
Terima kasih buat sayang onlenku yang udah ngevote, jempol dan ngomen. Jangan pernah bosan ya sama cerita ini, i love u all😘😘
Happy Reading :)
***
"Gimana, Mbak? Keo enggak papa?"
Dokter Gita melepaskan stetoskop yang berada di telinganya lalu membiarkannya menggantung di lehernya.
"Diagnosis aku sih Alergi, kamu kasi apa ke Keo?" tanya dokter Gita.
Ardo memang menyuruh dokter Gita ke sini karena Keo sama sekali tidak berhenti nangis, bahkan kulit bayi itu sampai terdapat ruam. Tentu saja hal itu membuatnya kalang kabut, mau ke rumah sakit tetapi ia tidak bisa menyetir dalam keadaan menggendong bayi berusia dua bulan dan juga abangnya hang berusia empat tahun itu.
"Susu formula, Mbak. ASI Viola udah habis dari pagi tadi," jawab Ardo. Di kulkas juga tersedia susu formula persiapan kalau-kalau ASI Viola mampet.
"Dia alergi susu sapi, aku memang bukan spesialis anak tapi sepertinya memang alergi itu karena dilihat dari kulitnya yang meruam juga pernapasannya. Untuk kulit, aku udah kasi antihistamin, jadi kalau masih rewel atau ruamnya enggak hilang cepet bawa ke spesialis anak," jelas dokter Gita.
Untung saja ia juga membawa susu formula yang vegetable milik bayinya yang berusia lima bulan. Ia sudah menebak jikalau Keo itu alergi susu sapi sama seperti anaknya mendengar dari penjelasan Ardo itu.
Dan sekarang Keo sudah tidur, di samping bayi itu terdapat Varo yang juga tertidur dengan mengelon botol dotnya. Di umur empat tahun ini Varo masih belum lepas dari susu dan dot itu.
"Kasi ke posyandu aja susu formula Keo itu, sayang kalau dibuang," ucap dokter Gita lagi.
Ardo mengangguk, ia masih memperhatikan dua buah hatinya yang terlelap damai meskipun sang adik, Keo masih dengan sesegukannya sehingga membuat nafasnya tersendat. Berbeda dengan tiga puluh menit yang lalu, terutama Keo yang menangis itu.
"Bundanya kemana?" tanya dokter Gita lagi.
Mendengar itu, Ardo menghela nafasnya. Rasanya ia ingin sekali memarahi Viola habis-habisan. "Belanja," jawab Ardo datar.
Dokter Gita tidak bertanya lagi melihat adik sepupunya ini datar mode on.
"Aku pamit, Do. Mau balik ke rs lagi, ingat kata aku kalau ruamnya enggak hilang cepetan bawa ke spesialisnya,"
Lagi-lagi Ardo hanya mengangguk, dokter Gita pun berlalu pergi.
Memastikan anak-anaknya sudah terlelap damai, ia pergi ke dapur untuk mengisi perutnya karena sedari tadi ia belum makan. Perutnya hanya terisi roti saja, itupun sarapan tadi pagi. Tadi ia tidak memikirkan tubuhnya yang ia fikirkan hanyalah anak-anak nya tidak kelaparan saja.
***
Viola turun dari mobil Milen, ia mengernyit melihat sebuah mobil terparkir di halaman depan rumahnya.
"Mobil siapa?" tanyanya, ia mengendikkan bahu lalu masuk ke dalam rumah dengan beberapa paper bag di tangannya.
Sampai di ruang tamu, Viola berpapasan dengan dokter Gita yang baru turun dari tangga.
__ADS_1
"Lho, Mbak gita?" tanya Viola, ia heran tumben sekali dokter itu mengunjungi rumahnya apalagi dengan jas dokter masih melekat pada tubuhnya.
"Eh Viola, udah pulang?"
"Yakali belum, Mbak. Terus di depan Mbak ini siapa?" kekeh Viola.
Dokter Gita juga terkekeh. "Yaudah deh, aku mau ke rs lagi, bye."
"Eh, aku lupa ngasi tau Ardo," dokter Gita berbalik lagi.
"Apa Mbak?" tanya Viola.
"Itu, kalau ada kamu Keo jangan dikasi susu formula ya? Takutnya dia lebih doyan minum susu formula daripada ASI," ucap dokter Gita.
Viola mengangguk, lalu dokter Gita menepuk bahu Viola. "Aku pergi dulu, kamu jangan ngomel dulu sama Ardo, nanti masalahnya jadi runyam."
Kening Viola mengernyit, ada apa sebenarnya?
Viola pun naik ke atas, baru saja ia membuka pintu kamar ia dikejutkan dengan Ardo yang sudah membuka pintu itu terlebih dahulu. Wajah yang tadinya biasa-biasa saja kini berubah datar melihat kehadiran Viola.
Viola mengernyit. "Kamu kenapa, Mas?" tanya Viola.
Ardo tidak menjawab, ia berlalu meninggalkan Viola masih dengan wajah datarnya.
"Sayangnya Bunda tidur ternyata," ucap Viola. Ia duduk di tepi ranjang melihat kedua buah hatinya.
Lagi-lagi kening Viola berkerut melihat ruam di kulit Keo, malah ada seperti bentol bentol.
Viola berdecak. "Apa sih kerjanya mas Ardo? Anak kok dibiarin di gigit nyamuk gini?!" kesal Viola.
Ia mengecup kening Keo dan Varo bergantian, sekarang ia ingin memarahi Ardo yang telah lalai menjaga anak-anaknya ini, masa anak dibiarin digigit nyamuk sih?
Viola turun dan mencari keberadaan Ardo, lalu ia menemukan seseorang yang sedang makan di dapur.
Viola bersedekap. "Kenapa kamu biarin Keo digigit nyamuk?" tanya Viola.
Ardo yang baru tiga suap memakan nasinya itu langsung terhenti, ia meminum air putihnya. Rasanya nafsu makannya hilang mendengar ucapan Viola, namun ia tetap memaksakan suapan itu karena jika dibuang makan akan takabur.
Melihat keterdiaman Ardo membuat Viola berang, ia mendekati kursi dimana Ardo makan itu.
"Kenapa diam? Aku lagi nanya, Mas," ucap Viola lagi. Namun Ardo masih belum mengeluarkan suaranya.
"Kamu kenapa sih? Lagi ada masalah apa? Aku mohon Mas, kalau lagi ada masalah di kantor enggak usah bawa ke rumah sampai imbasnya ke anak-anak, Keo itu masih kecil kenapa kamu biarin sampai kegigit nyamuk gitu?" omel Viola. Ia tidak habis fikir dengan Ardo ini, padahal dirumah itu enggak ada nyamuk tapi kenapa Keo bisa kegigit? Bukankah itu kelalaian yang sangat fatal?
Ardo lagi-lagi menghentikan suapannya, dan kali ini benar-benar berhenti ia sudah tak bisa menelan nasi ini. Ardo beranjak dari sana tanpa meninggalkan satu patah kata.
__ADS_1
Viola semakin kesal dibuatnya. "Mas Ardo! Kamu kenapa? Kalau kamu marah aku belanja yaudah aku enggak belanja lagi!" kata Viola. Ia mengeluarkan beberapa credit card dalam dompetnya.
"Ini, semua kartu aku, aku balikin! Enggak usah ngasi aku uang kalau kamu enggak ngijinin aku belanja!" sentak Viola. Sebenarnya Viola tidak ingin menyentak suaminya, tetapi emosinya sudah tidak bisa terkendali apalagi melihat kondisi Keo.
Ardo berbalik, ia menatap Viola dengan pandangan datarnya. "Aku tidak pernah melarang kamu untuk berbelanja," kata Ardo.
"Tapi dengan kamu membiarkan Keo--"
"Aku atau kamu yang membiarkan Keo?"
Viola mengernyit. "Apa maksud kamu? Aku enggak membiarkan Keo, dan aku juga udah ijin sama kamu! Kalau kamu enggak ngijinin aku ya bilang, jangan anakku yang jadi sasarannya!" kata Viola dengan suara naik satu oktaf.
"Udah puas ngomongnya?" tanya Ardo datar.
Viola hanya terdiam dengan nafas yang naik turun.
"Aku tidak pernah melarangmu pergi kemanapun asalkan kamu ingat status kamu, kamu itu seorang istri dan seorang ibu," ucap Ardo.
"Aku tau, enggak usah diingatkan aku juga ingat," jawab Viola.
"Syukur kalau kamu ingat," lalu Ardo berlalu lagi.
"Mas Ardo?!" panggil Viola. "Kamu kenapa sih?! Ngomong! Enggak usah diam, kamu ingetin aku dengan empat tahun lalu tau enggak!"
Ardo menghembuskan nafasnya. "Selama dua jam lebih Keo nangis dan aku enggak tau gimana cara ngediaminnya,"
"Kenapa kamu enggak telpon aku?! Kenapa kamu malah ngebiarin dia?! Kamu gimana sih jadi ayah kok enggak becus!"
"Iya! Saya emang enggak becus jadi ayah! Dan kamu fikir kamu udah bisa jadi ibu yang baik, begitu?!" tanya Ardo, ia sudah berang dengan Viola yang selalu menyalahkannya. Dan tanpa sadar, Ardo kembali menggunakan kata 'saya' kepada Viola.
"Alceo alergi susu sapi. Tapi tenang saja, ayah yang tidak becus ini sudah memanggil dokter untuk anaknya." Ardo masih memandang Viola. "Saya nelpon kamu, tapi dimana kamu saat saya nelpon kamu?! Dimana kamu saat beratus-ratus pesan yang saya kirim ke kamu?! Kamu terlalu sibuk dengan belanjaan kamu itu, kamu sibuk sendiri hingga lupa mikirin anak suami, entah suami sudah makan atau belum, entah anak kamu rewel atau enggak, kamu enggak ada nanyain itu!
Kamu mau tau, saya belum makan dari tadi pagi! Saya baru makan sekarang dan nafsu makan saya tiba-tiba hilang! Saya bukannya minta diperhatikan tapi tolong cek ponsel kamu, jangan merasa ponsel kamu tidak berdering lalu kamu beranggapan tidak ada yang memberi tahu kamu, tolong Viola sadar akan status kamu!" Ardo menghembuskan nafasnya, ia mencoba menenangkan amarahnya agar kata-kata yang tidak ingin ia ucapkan tidak keluar saat ini.
"Aku tau kamu butuh refreshing sejenak, aku tau itu. Tapi sekali lagi tolong ingat status kamu,"
Ardo berlalu meninggalkan Viola yang masih terdiam dengan perasaan yang berkecamuk.
***
Holaaaa, nah kalau gini siapa yng salah yes?
Jempol dan komentar yaaa zheyenk😘
Maafkan kalau feelnya enggak dapet :(
__ADS_1