Jempol 350 gasspollll update bonchap selanjutnya ehehe babayy๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰


Oh iya, jangan lupa ya tulisin harapan kalian di tahun ini๐Ÿ˜Š


(Mohon likenya buat postingan tentang lomba menulis di mangatoon. Saya posting nya di Instagram, satu like dari kalian akan sangat berarti bagi saya :) Instagram : @ptrmyllln

__ADS_1


Terima kasih)


__ADS_2