
Selamat membaca, semoga terhibur 🤗
***
"Mbak, bangun Mbak," wanita itu menepuk pelan pipi Viola. "Mbak," panggil wanita itu lagi.
"Saya, saya enggak pingsan," ucap Viola lemah. "Varo, Keo hiks anak-anakku," tangis Viola kembali pecah mengingat keberadaan anak-anaknya belum ditemukan.
Viola berdiri. "Aku harus cari mereka!" Ia mengusap air matanya. "Aku harus cari Varo dan Keo!"
"Mbak, aku saranin lebih baik telpon suami Mbak dulu, kalau ada suami Mbak lebih enak nyari anaknya," saran wanita itu.
"Saya pinjem ponsel kamu," ucap Viola. Ponselnya tidak berada padanya.
"B*jingan! Sini ponsel kamu! Aku enggak punya pulsa!" Sentak wanita itu pada Joshua. Jangan lupakan wanita itu masih benci dengan mantan pacar yang baru diputuskan nya itu.
Dengan cepat Joshua memberikan ponselnya. "Sayangku Joy, aku beneran enggak memperk*sa dia, sayang. Aku cuma bercanda tadi." Jelas Joshua lagi, niatnya hanya bercanda pada Viola tetapi ia melupakan bahwa ia memiliki pacar yang kapan saja bisa salah paham dengan candaannya.
Joy merampas ponsel Joshua. "Ini Mbak,"
Dengan cepat Viola mengetikkan nomor Ardo, beruntung ia hapal dengan nomor sang suami.
Baru dering pertama, Ardo langsung menjawab panggilan itu.
"Mas!" seru Viola.
"Viola?"
"Iya Mas, ini aku. Varo, Keo, Mas mereka diculik hiks, Grace-Grace yang nyulik mereka. Aku-aku enggak tau gimana nyarinya, hiks,"
"Kamu-kamu di mana?! Aku nyariin kamu Viola, katakan di mana kamu sekarang?!"
"Aku-aku enggak tau dimana sekarang aku baik-baik aja, yang penting anak-anak Mas, cari mereka sekarang hiks,"
"Mereka udah sama aku, kamu dimana?! Biar aku jemput sekarang--"
"Mas?! Mas?! Hallo?!"
Viola berteriak kala ponsel itu mati.
"Kenapa mati?" tanya Viola.
"Habis baterai," jawab Joshua santai.
Viola mendekati Joshua. Lalu tanpa aba-aba Viola memberikan dua buah tinjuan di pipi dan di perut Joshua.
"Lo udah ngelecehin gue!" Tunjuk Viola di depan wajah Joshua.
"Ayo Mbak pukul lagi, biar b*jingan itu tau rasa," sorak Joy. Sebenarnya ia kasihan, tapi sakit hati lebih dominan dari pada rasa kasihan.
"Gue enggak ngelecehin Lo, Viola. Percaya sama gue! Bahkan gue yang nolongin lo dari Grace-shh!" Joshua mendesah kala rasa ngilu di pipinya terasa. Pukulan wanita itu memang tidak seperti pukulan pria tetapi cukup untuk membuat pipi Joshua memar.
"Apa maksud lo?"
"Grace nyulik lo supaya gue ngelecehin lo dan keluarga kalian hancur, ditambah lagi anak-anak kalian kemungkinan udah dibunuh Grace, dan itu akan membuat keluarga lo hancur," jelas Joshua. "Gue kasihan sama lo, biar kata gue playboy tapi gue masih ingat istri orang, gue enggak mau nanti istri gue juga digituin jadi gue bawa lo kabur," lanjutnya.
"Jadi lo beneran nggak ngelecehin gue, kan?" tanya Viola lagi.
__ADS_1
"Sumpah demi orang tua gue yang udah enggak ada! Gue enggak ngelecehin lo, tanda di dada gue bukan lo yang bikin, tapi Joy, cewe gue," lalu Joshua beralih ke Joy yang masih menatapnya tajam. "Sayang, ini tanda yang kamu buat, masa kamu lupa?"
Tiba-tiba Joy merasakan pipinya memanas. "Jika ini salah paham, aku masih bisa maafin kamu, tapi kalau kamu main sama jal*ng kamu Gres itu aku enggak akan maafin kamu! Dan kita tetap putus!"
"Sayang, aku khilaf waktu itu,"
"Khilaf?! Jadi kamu beneran?! B*jingan sialan!"
Ting tong ting tong
Suara bel dirumah Joy terdengar seketika itu Joshua berpandangan dengan Joy. "Biar aku yang buka,"
Joy lalu melangkah menuju lantai bawah untuk melihat siapa yang bertamu.
Ia membuka pintu dan tiba-tiba saja seorang laki-laki menerobos masuk tanpa permisi.
"VIOLA?!"
"Hei! Mau apa Anda?! Ini rumah saya, bkan rumah Anda!" Joy mengejar laki-laki itu yang sudah berteriak mencari Viola.
"Katakan! Dimana istri saya?!" sentak Ardo. Ia bisa menemukan lokasi Viola dari ponsel yang Viola gunakan untuk menelponnya tadi.
"Istri mana yang Anda maksud--"
"MAS ARDO?!" teriak Viola dari lantai atas. Ia langsung menuruni anak tangga dengan berlari, air matanya pun langsung tumpah seketika.
Ia langsung mendekap Ardo ketika mereka bertemu. "Mas ... " lirih Viola.
Ardo membalas pelukan Viola tak kalah eratnya. Ia teramat sangat khawatir dengan keadaan sang istri mengingat Viola diculik oleh sang ular.
Ardo mengecup kening dan pipi Viola. "Kamu baik-baik aja, kan? Kamu enggak ada luka, kan? Kamu enggak diapa-apain sama Grace, kan?!" tanya Ardo, ia kembali memeluk Viola. "Aku sangat khawatir, sayang," ucapnya.
"Mereka bersama Dion dan Ana, mungkin mereka masih di depan," jelas Ardo. Ia tersenyum memandangi wajah Viola. Pagi ini meskipun belum mandi Viola tetap saja selalu cantik di matanya.
"Bunda!" seru seseorang dibelakang Ardo.
Viola menoleh lalu menemukan sang buah hati berlari mendekatinya.
Air mata Viola jatuh, ia langsung mendekap erat anaknya, ia menghujamkan ciuman bertubi-tubi pada pipi gempal itu. "Sayang, bunda kangen Varo. Varo enggak apa-apa kan?" tanya Viola.
"Endak Bunda, om Kepin bantu Varo sama Keong," jawab Varo.
Pandangan Viola teralih pada Keong digendongan Ana. Lagi-lagi air mata itu mengalir melihat sang buah hati yang masih kecil itu.
Viola mengambil Keo dari gendongan Ana. "Sayang," panggilnya.
Mendengar suara sang ibu, Keo pun menangis keras. Viola menimang putra keduanya itu.
"Joy, saya boleh pinjam kamar kamu?" tanya Viola.
"Boleh, Mbak. Pakai aja," jawabnya.
Viola pun menaiki tangga membawa Keo, Varo bahkan Ardo pun juga ikut.
"Joy?" panggil seseorang.
Joy menoleh ia membulatkan matanya. "Dion? Ana?!" teriak Joy. "Astaga! Ini beneran kalian?!" tanya Joy. Ia tak menyangka akan bertemu lagi dengan teman semasa SMA nya itu.
__ADS_1
Joy langsung memeluk Ana erat. "Aku kangen banget sama kalian!" seru Joy. "Jadi kalian masih pacaran nih? Kapan nikahnya, kalian pacaran udah lama lho!"
Mendengar ucapan Joy membuat Ana menunduk, hatinya tiba-tiba terasa nyeri.
"Ehem gue enggak dipeluk nih?" tanya Dion, ia mengalihkan pembicaraan yang kembali membuatnya ingin membalas dendam pada mantannya itu.
Joy tertawa lalu beralih pada Dion, ia meninju pelan bahu Dion lalu memeluknya. "Astaga! Aku juga sangat rindu dengan bucin yang satu ini," ucapnya.
Jadi Dion dan Joy merupakan sahabat ketika SMA, Joy yang tomboi membuat Dion nyaman bersahabat dengannya. Sedangkan Ana, ketika Dion berpacaran dengan Ana, Joy pun langsung menjadi teman dekat Ana. Joy juga merupakan tempat keluh kesah Ana dalam menghadapi Dion dulu. Mereka berpisah karena pada saat kenaikan kelas 12 Joy pindah ke Rusia karena suatu hal. Lalu mereka bertemu kembali hari ini.
Tiba-tiba saja pelukan itu terlepas.
"Ngapain kamu peluk-peluk cowo lain didepan pacar sendiri?!" ucap Joshua pelaku pelepasan paksa pelukan itu.
Wajah Joy yang semula bahagia tergantikan dengan wajah datar.
"Enggak ingat kita udah putus? Aku enggak sudi pacaran sama orang yang lebih milih selingkuh dengan seorang jal*ng!"
***
Viola memperhatikan Keo yang rakus meminum ASI darinya. Dapat dipastikan bayi ini hanya meminum susu vegetable miliknya.
"Mas, maafin aku," ucap Viola.
Ardo yang duduk disampingnya memandang Viola lekat. "Maaf untuk apa?"
"Aku udah lalai jaga anak-anak,"
"Viola, harusnya aku yang minta maaf, aku enggak bisa nepatin janji buat ngejaga kalian, maafkan aku,"
Viola membalas tatapan Ardo, mneyelami manik coklat milik suaminya itu.
"Aku udah masuk perangkap Grace, Mas. Wanita itu ternyata udah bebas dari penjara, aku takut dia berulah lagi,"
Ardo mengelus surai kecoklatan yang berantakan milik istrinya. "Enggak lagi, kita tinggal menunggu eksekusi mati ular itu, kesalahannya yang sudah sangat banyak ditambah lagi sekarang. Jadi dia dihukum mati," jawab Ardo. "Sekarang Grace masih dalam pengawasan Milen dan polisi, Reon juga berada di sana. Ular itu tidak akan bisa lepas kecuali ia bisa menghilang," jelas Ardo lagi.
"Terus, Varo dan Keo gimana? Aku baru sadar subuh tadi Mas, aku enggak mtau apa-apa tentang anak-anak."
"Mereka diculik, dua orang penculik itu mau ngebuang Keo tapi karena Varo tiba-tiba juga berada dalam mobil itu mereka mau ngebunuh keduanya,"
Viola membekap mulutnya. Jantungnya berdebar mendengar ucapan suaminya ini.
"Tapi beruntung salah satu dari penculik itu ternyata terpaksa melakukan itu, dia yang membawa kabur anak-anak untuk diselamatkan, dan mereka masuk ke dalam hutan."
"Jadi, Varo dan Keo di dalam hutan?!" Viola sangat terkejut mendengar itu, bayi yang baru berusia beberapa bulan itu masuk ke dalam hutan belantara sungguh Viola bersyukur anak-anaknya masih bisa selamat.
"Iya, tapi aku sudah memeriksakan mereka ke dokter, kamu enggak usah khawatir," jelas Ardo. "Ada satu hal lagi yang baru aku ketahui,"
Viola mengernyitkan dahinya. "Apa? Anak-anak enggak apa-apa kan?"
Ardo menggeleng. "Bukan masalah anak-anak, tetapi penculik yang menyelamatkan mereka,"
Alis Viola bertaut. "Kenapa?"
"Penculik itu kemungkinan anak dari orang tua Dion, tante Resty dan om Justin,"
***
__ADS_1
Tetap stay sama Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez yaa🤗🤗 yah meskipun saya jarang update :(