Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez

Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
Empatpuluhsembilan


__ADS_3

Viola pulang dengan wajah yang tak terbaca. Antara sedih, senang, marah, bahagia, takut juga khawatir. Intinya perasaannya sekarang ini seperti nano nano, ia pun tidak bisa menjabarkannya.


Wanita itu masuk ke dalam apartemen dengan memegang hasil pemeriksaannya ke dokter tadi.


Ya, ia mengikuti ucapan wanita muda itu, Liza. Dan hasilnya itulah membuat air wajah Viola tak terbaca.


"Aku harus lebih sabar," desahnya.


Ia meletakkan barang belanjaannya. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 5 petang. Seharusnya makan malam sudah tersedia, namun saat ini Viola masih belum memasak makanan yang akan mereka santap nanti.


Bergegas, ia pun memasak makanan. Viola butuh banyak asupan makan untuk menghadapi masalah yang akan datang nanti. Ia tidak akan tau sebesar aa masalah tersebut, yang jelas ia harus menyiapkan kekuatan ekstra untuk membentengi semua yang ada dalam dirinya. Bukankah Viola wanita perkasa? Ya itu dulu, sekarang Viola adalah wanita yang lemah jika berhadapan dengan suaminya, Ardo


Singkat cerita, di meja makan pun sudah terhidang nasi, bebek goreng + sambal goreng, sup jagung, tumis brokoli campur kembang kol.


Darimana Viola dapat bebek? Setelah dari rumah sakit, Viola mampir dulu ke stand bebek potong. Karna Viola sangat ingin makan bebek goreng yang di lumuri dengan sambal. Setelah menyiapkan makanan tersebut, ia pun bergegas mandi sambil menunggu kepulangan sang pujaan hati.


***


Jarum pendek sudah menunjuk ke angka 9 dengan jarum panjang ke angka 4. Namun, belum juga ada tanda tanda Ardo pulang. Sudah sedari tadi Viola menunggu untuk makan malam, namun Ardo belum juga muncul. Untung saja ia tidak tertidur di meja makan.


Dengan berat hari Viola makan tanpa Ardo. Padahal di dalam hati kecil wanita itu, ia ingin sekali makan bersama Ardo, menikmati masa-masa berdua. Namun apalah daya, harapan tinggal harapan


Viola membersihkan sisa makannya, ia memasukkan lauk pauk tersebut di dalam kulkas, siapa tau Ardo datang dan kelaparan ia bisa langsung mengangatkannya.


Setelah itu ia langsung beranjak tidur. Entah mengapa rasanya Viola ngantuk sekali. Mungkin efek hari sudah larut, ditambah lagi Viola yang mudah kelelahan.


***


Paginya, Viola terbangun dan melihat Ardo yang sedang terburu buru memakai pakaian kantor.

__ADS_1


Kapan Ardo pulang? pikir Viola lalu tersenyum. Ia merasa bahagia melihat pria yang ia cintai itu pulang ke rumah.


Viola pun bergegas membuatkan sarapan buat Ardo. Melihat Ardo yang sudah keluar kamar, lalu ia menyapanya.


"Pagi,"


Namun tidak ada balasan dari Ardo. Ardo malah sibuk kesana kemari entah apa yang di lakukannya itu. Kemudian Viola mendekati Ardo.


"Cari apa?" tanya Viola. Namun pria itu masih sibuk dengan kegiatannya.


"Ardo,"


"Do," panggilnya sekali lagi.


Tidak ada respon.


"Ardo ... " cicit Viola.


"Ardo!" sentak Viola.


"Saya sibuk! Punya mata enggak?!" bentak Ardo. Viola tersentak mendengarnya, sungguh baru kali ini Viola mendengar Ardo membentaknya. Dan hal itu menyakiti hati kecil Viola. Wanita itu menunduk lalu tak berapa lama terdengar suara isakan kecil yng keluar dari mulut Viola.


Ardo menghela nafas berat. "Kamu mau apa?" tanya Ardo datar.


"Aku mau ngomong sesuatu,"


"Ngomong aja Viola, tidak usah basa-basi, saya buru-buru ," tanpa repot menoleh Ardo mengucapkan kalimat itu 'pun masih dengan wajah yang datar.


Viola mendongak sebentar lalu menunduk lagi.

__ADS_1


"Tapi, tapi aku takut ganggu kamu," katanya masih dengan kepala tertunduk.


"Sekarang kamu sudah ganggu saya," katanya. "Cepat katakan! Saya tidak punya waktu,"


Viola menghirup nafasnya guna menetralkan jantungnya yang tiba-tiba berdebar kencang serta menetralkan rasa gugupnya. Entah mengapa ia sangat gugup sekarang. "Aku ... hamil," ucap Viola sambil menautkan kedua jarinya.


Hening.


Viola mendongak saat tidak mendapat respon dari Ardo.


Pria masih terdiam dengan seribu pemikiran dikepalanya. Ia menatap Viola datar. "Kamu hamil?" tanya Ardo.


Viola mengangguk takut. Kenapa ruangan ini terasa sangat mencekam sekarang?


"Kamu--"


Lalu tiba-tiba handphone Ardo berdering memotong ucapan Ardo. "Sebentar lagi saya berangkat, tunggu di sana, saya akan jemput kamu, Raline." Ardo langsung keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Viola dan tanpa menyentuh sedikitpun sarapan yang dibuat oleh Viola.


Viola yang melihat itu langsung mengejar Ardo.


"Ardo! Sara ... pan," ucap Viola namun Ardo sudah tenggelam di dalam lift.


Viola menghembuskan nafasnya kemudian masuk ke dalam apartemen. Entah mengapa rasanya jaraknya bersama Ardo terasa renggang meskipun mereka berdekatan. Tanpa sadar air mata lolos dari manik cantik Viola. Ia menghapus bulir itu dengan satu nama yang terngiang dikepalanya.


Siapa Raline?


***


(Maafkan saya yang baru update😭saya sibuk banget, ini aja saya baru pulang. Jadi nggak sempet update. Sekali lagi maafkan saya😢 besok saya usahakan update lagi😊)

__ADS_1


(Ayo tuangkan semua komentar kalian pada part ini, saya harap kalian nggak marah sama saya ya hehe. Saya nggak akan bosan buat inagtin, JEMPOL DAN KOMENTAR JANGAN LUPA, gratis kok cuma nekan itu doang ehehe selamat membaca dan selamat malam❤)


__ADS_2