Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez

Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
25 (Season 02)


__ADS_3

Happy Reading


Semoga terhibur :)


***


From : +62 812 95xx xxxx


Ada dimna?


To : +62 812 9515 xxxx


Ini siapa?


Balas Viola ketika mendapatkan pesan dari nomor yng tidak Viola kenal.


From : +62 812 9515 xxxx


Prilly, kmu ada dimna? Lg sama siapa?


Prilly? Tumben sms gini, biasanya juga dia nge-wa.


To : +62 812 9515 xxxx


Di rs, sendiri aja. Kenapa?


Setelah mengirimkan balasan itu Viola langsung menerima sebuah telepon dari nomor yang sama.


"Kenapa, Pril?" tanya Viola.


Tidak ada jawaban dari sambungan telepon itu.


"Pril?" panggil Viola lagi.


"Viola ... "


Dahi Viola mengerut, ini bukan seperti suara Prilly.


"Ini bukan suara Prilly, siapa?" tanyanya lagi.


"Enggak kenal gue?"


Mata Viola membulat, tangannya gemetar, seketika itu kepalanya langsung dipenuhi anak-anaknya.


"Gr-Grace ... "


***


"Lu ngapain sih pake bawa hp ibuk itu?!"


"Gue enggak sengaja, gue cuma mau ambil tas bayinya aja eh ternyata ada hpnya juga,"


"Buat apa lo ngambil tas bayinya oon?! Kita cuma perlu bayinya enggak dengan tasnya juga!"


"Gue kasian aja sama bayinya, ya kali kita culik tapi enggak dikasi susu, masih bayi beneran Bang ini,"


Orang yang dipanggil Bang itu mendengus kasar. "Cepat lo buang tas dan juga hpnya!"


Dengan cepat dia membuang tas berisikan hp itu.

__ADS_1


"Sebenernya gue enggak tega nyulik nih bayi, mana lucu lagi, atau kita kembalikan aja ya Bang?"


"Jangan ******! Kita udah nerima bayarannya, Kevin! Tugas kita cuma buang bayi itu doang!" sentak orang yang lebih tua darinya itu.


Kevin tercenung, ia menatap bayi yang sedang minum susu dipangkuan nya ini. Pasti kedua orang tua bayi ini kalang kabut mencari bayinya. Kevin mengelus pipi bayi mungil itu, hatinya tak tega untuk membuang bayi ini di sungai. Ia berfikir bagaimana jika semua itu terjadi pada dirinya? Anaknya diculik dan dibunuh dengan dibuang di sungai? Pasti ia akan sangat menderita sekali.


Ingin Kevin mengembalikan bayi lucu ini kepada orang tuanya tapi apalah daya, uang sudah ia terima. Jika saja ia tidak perlu uang maka ia tidak akan melakukan pekerjaan bejat ini.


"Bang Jek, gue sebenernya--"


"Enggak tega?! Iya?! Terus kenapa lo ambil uangnya Kevin?! Yaudah gini aja, berikan uang itu ke gue terus gue yang buang nih bayi, lo enggak usah ikut!" tawar bang Jek.


"Duitnya udah gue pake, Bang,"


"Yaudah, diem! Kita kerjain tugas ini! Buang bayi itu ke sungai, beres!"


Kevin menghela nafasnya. Ini merupakan dosa terbesar yang akan ia lakukan. Semoga saja ada seseorang yang akan menolong bayi malang ini.


Sedangkan di kursi bagian belakang,


"Aduh, kepala Varo sakit," ucap Varo yang tertidur di bagian belakang mobil. Tadinya Varo bermain petak umpet dengan Keo di halaman rumah neneknya. Waktu itu ia melihat mobil yang ia kira mobil ayahnya, ia masuk dalam mobil itu untuk bersembunyi. Karena Keo tidak mencarinya jadilah ia tertidur dan melupakan sepatu yang tadi ia lepas karena tersiram air.


Varo mengintip ketika mendengar samar-samar orang dewasa berbicara. Ia tidak kenal dengan suara itu. Pada dasarnya Varo memang cerdik jadi bocah itu diam saja dan terus mengintip.


Ia melihat dua orang dewasa, yang satunya uncle jelek dan satunya seperti uncle Dion. Dan Varo juga melihat sang adik berada di pangkuan orang seperti uncle Dion itu.


"Yaudah, diem! Kita kerjain tugas ini! Buang bayi itu ke sungai, beres!"


Varo menutup mulut kecilnya, otak cerdik itu seketika berfikir mendengar kata buang.


Kalau maga-maga kulitnya harus dibuang di tempat sampah, di tempat sampah itu bau. Jadi, Keong mau di buang ke tempat sampah bau?


Teriakan Varo itu membuat para penculik itu terjengkit kaget. Siapa yang tidak kaget, orang mereka mengira hanya ada tiga orang di sini lalu tiba-tiba mengapa ada bocah lain dalam mobil ini?


"Siapa kamu?!" tanya Jek seraya melototkan matanya.


Varo beralih ke kursi tengah mobil itu, ia mencoba menggapai adiknya di pangkuan Kevin.


"Siniin dede ocil Varo!"


"Hei bocah! Diam! Atau om lempar dari sini!"


"Om jelek diem! Siniin Om dede ocil Varo, Keong takut sama om jelek itu!"


Varo menarik-narik kaki mungil Varo yang masih di pangkuan Kevin. Kevin masih terdiam memperhatikan bocah yang menyebut dirinya Varo itu, ia membandingkan wajah bayi di pangkuannya dengan Varo. Ya ada kemiripan diantaranya. Mungkin benar mereka adalah dua beradik.


Jek menepis tangan Varo hingga bocah itu terjengkal ke belakang.


"Aduh!" ringis Varo ketika punggungnya terbentur dengan kursi penumpang.


Oeekkk!


Oeekkk!


Mendengar tangisan adiknya Varo mengabaikan rasa sakit di punggungnya ia kembali meminta adiknya itu.


"Om! Siniin adik Varo! Keong nangis, kata bunda kalau Keong nangis artinya Keong lapar! Siniin gak!"


"Diam! Atau Om lempar kamu!" peringatan Jek hanya dianggap angin lalu buat Varo, yang terpenting sekarang adalah Keong adiknya.

__ADS_1


"Om, adik Varo nangis Om, siniin!"


"Ini adik Varo?" tanya Kevin.


Varo mengangguk. "Iya, Om. Keong adik Varo,"


Oekk


Oeekkk


"Berisik! Kevin! Diemin!" Kevin pun dengan sabar memberikan sisa susu tadi yang masih ada.


"Om! Jangan bentak adik Varo, nanti Varo kabarin ayah biar Om dimarah ayah!" ancam Varo.


Jek tertawa, seorang bocah mengancamnya? Yang benar saja!


"Mana Ayah kamu, mana?!"


Varo yang kesal dengan ucapan Jek itu langsung menarik tangan Jek yang sedang mengemudi dan menggigit pergelangan tangan itu dengan sekuat tenaganya.


"Akhhh! Bocah sialan!"


Oekk


Oekk


Keo kembali menangis karena terkejut dengan teriakan Jek.


"Kevin! Diemin bayi itu! Gue mau buang ni bocah! Bikin ribet aja!" Jek menepikan mobilnya.


"Gue aja yang buang, Bang. Lihat pergelangan tangan lo berdarah, takutnya itu nadi lo putus," ucap Kevin.


Jek melihat pergelangan tangannya. "Sial! Bakal rabies tangan gue! Cepat tinggalin di hutan ini bocah itu! Akh sakit banget!"


Kevin mengangguk masih dengan Keo ditangannya tak lupa dot yang masih berada di mulut bayi itu. Ia turun dari mobil lalu membuka pintu belakang.


"Varo enggak mau keluar Om, Varo takut!" mohon Varo. Bocah itu sudah berakal dan tau bahwa ini hutan yang tidak berpenghuni.


"Diam! Atau adik kamu Om lempar dari sini," ucap Kevin.


"Jangan!"


"Kevin, cepat!" sergah Jek yang sibuk dengan luka akibat gigitan Varo. Bukan main gigitan bocah ingusan itu.


"Keluar!" Kevin menarik kasar tangan Varo agar bocah itu keluar.


Setelah Varo keluar, Kevin langsung menggendong Varo lalu berlari masuk ke hutan lebat itu. Tekadnya sudah bulat untuk membatalkan penculikan ini dan menolong kedua bocah malang itu.


Sedangkan dalam mobil, Jek mengernyit ketika Kevin menggendong bocah yang telah menggigitnya lalu masuk ke dalam hutan.


"Kevin! Woi! Sialan, kemari Kevin!"


Jek turun dari mobil, ia berusaha mengejar Kevin yang menggendong bayi dan bocah itu. Namun sayang, ia kalah cepat karena tadi waktunya terbuang, ia tidak menyangka Kevin akan berkhianat seperti ini.


"Sial! Awas lo Kevin! Akh!" teriak Jek. Pergelangan tangannya kembali nyeri, ia melihat darah keluar dari sana. Sial! Mungkin nadinya putus akibat gigitan anak ****** itu.


***


Double up gaes, dan dimohon yng belum kasi jempol di chapter sebelumnya harap kembali untuk memencet jempol heheh

__ADS_1


__ADS_2