Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez

Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
07 (Season 02)


__ADS_3

WARNING!!!


DIHARAPKAN PEMBACA UNTUK KLIK TOMBOL JEMPOL TERLEBIH DAHULU, AGAR AUTHOR BISA UPDATE LEBIH CEPAT!!!


Happy Reading :)


***


"Kak, please. Gue ngantuk," ucap Dion ketika saudari iparnya itu menelpon tengah malam begini untuk di bikinin bubur yang paling Dion benci itu. Dikira Dion ini chef Arnold apa?


"Besok gue mau balik ke Amerika, kuliah gue udah terombang ambing," alibinya. Bagus Dion, lo itu **** atau gimana si? Semua orang udah kalo lo udah wisuda, terus kuliah apalagi? Mau jadi magister? Otak lo encer banget, ejek batin Dion.


"Hiks," hanya terdengar isakan di seberang sana. Dion memutar matanya jengkel, ia tau kalau Viola nangis boongan. Karena dengan sangat jelas suara setan Ardo itu membisikkan Viola seperti ini, "Pura-pura nangis, Yang, biar dia luluh," helah dasar Ardosa! Bikin Dion buat dosa mulu karena pengen ngumpatin sepupunya itu.


"Kamu mau kualat bohongin orang yang lebih tua?" lanjut orang di telepon itu.


"Besok aja ya, Kak?" nego Dion setidaknya dia bisa tidur sepuasnya malam ini, besok adalah besok nanti ia fikirkan penolakan lainnya lagi.


"Se.ka.rang!" kata Viola tegas.


Dion menahan kekesalannya. "Kak, beneran gue ngantuk, hoaaammm, nah tuh gue nguap artinya gue ngantuk," jelas pemuda itu.


"Dion, cuma mau bilang kalau doa orang yang lagi ngidam itu manjur lho. Kamu mau aku doain enggak dapet jodoh? Kamu mau ke sini enggak, sebelum aku dan mas kamu aminin nih?" ancam bumil itu.


Dion semakin kesal, udah minta tolong maksa pula!


"Kak--"


"Ya Allah, semoga--"


"Enggak usah lanjutin!"


"Semoga Dion enggak dapet--"


"Oke! Gue ke sana!" dengan terpaksa Dion mengiyakan permintaan sepupunya itu. Ini tuh masalah masa depan, meskipun ketampanan Dion enggak diragukan tetapi kalau udah di doain yang enggak-enggak ya pasti jiwa kelelakian Dion merasa terancam lah.


Sedangkan di sana senyum Viola mengembang mendengar ketersediaan Dion dalam memenuhi keinginan Bocil. "Makasih Uncle tampan," ucap Viola dengan pelafalan anak kecil. "Oh iya, sekalian nitip beli sate sama nasi goreng, sate nya enggak pake lontong, sepuluh tusuk, terus minta banyakin bumbu kacangnya. Kalau nasi goreng enggak usah pedas soalnya pesanan mas kamu, katanya dia juga minta banyakin suwiran ayamnya. Inget Dion, di.bung.kus! Makasih, kata Bocil dia sayang kamu," lalu telepon itu terputus.


Dion mengatur pernapasannya yang mulai tidak beraturan itu. "DASAR SUAMI ISTRI SINTING!!!" teriak Dion dengan menendang udara.


***


"ASSALAMUALAIKUM! WOI BUKAIN PINTU!"


Ting tung ting tung ting tung


"WOI! ORANG DALEM BUDEK YA? GUE PULANG NIH KALO NGGAK DIBUKAIN--"


"Berisik! Tata krama kamu di mana? Berkeliaran tengah malem gini, ditambah lagi suara kamu kayak kaleng bekas itu, bikin sakit telinga saya!" kata Ardo, ia membukakan akses masuk bagi sepupunya itu.


Dion mendelik. "Gue lagi enggak bawa kaca tapi kayaknya kaca di rumah ini ada kan? Ngaca dulu Mas, siapa yang enggak punya tata krama? Mas atau gue? Maksa orang malem malem gini, enggak sopan!" pemuda itu langsung menyelonong masuk dengan membawa kantong keresek berisi pesanan pasutri sinting itu.


Ardo menatap Dion datar. "Kamu ngatain saya enggak sopan? Nyadar dong, kamu nyelonong masuk gini ngeduluin tuan rumah, sopan? Iya?"


Dion mengerang kesal. "Gue tuh emang enggak pernah menang lawan genderuwo ini!"


"Kamu ngatain suami aku genderuwo?!"

__ADS_1


Lagi-lagi Dion mengerang ketika mendengar suara sang istri membela sang suami. Jika ia berkunjung di rumah ini bisa di pastikan Dion harus membawa stok kesabaran yang banyak. Tapi meskipun begitu Dion suka berkunjung ke sini.


"Itu pesenan aku ya? Sini." Viola mengambil keresek yang di bawa Dion.


"Totalnya 200k," kata Dion.


"Mahal banget, nggak boleh korupsi kamu!" kata Ardo.


"Korupsi dari Hongkong? Sisanya itu ongkos kirim,"


Viola mengambil uang tunai dalam dompetnya. "Nih ambil!" ketusnya. Ia lalu menggiring suami beserta sepupu iparnya itu ke dapur.


"Cepet masakin bubur pedasnya, Bocil udah nggak sabar," perintah Viola pada Dion sambil menata sate dan nasi goreng itu.


Lagi lagi Dion hanya mampu berdecak, pasutri itu enak-enakan duduk memakan pesanan tadi, sedangkan dia sudah seperti ART saja.


"Kan aku enggak bisa bikin bubur itu, Kak," kata Dion memelas, ia sungguhan tidak tau membuat bubur itu.


"Searching dong, gunain hape apel dengan kompor punya kamu itu,"


"Di internet biasanya ngawur Kak," kata Dion. "Gimana kalau Kakak nemenin aku, Kakak kan pasti tau resepnya,"


"No no no, Viola lagi hamil. Enggak boleh ikutan masak," larang Ardo.


"Nah bener, lagipula aku enggak tau resepnya," tambah Viola.


Dion memutar bola matanya, lama-lama bola matanya ini bisa mengelinding keluar dari kelopaknya. "Yaudah, Mas aja yang nemenin aku,"


"Ide bagus tuh, Mas temenin Dion bikinin gih," suruh Viola.


"Kan lagi makan, Yang."


"Yaudah iya,"


Dion tersenyum senang, setidaknya dia bisa memerintah Ardo nanti.


"Selama nunggu Mas kamu makan, cepetan bikinnya. Bocil udah enggak sabar lagi,"


Lagi-lagi Dion memutar bola matanya. "Bocil terus jadi alesan buat nyuruh gue! Heran deh, sebenernya gue pernah buat salah apa sih? Dari hamilin Varo sampe Bocil kalo ngidam imbasnya ke gue mulu! Atau jangan-jangan pas bikin mereka, Mas Ardo sama Kak Viola inget sama gue terus?"


"Sembarangan!" semprot Ardo. "Ambilin air di kulkas sana!" perintah Ardo pada Dion.


"Enggak anak, enggak emak, enggak bapak sama aja, nyusahin!" gerutu Dion ia meluapkan kekesalan nya ini. Tapi tak ayal ia mengambilkan air putih itu.


"Makannya udah kan, Mas? Cepet bantuin Dion,"


"Ngantuk, Yang. Biarin Dion aja ya," pinta Ardo manja.


Dion hanya bisa menyinyir pasutri sinting itu.


"Permintaan Bocil lho, Mas mau anaknya ileran?"


Ardo menggeleng cepat, masa iya anaknya yang lucu itu ileran. Enggak boleh dong.


Lalu kemudian Ardo memasang apron yang berada dalam lemari.


"Mana resepnya? Saya mau liat,"

__ADS_1


"Nih," Dion memperlihatkan sebuah video tutorial memasak bubur pedas itu. Jadilah mereka hanya mengikuti apa kata koki dalam video itu.


Viola berdecak kagum melihat dua laki-laki gagah di depannya ini mengenakan apron merah muda yang terpasang rapi di tubuh mereka. Terlihat sangat lucu dan imut, andai saja ada abang-abang tukang jualan bubur pedas seperti mereka berdua ini, Viola berani bertaruh pasti banyak pelanggannya nanti.


Tiba-tiba jiwa ekonomi Viola mencuat. Ide yang briliant, batin Viola.


"Kalian lucu deh pake apron merah muda gitu," kata Viola.


Ardo dan Dion berpandangan, membaca fikiran masing-masing.


"Ada enggak ya yang jualan bubur pedas kayak kalian?" gumam Viola, tapi masih terdengar oleh Ardo dan Dion.


Ardo sudah berdoa semoga saja Viola tidak macam-macam lagi kali ini.


"Jangan ngawur, pasti enggak ada," kata Ardo


"Enggak ada ya? Kayaknya Bocil punya ide bagus deh," gumam Viola lagi.


Ya Allah kabulkanlah doa hamba, supaya istri hamba tidak meminta hal yang aneh-aneh.


"Kata Bocil, gimana Mas jualan bubur pedas di tepi jalan?"


Klotang!


Seketika Ardo menjatuhkan sendok yang ia pegang.


"Jualan?" beo Ardo.


Viola mengangguk. "Iya, jualan. Pasti laris manis deh! Aku berani bertaruh!"


"Buat apa, Yang? Kan aku udah punya pekerjaan tetap, masa harus jualan bubur pedas sih?"


Viola mengendikkan bahunya acuh. "Kan Bocil yang pengen, kalau enggak diturutin ntar ileran, Mas mau anaknya ileran? Nggak kan?"


Ardo menghembuskan nafasnya, belum selesai masalah bubur pedas tumbuh lagi masalah lainnya.


Dion tersenyum mengejek ketika melihat wajah nelangsa sepupunya itu.


Emang enak! Ejek Dion.


Ardo membalas dengan tatapan tajamnya pada orang yang sedang tersenyum mengejeknya ini.


"Kata Bocil lagi, Uncle Dion juga ikut jualan, supaya pelanggannya jadi makin rame,"


Dan seketika itu pula Ardo membalikkan senyuman mengejek tadi kepada Dion.


Rasain!


***


Haii ketemu lagii, jempol belum 800 aja saya udah update. Kurang baik apalagi coba? 😏


Gimana part ini?


Gregetan nggak sama ngidamnya Viola? Wajar nggak sih kalo ngidamnya kaya gitu? Hehe tuliskan jawabannya di kolom komentar yaa :)


See u😘

__ADS_1


Note: Viola baru hamil tiga bulanan naik empat. Di chapter 01 ada perbaikan dikit :)


__ADS_2