
"BRENGSEK!!!" umpat Marvel setelah mendengarkan cerita Viola. Amarahnya lebih meledak dari yang kemarin saat Viola dikhianati Reynal.
Marvel mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, lalu beranjak dari sana.
"Kemana, Bang?" tanya Viola. Jantungnya udah dag dig dug sedari tadi.
"Gue mau bikin pelajaran sedikit buat suami lo!" teriak Marvel.
Viola pun panik. "Anton please hentiin bang Marvel. Masih ada yang gue bicarain sama kalian, please," Viola memohon dengan air mata yang sudah tumpah.
Bergegas Anton pun mencegah Marvel. "Vel! Tunggu gue!"
"Lepas, Ton!! Si brengsek iu harus di beri pelajaran!"
"Iya gue tau! Gue bakal bantu lo bikin pelajaran buat dia! Tapi lo denger penjelasan Viola dulu dong! Ayo datengin Viola dulu," Anton pun menarik Marvel ke tempat Viola tadi.
"Please bang, dengerin aku ... aku ingin nyelesaikan masalahku sendiri, bang. Please jangan ikut campur dulu," mohon Viola.
Marvel mengusap wajahnya kasar. "Terserah lo!".
"Tapi ingat!! Kalo lo di apa-apain sama dia, gue bakal bikin suami lo masuk liang kubur saat itu juga!"
***
To: Icecream
Aku harap kamu bisa datang besok sore jam 3, di taman dkt apartemen kamu.
Viola menggigit ujung poselnya setelah mengirimkan sederet pesannya itu, ia berharap Ardo bisa datang dan masalah mereka selesai dan semuanya kembali seperti dulu.
***
"Aku, aku kasihan sama Viola. Aku bisa ngerasain apa yang dia rasakan sekarang," ucap Prilly yang berada di dekapan suaminya.
Anton mengangguk. "Sama, yang. Aku juga. Aku udah anggap Viola itu adik aku sendiri. Kamu tau kan Rosie sama Viola itu hampir mirip sifatnya. Jadi, aku ngerasa Rosie dan Viola adalah jiwa yang sama namun raga yang berbeda," ucap Anton yang kembali bersedih setelah membahas Rosie.
Awalnya ia tidak tega untuk memukul Viola waktu itu, namun dendamnya pada Ardo serta hasutan Grace bahwa Viola itu tidak sebaik penampilannya membuat Anton menghilangkan rasa tidak teganya itu. Grace memang wanita rubah yang licik!
Prilly memeluk tubuh Anton seraya mengusap usap punggung Anton guna menenangkan suaminya itu. "Makanya kita harus lindungi dia bagaimanapun caranya," kata Prilly.
Anton menatap Prilly dengan penuh cinta. "Tentu sayang, aku janji, aku akan menghajar siapapun yang berani menyentuh keluarga kita, apalagi kamu dan anak-anak kita nanti."
"Anak-anak?"
"Aku pengen punya anak banyak! Kalau bisa aku mau bikin tim sepak bola. Kan seru yang, nanti aku yang jadi pelatihnya 'kan aku jago maen bola," ujar Anton bangga.
Ya memang, Anton memang pandai bermain bola. Dulu, semasa Anton SMA, ia merupakan Timnas U 16 dan U 19. Namun setelah kejadian dimana Rosie meninggalkan dunia ia pun mengundurkan diri, tentu itu menjadi hal yang sangat mengecewakan banyak orang terutama pelatihnya. Mengingat Anton pernah menjadi Top Scorer di berbagai ajang. Anton punya alasan untuk mengundurkan diri. Alasannya adalah ia ingin fokus menjalankan usaha agar bisa balas dendam dengan Ardo. Tapi itu semua hanya masa lalu dan sekarang tidak ada lagi yang namanya dendam, karena dulu hanya kesalah pahaman saja.
"Pokoknya harus banyak ya, sayang," lanjut Anton.
"Emang kamu fikir hamil itu mudah? Yang ini aja belom keluar!" ketusnya. "Yaudah gini aja kalo pengen anak banyak, aku yang hamilin kamu, mau?!" lanjutnya lagi.
__ADS_1
Anton tertawa lalu mengecup singkat bibir istrinya. "Emang bisa?"
Prilly memandang tajam suaminya yang masih terbahak itu. Ingin sekali ia mencakar wajah menjengkelkan suaminya itu. Huh untung sayang!
"Tidur di luar!"
Shit!
***
"Saya sudah menemukan dalang dari semua kekacauan ini, dia sudah berada di ruangan," kata seorang ajudan kepada bosnya.
Bosnya menyeringai. "Kerja bagus, bonusmu sudah saya transfer,"
Dalam hati ajudannya itu seperti ada kembang api yang meledak. Oh tuhan, bonus adalah hal yang paling ia tunggu-tunggu.
***
"Lepasin gue, BRENGSEK!!"
"Diamlah, Nona. Berdoalah dan meminta ampunan agar Anda sekarat dalam keadaan suci,"
"Sialan! Apa mau lo, brengsek?!"
Pria itu tersenyum. "Mau saya, seperti mau bos saya."
Orang yang dipanggilnya 'Nona' itu semakin berusaha membuka ikatan tali ditubuhnya kala pria itu mendekatinya. "Siapa bos lo? Kalian gak tau siapa gue?!"
"Siapa yang enggak tau dengan Anda, Nona? Anda adalah anak pengusaha sukses--"
"Usaha yang percuma, Nona. Besarnya kekayaan Anda tidak akan bisa menandingi bos saya--"
"Cuih ... bacot lo! Cepat katakan! Siapa bos sialan lo itu!"
"Setelah Anda tau apa yang akan Anda lakukan?"
"Gue bakal bikin kalian semua membusuk di penjara! Dan itu cocok buat kalian!!"
Lagi-lagi pria itu menyeringai. "Bagaimana dengan Anda, Nona? Tempat apa yang cocok buat, Anda? Saya rasa neraka pun enggan jika Anda mampir ke sana, apalagi surga?"
"Apa maksud lo?"
"Nyonya Viola,"
"Ck! Wanita j*lang itu?--"
"Beraninya Anda berbicara seperti itu!"
"Gue? Takut? Ha ha, wanita itu memang ****** murahan--"
Brak!!
__ADS_1
"Kamu memang butuh malaikat pencabut nyawa," ucap seseorang setelah membanting pintu itu. Aura dingin langsung mendominasi tempat yang sempat terjadi cekcok antara ajudan dan seorang wanita tahanan di sana.
"A-ardo?"
"Ya, kita bertemu lagi Bernardo,"
"L-lo mau apa?"
"Setelah apa yang kamu lakukan pada istri saya, kamu pikir saya akan tinggal diam? Tidak hanya menghancurkan keluarga saya, Anda juga menghancurkan bisnis yang susah payah saya bangun, kamu pikir saya akan diam saja? Oh Anda salah, nyonya Grace Bernardo yang terhormat!"
Orang itu, orang itu adalah Adelardo Cetta Vazquez. Selama ini dia disibukkan dengan perusahaannya yang hampir bangkrut oleh oknum tak bertanggung jawab, ditambah lagi pencariannya pada rubah licik yang ternyata dalang dari semua kekacauan yang ada di hidup keluarga seorang Ardo. Jadi, bagusnya diapakan saja wanita medusa ini?
"Anda harus merasakan apa yang Viola rasakan saat itu!"
"Brengsek lo Ardo! Gue nggak salah! ****** itu--"
Brak!
Ardo menggempar meja hingga meja itu retak. "Berani sekali mulut kotormu menghina istri saya seperti itu!" geram Ardo, sungguh ia ingin melenyapkan wanita ini sekarang juga!
"Raline!" panggil Ardo pada wanita dibelakangnya.
"Iya, pak."
"Buat wanita Medusa ini seperti dia menganiaya istri saya!"
"Baik,"
Wanita bernama Raline yang tak lain adalah sekretaris Ardo yang selama ini selalu membantunya dalam menormalkan kembali bisnis Ado itu pun langsung melaksanakan tugasnya. Bahkan ia membuat Grace lebih parah dari bagaimana Grace menghajar Viola.
Ardo memang tak ingin mengotori tangannya dengan sampah seperti keluarga Bernardo itu, makanya ia hanya menyuruh Raline dan Reon. Mereka berdua sudah seperti tangan besi bagi Ardo.
"Lakukan tugasmu, Reon!"
"Sudah, pak. Mereka sedang dalam perjalanan."
Ardo menyeringai, itulah hukumannya jika mereka berani bermain-main dengan Ardo.
"Sekedar mengingatkan, pak. Anda memiliki janji dengan Nyonya,"
Seketika seringaian Ardo luntur dan digantikan dengan raut wajah yang tak dapat diartikan.
***
.
.
.
(Hallooooo, ketemu lagi sma saya hehe :) saya tuh minggu-minggu ini plus minggu depan sibuuuuukkkk banget, jadi mon maap nggak bisa update. Jadi tuh, saya udah buat jadwal cek aja di deskripsi okayyy dann saya akan usahain update sesuai jadwal, tapi kalaupun nggak update saya ngasi tau kok ehehe)
__ADS_1
(Emm begini, gimana part yng ini? Adakah yang ingin ngehujat Ardo lagi? Adakah yang bilang Raline itu mantannya Ardo? Yaudah komentar aja ya isi hati kalian, jempol nyaa jngn lupa.)
Selamat membaca dan selamat malam :')