Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez

Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
40 (Season 02)


__ADS_3

Viola berdecak kesal. Sekarang dia harus apa? Masa nelpon Prilly lagi? Ibu dua anak itu pasti sibuk jika sudah sore seperti ini. Lagipula Prilly sudah mampir ke sini tadi pagi.


Benar-benar membosankan! Semua ini salah Ardo, iya cowok itu emang selalu salah meski udah jadi suami dan juga punya buntut.


Ah! Atau dia ke kafe aja? Lumayan buat mantau-mantau kerjaan karyawan. Ya bukan ide yang buruk. Viola juga sudah menyiapkan makan malam, kalau dingin tinggal diangetin lagi.


Viola mengambil jaket hoodie miliknya. Hanya dengan setelan celana jeans dan jaket hoodie, penampilan Viola sangat memukau bahkan hanya dengan polesan vitamin bibir.


Penampilan Viola tidak cocok disebut sebagai ibu yang pernah melahirkan tiga orang anak. Mungkin jika diucapkan, maka Viola akan disangka berbohong. Hadeh, orang cantik mah gitu, dikira umur delapan belas ternyata emang iya hehe.


Karena masih sore, jalanan juga lumayan lenggang Viola memutuskan untuk menggunakan motor matic mama Lia. Ia sudah minta ijin yang sang empunya, awalnya mama Lia nyuruh dianter sopir, tapi Viola keukeuh pake motor. Jadilah ia naik motor matic itu.


Viola memilih melewati jalan tikus, karena cepat nyampe. Dan benar tidak berapa lama ia sampai di depan cafe dengan plang C'MOL Cafe.


"Sore, Mbak Bos!" sapa para karyawan di sana.


"Sore, lanjut aja kerjanya, aku cuma mampir doang di rumah enggak ada kerjaan," ucap Viola.


Para karyawan mengangguk lalu melanjutkan pekerjaannya lagi. Tak lama, Karin keluar dari ruangan pribadi miliknya.


"Eh, aku kira anak gadis dari mana, ternyata emak-emak buntut dua," ucap Karin, ia mendekati tempat duduk Viola. "Mau minum, Buk?" tanya Karin.


"Boleh deh, biasa ya," ucap Viola. Karin mengangguk, lalu menyuruh barista membuat minuman untuk bos besar.


"Tumben ke sini, biasanya kan seminggu sekali itupun kayanya baru-baru ini rutin selama seminggu sekali," kata Karin.


Viola tertawa, kemarin ia juga ke sini dan kebetulan bertemu dengan Dion. "Sumpek, di rumah sepi, aku tinggal sendirian," ceritanya.


"Lho, Keo sama Varo?"


"Mereka di bawa mertuaku ke rumah ibuku, nemenin beliau. Soalnya saudaraku kan jarang pulang, kasian ibuku sendiri," jelas Viola.


Karin mengangguk. "Iya sih, kasian juga tante Nia," ucapnya. "Diminum dulu, Buk."


Viola meminum ice coffee di hadapannya. "Gimana, udah nemu karyawan?" tanya Viola. Cafenya emang memerlukan dua orang karyawan laki-laki untuk membantu mengantarkan delivery, lowongan itu sudah dibuka sejak satu minggu yang lalu. Semuanya Viola serahkan kepada Karin, ia percaya Karin bisa mengontrol semuanya.


"Lumayan banyak sih, Mbak. Yang daftar ada lima belas, tapi yang benar-benar memenuhi kriteria cuma empat orang," jawab Karin.


"Oh ya?"


"Iya, Mbak, hari ini seleksi empat orang itu, tapi masih ada satu orang yang belum dateng," ucap Karin.


"Sampe jam berapa kalian janjian?" tanya Viola.


"Aku sih bilangnya sesempat dia aja deh kapan bisanya hari ini, asalkan cafe enggak tutup ya aku layani, Mbak," jawabnya.


"Dari ketiga orang tadi, ada yang rasanya nyangkut enggak?"


Karin menggeleng. "Semakin ke sini mereka semakin kaya ngeremehin satu sama lain, Mbak. Ternyata susah ya nyari karyawan," kesalnya. "Tinggal nunggu yang atu lagi nih, kalau sesuai langsung aku ambil aja, kasian Derry enggak ada yang nemenin anter pesanan," katanya lagi.


"Aku ikut nunggu deh, pengen liat juga calon karyawan ku," kata Viola.


"Boleh dong, Mbak, artinya calon karyawan yang ini spesial banget di interview sama atasan langsung." Karin tetawa kecil.


Viola juga ikutan tertawa hingga salah satu karyawan laki-laki mendatangi mereka.


"Sore Mbak Bos, maaf udah ganggu tapi ada yang nyariin Mbak Karin," ucap karyawan bername tag Derry itu.


"Suruh ke sini aja, mungkin itu calon karyawannya," jawab Karin.


"Baik Mbak, mari Mbak Bos," pamit Derry. Viola hanya tersenyum.


Lalu tak lama kemudian muncul seorang laki-laki dengan celana kain dipadukan dengan kemeja kotak-kotak.

__ADS_1


"Permisi, Mbak Karin ya?" tanya pemuda itu.


Viola mengernyit, bukannya ini?


"Kevin?"


Kevin menoleh, ia juga terkejut dengan kehadiran bunda dari anak yang pernah ia culik sekaligus ia tolongin itu.


"Mbak Viola? Apa kabar, Mbak?" tanya Kevin, sengaja ia basa-basi Karen ia tidak tau harus ngapain.


"Baik, kamu ikut ngelamar kerja di sini?" tanya Viola.


"Iya--"


"Duduk dulu, Kevin, masa ngomongnya berdiri," potong Karin.


Kevin langsung duduk di tengah-tengah Karin dan Viola, persis seperti remaja nakal yang sedang disidang oleh guru BK.


"Jadi?" tanya Viola.


"Saya ngelamar kerja di sini, dan saya hari ini juga mau interview sama Mbak Karin," ucapnya.


"Iya Mbak, ini calon karyawan yang aku ceritain tadi," kata Karin. "Kevin, ini Mbak Viola, tapi sepertinya kalian udah kenal. Mbak Viola itu pemilik cafe ini," kenalnya pada Kevin.


"Jadi, cafe ini milik Mbak ya?" kepo Kevin.


"Iya," jawab Viola. "Karin, Kevin ini yang nyelametin Varo sama Keo dari Grace, kamu ingat kan insiden itu?"


"Wah yang bener, Mbak? Kevin kamu hebat," puji Karin.


Kevin hanya tersenyum enggak enak hati.


"Kevin, kebetulan kamu di sini. Kita kan enggak pernah bicara nih, sekarang saya mau bilang terima kasih karena udah nolongin anak-anak. Kalau enggak ada kamu mungkin keadaannya bakal lain lagi," ucap Viola.


"Sebenarnya saya juga salah, Mbak. Enggak sepenuhnya saya baik," jawab Kevin. "Varo sama Keong dimana, Mbak?"


"Ikut mama Lia ke rumah ibuku," jawab Viola. "Oh iya, kamu kok ngelamar sini, kenapa enggak di perusahaan aja?"


Kevin tersenyum. "Saya enggak enak, Mbak. Soalnya saya cuma lulusan dari universitas biasa, nilai saya juga biasa-biasa aja. Jadi saya ngelamar kerja di sini dulu," ucapnya.


"Lah kok gitu, padahal kamu itu kan-- oh!Gimana kalau kamu kerja di perusahaan suamiku aja? Biar aku bantu ngomongnya," ucap Viola.


"Eh jangan, Mbak. Saya mau ngelamar kerja di sini dulu," tolak halus Kevin. Ia masih tidak enak dengan Viola, karena biar bagaimanapun ia juga ada niatan jahat untuk anak wanita di hadapannya ini.


Viola menghela nafasnya, padahal ia ingin memberikan pekerjaan lebih baik pada Kevin. "Yaudah, kamu langsung kerja disini aja besok. Aku yang lolosin kamu," ucap Viola. "Karin, kamu ajarin Kevin sistem kerja di sini gimana."


"Baik, Buk!"


"Yaudah aku mau pulang dulu, udah setengah enam kurang soalnya," ucap Viola.


"Hati-hati di jalan, Mbak!" seru Karin.


Viola tersenyum melambaikan tangannya.


Ia memasang jaket hoodie yang ia lepas tadi. Namun tiba-tiba matanya tak sengaja menangkap siluet seseorang yang ia kenal.


Ia semakin menajamkan pandangannya. Dan benar, ia sangat hapal dengan punggung kekar itu.


Deg!


Viola seperti deja vu, ia pernah berada di posisi ini. Posisi dimana ia melihat sang kekasih duduk bersama seorang wanita. Dan kali ini ia menyaksikannya kembali, di tempat yang sama pula, namun kali ini statusnya bukan kekasih tetapi orang yang sudah menjadi suami dan ayah dari anak-anaknya.


Entah mengapa tiba-tiba jantung Viola berdegup kencang, ia tidak tau mengapa darahnya pun juga ikut berdesir, badannya gemetar. Rasa ini, rasa ini lebih sakit dibanding rasa yang dulu pernah hadir dihidupnya.

__ADS_1


Bagaimana perasaan kalian, disaat spam chat dibalas singkat, dan tidak lama kemudian melihat secara langsung sang suami berduaan dengan wanita yang tidak kalian kenal? Bahkan di kafe milik istrinya sendiri?!


Apakah rasanya memang sesakit ini?


Seperih ini?


***


TAMAT.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hehe enggak ding candaa✌️✌️ sebenernya saya emang mau bikin chapter ini adalah chapter terakhir.


Tapiiii, saya undur dehh. Satu chapter lagi tamat. So, jempol sebanyak2nya, komentar sebanyak2nya, vote sebanyak2nya. Kapan lagi ya enggak? Kan udah mau tamat.


Nah saya mau tanya kalian, maunya happy ending atau sad ending? Biasanya nih yah kalau Season 1 happy ya Season 2 nya sad, atau saya bikin sad aja????

__ADS_1


Yang pastinya pantengin terus yaa. Saya bakal update lagi kalau jempolnya di bab 37, 38, 39, dan 40 nyampe 500.


See youu :*


__ADS_2