
"Gr-Grace ... "
"Ingat gue? Tega banget lo ngelupain sahabat lo ini hahaha,"
Viola menggenggam erat ponselnya. "Ngapain lo nelpon gue?! Bukannya lo mendekam di balik jeruji besi itu? Tch! Itulah akibat dari penjahat kayak lo itu!" ucap Viola.
"Hahaha, penjara untuk kadal apa mempan untuk komodo sepertiku?" tanya Grace tak lupa dengan tawa khas miliknya. "Oh ya, gue lupa. Gue mau jenguk ponakan gue dong, hehe."
"Jangan macam-macam Grace! Lo gak bakal bisa nyentuh anak-anak gue!"
"Sayangnya anak-anak lo udah sama gue ha ha ha,"
Viola membungkam mulutnya, tubuhnya tiba-tiba bergetar. "A-apa lo bilang?"
"Kalau mau anak lo selamat, pergi ke depan rumah sakit sekarang juga! Tanpa membawa siapapun!"
"Iya iya! Gue ke sana, tapi gue mohon bebasin anak-anak gue," lirih Viola.
"Cepetan! Orang gue udah nunggu lo dari tadi!" lalu telepon itu terputus.
Viola mengusap air matanya lalu bergegas ke depan rumah sakit itu. Dalam hati ia merapalkan doa semoga tidak terjadi apa-apa dengan anak-anaknya.
Di depan sana ia melihat sebuah mobil terparkir dipinggir jalan, ia menghampiri mobil itu dan mengetuk kaca mobil.
"Orang Grace?"
Orang dalam mobil itu mengangguk, lalu membukakan pintu untuk Viola.
Ketika Viola masuk salah satu dari mereka langsung membius Viola hingga tak sadarkan diri. Mobil pun melaju meninggalkan pinggiran jalan rumah sakit itu.
***
Ardo yang tadinya ingin ke kantor, mengurungkan niatnya. Ia akhirnya pulang untuk melihat sang buah hati, karena sedari tadi perasaannya tidak nyaman.
Saat berjalan di jalanan kota tiba-tiba saja mobil dari arah belakang melaju kencang sehingga menyenggol sedikit kaca mobilnya. Dan ya kaca mobil itu sedikit retak.
Ardo mengumpat, mau dikejar tetapi mobil itu sudah hilang karena pengemudinya ugal-ugalan.
Akhirnya Ardo memutuskan untuk pulang saja daripada mengejar, toh hanya spion mobil.
Setelah sampai rumah ia langsung diharapkan dengan kereta bayi milik Keo di halaman rumah serta sepatu Varo yang tergeletak dengan keadaan basah. Wajar saja Varo tidak terlacak, sepatunya terlepas dan tergeletak di rumah. Jadi alat pelacak itu akan tidak nampak jika mereka berada di rumah.
"Ma?" panggil Ardo. Dirumah yang besar ini sangat sunyi, karena mama Lia memang tidak memiliki ART yang tinggal di sini. Para ART hanya datang untuk berkemas rumah lalu pulang jika kerjaan mereka selesai. Begitu juga satpam, mereka hanya akan berjaga di malam hari karena di siang hari sudah ada siskamling yang berjaga jadi tidak mungkin jika komplek ini terjadi tindakan kriminal.
Tidak ada sahutan dari mama Lia. Ardo pergi ke halaman belakang siapa tau mereka bermain di belakang.
Setelah mengecek halaman belakang, 'pun mereka tidak ada. Masih berfikir positif Ardo mencari di toilet, siapa tau Keo BAB atau Varo yang BAB.
"Ma? Varo? Ini Ayah," ucap Ardo.
Namun masih tidak ada jawaban dari mereka. Hingga Ardo melewati dapur, ia melihat seseorang tergeletak di bawah meja makan.
"Ma!"
Ardo langsung mendatangi orang yang tergeletak itu yang ternyata mama Lia.
"Mama, Ma?" Ardo menepuk pelan pipi mama Lia. Namun tidak ada respon yang mama Lia berikan, mama Lia masig setia menutup matanya.
Ardo sudah kalang kabut, ia menelpon Viola tetapi nomornya sedang menerima panggilan. Dua kali Ardo mencoba menelpon Viola namun masih saja nomor istrinya itu sedang menerima panggilan.
"Nelpon siapa sih?!" kesal Ardo.
Ia sudah agak panik apalagi anak-anaknya tidak ada di sini. Hingga ia menerima panggilan dari Reon.
__ADS_1
"Apa yang kau dapatkan?" tanya Ardo langsung.
"GPS Alceo jatuh saat menuju kawasan hutan, kami hanya menemukan gelangnya dan juga selama perjalanan hutan kami menemukan sebuah tas dan telpon genggam milik nyonya Lia," jelas Reon.
"Apa maksudmu? Cari keberadaan Alceo dan Alvaro! Mereka tida dirumah dan ibuku pingsan!"
"Kami sedang mencarinya, Pak."
"Kerahkan semua anak buahmu! Saya tidak mau tau, anak-anak harus ketemu hari ini juga!"
Arso memutuskan sambungan teleponnya, ia kembali menepuk pipi mama Lia.
"Ma?"
Masih tidak ada respon dari mama Lia, Ardo akhirnya menghubungi dokter Gita.
"Ke sini sekarang!"
"Aku lagi seminar--"
"Saya tidak peduli! Mama butuh kamu sekarang!"
Lagi-lagi Ardo memutuskan telepon itu.
Ia mengangangkat mama Lia sampai ke kamar mama Lia.
"Pa?"
"Kamu di mana? Kata Raline kamu enggak ke kantor,"
"Aku di rumah,"
"Liat mama kamu, perasaan Papa enggak enak,"
"Mama pingsan, dan anak-anak enggak ada," ucap Ardo datar.
Ardo mengangguk meskipun papa Martin tidak melihat.
Ardo mengusap wajahnya kasar, ia tidak bisa mencari Keo dan Varo sedangkan mamanya sendirian di sini dalam keadaan pingsan. Ponsel Viola yang awalnya sibuk pun kini tidak bisa dihubungi, gps Viola pun mati. Sumpah! Rasanya Ardo ingin membenturkan kepalanya saja!
Ardo teringat akan cctv yang dipasang papa Martin di seluruh penjuru rumah. Mungkin akan menjawab apa yang sudah terjadi ini.
Semuanya biasa saja, berjalan seperti hari-hari biasanya. Varo bermain air, Keo dalam kereta bayinya, sedangkan mama Lia mengawasi mereka, sesekali wanita paruh baya itu tertawa.
Hingga pada saat Varo melepas sepatunya, ia berbicara pada mama Lia setelah itu mama Lia masuk ke dalam rumah. Lalu Varo berlari lagi mendatangi Keo, entah apa yang bocah itu bicarakan.
Kemudian Varo berlari lagi dan bersembunyi, hingga dua orang yang menggunakan masker datang, kemudian satu orang masuk ke dalam rumah satu lagi mengambil Keo.
"Sial!" umpat Ardo, ia tidak bisa melihat wajah atau kendaraan yang digunakan para penculik itu.
***
"Hahaha ayo Om, lari terus! Wow Varo seperti terbang!" seru bocah laki-laki yang berada dalam gendongan seorang pemuda yang sedang berlari kencang dalam lebatnya hutan itu.
"Keong! Kita terbang!" serunya lagi.
"Bocah, diem! Nanti om yang tadi nemuin kita!" kata pemuda itu, ia masih berlari, tak peduli kakinya berdarah karena tidak menggunakan alas kaki, yang terpenting adalah dua beradik ini selamat dari penculikan yang awalnya ia juga ikut andil itu.
"Kita main umpet-umpet, Om?"
"Iya, makanya enggak usah bersuara,"
Varo menutup mulutnya menggunakan tangan mungilnya.
__ADS_1
"Om, om jelek ndak ngejar kita lagi, kita menang Om," bisik Varo. Sedari tadi Varo memang tidak melihat siapapun dibelakang mereka.
"Beneran?" Kevin menghentikan langkahnya, ia mengatur nafasnya yang terngah-engah.
Varo mengangguk. "Varo dengar om jelek teriak sakit, tapi ndak ngejar," ucap Varo.
Kevin berjalan lagi, ia harus mencari air yang bisa diminum, ia sangat haus.
Tapi sebelum itu ia melihat bayi dalam gendongan sebelah kirinya. Bayi itu masih bernafas, Alhamdulillah.
"Varo, dedeknya coba ajak ketawa," suruh Kevin.
"Dede Ocil, Keong jelek! Baaaa! Ciluk baaa!"
Varo pun mengagahi Keo, tapi bayi itu masih menutup matanya.
"Keong, banguuuuun!!" teriak Varo hingga membuat bayi itu terkejut lalu terbangun dan menangis.
Ooeekk!
"Dede Ocil, baaaa! Cilukk baaa! Keong, hahaha baaa,"
Mendengar suara sang kaka, Keo pun tertawa.
"Hihihi Keong ketawa, baaa!"
Lagi-lagi Keo tertawa, Kevin mengucap syukur lalu ia mencari sumber air itu.
Selama berpuluh menit berjalan ia belum menemukan apapun, padahal hutan ini hutan pegunungan jadi pasti memiliki air.
Kira-kira hampir satu jam setengah berjalan mencari air ia mendengar suara riak air. Kevin memercepat langkahnya, dan akhirnya ia menemukan air terjun kecil.
Lagi-lagi Kevin mengucap syukur, ia mengecup pipi Keo lalu pipi Varo bergantian hingga membuat Varo yang sedang mengajak adiknya tertawa itu terhenti.
"Om kenapa cium-cium Varo?"
"Om hanya bersyukur," jawab Kevin. "Varo duduk sini dulu ya, pangku adiknya. Siapa nama adik Varo?"
"Keong,"
"Nah, pangku Keong dulu, Om mau ambil air."
"Tapi Varo endak bisa pegang Keong,"
Kevin membetulkan letak duduk Varo lalu meletakkan Keo di pangkuan kecilnya hingga Kevin merasa Keo tidak akan kesakitan.
"Varo diem sini, enggak usah gerak. Nanti Keong jatoh,"
Varo mengangguk, lalu Kevin berlalu untuk meminum air. Setelah puas minum ia mengambilkan Varo juga.
Ia kembali dan melihat Varo dikerubungi nyamuk, tetapi bocah itu diam saja. Bergegas Kevin mengusir nyamuk yang sudah kenyang meminum darah Varo.
"Kenapa nyamuknya enggak di usir?" tanya Kevin kesal.
"Varo takut Keong jatoh," jawabnya.
Kevin menggigit bibirnya, Kevin bodoh banget sih! Ngebiarin anak-anak kegigit nyamuk gini!
Ia meraba saku celananya, perasaan sebelum penculikan Bang Jek minta simpenin koreknya. Dan ternyata ia menemukan sebuah korek. Lagi-lagi ia bersyukur, nasib baik terus menghampiri mereka.
Ia lalu menghidupkan api guna mengusir nyamuk. Kevin memperhatikan langit, langit mulai gelap yang artinya sebentar lagi malam akan menjemput. Ia menghela nafas, bisakah mereka keluar dari sini? Mengingat Kevin tidak tau arah jalan pulang, karena selama berlari ia hanya memikirkan pergi jauh dari bang Jek. Dan sekarang ia harus apa?
***
__ADS_1
Vote, komen, dan jempol! No lupa lupa!
Cerita Dion udah publis, sippp meluncurrrr