
SEBELUM MEMBACA PASTIKAN ANDA SUDAH MENEKAN TOMBOL 👍
Happy Reading :)
Semoga suka🤗
***
"Mas Ardo, bangun,"
Viola mengguncang pelan tubuh Ardo. Laki-laki itu belum pakai bangun, padahal katanya ia ada rapat jam sembilan nanti dan sekarang sudah jam tujuh.
"Engh," Ardo hanya mengkelih sehabis itu dia mendengkur lagi.
Viola berdecak, emang susah kalo bangunin kebo yang udah masuk kubangan lumpur. "Mas, aku enggak akan ikut kamu ke kantor, lho!" ancam Viola. Karena tadi malem setelah mereka mantap-mantap, Ardo memaksa Viola untuk ikut ngantor hari ini. Karena katanya ia sering rindu karena Viola. Bucin emang, tapi kalian kan udah tau sekarang Ardo adalah orang paling bucin sedunia.
Ardo langsung bangun dengan muka bantalnya. "Enggak usah diancem kali, Yang. Nih aku bangun." Namun lelaki itu kembali merebahkan dirinya.
"Ish, Mas Ardo! Bangun dari mana? Orang kamu tiduran lagi, bangun enggak?!"
"Maksud aku, ini aku bangun kalo liat kamu." Ardo menunjuk area bawah perutnya yang tertutup selimut.
Viola pun mengikuti arah tunjuk Ardo lalu terlihat benda menggunung di bawah perut Ardo itu. Seketika itu pula Viola mumukul bahu Ardo.
"Mesum!"
Viola langsung meninggalkan kamar itu. Tapi sebelumnya ia membuat ancaman terlebih dahulu.
"Kalau kamu enggak bangun aku beneran nggak ikut kamu lho, Mas. Dan aku juga ada rencana mau check up lagi, dan ngomong-ngomong aku cuma mau ngasi tau kalau Reynald itu dokter kandungan."
Viola langsung meninggalkan tempat itu.
Mata Ardo seketika melebar mendengar check up, Reynald, dan dokter kandungan.
Sialan!
Nggak bisa!
"VIOLA! AWAS KAMU AKU BIKIN ENGGAK BISA GERAK!"
***
"Varo, Varo denger enggak suara genderuwo sama sundel bolong tadi malem?"
Samar-samar Viola mendengar suara abangnya itu berbicara. Kayaknya bukan samar sih tapi emang disengaja.
"Suala pa, Uncle?" beo Varo karena bocah itu masih belum bisa mencerna ucapan unclenya.
"Genderuwo dan sundel bolong, itu lho suara hantu," jawab Marvel. "Yang suaranya gini 'uhh ahh mass', denger enggak,"
Seketika Viola membulatkan matanya. Sialan! Ternyata Marvel sedang menyindirnya.
Varo mengangguk. "Alo engel," bocah itu bergidik, "Alo akut, Uncle," katanya lalu ia beralih ke bundanya. "Unda, engel ndak?"
Viola melototkan mata pada Marvel, dasar abang kingkong!
"Bunda enggak denger, sayang," jawab Viola. Ia masih melototkan matanya pada sang abang.
Marvel menghiraukan Viola. "Varo mau tau cara ngilangin suara hantu itu?"
"Au, Uncle."
"Baca doa yang Varo hapal, doa apa aja yang Varo hapal?"
"Doa akan ama tidul,"
"Itu sih enggak mempan, Varo. Nanti Om ajarin kamu ayat kursi deh. Biasanya kalau hantu itu takut sama ayat kursi,"
"Kulsi? Empalin pake kulsi, Uncle?"
Seketika itu Marvel terbahak. "Ide bagus! Lemparin pake kursi juga mereka takut,"
Marvel lagi-lagi tertawa membayangkannya, bayangkan saja ayah bundanya lagi enak-enakan mantap-mantap tiba-tiba Varo datang dan melempar mereka pake kursi. Yah pembayangan Marvel cukup membuatnya keram perut.
Viola hanya bisa menahan kesal di depan Marvel. Kalau saja Varo tidak ada, bisa dipastikan mereka akan perang sendok dan garpu.
"Uncle kamu enggak usah didengerin, Uncle nipu Varo. Lebih baik Varo sarapan daripada dengerin Uncle." Viola menaruh bubur ke dalam mangkuk kecil Varo.
"Sembarangan! Gini-gini aku enggak pernah tuh nyemarin telinga anak kecil!"
"Ngapain ribut-ribut? Heran udah pisah aja masih suka berantem," kata Papi Galih yang baru saja bergabung. "Jagoan Kakek makan apa?" tanyanya pada Varo yang asyik memakan paha ayam goreng beserta buburnya. Jadi Varo makan bubur itu lebih suka ayamnya disantap langsung daripada disuir.
__ADS_1
"Ubul-ubul Upin, Kek."
Ubul-ubul Upin, ya bubur dengan paha ayam goreng. Entah sudah berapa kali Viola mengajarkan Varo untuk bilang bubur tetapi bocah itu dengan keras kepalanya bilang ubul-ubul. Kan kalau orang denger pasti nangkepnya ubur-ubur masa iya sih anak kecil kayak Varo ini makan ubur-ubur? Otomatis film spons kuning itu akan disalahkan lagi, padahal Varo aja yang ngeyel.
"Kakek minta, boleh?" tanya Papi Galih pada Varo namun bocah itu mengabaikannya, ia malah asyik dengan paha ayam kesukaannya.
"Varo, Kakek lagi ngomong tuh," tegur Viola.
"Pa, Kek? Alo agi akan," jawabnya.
"Kakek minta dikit boleh nggak?" ulang Papi Galih.
Varo menggerakkan jari telunjuknya beserta kepalanya. "No no no," lalu bocah itu menarik piring berisikan potongan ayam goreng itu. "Cemua ini ilik Alo ha ha ha ha," Varo tertawa layaknya monster kartun yang sering ia tonton.
Viola menggeleng, bibit pelitnya udah nampak dari Varo. Entah seperti apa Varo dewasa kelak.
Pria yang sudah menjadi kakek itu tertawa. "Varo anak siapa sih?" tanyanya gemas, dari seluruh anak laki-laki yang pernah ia temui hanya cucunya lah yang paling menggemaskan. Kalau Marvel kecil dulu juga menggemaskan tetapi lebih banyak mengesalkannya.
"Ayah Dodo dan Unda Olav!" seru Varo.
Mungkin banyak yang bertanya mengapa Varo menyebut Viola itu bunda Olav, karena sewaktu ia baru pandai berbicara Varo suka dengan karakter Olaf di film Frozen, dan kebetulan Varo juga tidak bisa menyebut nama Viola jadilah terpeleset menjadi Olav hingga sekarang.
"Pinter, Ayah kamu mana?" tanya Papi Galih karena sedari tadi ia belum melihat keberadaan ayah dari cucunya ini.
"Asih tidul, ta Uncle ayah apek ain ma Unda,"
Lagi-lagi Viola melotot mendengar ucapan anaknya itu. Ia menatap garang Marvel yang duduk di sebelah anaknya itu, bener-bener!
Lagi-lagi Papi Galih tertawa melihat tingkah polos Varo, Varo pun juga ikut tertawa.
"Ngetawain apa nih?" tanya Ardo yang sudah bergabung di meja makan, laki-laki itu sudah lengkap dengan pakaian kerjanya.
"Ndak au, Alo ikut tawa je," jawabnya.
"Varo udah mandi belum?"
"Udah,"
"Bagus, kita ke kantor Ayah ya?"
"Yaya ikut?"
"Ikut, nanti Bunda kabarin Uncle Anton biar dia bawa Yaya," jawab Viola.
"Yey! Ayo pelgi, Ayah!" seru Varo, ia sudah tidak sabar bermain dengan bocah bernama Yaya itu.
"Ayah mau sarapan dulu, bentar lagi kita berangkat ya?"
Varo menggeleng. "Ndak au! Alo nak pelgi cekalang!"
"Tunggu Ayah sarapan dulu, Yaya juga lagi sarapan," pujuk Viola. Anak itu sungguh sangat keras kepala.
"Alo nak salapan ma Yaya! Ayah, ayo!"
Ardo hanya menghembuskan nafasnya. Anak kebanggaannya ini sungguh menuruni dirinya yang tidak sabaran.
"Kita berangkat dulu, Pi. Pulangnya kita enggak mampir lagi," pamit Ardo.
"Iya, hati-hati dijalan."
"Varo salim Kakek dulu," suruh Viola. Varo menurut, anak itu berjalan menuju kursi Papi Galih.
"Alo pelgi ulu, cini Alo cium."
Papi Galih menurunkan kepalanya agar Varo bisa mencium pipinya.
"Dada," Varo melambaikan tangannya.
"Eh, Varo! Om enggak dicium nih?" tanya Marvel.
Varo menepuk pelan keningnya, lalu bocah itu menyengir. "Alo lupe la, Uncle." Lalu bocah itu menyakiti serta mencium pipi Marvel.
Varo menengadahkan tangannya. "Uncle, inta duit?"
Marvel berdecak, ia mengeluarkan uang dua ribuan. "Nih,"
Varo mencebik. "Alo tak cuka ini, jelek acam Uncle."
Marvel mendelik. "Enak aja! Uncle ganteng tau!"
Ardo terkikik. "Ganteng tapi masih jomblo ya Varo?"
__ADS_1
Marvel menatap tajam Ardo, nggak bisa ya bapak-bapak itu diem? Enggak ngeluarin suaranya gitu.
"Varo mau yang mana, pilih." Marvel menyodorkan beberapa lembar warna uang. Dari ungu, hijau, biru, sampai merah.
"Alo nak ini," Varo menunjuk uang berwarna ungu.
Marvel tersenyum ternyata Varo enggak matre seperti yang ia kira.
"Sama ini, ini, ini, dan ini. Alo nak cemuanya!"
Hilang sudah senyum Marvel tergantikan wajah nelangsanya, ternyata benar anak ini enggak matre tetapi mata duitan doang.
***
"Hallo ponakan Uncle Dion yang tampan," sapa Dion ketika Varo memasuki lobby kantor.
Dion bekerja dikantor Ardo sebagai karyawan biasa. Entah bagaimana pemikiran pemuda itu padahal paman Ardo, Justin atau ayahnya si Dion juga pengusaha sukses tetapi Dion malah ingin menjadi karyawan biasa di kantor Ardo.
Varo yang memakai kacamata hitam itu membuat para karyawan berdecak kagum melihat ketampanan dari seorang Alvaro. Mereka berani bertaruh bahwa dimasa depan anak itu akan menjadi pujaan bagi wanita.
"Uncle, endong."
Dengan senang hati Dion langsung mengendong ponakannya.
"Kamu jaga dia, saya mau ke ruangan dulu," ucap Ardo. Ia lalu berlalu menggandeng Viola.
"Pagi Pak, Bu."
Para karyawan yang berlalu lalang menyapa Ardo dan Viola.
"Pagi," balas Viola.
Setelah sampai diruangannya, Ardo langsung mencium bibir Viola.
Viola yang terkejut itu tidak bisa mengelak, ia hanya pasrah.
Setelah beberapa menit ciuman itu terlepas. Nafas mereka berdua terengah-engah.
"Vitamin buat hari inu, Yang. Aku lupa tadi pagi," ucap Ardo menyengir.
"Ya enggak usah dikagetin kan bisa," kata Viola sambil mengatur nafasnya. "Lipstik aku berantakan lagi kan!" kesal Viola. Semenjak hamil yang kedua ini Viola sangat senang menggunakan make up, kata orang anak yang Viola kandung kemungkinan perempuan karena kesukaannya itu. Mereka memang tidak ingin mengetahui jenis kelamin si Bocil biarlah menjadi surprise mereka nanti.
Ardo mengecup bibir Viola lalu beralih pada perutnya. "Halo Cil, kapan lahirnya sih? Lama banget, Ayah pengen cepat-cepat ketemu kamu." Sapaan Ardo itu dibalas tendangan oleh Bocil hingga Viola meringis.
"Kenceng banget si nendang perut Bunda, ntar jebol lho," kata Ardo lagi.
"Ngawur, mana bisa jebol," kikik Viola.
"Mas, udah setengah sembilan lho. Kan rapat kamu jam sembilan?"
"Iya, aku rapat dulu. Kalau mau jalan-jalan pergi aja tapi hati-hati,"
***
"... sekian rapat hari ini, saya tidak mau ada kegagalan sedikitpun dalam proyek nanti," tutup Ardo. Perusahaan mereka memang berencana membuat sebuah perumahan di ibu kota baru, karena mereka yakin bahwa pembangunan tersebut akan mendapatkan keuntungan yang berlipat mengingat nantinya akan banyak mereka yang membutuhkan perumahan di sana.
Tiba-tiba terdengar suara dering telepon Ardo.
"Kenapa?"
"Mas-Mas Ardo, Kak Viola--dia dia mau melahirkan!"
Tiba-tiba jantung Ardo berdetak kencang, darahnya pun tiba-tiba berdesir, Ardo menjadi sabgar gugup, benarkan Viola ingin melahirkan? Bagaimana ini? Apa yang harus ia persiapkan?
"Ka-kalian dimana?"
"Rumah sakit, dekat dengan kantor Mas,"
"Tunggu saya ke sana!"
Tapi, bukankah usia kehamilan Viola baru berjalan tujuh bulan? Belum seharusnya ia melahirkan, tetapi mengapa Dion bilang--Astaga! Jangan-jangan Viola melahirkan bayi prematur lagi?!
"Raline, kamu urus sisanya!"
Ardo langsung bergegas menuju rumah sakit, fikirannya berkecamuk. Semoga aja Viola baik-baik saja, ya semoga.
***
Selamat sore :) Nggak tau nyampe nya kapan, tp saya update sore hehe
Nantikan kelanjutannya, see u next chapter babaii
__ADS_1