
Dua bulan sudah umur pernikahan Ardo dan Viola. Sudah ada kemajuan di hubungan keduanya tapi tidak banyak, hanya seperti sifat Ardo yang sudah mulai menghangat. Benar kata orang Cinta mencairkan hati yang beku itulah yang dirasakan seorang Adelardo Cetta Vazquez, ia sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Viola begitupun dengan Viola ia sudah terbiasa dengan sifat dan sikap suaminya itu.
Saat ini mereka sedang menonton tv bersama dengan keheningan yang melanda mereka.
"Aku kerja aja, gimana?" tanya Viola memecahkan keheningan. Taulah si Ardo nggak pernah namanya memulai obrolan terlebih dahulu.
Ardo menoleh kearah Viola dengan pandangan datar dan kembali menyaksikan sebuah acara tv yang sama sekali tidak menarik baginya. "Kerja?"
Viola mengangguk kan kepalanya. "Ya, Aku bosan di rumah terus," ucapnya. "Lagipula sayang dong aku udah cape-cape kuliah tapi ngga kerja, terus ilmu yang aku dapet harus aku kemanain?" sambungnya.
"Cafe kamu?" tanya Ardo.
Viola menghembuskan nafasnya. "Kan udah ada Karin yang ngerjain," fyi, Karin adalah orang kepercayaan Viola untuk mengelola cafe-nya. "Aku cari kerja lain ya? Aku tu ngerasa enggak enak kalo minta sama kamu terus, emang sih biar nggak dipinta pun kamu akan ngasih dengan sendirinya, banyak lagi sampe bikin rumah sendiri aja bisa," jedanya. Lalu Viola duduk menyamping agar bisa melihat Ardo yang masih betah menatap tv tanpa minat. "Tapi, aku akan ngerasa sangat puas dan bangga kalo aku beli sesuatu itu dari keringet aku sendiri, kamu ngerti kan maksud aku? Boleh ya?" lanjutnya dengan masang wajah semelas mungkin agar Ardo luluh dengan ucapannya.
Ardo masih terdiam, tidak merespon ucapan istrinya itu. Ardo sebenarnya bingung, haruskah ia mengizinkan istrinya? Kan dia bekerja juga buat istrinya?
"Ardo! Kok diem sih, orang lagi ngomong juga," Viola mengerucutkan bibirnya.
"Aku pengen banget, ya ya ya." Viola mengguncang-guncang lengan Ardo, tapi Ardo masih terdiam dengan segala pemikirannya.
"Ardo," namun Ardo masih terdiam.
"Kulkas," masih sama.
"Es," Ardo masih terdiam.
"Mulut cabe,"
"Suamiku,"
Mau tak mau Ardo menoleh mendengar kata 'suamiku' yang bernada manja keluar dari mulut Viola. Yes! Dasar laki-laki. Viola terkikik geli.
"Yakin mau kerja?" Viola mengangguk antusias. "Tapi mau kerja dimana?" tanya Ardo.
"Aku lagi cari cari lowongan pekerjaan yang cocok denganku," ucap Viola sambil men-scroll handphone nya mencari lowongan pekerjaan.
Ardo mengangguk-angguk. "Jadi sekretaris saya aja, gimana?" tawar Ardo yang sudah menatap Viola.
Viola mendongakkan wajahnya dan menatap Ardo bingung. "Sekretaris kamu kemana?" tanya Viola. Karena Viola tahu bahwa Ardo memiliki sekretaris.
"Cuti melahirkan, saya tidak sempat cari sekretaris sementara. Saya fikir jadi sekretaris cocok untuk kamu. Tapi kalau kamu menolak—"
"Aku mau!" seru Viola yang memotong ucapan Ardo. "Kapan aku mulai kerja?" tanya Viola dengan semangat '45'. Dia sudah memikirkan gajinya akan dia belikan makanan sepuasnya hehe.
__ADS_1
Ardo mendengus melihat kelakuan Viola yang seperti anak kecil tapi anehnya Ardo suka. Eh?
"Besok—"
"Yeay!" Viola bersorak girang dan spontan memeluk Ardo.
Ardo yang sedang kesal dengan Viola yang selalu memotong ucapannya tiba-tiba mematung saat merasakan benda kenyal hangat menempel di pipinya. Ia langsung menoleh kearah Viola, ya Viola telah mencium pipi Ardo.
Viola hanya menyengir saat ditatap Ardo seperti itu. Baru saja Ardo membuka suara, namun Viola langsung berlari ke kamarnya.
Ardo memegang bekas ciuman itu dan memandang arah Viola pergi tadi, seulas senyum terbit di wajah tampan Ardo. Senyum yang menawan yang tulus dari hati bukan senyum paksaan.
Sedangkan dilain tempat Viola meruntuki kebodohannya karena telah mencium Ardo. Entah bagaimana reaksinya ketika ia besok bertemu dengan Ardo.
"Bodoh, bodoh!" Viola memukul pelan bibirnya yang asal sosor itu.
Kenapa di pipi sih? Coba di bibir, kan kalo malu malu sekalian. Pipi mah enggak berbekas hais bodoh banget.
***
Viola bangun lebih pagi hari ini mengingat ia akan bekerja sebagai sekretarisnya Ardo. Mengingat nama Ardo, Viola teringat kembali kejadian tadi malam dan lagi-lagi pipinya memanas. Dengan cepat ia bergegas untuk menyiapkan sarapan mereka berdua.
Tidak berapa lama ia berkutat dengan dapur masakan pun sudah tesedia diatas meja , ia hanya membuat nasi goreng sosis yang di atasnya ditambahkan telur mata sapi serta ayam goreng tak lupa pula ia menyiapkan susu dan air putih. Viola ini multitalenta apa yang enggak bisa dilakuin Viola? Beuh semua bisa dia mah.
"Ardo mana ya? Tumben belum bangun," gumamnya lalu bergegas untuk bersiap siap pergi ke kantor.
Viola langsung menuju meja makan dan duduk di depan Ardo. Sayangnya Ardo tidak menghiraukan kehadiran Viola. Viola mulai jengah karena tak di anggap disini. Kapan sih Viola pernah di anggap? Kan emang selalu begini.
"Ekhem,"
Viola berdehem namun sayangnya lagi Ardo masih khusyu' dengan makanannya.
"Ekhem!"
Viola berdehem lebih nyaring, lagi lagi tak ada respon dari Ardo.
"Ardo, nyaut dong!"
"Hm," hanya deheman yang keluar dari mulut Ardo tetapi tidak menoleh ke arah Viola. Sebenarnya Ardo masih malu dengan kejadian tadi malam, tapi bukan Ardo namanya kalo ia tidak bisa menetralkan ekspresinya itu. Harusnya yang malu itu Viola karna kan dia yang cium, tapi kenapa Ardo yang malu?
"Orang lagi ngomong itu tatap wajahnya," ucap Viola dingin.
Ardo berdecak, lalu menatap Viola. "Ap-a?" Ardo tertegun dengan Viola yang memakai kemeja kerja. Inner beauty nya seakan memancar keluar. Benarkah ini Viola? Istrinya?
__ADS_1
Sempurna, puji batin Ardo.
"Terpesona ya," goda Viola dengan menaik turunkan alisnya.
Ardo masih terdiam dengan pipi yang sedikit merona mungkin?
"Viola mah emang gitu, cantik luar dalam. Wajar aja terpesona." Viola mengibaskan rambutnya yang terurai bebas. "Tapi jangan diliatin terus entar naksir," goda Viola sambil terkikik.
Ardo mendengus. "In your dream," ucapnya dingin. "Saya berangkat."
"Lah aku? Sama siapa?" tunjuknya pada diri sendiri.
"Makanya cepat!" jawab Ardo.
Viola berdecak. "Ck! Dasar Kulkas! Tunggu aku sarapan dulu,"
***
Saat Ardo dan Viola memasuki gedung pencakar langit, banyak karyawan yang yang memperhatikan mereka. Banyak juga para karyawan laki laki memberikan tatapan memuja pada Viola yang membuat Ardo ingin mencolok mata para pria itu, sedangkan para karyawan wanita hanya memandang sinis ke arah Viola juga menggosipinya. Kan Viola udah bilang di mana mana-mana gosip a.k.a gibah itu adalah yang paling niqmad.
Viola hanya terseyum ramah kepada semua orang yang ada di sana dan makin membuat karyawan lelaki klepek klepek melihatnya. Ardo yang melihat itu semakin kesal dan semakin memancarkan aura Es dalam dirinya, dengan cepat ia berlalu diikuti Viola menuju lift khusus petinggi di sana.
"Ruangan kamu di sini," ucap Ardo ketus. Entah mengapa ia masih kesal dengan para pria tadi. Tidak mungkin kan dia harus memecat para pegawai pria jika Viola di sini?
Kenapa lagi? Kali ini salah gue apa? tanya batin Viola. Kadang dia juga bingung sama suaminya itu. Bisa nggak sih diucapin gitu apa yang ada dikepalanya? Viola bukan cenayang yang bisa tau segalanya.
"Jadi istri jangan ganjen, ingat udah punya suami!"
Brak!
Astagfirullah, Viola hanya bisa memurus dadanya. Siapa yang ganjen si?
Setelah Ardo berlalu Viola memusatkan pandangannya pada berkas berkas yang berserakan di dalam ruangan itu. Ia menghembuskan nafasnya kasar dan mulai menyusunnya serapi mungkin. Tak terasa hari semakin siang dan jam makan siang pun tiba.
Kruukkk
Cacing diperut Viola sudah berdemo agar cepat diberi asupan. Viola mengelus perutnya seakan-akan ada sebuah nyawa yang harus ia lindungi. "Sabar ya sayang-sayangnya Mommy," Viola terkikik dengan ucapannya itu. Ah rasanya ia ingin memperkosa Ardo supaya dia bisa hamil sekarang. Ah sial, fikiran macam apa itu.
"Kamu hamil?" ucap seseorang mengagetkan Viola. Mata gadis sontak melebar ketika melihat siapa yang sedang berdiri di sana.
"Hamil?" ucap seseorang lagi yang baru keluar dari ruangannya dengan suara dingin.
***
__ADS_1
(Ini part terpanjang ya gaes, saya harap kalian enggak mual-mual bacanya wkwk. Maapkeun part ini tidak bisa membuat kalian ngakak :( otak lagi nggak bisa berfikir jernih😭)
Ayoooo kasi vote! Vote! Vote!