
Terima kasih buat sayang onlenku yang udah ngevote, jempol dan ngomen. Jangan pernah bosan ya sama cerita ini, i love u all😘😘
Happy Reading :)
***
"Titi Molen!"
Varo langsung meloncat dari atas brankar untuk mendatangi orang yng diteriaknya tadi.
"Astaghfirullah! Anak lutung! Loncat aja terus!"
Tiba-tiba sebuah jeruk terlempar ke arah suara Dion yang tadi berbicara.
"Mas tau aja aku mau jeruk, makasih!" Dion mengacungkan jeruk tadi.
"Gundulmu! Awas sekali lagi kamu ngatain anak saya lutung, saya sumpahin kamu jadi lutung beneran!" Ardo mengacungkan pisau buah yang dipegangnya.
"Ye si bapak sensi bener,"
"Titi Molen bawa hadiah lagi buat Varo?" tanya Varo yang sudah berada di depan orang yang disebut titi Molen itu.
"Aunty Milen, Varo. Bukan titi Molen!"
"Suka-suka Varo, hadiah?" ia menengadahkan tangan kecilnya.
"Enggak ada, kan kemarin udah Aunty kasi Bakugan, kurang? Sekarang Aunty mau kasi dede Keo,"
"Yah Aunty," Varo meneleng. "Yaudah deh, Varo mau sama Ayah aja, Titi Molen pelit," lalu bocah itu berlari mendatangi Ayahnya.
"Kalian barengan?" tanya Viola. Ia menyipitkan matanya.
Marvel dan Milen sontak menggeleng.
"Enggak, kita ketemu pas di parkiran kok," jawab Milen. Wanita itu berjalan menuju keranjang baby Keo.
"Ya ampun! Lucu banget, kali ini aku jadiin model cilik, pokoknya harus--"
"Nggak ada, nanti anak saya diculik orang gimana? Kamu mau tanggung jawab?!"
Milen mendelik sinis. "Kurang kerjaan banget orang nyulik anak kamu," jawab Milen.
"Marvel beneran kalian ketemu di parkiran?" tanya Mami Tania ada Marvel. Ia sedari tadi merasa ada yang janggal dengan anaknya ini. Ok sih kalau mereka ketemunya di parkiran, yang bikin enggak ok tuh si Marvel berdirinya dempet banget sama tuh model.
"Beneran, Mi. Masa sama anak sendiri enggak percaya?"
"Bukan enggak percaya, yah kan Mami antisipasi aja. Syukur deh kalau kamu ada apa-apanya sama dia artinya kamu masih normal," jawab Mami Tania.
"Yah Mi, gitu banget sih ngomongnya. Anak sendiri lho,"
"Kita beneran enggak ada apa-apa, Tante." Milen beranjak menuju mami Tania ia mencium tangan wanita paruh baya itu. "Apa kabar, Tante?"
"Tante baik," jawab Mami Tania.
Tiba-tiba seorang perawat menginterupsi mereka.
"Maaf Pak, Buk, jam besuknya sudah habis. Harap Anda keluar dengan teratur," ucapnya. Karena memang sekarang jam sudah menunjukkan pukul sebelas. Meskipun rumah sakit ini adalah milik keluarga Vazquez, namun mereka juga harus menaati aturan.
"Mami pulang dulu ya, kasian papi sendirian," pamit Mami Tania.
Viola dan Ardo mengangguk. "Titip salam sama papi ya, Mi. Kalau aku udah agak enakan aku mau main ke sana,"
"Harus dong," ucapnya. Mami Tania memandang orang yang ada di sana. "Aku pulang dulu, Marvel kamu mau bareng Mami?"
"Enggak Mi, aku mau balik ke kantor lagi,"
Mami Tania mengangguk, lalu ia berlalu pergi.
Lalu satu persatu dari mereka pamit pulang.
***
Dua bulan kemudian,
__ADS_1
Hari ini Viola sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan bersama dengan Milen.
Selama beberapa bulan terakhir ia memang tidak pernah berbelanja lagi, jadi hari ini rencananya ia akan berbelanja keperluan Varo dan baby Keo untuk pergi ke Kalimantan nanti.
"Beneran nih suami kamu enggak marah?" tanya Milen, karena mereka berada di sini sudah hampir setengah hari. Kalau Milen sih biar sampai nginep pun enggak ada yang nungguin, ada sih yang nungguin ya palingan satpam, iya nungguin buat ngusir.
Viola menggeleng. "Enggak, aku kan udah ijin Mbak," jawabnya.
Ia memang sudah meminta ijin suaminya, Ardo sih sebenarnya agak berat ngijinin tapi karena Viola bersikeras mau ikut Milen berbelanja ya ia ijinin, asalkan ingat waktu aja.
Viola menyeruput ice coffee yang ia beli tadi. "Mbak, ke sana yuk! Aku mau beli kemeja buat mas Ardo!" tunjuknya pada salah satu stand khusus baju laki-laki.
Milen mengangguk, ia juga ingin memilih kemeja itu siapa tau ia juga minat untuk memebelinya.
Kaki Viola melangkah menuju sebuah patung di dalam kotak kaca, kemeja berwarna maroon itu merupakan salah satu kemeja produk Uniql*. Harga yang tertera di sana adalah Rp. 759.999,00.
Sesekali, batin Viola.
"Itu original, Mbak. Bisa digunakan di berbagai acara formal dan juga non formal," ucap seseorang karyawan yang bername tag Icha itu.
"Mau ini dong," ucap Viola. Ia sudah jatuh cinta pada kemeja lengan panjang tersebut. Ia membayangkan jika Ardo memakainya pasti akan sangat terlihat tampan.
Ardo tidak memiliki kemeja berwarna maroon, rata-rata kemejanya berwarna hitam dan navy, maka dari itu akan sangat menyenangkan melihat Ardo menggunakan kemeja yang lumayan cerah ini.
"Cash atau credit card?"
"Credit card," jawab Viola ia langsung memberikan kartu platinum miliknya.
"Terima kasih sudah mampir, semoga Anda senang dengan pelayanan kami," kata kasir itu.
Viola tersenyum, ia lalu menjinjing tas berisi kemeja itu.
"Udah?" tanya Milen yang sudah sedari tadi keluar.
Viola mengangguk. "Aku kepingin beli blouse, kita ke sana yuk!" ajak Viola lagi.
Milen menggeleng pelan, ini sih bukan dia yang ditemenin tapi dia yang nemenin.
Viola mengacungkan jempolnya, ia laku memasuki stand khusus wanita itu.
Viola berkeliling mencari blouse yang ingin ia beli.
Sedang asyik memilih seseorang menghampiri Viola.
"Hei!"
Viola menoleh, ia mengernyitkan keningnya merasa tidak asing dengan seseorang yang sedang menyapanya ini. "Siapa?"
Orang itu tertawa hingga mata sipitnya membentuk bulan sabit. "Enggak ingat aku?" tanyanya.
Lagi-lagi Viola mengkerut. Ia mencoba mengingat nama orang ini. "Joshua?" tanyanya kurang yakin. Kalian tau Joshua? Pasti tidak, dan sekarang Viola ingin memperkenalkan nya. Joshua adalah salah satu mantan Viola semasa sekolah menengah. Orang yang Viola panggil Jojo itu merupakan keturunan Tionghoa dan Korea.
Entah sial atau keberuntungan Viola bertemu dengan mantannya ini.
Joshua tersenyum. "Ingat juga ternyata, apa kabar Li?" tanyanya.
Li adalah panggilan sayang Jojo untuk Viola, Li yang artinya Lia atau Adelia.
Sial! Roman-romannya sih si Jojo masih ngarep! batin Viola.
"Seperti yang lo liat, gue baik," jawab Viola seadanya.
"Iya sih, kayaknya gitu orang badan kamu makin makmur gitu. Tapi aku lebih suka yang sekarang empuk aja kalau ngusel," jawaban agak vulgar dengan lirikannya ke arah dada Viola itu membuat Viola agak bergeser ke salah satu patung agar dadanya tidak begitu terlihat oleh si mesum ini. Kalau dulu sih dia biasa aja dipndangin gini ya kalau sekarang beda lagi, rasanya ia pengen nampak wajah nih orang. Jelalatan banget matanya.
Sekedar cerita dulu itu semasa pacaran mereka di nobatkan sebagai Raja dan Ratu mesum, karena Viola itu mesum cuma di mulut doang kalau si Jojo ini mesumnya udah mendarah daging. Ciuman pertama Viola aja si Jojo ini yang ngambil. Makanya Viola harus pasang perisai nih sekarang.
"Ngapain lo ke sini? Inikan tempat wanita, bareng istri lo ya?" tanya Viola sekedar untuk berbasa-basi.
"Bukan istri, tapi cuma yah kenalan. Aku mah belum nikah, belum siap. Tapi kalau kamu mau aku siap kok," jawabnya.
"Enggak usah ngelantur, gue udah nikah dan udah brojol," jawab Viola. "Gue duluan, mau nyusul suami di bawah," jawab Viola, ia terpaksa berbohong karena keadaan tidak memungkinkan di sini, apalagi aura yang dikeluarkan Jojo ini membuat Viola kepingin cepat cepat pergi dari sini.
"Tunggu dulu, aku minta wa dong," cegat Jojo, ia mengeluarkan ponselnya.
__ADS_1
"Gue enggak bawa hp, Jo. Dan enggak hapal juga nomornya," bohong Viola.
"Yah gitu ya? Sayang banget padahal aku mau masukin kamu ke grup reunian nanti," ucap Jojo.
"Kapan?"
"Dua minggu lagi,"
Viola mengangguk. "Aku enggak bisa dateng mau ke Kalimantan soalnya, ikut suami. Nitip salam aja buat teman-teman," lalu Viola berlalu meninggalkan Jojo di sana.
"Sayang ini bagus enggak?"
"Bagus, ambil aja," ucap Jojo pada perempuan yang menunjukkan sebuah lingerie merah itu. "Jangan lupa pakenya depan aku," bisiknya sensual.
Wanita itu tersenyum malu lalu berjalan ke arah kasir.
***
Oekk
Oekkkk
Oeekk
"Cup cup, sabar ya sayang. Keo laper ya, minum lewat dot aja ya Nak? Bunda belum dateng," Ardo memberikan dot kecil pada Keo yang sedari tadi menangis itu.
Sudah hampir dua jam bayi berusia dua bulan itu menangis entah apa sebabnya. Ardo hampir kewalahan mengurus dua anak seperti ini. Jika saja ada mama Lia pasti dia tidak akan kerepotan.
Bayi itu menolak pemberian susu dari ayahnya, badan bayi itu sudah mulai hangat mungkin efek menangis dan ditinggalkan ibunya.
"Bunda kalian mana sih? Udah hampir petang gini, enggak ingat keluarga apa!" dumel Ardo.
Rasanya ia ingin memecahkan ponsel Viola itu. Percuma bawa ponsel tapi suami nelpon enggak di angkat. Sudah berpuluh puluh chat yang ia kirimkan tapi satupun enggak ada yang centang biru, entah apa yang dibuat Viola hingga petang begini.
Ardo frustasi dengan suara tangisan anaknya, ia harus apa lagi supaya bayi ini tidak menangis?
"Sayangnya Ayah, udah dong enggak usah nangis ya? Minum susu ini dulu, kalau enggak di minum nanti di ambil abang Varo lho,"
"Varo punya dot sendiri, punya Keong kecil Varo enggak mau," jawab Varo yang memainkan tab nya sambil ngedot itu. Untung saja Varo enggak rewel jadinya kepala Ardo enggak begitu pecah.
Oekkkk
"Ya Allah, tolonglah hamba," ucap Ardo frustasi. Ia mengetikkan sebuah pesan kepada Viola sebelum ponsel itu hancur sengaja ia banting.
Trsrah kmu mau pulang atau g, saya g pdli lagi.
***
Mohon maaf kalau feelnya enggak bagus atau gimana, soalnya saya juga lagi enggak enak badan😷
Ini guys sinopsis dari ceritanya Dion, kira-kira kalian minat enggak? Saya bakal taro di wetpet nihhh ehehe
Dionino Ardeo Vazquez
Dion memang seorang playboy, siapa saja pernah menjadi pacarnya. Dari model papan atas sampai artis berkelas pernah berpacaran bahkan bercinta dengan Dion. Ketampanan dan kekayaan dari seorang Vazquez tidak bisa diragukan lagi, bahkan mereka yang sedang naik daun rela memberikan tubuhnya agar namanya tetap melejit. Dari semua wanita yang bersamanya tidak ada satupun yang bisa bertahan lama, karena prinsip Dion adalah dicintai dan meninggalkan. Ketika wanita sudah klepek-klepek padanya maka saat itu juga ia akan meninggalkannya.
Alana Putri Julliete
Menjanda diusia muda bukan keinginan Alana. Siapa yang ingin menjanda di usia delapan belas tahun? Tidak ada. Ana yang hanya memiliki ijazah SMA tidak mampu untuk mencari pekerjaan tetap, selama empat tahun hidup menjanda ia hanya bisa bekerja sebagai seorang pelayan. Hingga akhirnya ia diterima sebagai baby sitter di Baby’s Day dengan gaji yang lumayan. Namun kejadian tidak terduga menghampirinya, tempat penitipan anak dimana ia bekerja merupakan perusahaan milik sepupu dari mantan pacarnya yang sampai saat ini namanya masih terselip di hati kecil Ana.
***
“Ngapain kamu kerja disini? Suami kamu pengangguran dan enggak nafkahin kamu?” tanya seorang lelaki yang menjulang tinggi di hadapan Ana. Raut wajahnya datar dan tidak bersahabat.
Ana terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan laki-laki dihadapannya ini.
Lelaki itu berdecih. “Itu balasan buat kamu yang rela ninggalin serbuk berlian demi remahan rengginang, makan tuh karma!” lalu laki-laki itu berlalu meninggalkan Ana yang masih terdiam.
Ternyata, ternyata laki-laki itu masih sama. Masih sama dengan mulut pedasnya seperti empat tahun yang lalu.
***
Gimana? Lanjut atau udahan?
__ADS_1