
Sudah hampir satu jam Viola menunggu orang yang masih berstatus suaminya itu. Viola mendesah pelan lalu melihat anak-anak yang sedang bermain di depan tempat ia duduk.
Viola tersenyum lalu mengusap pelan perutnya yang masih rata.
Yang sehat ya nak, bunda menyayangimu, batin Viola. Ah rasanya ia tak sabar lagi melihat sang buah hati
"Viola ... " lirih seseorang membuat Viola menghentikan aktifitas mengusap perutnya.
"Maaf membuatmu menunggu. Saya—"
"Iya enggak papa kok. Lagipula aku sudah terbiasa nunggu," potong Viola cepat.
Ardo terdiam. Rasanya ucapan Viola itu merupakan singgungan untuknya.
"Viola—"
"Aku mau meluruskan masalah kita," ucap Viola memberi jeda.
"Aku ... " Viola menghirup nafas dalam, berat rasanya untuk mengatakan hal ini.
"Aku mau kita break dulu," ujar Viola mantap. Dia sudah memikirkan itu semua tadi malam. Para orang tua pun sudah ia kabari. Reaksi mereka? Tentu saja marah, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi saat Viola mengatakan bahwa semuanya demi kebaikan bayinya. Viola memang keras kepala, sekeras apapun keluarga melarang maka hasilnya Viola lah yang akan menang.
Tubuh Ardo menegang, entah kenapa mulutnya serasa kelu untuk berbicara. Yang bisa ia lakukan sekarang ini hanya terdiam dengan seribu penyesalan dalam dirinya.
"Viola ... sorry," kata Ardo dengan suara lirih.
Hanya terdengar suara hembusan angin dan suara anak-anak yang terdengar. Viola yang berada di sana seolah-olah tak mendengar apapun.
"Sorry Viola ... maafkan saya," masih dengan suara lirih Ardo mengucapkan itu. Bahkan ia sudah menggenggam tangan wanita di hadapan nya ini.
"Saya mencarimu. Saya khawatir padamu," lirih Ardo lagi sembari menatap Viola. Namun Viola mengalihkan tatapan nya.
Viola menitikkan air matanya lagi, di balik itu ia tersenyum kecut.
Mencariku? Berpelukan dan bermesraan dengan wanita lain disebut mencariku, Heh?
"Pulanglah ke rumah, Viola." Ardo kembali memohon dan berucap lirih.
__ADS_1
Lalu, kau menyakitiku lagi?
Viola terdiam cukup lama. Kemudian ia menggeleng. "Aku enggak bisa."
Ardo menatap Viola dengan raut yang tak terbaca. "Ke—kenapa enggak bisa? Ka—kamu gak cinta saya lagi? Apa alasanmu untuk meninggalkan saya, Viola?" tanya Ardo beruntun, tanpa sadar setetes air mata jatuh dari sudut mata Ardo, nampak sekali ia rapuh saat ini.
Seumur hidupnya, tidak pernah sekalipun Ardo menunjukkan sisi rapuhnya seperti saat ini. Apalagi sampai mengeluarkan air mata hanya demi wanita, itu bukan Ardo sekali. Namun berbeda dengan Viola, wanita itu adalah salah satunya wanita yang berhasil melihat air mata Ardo selain mama Lia.
"Aku melihat kamu memeluk wanita lain di tepi jalan," ucapan Viola membuat Ardo mematung, ia tak menyangkal memang benar jika ada wanita yang tiba-tiba memeluknya, tapi demi tuhan! Bukan Ardo yang memeluk wanita asing itu. Wanita asing itulah yang memeluk Ardo, dia sudah menepis pelukan itu tapi entah darimana Viola tau bahwa dia yang memeluk wanita itu.
Dengan diamnya Ardo membuat Viola semakin yakin pada keputusannya.
Viola menyeka air mata yang sedari tadi keluar tanpa bisa ia cegah. Ia menghirup nafasnya lalu menghembuskan secara perlahan dengan disertai desahan pelan di ujung nya. "Aku ingin rasa sakit itu berhenti, karena itu sangat menyakitkan,"
Ardo mengernyit bingung mendengar ucapan Viola. Ingin dia bertanya namun ia lebih memilih untuk diam.
"Tapi, aku bertanya pada diriku sendiri 'Why'?" jeda Viola. Lalu menatap Ardo dengan wajah penuh air mata. "Kenapa aku ingin rasa sakitnya berhenti? Kan aku yang membuat rasa sakit itu sendiri?" lanjutnya.
"..."
Viola menatap tangan Ardo yang masih menggenggam tangannya. "... maaf. Maafkan aku karna sudah mengganggu hidupmu, maafkan aku yang sudah membebani hidupmu, maafkan aku yang selalu cerewet, maafkan aku yang terlalu egois, maafkan aku karena telah lancang—" Viola mendongak kembali menatap mata Ardo dengan air mata yang masih mengalir.
"Viola ... sorry ... I'm sorry," ucap Ardo lirih. Ardo tidak tau lagi apa yang harus dia lakukan sekarang. Tau kan Ardo itu manusia lempeng yang tidak berperikepekaan? Maka dari itu dia tidak bisa berkata apa-apa lagi selain maaf.
Dia tau kata-katanya kemarin itu memang kasar, dia tau tak seharusnya ia membentak Viola yang tidak tau apa-apa mengenai masalah yang ia hadapi, tapi salahkan sifat Ardo yang kurang terbuka, salahkan mulutnya yang selalu mengeluarkan kata-kata kasar meskipun sangat sedikit kata-kata yang ia keluarkan, salahkan mulutnya yang selalu berbuat masalah kepada siapapun. Sebut saja Rosie, karena mulutnya yang pedaslah membuat gadis malang itu memilih jalan salah, dan sekarang Viola. Namun Ardo berharap Viola tidak akan meninggalkannya sekarang.
Viola menggeleng. "Enggak, kamu enggak bersalah. Akulah yang salah di sini,"
Viola tersenyum, namun Ardo tau itu adalah senyum kepedihan.
"... I'm sorry for everything. Aku berharap kamu bisa memilih hidupmu sendiri, bisa memilih apa yang kamu inginkan," Viola menghapus air matanya.
"Nampaknya aku harus pergi—"
"Kamu mau meninggalkan saya?" tanya Ardo memotong omongan Viola.
Viola terdiam, otak Viola menyuruh pergi namun hatinya berkata untuk tetap tinggal. Apa yang harus ia pilih? Tetap tinggal meski ia tau akan sakit, atau pergi dan melanjutkan hidupnya?
__ADS_1
Ardo mendesah pelan dengan diamnya Viola, lalu memandang langit untuk mengurangi air mata yang dengan kurang ajarnya tumpah itu. Ardo menatap Viola yang tertunduk, kemudian menarik dan menangkup wajah Viola di tangan besarnya.
Ardo memandang manik bening Viola. " Viola ... I love you,"
Ucapan Ardo membuat Viola mematung. Viola tidak merasa senang dengan pengakuan Ardo itu, memang kalimat itulah yang ditunggu-tunggunya tapi bukan disaat sekarang, bukan disaat Viola ingin pergi, bukan disaat Ardo ingin Viola tetap tinggal, ia ingin Ardo mengucapkan itu dengan sepenuh hatinya bukan disaat seperti ini.
Viola menggeleng, ia mengusap tangan Ardo yang masih menangkup wajahnya. "Kamu tak perlu melakukannya ... kamu tidak harus mengucapkan itu hanya karena aku mencintaimu atau hanya karna rasa tanggung jawab pada bayi yang ku kandung,"
Viola melepaskan tangan Ardo yang berada di wajahnya lalu menggenggamnya kembali. Ardo pun juga menggengam tangan Viola. Kemudian Viola memandang mata Ardo dan melanjutkan kata katanya, "love me because you love me. Itu yang aku mau--"
"—Please, jangan membuatku semakin sakit karena ucapanmu," lanjutnya lagi.
Lagi-lagi Ardo hanya bisa terdiam dengan ucapan Viola. Kenapa Ardo menjadi pengecut disaat begini?!
Merasa masalah sudah selesai, Viola pamit untuk pulang. Namun baru saja ia berdiri ia merasakan sebuah lengan kekar memeluk tubuhnya dari belakang. Viola memejamkan matanya untuk menghambat laju air yang mengalir dari matanya.
"Please ... please, don't leave me, Viola," suara Ardo bergetar. Viola juga dapat merasakan bahunya basah. Ardo menangis lagi, Viola tidak kuasa melihatnya.
Viola mengusap lengan kekar Ardo lalu melepaskan pelukan hangat yang ia rindukan itu. "Maaf. Ini sudah menjadi keputusanku," ucapnya.
"Kamu bertanya alasanku meninggalkanmu bukan? Alasannya adalah karna aku ingin memberimu waktu. Memberimu waktu untuk berfikir. Jika memang kita berjodoh, pasti kita akan bertemu lagi. Percayalah." Viola pun pergi setelah mengucapkan sederet kalimat itu.
"Dan masalah bayi yang ku kandung, kamu enggak usah khawatir. Aku bisa merawatnya sepenuh hatiku," ucap Viola tanpa menoleh dan langsung memasuki taksi yang sudah menunggunya.
Lagi lagi ardo mematung mendengar ucapan Viola.
"Argghhhh ..." erang Ardo saat kesadaran sudah mulai menghampirinya. Antara kesal, marah, kecewa dan menyesal menjadi satu saat melihat taksi yang membawa Viola sudah menghilang.
Ardo menendang kursi taman itu dengan sekuat tenaga yang ia punya. Dia sudah tak peduli dengan sakit di kakinya. Sakit itu tidak seberapa dibanding sakit hati yang dia mapun Viola rasakan. Ardo meremas kepalanya yang tiba-tiba berdenyut itu.
Bukan!
Bukan ini yang ia harapkan!
Kenapa ia tidak bisa menahan Viola?
Kenapa?!!
__ADS_1
***
(Kok komentar dan jempol nya makin dikit ya? 🤔 Gimana mau update bnyk kalo temen-temen engga antusias🙄 ayo dong jngn jngn pelit jempol😐)