
Nama : Viola Ardelia Stewart.
(Anak dari pasangan Reygalih Alonso Stewart dengan Tania Putri Stewart. Reygalih bekerja sebagai CEO di perusahaan Stewart Group. Memiliki seorang kakak laki laki bernama Verdinant Marvel Stewart, bekerja sebagai sekretaris di perusahaan Stewart Group dan sebentar lagi akan menggantikan ayahnya.)
Usia : 25 tahun.
Lulusan : VQ University.
Pekerjaan : Memiliki café yang berpusat di Jakarta dengan cabang kecil berada di Kalimantan, Sekretaris sementara di perusahaan besar VQ Group.
Memiliki 2 orang sahabat semasa kuliah. Yaitu, Grace Bernardo (Bern Corp) dan Prilly Hermawan (tidak diketahui).
Status Sekarang : Menikah (tidak ada sumber yang mengetahui siapa suami Viola Ardelia Stewart. Semua akses untuk mendapatkan info lengkap di kunci rapat.)
Orang itu masih membaca dengan teliti data tersebut hingga dia berhenti di sebuah nama. Dia menyeringai licik.
"Ternyata tidak sulit untuk mencari informasi orang terdekatmu," tawanya menggelegar membuat siapapun yang mendengar nya akan merinding. "Ku pastikan kau akan mendapatkan lebih dari apa yang kurasakan waktu itu," lanjutkan.
"Hai sayang," Pria itu menyapa seseorang dibalik telepon.
"Maaf, Anda siapa?"
"Kau lupa dengan calon suami mu ini, sweety?"
"Oh Shit! Mau apa kau menelponku brengsek?!"
"Oh sayang, apakah kau tidak merindukanku?"
"Cepat katakan!! "
"Aku ingin bertemu denganmu," ucapnya serius.
"Aku gak sudi—"
"Aku bisa membuatmu hancur jika kau lupa, sayang." Dia menyeringai licik. "Lusa temui aku di restoran biasa." Dia pun menutup sambungan teleponnya. Hatinya bergetar mendengar suara wanita itu, dalam hatinya yang terdalam ia rindu suaranya, sangat rindu wanita yang sampai saat ini masih mengisi kekosongan hatinya. Wanita itu, wanita yang sudah pergi jauh darinya.
***
From : Idiot Brother
10 menit lagi gue sama mami mau ke apart kalian. Siapin makanan banyak2 yeaaaah 😽
"APA?! Mami mau kesini? Demi apa coba?!" seketika Viola melotot melihat pesan yang ia terima itu.
Ia menelan ludahnya kasar. "Kalo mereka tau gue enggak sekamar sama Ardo gimana? Mati gue!"
"ARDO!" suara cempreng Viola menggema di seluruh apartemen mereka.
"ARDO! Gue sumpahin lu bakal budek beneran!"
"Apa sih?" Ardo keluar dari kamarnya dengan tergesa gesa. Ternyata dia sedang mandi terbukti dengan shampo yang masih ada di kepalanya. Ardo sudah mendengar pekikan Viola sebenarnya makanya ia cepat mendatangi gadis itu.
"Mami sama Marvel mau kesini. Gimana dong?" ucap Viola khawatir. Yaiyalah khawatir, orang mulut Marvel itu ember. Pasti mama udah tau kalo mereka tidur nggak sekamar.
"Biarin, emang kenapa?"
"Ardo! Kan gawat kalo mereka tau—"
"Aduh perih," Ardo meringis perih ketika busa shampo kepalanya mengenai mata.
"Aduh gimana ini. Aduh aduh eh. Ayo!" Viola menarik tangan Ardo dan langsung menyiram kepala Ardo dengan air.
Byurrr ...
"Fiuh lega," ucap Ardo.
__ADS_1
"Huaa lantainya basah semua. ARDO BERSIHIN!" teriak Viola saat melihat lantai yang basah karena air yang mereka ambil adalah air minum yang di meja makan.
"Lohh. Kok saya? Kamu lah. Kan kamu yang nyiramin, saya kan cuma minta tolong," ucap Ardo gak mau kalah.
"Kan aku bantu kamu. Jadi kamu yang bersihin dong!"
"Enggak! Pokoknya ka—"
Tingtong ... tingtong ...
"ASTAGA! AKU LUPA!MAMI SAMA MARVEL MAU KESINI!"
"Kenapa? Enggak boleh?"
"Ck bukan gitu, kita kan enggak sekamar--"
"APA! Kenapa tidak bilang dari tadi?!"
"Yeyy kan aku udah bilang, lu aja yang budek—"
Tingtong ... tingtong tingtong
"Kamu! Bersihin!"
Tingtong!
"IYA! SEBENTAR!" Viola berlari. Ia mengatur napasnya dulu sebelum membuka pintu.
"Tarik napas, keluarkan fiuh kalo mereka nanya kenapa enggak tidur sekamar, bilang aja Ardo lagi bisul jadi dia malu sama Viola. Nah ide bagus," gumam Viola. Lalu ia meraih gagang pintu.
Ceklek
"Kamu itu lama banget buka pintunya. Lumutan nih kaki Mami nunggu kamu," kesal Mami Tania.
"Mulut itu yah! Disaring dulu!"
Marvel terkekeh. "Lu sih kagak ngasih gue ponakan,"
"Masih pakek Lo-Gue?" yanya mami Tania datar. Marvel dan Viola menyengir. "Lupa," ucap mereka bersamaan.
"Gak ngijinin kita masuk nih ceritanya?" ucap Mama Lia yang sedari tadi hanya memperhatikan interaksi keluarga itu.
"Eh iya lupa, ma," Viola memukul pelan kening nya. "Ayo masuk."
Mereka pun memasuki apartemen Ardo dan Viola.
"Ardo mana?" tanya Marvel.
"Di sini," jawab Ardo yang sudah keluar dengan baju santai nya
"Apa kabar, Ma, Mi?"
"Gue baik, terimakasih perhatian nya," ucap Marvel cepat.
"Emang saya nanya kamu?" tanya Ardo datar membuat Marvel mendengus kesal.
Tania menggeleng melihat kelakuan mereka. "Baik. Kalian?" tanya Tania.
"Baik juga mi. Viola tinggal dulu ya. Mau ambil minum," ucap Viola dan di angguki oleh mereka berempat.
Kini tinggallah Ardo, Marvel, Mami Tania dan Mama Lia.
"Mama mau bicara penting sama kamu," ucap Mama Lia. Mereka memandang Ardo serius seperti terdakwa dan pendakwa, horor.
***
__ADS_1
"Kenapa lama sekali sayang," ucap pria yang sedang duduk kepada wanita yang baru sampai.
"Udah syukur aku dateng! Cepat katakan apa yang kau mau?!" ucap wanita itu.
"Calm babe. Duduk, kita pesan dulu. Mbak!" panggil pria itu kepada pelayan.
"Pesan apa mas?" pelayan itu berucap sopan.
"Kau mau apa sayang?"
"Samakan saja," ujar wanita itu ketus.
"Baiklah. Eumm dua Buttery Honey Mustard Salad dan dua Jus alpukat," ucapan pria itu membuat wanita di depannya melotot.
"Apa sayang? " tanya si pria.
"Kau gila?! Aku nggak makan sayur!" ucap si wanita berapi.
"Kamu bilang 'samakan'?" pria itu mengangkat sebelah alisnya dan membuat si wanita itu kesal.
"Diganti mbak, jadi Buttery Honey Mustard Salad dan Pasta,"
"Dua gelas jus Alpukat, satu Buttery Honey Mustard Salad dan satu Pasta," ulang pelayan itu. "What else do you need, sir?" Tanya pelayan itu. Pria itu menggeleng.
Tak berapa lama makanan datang dan mereka makan dalam keheningan. Terlihat si wanita sangat sangat terpaksa memakan Pasta itu meskipun Pasta merupakan makanan kesukaannya.
"Katakan, apa yang kau inginkan?"
"Tenanglah. Minum jus ini dulu," pria itu menyodorkan pipet ke mulut si wanita. Dan dengan sangat terpaksa si wanita meminumnya.
"Cepat! Aku gak punya banyak waktu untuk melihat kau memperhatikanku seperti itu!!"
"Oh babe sabar. Aku ingin bertanya padamu sayang," jeda pria itu. "Siapa suami Viola Ardelia Stewart?" sang wanita terdiam.
"Ma-maksudmu?"
"Jangan pura pura tak mengerti babe. Ku tanya sekali lagi! Siapa.suami.Viola.Ardelia.Stewart?!" tanya pria itu dengan penuh penekanan.
"A-aku enggak tau," wanita itu mengernyit bingung. Suami?
"Jangan berpura-pura! Atau aku akan membuatmu menderita,"
"Sungguh! Aku enggak tau kalo Viola udah nikah. Sudah enam tahun aku lost contact dengan mereka dan semua itu karena kau! Kep*rat!"
Pria itu memandang datar wanita di depannya. Ia langsung menyeret wanita itu keluar dari restoran.
"Kau mau bawa aku kemana?! Lepasin! Aku mau pulang!"
"Diam!"
"Tolong!! To—hmph"
Pria itu membungkam mulut wanitanya dengan ciuman. Bibir wanita itu terluka namun tidak menyurutkan gejolak pria itu, ia malah semakin memperdalam ciumannya. Ia ingin menyalurkan kerinduannya selama enam tahun ini, ia ingin menghabisi wanita itu karena sudah berani meninggalkannya begitu saja.
Si wanita hanya bisa pasrah ia tak mampu lagi memberontak, nyatanya ia juga merindukan ciuman pria ini. Pria yang ia cintai sedari kecil, pria yang sudah mengambil kesuciannya, juga pria yang sudah membunuh tunangannya.
"Kamu hanya perlu menurut, jika tidak ingin ku perlakukan secara kasar," ucap pria itu.
Si wanita hanya terdiam, ia memalingkan wajahnya ke jendela tangisnya keluar, ia ingin membenci iblis disampingnya ini tapi tidak bisa rasa cintanya mengalahkan rasa bencinya.
Mereka sampai disebuah mansion mewah, wanita itu tau ini adalah mansion pria disampingnya.
Pria itu lagi-lagi menyeret wanitanya secara paksa, mereka langsung memasuki kamar. Pria itu menghempaskan si wanita keatas ranjang lalu menciumnya lagi.
"I want you," bisiknya parau.
__ADS_1