
Setelah kepulangan mereka dari rumah Joy, Ardo tidak pernah lepas dari Viola. Kemanapun Viola pergi Ardo pasti ikut, sampai ke toilet pun Ardo pasti menunggu di luar.
Seperti sekarang, Ardo sedang berada di depan pintu toilet dengan Keo digendongan dan Varo berada dipimpinannya.
"Ayah, kenapa kita tunggu bunda?" tanya Varo, karena tadi itu dia sedang asik makan semangka namun tiba-tiba sang ayah langsung memboyongnya ke depan pintu toilet.
"Ayah takut bunda hilang,"
"Hilang?" beo Varo.
"Iya, Ayah takut kalian menghilang lagi. Ayah enggak mau,"
"Varo ndak hilang Ayah, Varo ada sekalang nih," kata Varo lagi.
"Iya, Ayah cuma takut doang," jawab Ardo. "Ini Bunda kalian ngapain sih?" kesal Ardo, karena sedari tadi Viola enggak pakai keluar dalam toilet itu.
"Bunda kan lagi ee Ayah," jawab Varo.
"Ayah tau, tapi kok lama banget, Ayah takut bunda kenapa-kenapa."
"Ish Ayah, tak boleh takut! Kata uncle Dion kita harus belani,"
Ardo mengabaikan ucapan Varo, dia malah menggedor pintu toilet itu.
"Yang! Lama banget, kamu ngapain sih?"
Ceklek
"Loh? Ngapain di sini?" tanya Viola bingung, pasalnya saat dia masuk anak dan suaminya masih berada di lantai atas.
"Ayah, Bunda. Ayah takut telus, endak kayak Varo, belani."
Viola memandang Ardo tak percaya, suaminya ini benar-benar ajaib. Hanya ke toilet saja dia takut Viola kenapa-kenapa? Sampai membawa anak-anak lagi.
"Aku bener, Yang. Aku takut kamu kenapa-kenapa lagi," kata Ardo.
Viola mengambil Keo dalam gendongan Ardo.
"Aku tau, tapi kayaknya Mas lebay banget masa aku ke toilet aja diikutin terus, sampai bawa anak-anak pula." Viola melangkah pelan.
"Kan cuma takut, Yang."
Varo melepaskan tangan ayahnya. Lalu anak itu menggelengkan kepalanya dengan gerakan jari telunjuk yang seirama.
"Ayah, tak boleh takut-takut. Ayah harus sepelti Varo yang belani," ucap Varo.
Viola terkekeh mendengar ucapan anaknya. "Denger tuh anaknya ngomong,"
Ardo tertawa lalu mengangkat Varo. "Pinter banget, anak siapa sih?"
"Ayah Dodo dan Bunda Olav!" serunya.
"Opah! Atok! Jangan makan maga-maga Varo!" Varo memberontak dalam gendongan Ardo karena melihat nenek dan kakeknya memakan buah semangka miliknya.
Varo berlari ke arah mereka dengan wajah ditekuk. "Opah! Atok! Kenapa makan maga-maga Varo? Ini punya Varo, Opah Atok ambil sendili!"
__ADS_1
Varo mengambil mangkuk semangka miliknya. "Hah, abis? Opah, Atok? Kenapa abis?" tanya Varo, mangkuk itu ternyata sudah kosong. Hanya tersisa air yg dikeluarkan semangka tersebut.
Mama Lia menatap Papa Martin, mereka tidak tau bahwa semangka ini milik Varo karena biasanya jika ini milik Varo pasti anak itu selalu membawa mangkuk berisi semangka kemanapun ia pergi.
"Kakek lupa ini punya Varo," jawab papa Martin. "Kakek dan Nenek tadi kelaparan habis tangkap penjahat," ucapnya lagi.
"Tapi, Opah dan Atok bisa ambil yang lain," jawab Varo dengan mencebik.
"Kakek sangat lapar hingga tidak bisa ambil yang lain," jawab papa Martin lagi. "Kakek minta maaf ya," lanjutnya dengan wajah memelas.
"Iya deh, tapi Atok harus ganti yang baru tapi yang banyaakk!"
Papa Martin mengangguk. "Iya, Kakek janji. Sini cium Kakek dulu,"
Varo mendekat ke arah papa Martin lalu mengecup pipi pria paruh baya itu.
"Kakek aja nih? Nenek enggak?" tanya mama Lia.
Varo lalu mendekati neneknya, ia melakukan hal yang sama kepada sang nenek.
"Pa, saya masih penasaran sama Kevin, Kevin itu benar anaknya om Justin?" tanya Ardo.
Viola memasang telinganya dengan benar, ia juga penasaran dengan sosok penculik yang menolong anak-anaknya itu. Ia juga ingin berterima kasih kepada pria yang bernama Kevin itu, mungkin jika dia tidak ada keadaan tidak akan menjadi seperti ini.
Papa Martin menggeleng. "Enggak tau, mereka sudah melakukan tes DNA, nanti mereka juga akan memberi tahu," jawabnya. Ia juga tidak bisa memberikan jawaban karena sesungguhnya papa Martin pun juga tidak yakin, biarlah tes DNA membuktikan semuanya.
"Tapi bukannya tante Resty dan om Justin hanya punya satu anak? Bukannnya Dion anak tunggal?" tanya Ardo lagi.
"Dion memang anak tunggal,"
Papa Martin memandang istrinya, "Dion memang anak tunggal," lalu memandang Ardo yang masih meminta penjelasan padanya. "Tetapi setelah kejadian itu,"
***
"Mas enggak kerja?" tanya Viola. Saat ini mereka sedang bersantai di gazebo belakang rumah mama Lia. Varo sedang bermain dengan bolanya, sedangkan Varo berada di dalam kereta baru miliknya. Kereta yang lama sudah Ardo ganti karena Ardo tidak mau mengingat kejadian itu.
"Nih lagi kerja," jawabnya, memang Ardo sedang sibuk dengan laptop yang ia hadapi.
"Maksud aku enggak ngantor?"
Ardo menggeleng, laku fokus lagi dengan laptopnya.
"Mas, kabar Grace gimana?" tanya Viola yang tiba-tiba teringat Grace. Yang terakhir ia tau adalah Grace masih terkunci di dalam mansion Joshua.
"Oh iya aku lupa ngasi tau, lusa adalah eksekusi si Bernardo itu. Kamu mau ikut enggak?" tanya Ardo. Grace memang di eksekusi mati, karena pembunuhan berencana yang ia lakukan tidak hanya pembunuhan berencana tetapi juga narkotika yang ia pakai, dia juga mengedarkan benda harap tersebut hingga mendapatkan penghasilan triliunan rupiah. Tidak hanya Grace, para anak buahnya juga dihukum tetapi tidak dihukum mati. Seperti bang Jek yang hanya dipenjara selama beberapa waktu.
Viola menggeleng sebagai jawaban, meskipun ia sangat ingin Grace dihukum mati tetapi jika menyaksikan secara langsung dia tidak akan mampu. Biar bagaimanapun Grace pernah menjadi bagian dari hidupnya, meskipun semuanya palsu.
"Mas, aku ke tempat mami, boleh? Soalnya kata Marvel, papi udah di rumah,"
Ardo menatap Viola. "Boleh tapi aku ikut," jawabnya.
"Tapi kan kamu masih kerja,"
"Sebentar lagi kelar, kalau enggak kelar aku bakal suruh Raline," ucapnya.
__ADS_1
"Mbak Raline kan juga punya keluarga, masa kamu bebanin terus,"
"Resiko jadi sekertaris aku kan gitu," jawab Ardo sekenanya.
Viola berdecak seraya menggeleng. "Terserah deh," lalu ia mengecek ponselnya. "Sekarang rasanya aku agak aman karena enggak dapet spam chat dari Dion yang ngeluhin kamu," katanya tertawa. Ia merasa lucu ketika melihat spam chat Dion itu.
"Iyalah, orang dia udah enggak kerja di aku lagi," kata Ardo. "Eh, Yang. Tau enggak, kayanya Dion kejebak CLBK deh,"
"CLBK? Sama Ana?"
"Iya, Yang. Masa aku liat dia marah Ana deket sama Kevin?"
Viola mengernyit. "Kevin? Kevin yang kata tante Resty anaknya itu? Kok bisa?"
"Nah, kamu enggak tau kan? Ternyata Ana sama Kevin itu temen deket, Yang. Enggak tau deh pacaran atau enggak, tapi nih ya aku pernah baca dikit novel kamu katanya persahabatan antara cewek dan cowok itu pasti ada yang namanya, apa ya? Aku lupa,"
"Friendzone?"
"Nah itu,"
Viola mengangguk, mungkin aja sih si Dion masih cinta orang mereka putus karena Ana menikah.
Eh?
"Bukannya Ana udah nikah ya?" tanya Viola lagi. Iya, kan Ana udah nikah masa deket sama laki-laki lain?
"Udah janda, Yang. Kasian banget ya, umur masih muda tapi udah jadi janda," kata Ardo.
"Mas tau dari mana? Kok kayanya udah nyamanin l*mbe turah, up to date banget."
Ardo terkekeh geli. Sebenernya dia itu tau semua tentang gosip kantor, karena ketika lewat wajah aja yang lempeng tapi telinga udah dipasang kayak telinga gajah.
"Udah selesai nih, ayo kita pergi," ajak Ardo.
"Varo! Mau ikut Ayah sama Bunda enggak?" tanya Viola.
Varo mendekati orang tuanya dengan bola yang ia pegang. "Kemana?"
"Tempat nenek Nia, mau ikut?"
Varo mengangguk. "Bolelah,"
***
Tidak berapa lama akhirnya mereka sampai dikediaman orang tua Viola. Baru saja mereka melangkah masuk, mami Tania langsung keluar dengan wajah pucat dan panik.
"Kenapa, Mi?" tanya Viola.
"Vi-Viola, pa-papi enggak ... papi enggak nafas!"
.
.
.
__ADS_1
Selamat pagiii :')