Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez

Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
05 (Season 02)


__ADS_3

Selamat malam minggu :)


Dan selamat membaca, semoga suka :)


"Bagaimana perkembangan proyek di Kalimantan?" tanya Ardo pada Anton. Kebetulan Anton menjadi kaki tangan Ardo, ia sendiri yang mau. Padahal Hunter Group masih berada di tangannya lantas untuk apa ia harus susah payah menjadi kaki tangan Ardo? Kadang Ardo juga tidak habis fikir dengan jalan fikiran bapak satu anak itu.


Ya, Anton belum menambah momongan. Karena ia masih ingin fokus sama anak perempuannya itu.


"Lancar dong, tinggal peresmian doang. Kalo gue yang nanganin semuanya beres!" kata Anton sombong.


Ardo berdecih. "Saya gaji kamu gede, ya wajar semuanya harus beres."


"Oh iya, kira-kira kapan mau peresmian?" tanya Anton.


"Saya pengennya nunggu Viola habis lahiran aja, biar sekalian berlibur di sana."


"Enggak kelamaan? Emang sekarang udah berapa bulan?" tanya Anton lagi.


"Apanya?"


"Istri kamu, udah berapa bulan hamilnya?"


"Oh, tiga bulan."


Anton mengangguk. "Masih lama ya? Kayaknya habis lahiran aja deh,"


"Ya. Semuanya saya percayakan padamu,"


Anton mengangguk seraya terkekeh. "Bro, lo tau sesuatu nggak?"


"Enggak,"


"Kan gue belum ngomong,"


"Yaudah ngomong!"


Anton menatap Ardo serius. "Grace, Do."


Mata Ardo menyipit. "Kenapa? Dia di penjara, kangen? Samperin aja sana, biar kamu ketemu sama spesies kamu itu. Kan kalian satu spesies,"


Anton menggeleng mendengar lambe turah Ardo. "Bukan itu, Do. Ini lebih gawat, dan bisa memicu perang dunia."


Ardo menatap Anton, ia menunggu jawaban dari bibir lelaki itu.


"Dia udah keluar, dengan jaminan."


Dan saat itu pula Ardo merasakan ancaman sudah berada didepan mata. Sial! Dia tidak akan membiarkan keluarganya hancur lagi, tidak akan!


***


Di rumah,


"Buat kamu, buka gih. Mama penasaran, kok ringan banget." Mama menggoncang pelan paketan itu.


Viola menerima dan langsung membuka paket itu, ia juga penasaran dengan isinya.

__ADS_1


Jantung Viola rasanya ingin copot sekarang juga, seketika itu rasanya Viola ingin pingsan dibuatnya.


"Kenapa, Viola?! Apa itu? Jangan bikin Mama takut dong," kata Mama Lia, ia sudah deg degan penasaran dengan isi dari paketan yang diterima Viola itu.


Wajah Viola pucat pasi, ia sungguh tidak bisa berkata apa-apa lagi. Isi paket ini sungguh menguras tenaga dan fikirannya. Istighfar Viola, ada si Bocil dalem perut kamu, batin Viola. Hanya satu orang yang menjadi tersangka pengiriman paket ini, Viola yakin dialah orangnya.


"Viola, apa?! Mama beneran takut nih," seru Mama Lia karena Viola masih tidak bergeming.


Perlahan Viola mengangkat isi paket tersebut, seketika itu Marvel langsung menutup mata suci milik Varo. "Viola, cukup! Nggak usah dikeluarin!" katanya masih menutup kedua mata balita itu m.


"Uncle, Alo nak liat," rengek Varo.


Marvel menjawab, "Enggak boleh, ini bahaya kalau Varo liat."


"Bahaye kenape, Uncle?" tanya Varo lagi.


"Sstt, diem. Nanti nggak Uncle kasi maga-maga, mau?"


Seketika itu Varo terdiam. Ia menggeleng dengan mata masih ditutup Marvel.


"Bagus, mata Varo tetep merem, ya."


Varo mengangguk.


"Siapa yang ngirim?" tanya Mama Lia datar.


Viola menggeleng, ia tidak tau siapa yang mengirimkan ini. Hatinya sedari tadi sudah tidak karuan. Ya Allah.


Drrtt drrrtt ...


"Ha-hallo?"


"Sayang," sapa seseorang di seberang sana, Viola langsung bergidik ngeri. "Kangen aku?"


"Nggak usah bertele-tele," ketus Viola. "Kamu kan yang ngirim barang itu?!"


Orang itu terkekeh. "Kok tau? Barangnya udah sampe?"


Sial! Tebakan Viola tidak meleset!


Viola mengertatkan rahangnya. Lalu ia berteriak pada orang yang menelponnya ini, "MAS ARDO! PULANG SEKARANG!!!"


***


"Yang,"


Viola masih mengabaikan panggilan Ardo.


"Sayang,"


Viola masih menulikan pendengarannya.


"Yang, Sayangnya aku,"


Ok, Viol mulai risih dengan panggilan itu.

__ADS_1


"Yang, mau denger cerita enggak? Aku--"


"Enggak tertarik," potong Viola cepat.


Namun Ardo masih melanjutkan ucapannya, "Aku punya temen, dan temen aku punya istri. Nah terus istrinya pura-pura enggak denger ucapan suaminya eh besoknya malah enggak denger beneran. Dikabulkan Allah, Yang."


"Mas mau nyumpahin aku tuli?" tanya Viola kesal. Kekesalan Viola pada suaminya ini semakin bertambah mendengar ucapan mengada-ngadanya itu.


"Enggak, Yang. Kan aku cuma cerita," kilah Ardo. Masa iya dia nyumpahin istri sendiri? Kan Ardo ini orangnya sayang istri banget.


"Yang, kok diem lagi?" tanya Ardo ketika Viola kembali mendiamkan dirinya.


"Yaaang,"


"Diem! Aku lagi nonton!"


Viola memang sedang nonton saat ini dengan duduk bersila di atas karpet bulu tebal. Ia menonton variety show, Knowing Brother yang bintang tamunya adalah EXO. Sebenarnya episode itu adalah episode di akhir tahun 2019, namun Viola baru sempat nonton nya sekarang.


Viola mengelus perut buncitnya sambil memandang wajah tampan Sehun tanpa berkedip, lalu ia bergumam, "Cil, kamu kalau cowok harus ganteng kayak Sehun, ya? Atau nggak mirip Chanyeol nggak papa, mirip sama Suho aja Bunda udah seneng banget Cil," tiba-tiba Viola mendapatkan sebuah balasan tendangan dari si Bocil.


"Kamu setuju ya Cil? Ah anak Bunda emang debes deh," kata Viola.


Sedangkan Ardo sudah mendengus seperti banteng sedari tadi. "Ganteng darimana?! Orang muka cantik gitu! Di mana-mana tetep aku yang paling ganteng," kata Ardo. "Kamu nggak usah ngarep anak aku bakalan mirip suami Mimi Peri itu! Dia tuh anak aku, yang pastinya bakal mirip aku!" desis Ardo tidak terima. Enak aja, dia tuh bergadang membuat si Bocil, masa harus mirip orang lain?! Ya harus mirip dia lah.


"Diem!" ketus Viola. Ingat, Viola masih marah.


"Udahan napa sih Yang, marahan nya."


"Enggak,"


"Kan canda doang, Yang."


"Enak ya kamu ngomong gitu, tau enggak jantungku rasanya mau copot, Mas. Mana di sana itu ada Varo lagi, aku tuh enggak mau ngotorin fikiran anak kita," jawab Viola.


"Kan aku cuma mau ngasi kejutan, Yang. Aku juga enggak tau kamu bakal bukanya depan Varo."


Viola mempause kan variety show tersebut. Ia memandang Ardo yang sedang duduk memeluknya dari belakang.


"Kejutan? Kejutan kamu enggak masuk di akal! Masa iya barang itu kamu paketin?! Enggak malu?!" tanya Viola kesal.


"Enggaklah, kan aku nyuruh si Raline yang maketin aku yang pilihinnya hehe, jadi aku nggak akan malu," cengir Ardo.


Seketika rasanya tanduk Viola ingin keluar mendengar nama Raline. "Mas nyuruh si Raline maketin, terus Mas yang milih gitu?"


"I-iya, kenapa?" Ardo menelan ludahnya kasar melihat mimik wajah Viola yang berubah. Kali ini dia salah apa lagi?


"JADI MAS PERGI BERDUA SAMA RALINE BUAT BELI CELANA DALEM?!!"


***


Chapter ini emang enggak mengoc*k perut kalian, mon maap sebelumnya.


Namun meskipun begitu saya harap chapter ini bisa menghibur kerinduan kalian semua ehehe.


Saya minta jempol 800 boleh? Komentarnya harus lebih dari 50 komentar. Kalau nggak gini saya bakalan males update karena nggak ada target ehehe.

__ADS_1


See u next chapter, nantikan konfliknya ya :)


__ADS_2