Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez

Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
Duapuluhempat


__ADS_3

Tadi malam adalah tidur yang paling nyenyak yang Viola alami. Jika saja alarm tidak terus-terusan berbunyi maka dapat dipastikan Viola nggak akan bangun sampe siang, hais nyenyak banget dah pokoknya!


Iyalah nyenyak, orang dikelonin juga. Seumur hidupnya selama ia pake kamar sendiri nggak pernah tuh Viola kelon dan mengeloni, jadi wajar aja Viola nyenyak banget tidurnya hari ini.


Mengingat pelukan Ardo yang possessif tadi malam membuat pipinya memerah. Idihh apaan dah noh pipi murahan banget, baru dipeluk doang reaksinya udah gini, gimana kalo dicium?


Ahh gue bisa gila ini,


Viola tersenyum sendiri. Seandainya Ardo sakit lagi, batin Viola tersenyum.


Sebuah percikan air membuat lamunan Viola buyar.


"Siapa sih? Ardo? Kok tega banget, basah ini," Viola mengerucutkan bibirnya seraya mengelap air yang berda di wajahnya.


Sang pelaku hanya berjalan santai lalu duduk di kursi makan, entah dapat dari mana ia air itu. "Pagi-pagi udah senyam senyum sendiri, kamu beneran gila?" tanya Ardo. Ia menuangkan air mineral dalam gelas benin lalu menandaskannya hanya dalam sekali tegukan.


Viola berdecak kesal mood nya tiba-tiba anjlok mendengar mulut cabe miliknya Ardo itu. "Bisa enggak sih, enggak ngerusak mood orang? Pagi-pagi udah bikin mood orang hancur!" sungut Viola.


"Nih," Viola mengulurkan roti bakar yang sudah dia olesi selai kacang.


"Saya nggak suka kacang, bikinin selai coklat," Ya itu adalah sebuah perintah dari Ardo.


Viola mendelik kesal, lalu menukar piring Ardo dengan piringnya kebetulan roti dia adalah selai coklat.


"Kamu tidak ngeracuni saya kan?" Ardo memincingkan matanya kearah Viola.


Lagi-lagi Viola berdecak kesal. "Iya! Gue kasi racun! Biar lu mati sekalian!"


Ardo menatap Viola dingin.


Melihat tatapan dingin Ardo membuat Viola semakin kesal dibuatnya. "Gila aje si, tadi malem aja manja-manjaan, minta peluk-peluk segala lagi, ngedusel pula emang dia itu kucing? Lah sekarang? Kulkas isi bon cabenya balik lagi! Coba aja sakit terus kan enak, rumah jadi adem," gerutu Viola kesal.


"Saya dengar," ujar Ardo sambil memakan rotinya tenang.


Viola mendelik. "Ya iyalah, orang aku ngomong kok bukan bisik-bisik tetangga," lalu Viola memakan roti bakar selai kacang yang ia tukar dengan Ardo tadi. Selang beberapa menit mereka kembali diam, hingga suara Viola kembali memcahkan keheningan.


"Ardo," panggil Viola.

__ADS_1


"Hm,"


"Ardo," panggil Viola lagi karena Ardo tak kunjung menatapnya.


"Hm,"


"Ardo ish! Orang ngomong tuh tatap matanya Onta!"


"Apa!?"


"Maaf," lirih Viola.


Ardo menaikkan sebelah alisnya. "Maaf?"


Viola mengangguk lalu menatap Ardo yang juga menatapnya. "Aku minta maaf soal tadi malam, lambung kamu kambuh gara-gara aku," Viola sebenernya udah dari tadi malam pengen minta maaf, oleh karena Ardo pun sudah tertidur jadi dia mengurungkan niatnya. Pagi ini rasanya adalah wktu yang tepat untuk meminta maaf atas kejadian tadi malem.


"Oh," jawab Ardo yang kemudian memutuskan kontak matanya lalu menyantap lagi roti bakarnya.


'Oh' doang?! Benar-benar Kulkas!


"Ardo,"


"Lah kok gitu sih? Maafin nggak nih?"


"Ya,"


"Ardo,"


Ardo mengerang kesal. "What else, Viola?" tanya Ardo dengan sedikit geraman di akhir kalimat. Tidak bisakah Viola diam? Ardo hanya ingin menyantap rotinya dengan tenang tanpa ada gangguan makhluk halus sepertinya.


Viola menyengir. "Kamu udah nggak apa-apa? Perut kamu masih sakit? Atau kita ke dokter aja?" tanya Viola beruntun.


"Tidak perlu,"


"Tapi kan-"


"Saya sudah sembuh," ucapan Ardo membuat Viola hanya bisa diam saja.

__ADS_1


Ya gini teman-teman kalo kita punya suami irit bicara, Kulkas, Dan seketika mulutnya kayaks bon cabe seperti Ardo, kalian harus siapin banyak topik supaya tidak terjadi keheningan seperti sekarang. Atau kalian diem-dieman aja sampe Opah nikah sama tok Dalang, upin ipin punya rambut, kak Ros nikah, spongebob nggak jadi spons lagi, dan dapet undangan Mimi Peri nikah sama Sehun.


"Selesai, saya berangkat," Ardo beranjak dari kursi.


"Ke mana?" tanya Viola.


"Mau cebok, tadi kelupaan."


"Ish serius, Ardo!"


"Kamu fikir saya mau ke mana pake pakaian rapi gini?"


"Yaelah bilang ke kantor aja ribetnya minta ampun,"


Ardo mengabaikan ucapan Viola ia melangkah pergi sebelum ucapan Viola menghentikan langkahnya.


"Obat kamu udah diminum?" Ardo menggeleng. Rasanya Ardo sudah bosan meminum obat sialan itu, biarkan aja kenapa si? Susah banget. Kalo mau mati ya mati aja, nggak perlu ketergantungan sama obat gini.


"Tunggu di sini, aku ambilin."


"Enggak perlu--" namun Viola sudah berlari mengambil obat itu.


"Minum," titah Viola setelah mendapat obat yang tadi malam mama Lia berikan padanya.


"Saya enggak mau,"


"Minum enggak!"


Dengan terpaksa Ardo pun meminum obat tersebut. "Sudah, saya berangkat," pamitnya.


"Hati-hati," Viola melambaikan tangannya tak lupa senyum yang dia berikan.


Dan untuk pertama kali dalam hidup Ardo setelah ia pubertas, ia membalas senyum seseorang dengan lebarnya dan itu hanya kepada Viola.


Bolehkah dia bertahan hidup meskipun dengan obat-obatan sekarang? Rasanya semangat hidup Ardo semakin meningkat setelah dia menikah dengan seorang Viola Ardelia Vazquez, Nyonya Ardo, Mrs. Vazquez.


Sedangkan Viola hanya mematung tak percaya bahwa ia akan melihat pemandangan yang sangat langka dan sangat indah dipagi hari saat ia belum mandi. Viola yakin hari ini adalah pagi terindahnya.

__ADS_1


Tanpa sadar Viola sudah menari seperti topeng monyet saking senangnya. Nang ning ning nang uy. Cihuyyy joget yuk shayyy. Aih dahsyat syekali efek dari Kulkas isi bon cabe itu.


__ADS_2