Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez

Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
30 (Season 02)


__ADS_3

"Sayang? Benarkah?"


Mata Viola melotot ketika melihat orang itu. Viola langsung berlari mendekati orang tersebut.


"Tolong saya, Mbak, saya diperkosa orang itu hiks. Saya udah punya suami dan anak Mbak, tolong saya. Anak saya diculik oleh orang itu, sedangkan saya diperk*sa Mbak, tolong!" mohon Viola pada wanita yang baru saja keluar dari sebuah ruangan.


Wanita itu sepertinya lebih muda darinya. Entah itu siapa yang penting Viola minta tolong dengan wanita itu. Masalah dirinya ia akan menunda, nanti ia akan mencoba menjelaskan pada suaminya. Yang terpenting sekarang adalah anak-anaknya.


Wanita itu melotot mendengar ucapan orang yang masih berlutut dihadapan nya ini. Ia memandang Joshua dengan berkobar amarah.


Joshua menelan ludahnya. "Sayang--"


"Mbak, kamu diperk*sa sama lelaki itu?" tanya wanita itu.


Viola mengangguk cepat. "Tolong paksa dia buat kasi tau dimana anak saya berada, mereka hiks mereka masih kecil hiks," mohon Viola lagi.


"KAMU JUGA MENCULIK ANAKNYA?!" teriak wanita itu.


"Sa-sayang--"


"Enggak usah sayang-sayang! Kembalikan anak-anaknya, sialan!"


"Aku enggak nyulik anak-anak dia, beneran! Bukan aku!"


"TAPI KAMU MEMPERK*SA ISTRI ORANG! AKU BENCI KAMU! KITA PUTUS!"


"ENGGAK! Gak ada kata putus! Aku enggak memperkosa dia, percayalah aku cuma bercanda doang. Tanda di dadaku kan kamu yang bikin, Sayang. Please enggak usah putus ya?"


"Jangan mendekat!" Wanita itu membentak Joshua ketika laki-laki itu mendekat. "Ayo Mbak, kita keluar dari sini, kita cari sama-sama anak Mbak," ucap wanita itu. Ia menarik tangan Viola.


"Tapi aku enggak tau anak-anakku ada dimana,"


Wanita itu kembali memandang Joshua yang masih berdiri itu.


"Dimana anak Mbak itu?!"


"Enggak tau--"


"DIMANA?!"


"Bukan aku sayang, Grace yang nyulik anak-anaknya."


"Siapa Grace?! Perempuan j*lang kamu lagi?!"


"Dulunya iya--"


"Kep*rat! Dimana mereka!" potong wanita itu, ia sangat benci dengan lelaki yang baru putus darinya itu.


"Aku enggak tau, tapi kata dia anak-anaknya Viola udah meninggal,"


Tiba-tiba jantung Viola terasa seperti dihantam benda tak kasat mata, matanya memburam, kepalanya langsung pening. Yang ia ingat terkahir adalah teriakan Joshua dan juga pacarnya.


"MBAK! / VIOLA!"


***

__ADS_1


"Istri saya sudah ditemukan?"


"Belum, Do. Aku cuma dapat Grace doang, dia masih di dalam mansion itu,"


"Kamu tidak mendapatkan informasi tentang istri saya?"


"Aku mendapat informasi dari bodyguard Grace, katanya Viola dibawa sama laki-laki pemilik mansion dimana Grace menyekap Viola,"


Mendengar penuturan Milen, Ardo mengepalkan tangannya. Ia sangat marah kepada dirinya yang tidak bisa menjaga anak dan juga istrinya.


"Lalu ular itu?"


"Grace masih terkurung bersama bodyguardnya didalamnya kamar mansion, keamanan di sana berhasil ku bobol hingga mereka tidak bisa keluar. Jangan khawatir masalah Grace, kami juga bersama polisi dan juga anak buahmu."


Setelah mendengarkan penuturan Milen, Ardo langsung mematikan ponselnya. Ia masuk ke dalam ruangan dimana Kevin, Varo dan juga Keo dirawat.


Di sana sudah berkumpul para keluarga. Bahkan paman dan bibi Ardo yang merupakan orang tua Dion pun juga hadir.


"Gimana? Viola ketemu?" tanya mama Lia. Mami Tania tidak berada disana karena menjaga papi Galih yang dirawat di rumah sakit yang berbeda. Mami Tania sudah diberi tahu, papi Galih saja yang belum karena mereka takut kesehatan papi Galih akan menurun.


Ardo menggeleng. "Viola dibawa sama laki-laki lain,"


"Om Kepin! Ayah, Om Kepin bangun!" seru Varo ketika Kevin sudah membuka matanya.


Ardo mendekati brankar Kevin. "Mengapa kamu bisa bersama anak-anak saya?!" tanya Ardo langsung.


Kevin mengernyitkan keningnya, kepalanya masih pusing jadi dia belum bisa mencerna apa yang diucapkan Ardo.


"Katakan!"


"Ardo, pemuda ini baru sadar, dia pasti masih pusing," kata Resty, bibi Ardo.


"A-apa kata bapak tadi?" tanya Kevin.


"Kenapa kamu bisa bersama anak-anak saya?"


Kevin menghela nafas, ia harus jujur dengan ini semua. "Maafkan saya Pak, sebenarnya saya terlibat dengan bang Jek dalam penculikan anak Bapak," ucap Kevin.


"Apa kamu bilang?!"


"Ayah, jangan marah marah Om Kepin, om jelek jahat Yah, Om Kepin baik," kata Varo membela Kevin. Bocah itu padahal masih berada di atas brankar miliknya.


"Saya juga terlibat dalam penculikan itu. Saya terpaksa Pak, karena saya sudah mengambil upah dimuka. Tapi saya tidak tega anak sekecil Varo dan Keong harus dibuang, makanya saya mencoba untuk menyelamatkan mereka dari bang Jek meskipun saya akan mendapatkan hukuman dari bos saya," jelas Kevin. "Saya minta maaf Pak, jika Bapak mau melaporkan saya, saya ikhlas,"


"Siapa bos kamu?"


"Nyonya Grace, dia yang sudah menyuruh kami melakukan ini,"


Ardo mengertatkan rahangnya, rasanya ia mau membunuh Grace saat itu juga.


"Lalu dimana istri saya?"


"Istri? Saya tidak tau, Pak. Saya hanya membawa Varo dan Keong,"


Ardo menghela nafasnya, kepalanya pun sangat pening. Mengapa masalah terus mendatangi mereka, rasanya Ardo tidak pernah berbuat hal yang paling dibeci oleh yang Maha Kuasa, tapi mengapa keluarganya selalu mendapatkan musibah?

__ADS_1


"Permisi, pasien bernama Kevin sudah dibolehkan pulang, silahkan mengurus administrasi kepulangan," kata suster yang baru memasuki ruangan.


"Terima kasih, Sus," ucap mama Lia.


"Pak, saya tidak memiliki uang untuk membayar rumah sakit, bolehkah saya pinjam uang Bapak? Saya janji Pak, saya bakal ganti uang Bapak," ucap Kevin. Sebenarnya ia malu untuk berbicara seperti ini, tapi mau bagaimana lagi. Ia sama sekali tidak memiliki uang sepeserpun. "Saya punya KTP, Pak. Bapak boleh pegang KTP saya,"


Kevin lalu meraba saku celananya. "Loh, kok enggak ada?" gumam Kevin.


"Ini dompet kamu?" tanya Dion, ia memegang dompet lusuh berwarna coklat. Ia menemukan itu ketika Kevin dipapah Reon waktu di hutan tadi.


"Ah! Iya Mas, itu dompet saya. Terima kasih," Kevin mengambil dompet itu lalu mengambil KTP miliknya. Namun sebuah gelang dari rajutan benang bertuliskan 'KEVIN V 8899' keluar dari dalam dompet tersebut.


Resty langsung menyenggol lengan Justin. Gelang itu mirip dengan gelang mirip Dion yang ia rajut sendiri.


"Itu punya kamu?" tanya Resty.


"Ya?"


"Gelang itu punya kamu?" tanya Resty sekali lagi. Ia ingin memastikan apakah benar atau tidak.


"Iya, Tante," jawab Kevin.


Kata pengurus panti, gelang itu merupakan gelang yang ia pakai sewaktu masuk ke dalam panti. Dulu ia selalu memakai gelang tersebut, tetapi karena gelang itu putus ia tidak memakainya lagi.


"Dimana kamu menemukan gelang itu?" tanya Resty lagi.


Orang di sana mengernyit, kenapa Resty bertanya seperti itu. Apakah ia ingin membelinya?


"Ini milik saya, Tante. Kata pengurus panti, saya memakai gelang ini saat pertama kali masuk panti," jawab Kevin.


Resty membekap mulutnya tak percaya. "Bo-boleh saya liat gelang itu?"


Kevin mengangguk, ia memberikan gelang tersebut.


"Pa ... " lirih Resty ketika gelang tersebut sudah di tangannya. Justin memandang lekat Kevin, benar ada sedikit kemiripan antara Kevin dan Dion.


"KTP kamu? Boleh saya liat juga?"


"Boleh," Kevin langsung menyerahkan KTP nya, meskipun ia agak bingung dengan tingkah wanita ini.


Resty membaca KTP tersebut nama yang tertulis di sana adalah KEVIN V, sedangkan golongan darahnya adalah AB+.


Lagi-lagi Resty membekap mulutnya, air mata sudah membendung di pelupuk mata itu. "Bo-boleh saya lihat kening kamu?"


Kevin yang masih bingung dengan sikap wanita paruh baya itu hanya bisa mengangguk mengijinkan.


Dengan tergesa Resty langsung menyibak rambut yang menutupi jidat Kevin. Seketika itu air mata Resty luruh ketika melihat sebuah tompel kecil di sudut kening Kevin.


"Kev-Kevin ... " lirih Resty. Ia langsung memeluk erat Kevin. Kevin masih bingung dengan keadaan ini pun hanya bisa terdiam, ingin dia bertanya tetapi mulutnya terasa melekat.


"Kevin! Anakku!" tangis Resty pecah diikuti isakan kecil dari Justin. Ternyata, selama ini anaknya masih hidup. Biarpun instingnya mengatakan Kevin benar anaknya, tetapi mereka juga harus melakukan tes DNA agar lebih memperkuat instingnya tersebut.


Semua orang yang ada di sana terkejut, apalagi Dion, ia sangat shock sampai rasanya tubuhnya sudah seperti jeli. Jika Kevin anak mama Resty dan papa Justin, lalu dia anak siapa? Bukankah kata mereka mama Resty dan papa Justin hanya memiliki satu anak laki-laki?


***

__ADS_1


Maaf ya saya updatenya lama dan jarang🙃 soalnya ide lagi mampet dan juga saya dalam minggu-minggu ini memiliki banyak tugas kuliah.


Mungkin kedepannya saya juga jarang update, tapi saya usahain demi kalian🤗🤗


__ADS_2