
SEBELUM MEMBACA DIHARAPKAN ANDA SUDAH MENEKAN TOMBOL š
Happy Reading :)
Semoga sukaš¤
***
Tiga bulan kemudian,
To : Mas Suamiā¤
Mas, aku ke rumah mami. Varo ikut aku, udh ijin sm mama kok
Viola mengetikkan pesan itu kepada suaminya, asal kalian tau yang memberi nama itu di kontak Viola adalah Ardo sendiri. Viola mah manut doang yang penting si suami senang.
Tidak berapa lama Ardo membalas pesan Viola.
From : Mas Suamiā¤
Pulangnya sm aku ya
To : Mas Suamiā¤
Iyaaa, smngt krjanyaaš biar istri ngabisin duit kmu eheheā¤
From : Mas Suamiā¤
Istriku matre, tp cintaš
Viola tersipu, Ardo ini memang suka membuat Viola tersipu meskipun mereka tidak berada di tempat yang sama.
Viola tidak membalas pesan Ardo lagi, ia membacanya saja. Lalu ia beralih ke arah Varo yang asik dengan robot robotan hadiah dari Milen. Ya Milen baru pulang dari Amerika, ia sengaja memberikan hadiah itu pada Varo.
Mengingat Milen, wanita itu akan menetap di sini sekitar dua tahun karena ia mendapatkan kontrak di sini. Wanita yang umurnya hampir sama dengan Ardo itu masih belum menemukan jodohnya, Viola berdoa semoga saja Milen cepat menemukan jodoh.
***
"Assalamualaikum! Opah o Opah! Alo dah atang ni!" teriak Varo di gendongan Viola. Suara cempreng anak itu menggelegar.
"Opah! Nda ada olang lah Unda," ucap Varo. Anak itu tidak lagi sepenuhnya menggunakan bahasa kartun bocah kembar botak itu tetapi sudah bercampur dengan Bahasa Indonesia. Yah meskipun kadang-kadang ia lupa.
"Ada kok, coba teriak lagi," Viola terkikik geli melihat ekspresi anak sulungnya itu, sangat menggemaskan ketika sedang kesal seperti ini.
Sebenarnya mami Tania udah ada di belakang pintu, cuma dia mau ngerjain cucunya itu.
"Opah!! Kalo Opah tak dengal, Alo ama Unda ulang nih!" ancam Varo. Namun mami Tania masih belum mau membukakan pintu.
"Ish, Unda!" rengek Varo. "Opah tak dengal, ulang ja Unda," sambungnya.
"Nggak usah pulang dulu, coba sekali lagi,"
"Opah, Alo enelan ulang nih, Alo ndak au agi ke lumah Opah," cebik Varo. Viola tertawa lalu mengecup pipi anaknya itu.
Pintu pun terbuka nampaklah mami Tania dengan berkacak pinggang. "Varo mau pulang? Nenek punya banyak semangka lho," ucap mami Tania.
Mendengar semangka Varo jadi memberontak dari gendongan Viola, ia ingin menggapai Opah Nia nya itu.
Dengan sigap mami Tania mengambil alih Varo. "Varo nggak boleh gitu, nanti dedeknya Varo sakit, ngerti?" nasihat mami Tania.
Varo mengangguk lucu. "Maga-maga, Opah?"
Viola menggeleng, dasar maniak semangka.
"Ayo kita buka maga-maga dulu," mami Tania membawa Varo masuk, Viola mengekor saja.
"Viola, kamu udah makan?" tanya mami Tania pada Viola yang sedang mengupas semangka buat Varo.
"Udah, Mi. Tadi sebelum ke sini aku makan dulu," jawabnya.
"Kalau mau makan, makan aja. Tadi Mami masak pepes ikan,"
__ADS_1
Viola mengangguk, lalu mereka terdiam memperhatikan Varo yang sedang memakan semangkanya.
Tatapan Viola teralihkan pada sepasang sepatu wanita yang berada di rak sepatu.
"Mami beli sepatu baru?" tanya Viola. "Masa Mami beli yang kayak gitu sih? Kan itu tinggi, Mi. Lagipula sepatu itu nggak cocok sama fashion Mami," ucap Viola. Yang bener aja Mami beli sepatu itu, udah kayak anak gadis aja. Nggak cocok dipake orang yang udah punya cucu.
"Sembarangan kamu! Kamu tau kan Mami nggak bisa pake sepatu hak," kata Mami. "Sepatu itu punya pacar Marvel," ungkap Mami lagi.
Viola membulatkan matanya. "Bang Marvel udah punya pacar? Kok aku nggak tau ya? Terus pacarnya siapa?"
Mami Tania menggeleng. "Mami juga nggak tau, abang kamu nggak mau ngenalin katanya nanti nunggu waktu yang tepat," kata Mami. "Heran Mami sama abang kamu itu, anak kamu aja udah mau tiga. Lah dia? Nikah aja belum, mau jadi bujang lapuk kali."
Mami Tania menggelengkan kepalanya, entah kapan Marvel akan mau menikah umur udah tiga puluh lebih, tetapi fikiran untuk berumah tangga belum ada. Ataukah ia ingin dijodohkan juga seperti Viola? Tapi kali ini Mami Tania membiarkan saja Marvel mencari calon istrinya, kalau sampai umur tiga lima belum ada tanda-tanda maka dengan sangat terpaksa ia akan menjodohkan putranya lagi.
Dahi Viola mengerut. "Lah, kan sepatunya ada di sini kok Mami nggak tau orangnya sih?"
"Sepatunya doang ada di sini, orangnya nggak."
"Kok gitu, Mi?"
"Katanya sih sepatunya ketinggalan di mobil, jadi ya sekalian Marvel bawa masuk aja,"
Viola berdecak, dasar abangnya itu. Viola tau itu bukan pacar nya melainkan cuma wanita yang Marvel pakai buat one night stand doang, kalau beneran pacar nggak mungkin kan dia nggak mau ngenalin ke orang tua? Malu? Emang pacarnya nggak punya hidung? Sampe malu segala.
"Assalamualaikum!" seseorang mengucap salam dari arah luar.
Panjang umur, batin Viola karena orang yabg sedang mereka bicarakan baru saja bergabung dengan mereka.
"Tumben ke sini?" Marvel langsung mencomot irisan semangka buat Varo.
"Unya Alo!" bocah itu menapukkan piringnya ke belakang tubuh kecilnya itu.
"Om kan cuma minta dikit, Varo. Jangan pelit,"
Varo mencebik. "Alo nda peyit!"
"Varo pelit,"
"Ndak!"
"Ndak! Ndak! Ndak!"
"Pelit, pelit, pelit,"
"Ndaakkk! Unda! Huaaaaaa!" Varo meraung akibat olokan Marvel. Bocah itu merangkak ke pelukan sang Bunda.
"Anak Bunda kok cengeng sih?" Viola mengelap air mata Varo. "Kan udah mau jadi Abang, masa cengeng?"
"Uncle, Unda."
"Idih, Varo aja yang cengeng. Om bilangin Yaya ah, Varo nangis gitu."
Mendengar nama Yaya, dengan cepat Varo mengelap air matanya. "Ish, Alo ndak angis, nih liat!" katanya. "Angan ilang-ilang Yaya, Uncle, Alo kaci maga-maga nih," Varo mendorong mangkuk berisi semangka itu ke arah Marvel.
Marvel menggeleng. "Nggak mau, Om bakal kasi tau Yaya, biar Yaya tau kalau Varo itu--"
"Angan!"
"Om bakal kasi tau!"
Varo sudah mulai mencebik lagi, dalam beberapa saat air mata itu bakalan tumpah.
Marvel menggoyangkan telunjuk tangannya. "Nggak boleh nangis,"
Varo menggeleng. "Alo ndak angis," katanya namun bibir itu masih melengkung ke bawah.
Marvel membuka ponselnya. "Telpon Yaya ah, Varo nangis nih,"
"Opah! Uncle Epel!" adu Varo.
"Marvel," peringat mami Tania.
__ADS_1
"Nggak usah ngadu, Om bakal kasi tau Yaya!" goda Marvel lagi.
Seketika itu tangis yang ditahan Varo akhirnya keluar. Balita itu memang lagi masa-masanya suka menangis, dan itu dimanfaatkan orang disekitarnya untuk lebih menggoda dan menjahilinya.
***
"Pacar kamu siapa sih Bang? Kata mami, kamu udah punya pacar," kata Viola ketika Marvel sedang ngambil air minum di kulkas.
Seketika itu Marvel menatap Viola. "Ada deh," katanya.
"Halah sok misterius banget, nggak taunya emang nggak punya pacar. Sok punya lagi, halu!" ledek Viola.
Marvel menoyor kepala Viola. "Eh bumil, nggak usah ngeledek! Kalo tiba-tiba aku nikah, gimana?"
"Ya syukur deh, biar nggak malu lagi kondangan cuma ngitilin mami," Viola terkikik.
"Yee, dasar mentang mentang udah jadi bucinnya Ardo!"
Viola menjulurkan lidahnya mengejek. "Biarin, wlee!" ejeknya. "Oh iya, Abang kok pulangnya awal banget? Biasanya kan abis maghrib,"
"Mau dinner,"
"Dinner sama kolega bisnis?" ejek Viola lagi.
"Ngejek lagi awas kamu!"
Tawa Viola pecah melihat wajah kesal Marvel. "Eh Bang, bikinin susu kocok dong lagi pingin nih," pinta Viola.
"Bikin sendiri, males."
"Yah kan keinginan--"
"Keinginan Bocil, iya? Kamu ini, keponakan aku nggak usah jadi alesan terus!" potong Marvel.
Viola menyengir. "Bikinin kek, kan sesekali doang minta bikinin,"
Marvel mendelik, tapi akhirnya ia membuatkan susu kocok buat bumil itu.
"Liat hapeku nggak?" tanya Marvel, ia meraba-raba sakunya.
"Kan Abang pinjemin ke Varo,"
"Oh iya,"
Tak lama kemudian Varo muncul dengan sedikit berlari, pampers yang ia gunakan itu bergoyang seirama kakinya melangkah.
"Jangan lari, sayang. Nanti jatoh loh," peringat Viola. Varo mengangguk tapi tetap saja ia berlari dan ia membawa ponsel Marvel.
"Unda, Unda! Ape Uncle unyi!" katanya, ia memberikan ponsel itu pada Viola.
Viola mengambil ponsel itu namun cepat dirampas Marvel. Viola menatap Marvel curiga.
Marvel yang ditatap seperti itu mengernyitkan dahinya. "Apa? Jangan berisik, aku mau angkat telpon dari kolega dulu," katanya sambil menjauhi Viola dan anaknya.
Viola mengernyit, kalau kolega mengapa harus menjauh?
"Varo, sayang, intip uncle Marvel gih, dengerin uncle ngomong apa," suruh Viola.
Bocah yang hanya mengenakan pampers itu mengangguk patuh, lalu ia mengintip pamannya itu.
Viola masih penasaran siapa yang menelpon Marvel. Ia juga sempat melirik nama yang tertera di ponsel itu, nggak mungkin kan nama kolega dibikin my my ditambah lagi emot love merah segala?
Kecurigaan Viola semakin bertambah, baiklah dia akan menyelidiki ini. Semoga saja Varo bisa menangkap omongan Marvel dengan My L nya itu.
My L, siapa?
***
Vote, love, jempol, dan komentar jangan lupa :)
Sengaja upnya hari ini, karena kayaknya chapter ini nggak akan begitu membuat kalian tertawa ehehe, nantikan kelanjutannya yaa :)
__ADS_1
Ayo main tebak tebakan lagi, siapakah My L itu?
Ayo dong tebak!