
"Maaf Tuan, Nona Bernardo berhasil melarikan diri--"
PRANGG!!
"KENAPA KALIAN TIDAK BISA MENJAGA TIKUS ITU, HAH?!!"
"Tapi yang saya dengar, Nona Bernardo mengalami kecelakaan dan tewas di tempat, dan saya juga sudah mengecek kevalidan kabar tersebut dan ya kabar itu benar adanya."
Ardo mengatur nafasnya yang terengah-engah, kenapa masalah selalu datang padanya? Belum lagi masalah Viola yang sudah hampir empat bulan ini menghilang tanpa jejak. Sudah berpuluh orang IT yang menguasai konsep jaringan untuk melacak keberadaan Viola. Namun usahanya sama sekali tidak membuahkan hasil. Viola menghilang bak ditelan bumi. Pecuma saja menanyakan keberadaan Viola pada mertua dan orang tuanya. Pasti jawabannya sama, mereka tidak tau. Marvel? Ardo sudah bertanya padanya. Bukan jawaban yang ia dapatkan malah pukulan lah yang dia dapatkan dari abang iparnya itu.
Ardo juga menanyakan pada sahabat Viola, Prilly. Namun sama saja, semuanya sia-sia bahkan Ardo juga mendapat pukulan dari Anton yang berpihak dengan Viola.
Ia juga menyuruh Milen untuk mencari keberadaan Viola, namun Milen tidak bisa menyanggupinya karena alasan jadwal sesi fotonya yang padat di Amerika.
Tak menyerah, Ardo masih terus mencari keberadaan wanita yang sangat ia cintai itu. Ardo tidak bisa menyangkal bahwa dia mencintai wanita itu murni karena dia memang mencintainya bukan karena Viola mencintainya.
Memang benar kata orang, kita harus merasa kehilangan dahulu baru kita tersadar bahwa kita juga mencintainya.
Seperti Ardo sekarang ini, Ardo menyesal dan sangat menyesal karena dia baru tersadar bahwa dia membutuhkan Viola berada di sampingnya dan juga sangat mencintai wanita itu. Seandainya penyesalan datang di awal cerita maka kejadiannya tidak mungkin seperti ini.
"Apa sudah ada perkembangan tentang Viola?" tanya Ardo pada asistennya itu.
"Belum, Tuan--"
BRAKKKK
PRANGG!!
"Apa saja yang kau lakukan selama ini?!! Saya tidak menggaji buta kamu!!" sentak Ardo. Sungguh Ardo rasanya ingin menghabisi nyawa Reon, tapi jika Reon meninggal siapa lagi yang bisa menggantikan asisten yang handal sepertinya?
"Saya tidak mau tau! Kalian harus cari keberadaan istriku bagaimana pun caranya! Jika tidak lihat saja apa yang akan saya lakukan pada kalian!" Ardo langsung memutuskan sambungan teleponnya. Ia membanting telepon berlogo apel itu hingga tak bersisa.
Ardo menjambak rambutnya frustasi. Kemana lagi ia bisa menemukan keberadaan istrinya ini? Tidak adakah satu mukjizat saja datang padanya?
Tiba-tiba Ado merasakan mual yang tak tertahankan disertai rasa pusing yang sangat hebat menyerang kepalanya hingga suara teriakan Mama Lia menjadi penutup kegelapannya.
"Ardo!!"
"Ardo! Bangun, Nak. PAPA!!" teriak Mama Lia disertai tangis wanita paruh baya itu.
Papa Martin tergopoh memasuki kamar Ardo saat mendengar teriakan istrinya.
Ya memang, Ardo dipaksa ibunya tinggal di rumah mereka. Mama Lia tidak tega melihat kondisi putranya yang tidak bisa dikatakan baik itu.
"Ardo kenapa, Ma?" tanya papa Martin cemas. Ia merasa flashback pada masa-masa Ardo SMA.
"Ardo pa hikss ... bawa dia kerumah sakit. Mama ... Mama takut kalau ... kalau penyakitnya kambuh,"
__ADS_1
Tanpa basa-basi Papa Martin membopong tubuh Ardo yang terkulai lemah tak berdaya menuju rumah sakit.
Sesampainya di sana Ardo langsung di rawat dengan itensif. Mama Lia juga menghubungi besannya tentang keadaan putranya itu.
Tidak berapa lama papi Galih dan mami Tania datang dengan raut khawatir. Mereka juga kasian dengan keadaan Ardo sekarang. Badan Ardo yang memang sudah jangkung tambah mengurus, rambut yang sudah memanjang, wajah Ardo yang biasanya bersih tanpa bulu kini wajahnya di tumbuhi bulu-bulu yang tak pernah dicukurnya, mata Ardo pun sudah terlihat seperti panda. Sungguh kondisi Ardo lebih pantas disebut dengan monster daripada manusia.
"Bagaimana keadaan putra saya, Dok? Dia baik-baik sajakan? Apa boleh kami masuk?" tanya mama Lia beruntun saat melihat dokter yang menangani Ardo keluar dari ruangan.
Dokter itu menatap mama Lia sebentar. "Kalian boleh masuk, tapi tolong jangan membuat keributan di sana. Mari ikut saya untuk membicarakan keadaan pasien," ucap dokter itu lalu berjalan menjauhi orang orang paruh baya itu.
"Papa saja yang pergi, mama mau liat Ardo," ucap mama Lia dan diangguki oleh papa Martin.
"Martin. Aku ikut kamu," ucap papi Galih. Lagi-lagi papa Martin mengangguk. Rasanya mulutnya kelu untuk berbicara.
***
"Bagaimana kondisi anak saya, Dok?" tanya Martin saat Martin dan Galih duduk di kursi yang memang sudah tersedia di depan meja dokter.
Dokter itu menghela nafasnya sebentar. "Apa pasien makan dengan teratur?" tanya sang dokter.
Serempak, Martin dan Galih menggeleng. Jangankan makanan, air saja tak pernah lolos dari kerongkongan Ardo.
"Apakah pasien istirahat dengan teratur?"
Martin dan Galih menggelengkan kepala mereka.
Lagi-lagi dokter itu menghembuskan nafas seraya memijat pelipisnya. "Saya sudah sering mengingatkan, tolong jaga pola makan pasien dengan teratur, istirahat teratur. Jika tidak maka pasien akan berakhir disini dengan infus ditangannya lagi.
"Asam lambung pasien naik, akibat dari pola makan pasien yang tidak teratur, istirahat yang tidak cukup juga mengkonsumsi obat obatan. Sebagai efeknya, pasien akan merasakan perih yang menusuk di bagian perut bagian kanan, terkadang juga merasakan mual tak tertahankan juga sakit kepala yang berlebihan. Jika tidak cepat ditangani maka akan menjadi Maag Kronis. Terlebih lagi jika selama dua minggu bahkan lebih diabaikan bisa menyebabkan terjadinya pendarahan lambung juga kebocoran usus dan dua efek terburuk Maag Kronis inilah yang akan menyebabkan kematian," jelas dokter itu.
"Saya juga pernah melihat riwayat kesehatan pasien dari dokter Gita. Pasien pernah dirawat karena penyakit lambung, benar?" tanya sang dokter.
Galih yang tidak tau menau itu memandang Martin seolah berkata 'apa itu benar?'
"Iya dok, anak saya dirawat waktu dia SMA dulu. Penyebabnya hanya gara-gara makan cabai berlebihan. Dan hal itulah yang membuat lambungnya sedikit terluka," jawab Martin sedikit menceritakan waktu Ardo sakit dahulu.
"Ya, mengkonsumsi cabai secara berlebihan juga dapat menyebabkan Luka Lambung. Oleh sebab itu saya mohon, Anda harus memperhatikan lagi kondisi pasien. Mengenai obatnya, silahkan tebus di loket. Resepnya sudah saya buatkan."
"Baik. Terimakasih Dokter,"
***
Mama Lia dan mami Tania menatap sendu Ardo saat melihat kondisi nya yang mengenaskan di atas bankar. Infus yang sudah menjadi hal yang wajib melekat di tangan Ardo, kini beralih pada kakinya.
"Viola ... "
Bahkan dalam ketidaksadaran Ardo pun, ia masih memikirkan Viola. Hal itu membuat mama Lia dan mami Tania tak kuasa lagi menahan tangisnya.
__ADS_1
"Viola.. Please, don't leave me," lagi lagi Ardo mengigau dengan air yang mengalir dari matanya yang tertutup. "Come back, sayang."
"Nak ..." panggil mama Lia seraya mengusap sayang surai hitam yang berantakan milik Ardo. Air mata dua wanita paruh baya itu tak bisa berhenti mengalir.
Siapapun yang melihat keadaan Ardo pasti akan merasakan juga sakit yang dirasakan Ardo. Begitupun dengan mami Tania, ia berharap putri bungsunya—Viola cepat kembali dan menjenguk suaminya. Dia tidak tau apakah Viola yang kekanakan atau Ardo. Yang pastinya ia berharap anak dan menantunya cepat berbaikan.
Panggilan mama Lia tadi sama sekali tidak mendapat respon dari Ardo. Hingga suara dering telepon yang berada di saku celana Ardo membuat nya terbangun. Ajaib memang.
Dengan cepat dan tergesa gesa Ardo mengangkat telepon setelah melihat siapa penelpon itu.
"Cepat katakan apa yang kau dapatkan?!!"
"Saya melihat pak Marvel menelpon Nyonya—"
Tutt ... tut tut ...
Ardo langsung bergegas keluar tanpa memperdulikan tatapan kaget, bingung juga khawatir dari mama Lia dan mami Tania.
Perempuan paruh baya itu berteriak histeris setelah sadar bahwa Ardo sudah tidak ada lagi di kamar. Papa Matin dan papi Galih yang baru datang pun kaget saat melihat istri mereka yang menangis sesegukan. Papa Martin lebih kaget lagi saat melihat ranjang tempat Ardo terbaring tadi telah kosong.
"Ardo kemana?" tanya papa Martin pada istrinya. Sedangkan Galih masih berusaha menenangkan Tania.
"Ardo, Ardo pergi. Cepat susul dia!!" teriak Lia sesegukan.
"Ardo, Pi hiks ... menantu kita," mami Tania berucap dengan isakan yang lolos dari bibirnya.
Tanpa babibu lagi pria paruh baya itu berlari menyusul Ardo.
Mereka ke sana kemari mencari Ardo. Hingga ke parkiran, papi Galih yang melihat siluet Ardo yang tampak memasuki mobil itu langsung meneriaknya, "ARDO!" teriak nya, lalu mereka mencoba mengejar Ardo yang sudah mengendarai mobil yang entah darimana ia dapat itu.
"ARDO!! ARDO!!" teriakan papa Martin sama sekali tak membuat mobil yang dikendarai Ardo berhenti.
Papa Martin mengusap wajahnya kasar, dia sangat menghawatirkan keadaan Ardo. Ardo yang sama sekali belum sembuh itu membuatnya dilanda ketakutan setengah mati ditambah lagi Ardo yang menyetir mobil seperti kesetanan itu dimalam hari sendirian pula. Semoga saja Ardo tidak kenapa-napa
Ya, semoga saja.
***
(HALLOOOO SAYA BALUK LAGI SETELAH SATU MINGGU NGGAK UPDATE😅)
(Selain Author saya juga mahasiswi ****** dengan segudang tugas yang tak pernah habis😫 , dan satu minggu yang lalu saya disibukkan dengan ujian, jadi nggak sempat buat update. Sekali lagi maafkan saya😭😭😭)
(Kalau misalnya ada yang ninggalin cerita ini ya nggak papa, saya nggak marah terserah readers mau pergi atau tetap tinggal. Kalau ditanya niat atau nggak bikin ceritanya, ya kalau nggak niat nggak mungkin kan sampe part 50?)
(Buat para readers yang masih bertahan, saya mau ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya karena udah mau nunggu saya update :) dan saya usahakan double update hari ini, kalau nggak bisa pun besok saya update lagi.)
Yaudah segitu aja, selamat membaca :')
__ADS_1