
Di sebuah kamar khusus, seorang lelaki tampak terbaring lemah dengan alat-alat dan beberapa selang yang menempel di tubuhnya untuk bertahan hidup. Di badannya terdapat banyak luka-luka yang belum mengering. Wajahnya yang nampak pucat juga dipenuhi luka namun tidak melunturkan ketampanan pria itu. Di kepalanya juga terdapat perban yang menutupi kening hingga kepala bagian belakang. Sungguh mengenaskan bagi siapapun yang melihat nya, wajar saja jika lelaki itu koma.
Di samping lelaki itu ada seorang wanita paruh baya yang sedari tadi terus menggenggam tangan lelaki tersebut. Air mata pun tampak mengalir dari pipi yang mulai keriput dimakan usia.
"Nak, bangunlah," lirih wanita itu.
"Kamu mau ketemu Viola, kan? Maka bangunlah dia ada disini," lagi-lagi bulir bening jatuh dari pipi Mama Lia.
"Kamu mimpi apa sih, nak? Kok enggak bangun?" Lia terus berbicara meskipun lawan bicaranya tidak merespon. Tapi ia yakin bahwa Ardo bisa mendengarkan ucapannya.
"Perusahaan kamu enggak ada yang megang lho, nanti bangkrut gimana?"
"Kamu tau kan papa kamu itu udah reot, enggak mampu lagi urusin perusahaan yang besar apalagi dua perusahaan,"
"Bangun dong ... hiks,"
"Udah, kita makan yuk. Isi perut, Mbak dari semalem belum makan," ucap Mami Tania yang baru datang sekitar 5 menit yang lalu. Mami Tania juga merasakan kesedihan yang mama Lia rasakan. Biar bagaimanapun Ardo adalah menantu nya.
"Aku gak lapar. Aku mau jagain Ardo," tolak Mama Lia.
"Mbak jangan keras kepala, kalau Mbak gak makan nanti sakit, entar Ardo malah sedih."
"Ayolah, ada Galih dan Martin di luar sana. Ayo kita pergi,"
Dengan berat hati, Mama Lia pun mengikuti Mami Tania pergi ke kantin.
Di kantin baik Mami Tania maupun Mama Lia tidak ada yang bersuara hingga mereka memesan makanan.
"Bagaimana keadaan Viola?" setelah kesunyian melanda barulah Mama Lia membuka suara.
Mami Tania menghela nafas berat. "Dia belum sadar. Entah apa reaksinya ketika dia tau nanti. Semoga saja dia bisa menerima semuanya. Aku enggak tau lagi apakah masih ada penderitaan lagi yang harus mereka alami," bulir bening pun tak kuasa Mami Tania tahan mengingat keadaan putrinya. Entah penderitaan apalagi yang harus di tanggung keluarga kecil itu.
"Ini sudah takdir," tidak ada tanggapan lain dari Mama Lia. Awalnya Mama Lia menyalahkan Viola atas apa yang terjadi dengan Ardo, awalnya Mama Lia ingin menceraikan mereka berdua saja daripada Ardo menderita seperti ini. Terdengar kejam memang. Ibu mana yang tega melihat anaknya menderita seperti sekarang? Tapi ketika melihat keadaan Viola ditambah lagi wanita itu kehilangan anaknya membuat hati wanita paruh baya itu menjadi iba. Tidak ada yang bisa disalahkan disini, hanya saja kesalahpahaman yang membuat mereka jadi seperti ini.
__ADS_1
Pesanan mereka datang, Mami Tania dan Mama Lia pun memakan makanan dalam diam. Belum beberapa suap, terlihat Dion berlari tergopoh-gopoh ke arah mereka dengan nafas tersengal.
"Tan-tante ... kak ... kak Viola udah sadar dan sekarang dia. .. Dmfia ngamuk,"
***
"Anak kamu terpaksa lahir duluan,"
Gerakan mengusap-usap itu seketika terhenti. "Aku mau lihat mereka,"
Milen menggeleng. "Keadaan kamu belum pulih Viola,"
"Aku mau lihat mereka. Bawa aku ke ruangan mereka," mohon Viola.
"Enggak, Viola—"
"Aku harus liat anakku, Mbak!" Viola bangkit dari ranjang lalu mencabut paksa infus di tangannya darah segar pun menyumpit dari sana, jahitan akibat luka cesar pun tidak terasa lagi bagi Viola.
"Viola! Tolong!"
"Apa yang—"
"Dion cepat cari bantuan!!" sentak Milen.
"Bantuan kenapa?" tanya Dion yang masih bingung.
"Buat nenangin Viola, Dion! CEPAT!" sergahan Milen membuat Dion tunggang langgang berlari mencari pertolongan
"Please, aku mohon tenang, Viola. Pikirin keadaan kamu, kamu habis cesar Viola," ucap Milen yang masih berusaha menenangkan Viola.
"Aku enggak bisa tenang sebelum liat anak-anakku, Mbak." Lagi Viola memberontak. "Kenapa kamu ngehalangin aku buat ketemu anakku sendiri?!"
"Viola! Tenang! Kamu gak kasian sama anak kamu jika lihat kamu seperti ini? Kamu gak kasian liat Ardo yang sedang sekarat?! Hah?! Kamu gak kasian!?" bentak Milen membuat Viola terdiam fikiran waras Viola perlahan-lahan kembali.
__ADS_1
"Ardo?" lirih Viola.
"Hiks ... Ardo ... ini salah aku ... Ini salah aku," lagi-lagi Viola histeris membuat Milen bingung setengah mati.
Dewa penyelamat pun datang dengan berwujud Mami Tania dan Mama Lia.
"Ardo! Aku mau liat Ardo dan anakku!"
Tiba-tiba pelukan hangat khas seorang ibu Viola dapatkan. Mami Tania memeluk Viola yang masih menangis. Di dalam ruangan itu pun sudah ada Mami Tania, Mama Lia, Papi Galih, Papa Martin, Dion, Marvel, bahkan pasutri yang habis berbulan madu Anton dan Prilly pun juga hadir disana.
"Sstt ... udah ini bukan salah kamu. Semua ini udah takdir. Gak ada yang perlu disalahkan di sini," ucap Mami Tania yang masih setia memeluk dan memberi ketenangan pada Viola.
"Semuanya salah aku, mi. Ardo sekarat karena aku, aku-aku mau mati—"
"Shut jangan ngomong gitu. Kalau kamu mati terus yang nungguin Ardo siuman siapa? Terus gak kasian sama anak kamu? Dia juga sedih kalau liat ibunya sedih," ucap Tania lembut. Kalimat tersebut menjadi obat penawar ampuh Viola.
"Aku-aku pengen ketemu anakkku san Ardo, Mi," lirih Viola yang masih sesegukkan.
"Iya, nanti ketemu sama mereka kok,"
"Aku mau sekarang,"
"Kamu harus pulih dulu baru bisa ketemu mereka, nanti kamu sakit siapa yang ngurusin Ardo dan anak kalian?" itu adalah suara Mama Lia.
"Jadi kamu istirahat dulu ya," ucap Mami Tania.
"Kak, baju Kakak berdarah," ucapan Dion membuat seisi ruangan kaget melihat Viola yang langsung jatuh pingsan dengan darah merembes sekitar baju bagian perutnya.
"DOKTER!" / "SUSTER!"
***
(Kok komentar kalian nggak bisa diliat ya? udah coba update mangatoon tp masih ndak bisa diliat, kenapa ya? Padahal saya tuh suka banget baca komentar kalian😭)
__ADS_1
(Jangan salahin Viola😭 jujur saya nggak tega :'(
(Menuju ending🤗🤗 ayo jempol dan komentar nya, biar cepet ending hehehe)