
Terima kasih buat sayang onlenku yang udah ngevote, jempol dan ngoment. Jangan pernah bosan ya sama cerita ini, i love u all😘😘
Happy Reading :)
***
"Bunda! Bunda! Varo mau liat Dede Ocil!"
Teriakan bocah berusia empat tahun itu membuat para suster dan perawat yang berlalu lalang itu menatap gemas. Bocah itu berlari dengan pipi tembam yang bergoyang seirama dengan langkah kaki kecilnya.
"Ruangan bunda Varo masih jauh!" delik sang paman yang juga berlari mengejar Varo itu.
"Uncle Ion diam aja, Varo tau," kata Varo.
Dion mendelik. "Tau apa?"
"Tau Uncle Ion omblo hihihi,"
Dion melongo, tau dari mana ni bocah? "Varo tau dari mana? Siapa ngajarin?!"
Sebenarnya Dion tidak mau membawa Varo karena ini adalah rumah sakit, bukan tempat yang bagus untuk anak-anak seperti Varo. Tapi apalah daya Dion jika dipaksa Varo disertai ancaman plus isakan hebat dari bocah itu.
"Ayah yang ngajarin,"
Lagi-lagi Dion mendelik. "Oh gitu? Sekarang udah jadi murid ayah Dodo nih? Enggak jadi murid Uncle lagi? Kalau gitu Uncle enggak mau lagi ngasi tau Varo soal jadi laki-laki sejati,"
Langkah Varo berhenti, ia berbalik menatap Dion yang bersedekap di belakangnya. Bocah itu tersenyum menyebalkan persis seperti ayahnya ketika ingin menyusahkannya.
"Varo jadi murid Uncle dong," jawab Varo masih dengan senyum menyebalkan milik Varo.
"Ya bagus," ucap Dion, ia sudah menyiapkan tubuhnya jika Varo ingin menyusahkannya lagi. Kurang baik apa lagi sih Dion ini?
Varo mengangkat tangannya. Ia menatap pamannya itu.
"Apa?" tanya Dion bingung.
"Gendong, Varo capek lari-lari terus," kata bocah itu sambil melemaskan badannya. "Kaki Varo mau lepas,"
Dion memutar bola matanya. "Varo itu berat, Uncle enggak mampu gendong,"
"Ish Uncle! Varo bilang ayah nih, Uncle tak nak gendong Varo?" ancamnya.
Lagi-lagi Dion memutar bola matanya. Ternyata memang benar, buah itu jatuh tak jauh dari pohonnya. Enggak anak enggak bapak sama aja, nyusahin!
"Sini!"
Varo langsung berlari lalu melompat ke pelukan Dion hingga Dion terjerembab ke belakang. "Pelan-pelan dong! Nanti punggung Uncle encok!" dumelnya seraya berdiri dengan Varo dalam gendongannya. "Astagfirullah, Varo. Kamu dikasih ayah kamu makan dedak ya? Berat banget, makin tambah encok pinggang Uncle,"
"Sepelti kakek-kakek, Uncle?"
"Iya!"
Varo mengangguk dalam gendongan Dion. Hingga tiba-tiba bocah itu memencet hidung mungilnya. "Uncle belum mandi, bau!"
"Enak aja! Orang wangi gini dikatain bau! Kamu tuh belum mandi," ketus Dion. Mulut anak ini memang susah untuk di rem. Kan Dion malu, sekira ucapan bocah itu terdengar oleh para pekerja rumah sakit entar orang ngira Dion belum mandi, padahal mah udah mandi kembang tengah malam~
Varo tertawa hingga terdengar ke seluruh penjuru, astagfirullah kerasukan apa sih anak pasutri sinting ini?
"Diem Varo, banyak orang sakit," tegur Dion.
"Emangnya orang sakit enggak boleh denger orang ketawa ya Uncle?" tanya Varo.
"Iya,"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Karena,"
"Karena?"
"Karena kita udah sampai di ruangan bunda,"
"Varo mau turun!"
"Kenapa?"
"Varo udah gede!"
Dion mengernyit bingung, ya sudahlah ia turuti saja.
Lalu Varo melompat kecil guna meraih gagang pintu.
Dion menggeleng. "Makanya, tumbuh itu ke atas bukan ke samping."
Varo menatap Dion garang, lalu ia berbicara dengan tangan telunjuknya ia gerakkan ke kanan dan ke kiri, jangan lupa delikan mata khas seorang Varo itu. "Tak boleh ikut-ikut tv, Uncle. Nanti Varo," Varo menaruh jari telunjuk tadi dari arah leher kiri dibawa ke leher kanan. "Erk! Mati! Hahahahahaha!"
***
"Assalamualaikum! Bunda o Ayah! Bukain pintu! Varo dan Uncle nak masuk nih!"
Teriak Varo seraya menggedor pintu ruangan Viola.
"Varo jangan teriak! Nanti dedek kamu kaget," tegur Dion. "Biar Uncle aja yang bukain,"
"Uncle diam di situ! Ndak usah lari-lari, kalau Varo udah masuk Uncle boleh masuk,"
Dion hanya bisa menghela nafas pasrah, gini amet sih murid kesayangannya ini.
TOK
TOK
TOK
"Waalaikum salam, anak soleh."
Ardo muncul membukakan pintu untuk putra sulungnya itu.
Varo berkacak pinggang. "Ayah, bukan anak Soleh, tapi anak Ayah Dodo," koreksi Varo.
Ardo menepuk pelan keningnya. "Ayah lupa, ayo masuk anaknya Ayah, kita liat dedek Ocil?"
"Oke!"
Varo berlari lalu mendatangi bundanya yang duduk menyusui si Bocil.
"Bunda,"
"Apa sayang? Mau liat dedek? Bisa naik sendiri?" tanya Viola pada putra sulungnya.
Varo mengangguk lalu mencoba naik ke brankar Viola.
"Ish susahlah, Bunda," kesalnya.
Viola tertawa lalu meletakan Bocil yang udah kenyang minum susu.
"Sini Bunda bantu," Viola lalu membantu Varo naik.
Hanya dibantu sedikit bocah berusia empat tahun itu sudah duduk di samping keranjang Bocil.
"Bunda, kenapa Dede Ocil tidur terus. Kan Varo mau ajak main Babungan yang dikasi titi Molen,"
__ADS_1
"Dede Keo lagi tidur, sayang. Enggak bisa main Bakugan sama Abang, nanti kalau udah gede baru main ya?"
Jangan terkejut dengan gaya bicara Varo yang suka mengubah-ubah sebutan itu, Varo adalah Varo kalau kata dia A ya harus A. Dari Bakugan jadi Babungan, awalnya Viola fikir Varo mau beli tabungan eh ternyata Bakugan bukan tabungan. Dan Viola tau juga karna Varo menujuk salah satu dari hiro anak-anak di tv itu. Dan untuk titi artinya adalah aunty, anak Ardo mah bebas.
"Keong? Varo ndak mau main sama keong Bunda, Varo mau main sama dede Ocil,"
Varo mengusap lembut surai Varo. "Keo Varo bukan keong. Keo nama adik Varo, jadi jangan panggil Ocil lagi ya?"
Varo mengangguk lalu menoel pelan pipi Keo yang mengembung itu.
Alceo Cleosa Vazquez, atau Keo adalah adik dari Alvaro Zeusares Vazquez, merupakan bayi laki-laki yang lahir pada tanggal 02 Februari dengan berat badan 2,5 kg dan panjang badan 53,8 cm. Dari pasangan Adelardo Cetta Vazquez dengan Viola Ardelia Vazquez. Viola bersyukur mendapatkan anak laki-laki lagi, dengan begitu akan banyak yang menjaganya.
"Ya ampun, ganteng banget sih cucu Nenek," Mami Tania berdecak melihat ketampanan sang cucu. Anak-anak Ardo ini memang tidak ada yang wajahnya terbuang, semuanya memanjakan mata. Mami Tania dan mama Lia tidak pulang, mereka menginap demi sang cucu baru.
"Halah, lucu dari mana, jelek gitu-- aduh! Sakit Mas!" Dion yang baru masuk itu mengusap tengkuknya yang baru jadi sasaran Ardo.
"Ngomong anak saya jelek saya pastikan gaji kamu enggak akan keluar!"
"Ya kali, Mas. Aunty Lia, Mas Ardo nih!" adunya pada Mama Lia.
"Enggak usah ngadu kamu! Gaji kamu beneran gak bakal saya keluarin!"
"Biarin, kan aku enggak kerja di kantor Mas lagi," ucap Dion. Dion memang sudah keluar dari perusahaan Ardo, entah angin dari mana tiba-tiba Dion menerima desakan daddy nya untuk meneruskan perusahaan Justin.
"Sombong banget Ma udah mau jadi CEO," ucap Ardo.
Dion mengabaikan ucapan Ardo, ia beralih pada Mami Tania. "Paman Galih mana, Tan? Sendirian aja?"
"Paman kamu jantungnya kumat, jadi istirahat dulu di rumah," jawab Mami Tania. Akhir-akhir ini kesehatan papi Galih emang agak menurun mungkin karena terlalu banyak bekerja. Maklum saja keluarga Stewart hanya memiliki satu anak laki-laki jadi papi Galih juga turun tangan dalam mengelola perusahaan.
"Uncle Martin mana Aunty?" kini Dion beralih lagi pada Mama Lia.
"Kamu enggak liat saya ada di sini? Ponakan durhaka kamu ya," ucap Papa Martin yang sedari tadi melihat percakapan keluarganya.
Dion menyengir. "Enggak nampak, Uncle. Kelindung tirai," ucapnya. Memang duduknya Papa Martin terlindugg oleh tirai yang tadi Viola tutup guna menyusui Keo.
"Dasar! Sini duduk di sini. Saya mau ngobrol sama kamu," ucap Papa Martin sambil menepuk sofa di sampingnya.
Dion pun mendatangi pamannya lalu mereka terjebak percakapan wejangan tentang menjadi CEO.
Ardo duduk memperhatikan wajah putra keduanya, ia berdecak kagum pada keahliannya dalam membuat bayi lucu seperti ini. Pertama Varo yang sekali tendang langsung gol, gol nya pun sangat tampan dan sempurna. Dan yang kedua memang beberapa kali nendang tapi ya gitu hasilnya sangat memuaskan. Ia jadi tak sabar untuk menantikan gol ketiga, keempat dan seterusnya.
"Dede Ocil, bangun udah siang. Kata Ayah nanti susunya diminum Ayah,"
Ucapan Varo itu membuat Viola memandang Ardo yang sedang menahan tawa itu.
"Kenapa, Yang?"
"Kamu ngapain ngajarin Varo yang enggak bener?"
"Kan udah bener, Yang. Fikiran kamu aja yang kemana-mana," kekeh Ardo.
Viola hanya memutar bola matanya.
"Halo ponakan Om Marvel yang tampan-tampan!"
"Om Epel!" seru Varo
Mereka yang berada disana memandang Marvel dengan berbagai tatapan, ah bukan Marvel tetapi lebih tepatnya wanita yang berada di belakang Marvel.
***
Hayolo, kira kira siapa yess yng di belakang Mamas Epel? Pantengin terus shayy sambil nyemil empeng dengan kopeee sianida😁😁✌✌
Maafkan saya yang baru update, dikarenakan tidak adanya kuota😭 ini aja tathering dngan teman :(
__ADS_1
Vote, like, dan komentar jangan lupa! Sekian dan terima kasih!
Eh, btw saya udah nulis prolog nya cerita Dion lho, tp kayanya bakal saya publis di Wp deh