
Sejak hari pengakuan cintanya, Viola semakin gencar untuk membuat Ardo membalas perasaannya itu. Tak perduli walau badai topan menerjang asal uang ngalir Viola akan tetap bertahan.
Viola selalu memanjakan perut Ardo dengan hasil masakannya. Ia sampai masuk ke les memasak hanya demi Ardo seorang. Bukankah Viola istri yang baik? Iya dong! Mengenai pekerjaan jadi sekretaris Ardo, Viola sudah berhenti dikarenakan sekretaris Ardo sudah selesai masa cuti nya.
Setiap pagi Viola selalu menyiapkan keperluan Ardo berangkat ke kantor. Kadang-kadang Viola juga mengantar bekal makan siang untuk Ardo jika Viola sedang libur les memasak. Belum ada yang tahu perihal Viola adalah istrinya Ardo, orang kantor hanya tau Viola adalah asisten pribadinya setelah Reon, bahkan orang sampai mengira Viola adalah kekasihnya. Biar saja orang mengira Viola apa yang penting dimata Ardo dia adalah pujaan hatinya ehehee
Seperti hari ini Viola berencana mengantar bekal makan siang untuk suami tercinta.
To: Ice cream
Aku anterin makan siang nih. Tunggu ya!
Tidak ada balasan dari Ardo. Mungkin sibuk, pikirnya.
Tanpa fikir panjang Viola pun langsung bergegas menuju ke kantor Ardo.
"Pak, kantor VQ group ya,"
"Sip,"
Setibanya di kantor Ardo, Viola langsung disambut ramah oleh sang resepsionis.
"Siang Viola, mau ngantar makan siang lagi?" tanya mbak resepsionis itu ramah, ia sudah tau Viola sering membawakan makan untuk bos nya itu.
"Hehe iya nih. Pak Ardo nya ada?"
"Ada mungkin, soalnya aku belum liat dia lewat sini. Kalau mau lebih jelas tanya ke sekretarisnya aja,"
"Ok deh. Sampai jumpa lagi mbak Emi,"
"Eh tunggu dulu Viola," cegat Emi.
Viola berbalik. "Kenapa, Mbak?"
"Itu ... kamu jangan keseringan ngantar bekal pak Ardo. Gosip gosip disini bilang pak Ardo itu udah nikah. Jadi aku saranin kamu jangan terlalu deket ya? Entar dibilang pelakor lagi. Kan sekarang lagi jaman jamannya pelakor berkuasa," ingat Emi. Emi itu emang bukan penggosip, tapi ya kalau denger sedikit enggak papa.
Viola terkekeh. "Tentu Mbak Emi, aku gak akan jadi pelakor kok. Makasih ya udah ingetin," Emi mengangguk.
Viola pun berlalu dengan riang sambil menenteng bekal makan siang Ardo.
Saat di depan lift, tiba tiba tangan Viola di cekal dan diseret ke toilet rusak oleh tiga orang wanita berpakaian minim.
__ADS_1
"Woi! Lepasin tangan gue! "
"Diem lo j*lang!" sahut mereka.
"Lo yang j*lang! Nyadar Mbak!" teriak Viola. Apaan coba ngatain orang jal*ng. Nggak nyadar situ mbak?
Disaat wanita itu ingin menampar Viola dengan cepat ia menangkisnya, jangan lupakan kalau Viola itu bisa bela diri.
Viola menyeringai. "Kenapa? Enggak bisa nampar gue?"
Salah satu dari mereka memberi isyarat lalu meregang Viola.
Plak!
Viola langsung ditampar salah satu dari mereka yang lain.
Sialan, kalau maen keroyokan gini Viola mana bisa lawan!
"Hahaha ini nih guys j*langnya si bos. Heran gue, kok bisa ya bos mau sama j*lang gak berkualitas gini," ucap wanita berbaju hitam ketat. Woi cabe keriting! Ngaca woi ngaca!
"Gue bukan jal*ng! Sialan!" Viola menatap nanar wanita berbaju hitam itu. Ia ingin menampar mulut si cabe itu tapi tangannya masih ditahan oleh dua temannya cabe bubuk dan saos tomat.
Wanita itu mencengkram pipi Viola hingga kuku tajam itu menancak di pipinya. "Ha ha udah berapa kali lo ng*ngkang di depan si bos? Pasti punya lo udah lecek banget karna sering dipakek--"
Satu tendangan mendarat di tulang kering wanita itu. "Jaga mulut lo, b*tch! Nyadar lo! Nggak punya kaca di rumah? Iya! Gue bisa beliin yang gede biar kalian ngaca—"
Plak
"Woi ini gue digampar terus! Adu jotos kalo berani!" tantang Viola.
"Lo berani sama kita?!" ucap wanita berbaju Loreng- si cabe bubuk.
Viola mendongak dan memegangi pipinya. Sakit pea. "Kenapa gue harus takut sama kalian?! Lepasin gue! Biar kita baku hantam, tiga lawan satu? Enggak masalah!"
"Wah wah wahh si jal*ng ternyata ngelawan guys. Kita apakan nih spesies satu ini biar dia jera?" tanya si baju Merah-- si saos tomat.
"Sebentar. Gue mau kasih dia pelajaran dulu," ucap cabe keriting.
Byurrr..
Air pel yang pun langsung mengguyur tubuh Viola.
__ADS_1
"BR*NGSEK! J*LANG SIALAN! B*TCH! ANJ*NG!" maki Viola yang semakin menyulut amarah ketiga wanita cabe itu.
"DIAM!! Kita apakan lagi dia ini?" tanya si baju Hitam lagi.
"Kita buat dia jadi semakin seperti j*lang murahan!" si cabe bubuk mengeluarkan sesuatu dari dalam tas nya.
"Pegang tangan dia,"
"Ka-kalian mau apa?" tanya Viola yang sudah gemetaran. Gunting lho ini, bukan apa Viola enggak mau mati konyol. Dia juga belum memastikan Ardo membalas perasaannya.
Si cabe bubuk menyeringai lalu mendekati Viola dan menggunting dress yang Viola kenakan. Sial! Dress mahal ini!
"Jangan," isak Viola saat gunting itu memotong dress nya. Sial udah berapa kali Viola mengumpat hari ini! Maafkan Viola ya Allah.
Viola hanya pasrah, ia tak mampu melawan lagi. Biarpun katanya ia jago beladiri ya kalau maen keroyokan sambil bawa senjata tajam Viola harus apa? Belum lagi bau air pel yang menyengat ini.
Kotak bekal yang dia pegang sudah bertehamburan kemana mana. Viola semakin terisak saat tulang keringnya di tendang oleh si Loreng. Ternyata sakit juga, sialan! Viola kenapa cengeng sih? Kenapa Viola enggak bisa melawan?
"Hah selesai," kata si cabe bubuk.
"Lihatlah wanita ini. Ckckck masih mau gak ya si bos dengan ****** yang bau kayak dia?" tanya saos tomat.
"Ckck gue yakin si bos pasti nendang dia hahahaa."
"Sebentar, gue mau foto model kita ini dulu," ucap saos tomat lagi .
Temannya mengernyit bingung. "Buat apa?"
Saos tomat masih terus mempfoto Viola yang tidak berdaya. "Mau gue posting terus pasang harga siapa tau mucikari demen sama dia, kan lumayan uangnya buat beli tas brand,"
"Udah deh guys. Lebih baik kita pergi dari sini. Bye j*lang!" mereka bertiga pun berlalu dari toilet meninggalkan Viola yang menangis tersedu sedu.
Yang dilakukan Viola saat ini hanya menangis. Tidak mungkin juga dia keluar dengan keadaan yang sangat kacau ini.
Dengan siapa lagi dia harus meminta tolong? Sedangkan toilet ini tidak dipakai karena saluran airnya mampet. Sialan! Uh dia mengumpat lagi.
Viola tau toilet itu rusak karena memang sudah ada tulisannya di depan.
Viola hanya mampu berdoa keajaiban datang menghampiri nya. Hingga ia teringat sebuah nama
Ardo
__ADS_1
***