
SEBELUM MEMBACA PASTIKAN ANDA SUDAH MENEKAN TOMBOL 👍
Happy Reading :)
Semoga suka🤗
***
Setelah sampai dirumah sakit, Ardo langsung menuju tempat dimana Viola akan melahirkan, Dion sudah mengirim lokasinya.
Ardo membuka pintu ruangan itu dengan tangan gemetar, jantungnya serasa memantul-mantul di dalam rusuknya ini. Ya Allah, beginikah rasanya ingin menyaksikan secara live seorang ibu yang akan melahirkan seorang bayi? Apalagi bayi itu adalah anaknya sendiri, darah dagingnya sendiri?
Jangan katakan Ardo lebay, karena memang ini adalah yang pertama baginya dalam menemani seseorang yang akan melahirkan. Ingatkan dulu kehamilan pertama Viola ia sedang koma.
Ardo membaca bismillah lalu ia membuka pintu itu dengan perlahan.
Di sana di atas brankar rumah sakit, seorang wanita sedang duduk dengan santainya. Ia memakan buah-buahan yang tersedia di sana.
Apa ini? Apakah Ardo sudah melewatkan moment itu? Moment dimana Viola akan melahirkan malaikat mereka?
Ardo berjalan tergesa menghampiri Viola. "Sayang, maafkan aku, maafkan aku yang datang terlambat, maafkan aku--aku enggak nemani kamu disaat-saat tersulit kamu," Ardo bersimpuh dengan mengecup punggung tangan istrinya.
"Mas?"
"Maafkan aku, Viola,"
"Mas, kamu kenapa? Aku enggak papa kok," jawab Viola.
"Maafin aku, sayang. Sekarang aku mau adzanin anak kita, aku enggak terlambat kan?"
"Adzanin apa? Apa yang terlambat sih?" tanya Viola heran. Ini sebenernya Ardo kenapa? Dari pertama dateng udah aneh aja sikapnya.
"Bayi kita, kamu udah lahiran kan?" tanya Ardo, lah bukannya bayi baru lahir itu memang harus di adzanin ya?
"Bayi apa? Enggak liat perut aku masih memblendung nih?"
Ardo menatap perut Viola. Lah iya, kok masih buncit ya? Bukannya kalau udah lahiran perutnya kempes lagi?
"Kok bisa gitu?"
"Ya bisa lah! Orang aku belum lahiran, kan usianya masih enam bulan, masa lupa sih?"
Ardo menggaruk keningnya. Dia udah gugup setengah mati dan ternyata zonk! Ehe ehe ehe. "Jadi kamu belum lahiran?" tanyanya lagi untuk memastikan.
Viola memutar bola matanya jengah, ia turun dari brankar itu dengan hati-hati. "Lihat, perut aku masih besar atau udah kempes?"
"Masih buncit,"
"Artinya?"
"Kamu belum lahiran,"
"Nah itu tau,"
"Tapi kata Dion,"
Viola terkikik geli, pasti Dion yang mengabari Ardo seperti ini. Emang tadi itu Dion yang paling heboh padahal yang terjadi sebenarnya adalah si Bocil cuma nendang doang dan itu terlalu keras hingga Viola meringis kesakitan. Dan Dion beransumsi bahwa Viola akan melahirkan dan dengan keras kepalanya Dion memaksa Viola untuk ke rumah sakit ini.
Ardo berdecak. "Dion! Heran deh sama anak itu! Kenapa sih suka banget bikin orang ketar-ketir gini!"
"Kayak enggak tau Dion aja," lagi-lagi Viola terkikik geli.
"Jadi kamu enggak lahiran nih?"
__ADS_1
"Udah berapa kali sih aku bilang? Enggak Mas sayangku, enggak. Bocil cuma nendang doang, Dion nya aja yang lebay," jawab Viola.
"Bocil nendangnya keras banget ya, Yang?"
Viola mengangguk. "Banget, makanya Dion langsung berasumsi kalau aku mau lahiran, padahal mah masih lama,"
Ardo mengelus sayang perut Viola. "Kamu ini cewek atau cowok sih Cil? Perkasa banget,"
"Nggak tau Ayah, tapi kata orang-orang sih cewek,"
"Kalau cewek pasti bakalan jadi Samsonwati deh, Yang. Perkasa banget," ucap Ardo ia sudah memikirkan bahwa anaknya nanti adalah wanita yang tomboy. Ah Ardo suka melihat gadis tomboy seperti istrinya ini ehe bar-bar apalagi kalau urusan ranjang hehe.
"Ngaco! Kalau bener perempuan ya harus lembut lah kayak aku," ucap Viola. Yah setidaknya anaknya yang perempuan kayak bundanya, kalem.
"Kamu? Lembut, yakin?" tanya Ardo dengan senyum mengejek, fikirannya melayang pada saat pertama kali mereka bertemu yaitu di kafe milik Viola. Saat itu kebetulan dia juga baru saja keluar pada kafe yang pemiliknya adalah orang yang sekarang sudah menjadi istrinya. Di pertemuan pertama Viola sangat bar-bar sekali, sampai-sampai Ardo illfeel padanya. Tetapi semua itu dulu, dulu jauh sebelum tidak ada cinta dari seorang Ardo. Sekarang mah biar Viola lagi nabung pun rasanya wanita itu sangat cantik ditambah lagi semenjak jadi emak-emak aura keibuannya semakin menguar.
"Eh, Varo mana, Yang?" tanya Ardo yang tidak menemukan keberadaan si maniak semangka itu.
"Sama Dion,"
"Lah Dionnya kemana?"
"Kabur, takut kamu ceramahin katanya, mulut kamu pedes katanya," kata Viola, wanita tertawa kecil mengingat kelakuan Dion.
"Awas aja kalau ketemu! Mau aku sunat lagi dianya!"
***
"Aku mau balik ke kantor lagi, kamu ikut ya!"
Ya itu bukan pertanyaan tetapi pernyataan yang harus Viola turuti. Saat ini mereka sudah berada di parkiran rumah sakit untuk pergi ke kantor Ardo lagi.
Sesampainya di kantor Viola langsung mencari keberadaan Varo.
"Tadi aku liat main di Baby's Day sama anak pak Anton, ditemenin pak Dion kok," jawab Emi. Baby's Day adalah tempat penitipan anak untuk para karyawan, di sana terdapat taman bermain yang juga dilengkapi dengan baby sitter hingga para karyawan tidak akan khawatir lagi dengan anak mereka.
"Oh makasih, Mbak. Aku nyusul bocah itu dulu,"
Emi tersenyum. "Hati-hati perutnya meletus gede gitu," kelakar Emi. Memang Emi adalah orang yang dekat dengan Viola di kantor ini dari sebelum orang tau bahwa Viola adalah istri dari bos mereka.
"Hahaha, aku udah ngadep tiga. Mbak kapan? Nunggu nih undangannya,"
"Jodoh aku belum nampak, La. Nanti deh kalau udah nemu aku kasi undangan buat kamu yang limited,"
Viola tertawa, ia mengacungkan jempolnya lalu berlaku dari sana.
Sesampainya di Baby's Day Viola mengedarkan pandangannya untuk mencari putranya itu.
"Dolll!"
"Astagfirullah! Copot jantung Bunda, Nak Nak." Viola menggelengkan kepalanya melihat pelaku pengagetannya ini.
Bocah itu hanya terkikik geli, setelah itu ia berlari dengan membawa sebuah boneka di tangannya.
"Allrllrrooo!" teriak seorang gadis dibelakang Varo. Gadis kecil dengan kepang dua berponi itu mengejar Varo dengan raut kesal.
"Hahahaha, kejal Alo!" Varo berlari masih dengan bonekanya. Bocah itu masih saja mengejek seorang gadis yang seusia dengannya.
Viola hanya menggeleng lalu mendatangi Dion yang asyik mentertawakan kedua bocah yang sedang berlari itu.
"Ayo Varo! Ponakan Uncle yang tampan, buat Yaya ngejar kamu!" soraknya.
Varo tertawa, ia masih berlari tak perduli Yaya yang sudah hampir menangis karena bonekanya dibawa Varo. Boneka barbie itu sudah tidak berbentuk lagi, kepala, kaki dan tangannya sudah terpisah.
__ADS_1
"Kamu kok dibiarin Varo ngejahilin Yaya sih, kasian tuh anaknya mau nangis," tegur Viola.
"Yaya aja yang cengeng, Kak," kekeh Dion.
Viola berdecak. "Yaya sini sama Tante Ola," Viola melambaikan tangannya ke bocah berponi itu. Tetapi bocah itu masih saja mengejar Varo untuk mengambil bonekanya yang sudah tidak berbentuk itu.
"Dion! Kamu mau tanggung jawab enggak?!" tanya seseorang yang entah darimana datangnya itu.
Seketika itu Dion menyengir. "Mas, ngapain ke sini?" jawab Dion ketika melihat ayah Varo ini sudah berdiri di depannya dengan mata setajam elang.
"Menurut kamu saya mau ngapain? Saya mau nyunat kamu, biar hilang sekalian!" ketus Ardo. "Kmu ngapain bilang Viola lahiran segala?! Kamu tau enggak saya tuh lagi rapat penting dan kamu tiba-tiba nelpon! Bikin saya jantungan! Kalau saya meninggal kamu yang bakal saya gentayangin terus!"
Dion meneguk ludahnya. "Ya aku kan panik, Mas. Aku kira mau lahiran,"
"Mau lahiran gimana, orang Viola itu masih tujuh bulan! Udah salah enggak mau ngaku kamu, pantas aja enggak dapat pacar. Orang kamu egois!"
Dion memejamkan matanya guna menenangkan fikirannya agar tidak terpengaruh omongan si sinting ini. Inilah alasan dia kabur dari rumah sakit, ya karena ini. Mulut Ardo enggak bisa direm.
"Apa hubungannya sih, Mas. Dasar tua bangka, enggak nyambung."
"Kamu ngatain saya tua?! Enggak liat saya masih muda dan hot gini? Sekali lagi kamu ngatain saya tua kamu bakal beneran engga punya pacar!"
Dion memutar bola matanya malas, mungkinkah dulu mama Lia waktu hamil si Ardo ini ngidamnya burung beo? Soalnya ngomong terus, pusing Dion jadinya.
"Yaudah aku salah, yang waras mah ngalah aja,"
Ardo hanya bisa berdecak menahan kata-katanya yang akan keluar, karena kalau ia masih menyerukan kekesalannya maka yang gila adalah dia.
Viola menggeleng lalu memperhatikan dua bocah yang tiada lelah dalam berlari-lari itu.
"Ante Ola, hiks Aro bunuh balbie Yaya, hiks." Tiba-tiba Yaya berlari ke arah Via, gadis kecil itu memeluk kaki Viola.
Viola menyamakan tingginya pada Yaya. "Kenapa, Yaya? Enggak usah lari-lari ya, nanti Yaya kecapean. Yaya sama Tante Viola aja,"
"Varo! Bunda Varo di ambil Yaya nih, lihat!" Dion mengadu domba Varo dan Yaya lagi.
Varo berlari lagi menuju Viola, ia langsung memeluk tubuh Viola. "Nda oleh! Unda unya Alo! Yaya pelgi!" usir Varo.
"Hiks, hiks, Mama!" teriak Yaya. Viola jadi serba salah dibuatnya.
"Dion! Pujuk enggak, gara-gara kamu tuh!"
"Masa aku sih? Yaya aja cengeng, Yaya cengeng!" olok Dion. "Apa Varo, Yaya apa?"
"Yaya engeng!"
Tangis Yaya semakin pecah, hingga membuat salah satu baby sitter mendatangi mereka.
"Yaya kenapa?" tanya baby sitter tersebut. Baby sitter muda yang sangat cantik, rasanya Viola mengenal gadis ini, tapi siapa?
"Dion, inikan--" ucapan Viola terhenti kala melihat tatapan dingin Dion pada gadis yang sedang membujuk Yaya itu. Dion yang sedari tadi mengolok Yaya itu menjadi diam.
"Ana?"
Gadis itu menoleh ketika namanya dipanggil seseorang, gadis yang baru saja bekerja dua hari itu langsung terdiam ditempatnya melihat tiga orang di hadapannya. Terlebih lagi satu orang yang memandangnya dingin ini, mantannya.
Ya, baby sitter itu adalah Ana, Ana sang mantan kekasih dari Dion.
***
Selamat malam, enggak begitu meng*cok perut. Tetapi saya berharap semoga kalian terhibur :)
See u gaess, nantikan chapter berikutnya :)
__ADS_1
Ada saran nggak buat kedepannya harus gimana?