
Keadaan Viola sudah lebih baik setelah menjalani segala rangkaian kesembuhan untuknya. Kemarin jahitan Viola sedikit terbuka, namun karena cepat diatasi tidak terjadi hal yang parah.
Para kerabat bergantian untuk menjenguk Viola maupun Ardo. Sedangkan Dion sudah kembali ke Amerika dikarenakan kemarin dia tidak sempat ijin jadi dihitung membolos.
Hari ini mami Tania sudah berjanji membawa Viola menjenguk anaknya.
Di sinilah mereka berada sekarang, di sebuah ruangan yang berisi bayi-bayi di dalam kotak persegi berdinding kaca, inkubator. Di sana, di sana terdapat seorang bayi berkelamin laki-laki terbaring damai dengan alat pernapasan dan beberapa selang menancap di tubuh bayi merah itu.
Hati Viola terenyuh, dadanya sesak melihat bayi sekecil itu berusaha untuk bertahan hidup. Semua salahnya, salah Viola karena ia kabur dari rumah, salah dia karna bersikeras untuk pulang ke tanah air. Viola ibu yang jahat, itu benar adanya.
"Maafkan Bunda, sayang ... " ucapnya lirih. Ia mengelus kaca transparan itu.
"Mi, bayi aku yang satunya di mana?"
Mami Tania menegang, inilah hal yang ditakutkan olehnya, Viola menanyakan bayinya yang lain.
"Mi?"
"Ah iya?"
"Bayi aku satunya lagi mana? Anakku kembar, Mi," ucap Viola tersenyum. Semoga anaknya yang satu itu perempuan seperti gadis kecil yang berada di mimpinya itu. Ah~ Viola tidak sabar melihat putri kecilnya tumbuh dewasa menjadi gadis yang cantik.
Mami Tania masih terdiam, entahlah wanita paruh baya itu kesulitan berkata. Karena ia mengerti perasaan Viola jika mengetahui hanya satu anaknya yang selamat.
"Mami? Kok ngelamun?" tanya Viola yang berada di kursi roda.
"Sayang," Mami Tania menatapa Viola tersenyum. "Kamu harus kuat, janji sama Mami."
"Janji! Aku kuat, Mi. Aku kuat demi anak-anakku, suamiku, demi keluarga kecilku," ucapnya tersenyum. "Tapi aku pengen liat anakku yang satunya, perempuan kah? Laki-laki kah?"
"Perempuan,"
Viola tersenyum senang. "Di mana dia?" Viola mengedarkan pandangannya.
Mami Tania memurus bahu Viola. "Anak kamu cantik, dia sudah tenang bersama kakek buyutnya di surga," ucap Mami Tania masih dengan senyum hangatnya.
Nafas Viola tercekat. "Maksud—Mami?"
__ADS_1
"Anak kamu sudah tenang, sayang."
"Mak-maksud Mami-- anakku meninggal?"
Mami Tania menghela napasnya pelan. "Sayang--"
"Mi? Mami bohong kan?"
"Sayang, kamu udah janji sama Mami untuk tetap kuat,"
"Mi, bilang sama aku, ini-- ini bercanda kan? Bercanda Mami enggak lucu,"
Mami Tania memurus bahu Viola yang bergetar. "Kamu harus ikhlas, sayang. Anak kamu sudah bahagia di sana,"
"Mi ... aku—seorang ibu yang jahat, aku—aku udah bunuh anak aku sendiri—"
"Sayang, kamu ibu yang baik. Kamu udah jaga mereka dengan baik, hanya saja Allah lebih sayang sama princess kita,"
"Mami ... hiks!"
"Kamu harus tabah, kamu harus kuat, demi anak kamu yang ini juga demi Ardo. Kamu harus merelakannya, sayang," ucap Mami Tania. Lalu ia mendorong kursi roda Viola untuk keluar dari ruangan steril itu.
"Aku mau nyusul putriku," ucap Viola dengan pandangan kosong.
Gerakan Mami Tania terhenti. "Viola," geramnya.
"Aku mau—"
"Fikiran kamu ke mana?! Apa kamu enggak mikirin Ardo?! Enggak kasian sama putra kalian?! Mereka masih butuh kamu Viola!"
Viola hanya diam, fikirannya buntu. Rasanya ia tak sanggup lagi untuk bertahan hidup.
"Bangkit, Viola! Bangkit dari keterpurukan mu! Putrimu akan sedih jika melihat ibunya seperti ini! Putramu dan Ardo pasti akan sedih jika kamu menelantarkan mereka, sadar Viola! Sadar,"
Mami Tania mengusap air matanya. "Sayang, tolong dengerin kata-kata Mami," Mami Tania berjongkok ia menggenggam tangan Viola yang seakan tidak ada darah itu.
"Hiks, tolong bangkit, Nak."
__ADS_1
Viola mendengar isakan Ibunya hanya bisa termenung. Benar, ia harus bangkit, ia tidak boleh seperti ini. Putranya butuh dirinya, suaminya butuh dirinya, putrinya akan bangga padanya. Ya, Viola harus bangkit melawan keterpurukannya! Harus!
"Mi?" panggil Viola.
Mami Tania mendongak dengan air mata yag menghiasi wajah baya itu. Viola mengusap air mata Mami, ia tersenyum. "Bawa aku ke ruangan suamiku, Mi," ucapnya masih dengan senyuman. "Aku ingin liat dia, aku ingin tunjukkan padanya aku mampu bangkit demi dirinya dan putra kami,"
Mami Tania tersenyum lalu memeluk Viola sayang. "Ini baru Viola anak Mami!"
***
Viola sudah berada di ruangan Ardo sekarang, Viola tersenyum pedih melihat orang yang dicintainya terbaring lemah dengan perban dan selang-selang kehidupan yang menempel padanya.
Ini salahnya, salah dari keegoisannya, andai saja Viola berfikir dewasa, maka kejadiannya tidak akan seperti ini. Andai saja dia tidak menyuruh Milen untuk memblok semua akses yang membuat Ardo bisa menemukannya, mungkin mereka sedang berbahagia saat ini. Andai saja dia tidak memaksa Dion untuk membawanya ikut serta, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Tapi semua itu hanya seandainya maka dari itu ia berharap Allah sedikit memberikannya keberuntungan agar Ardo bisa pulih, agar Viola bisa menebus semua kesalahannya.
Mengenai keadaan Ardo, untuk saat ini belum ada kemajuan. Kemarin saja jantung Ardo sempat berhenti selama 4 detik dan hal itu membuat semua orang nyaris pingsan apalagi Viola dia memang langsung pingsan di tempat. Tapi syukurlah Tuhan masih memberikan Ardo kesempatan untuk bertahan meskipun belum sadar tapi setidaknya jantung nya masih berdetak.
"Hai, apa kabar?" bisik Viola ke telinga Ardo. Viola yakin bahwa Ardo disini, Ardo bisa melihat dan mendengarkan ucapannya.
"I miss you," setetes air bening keluar dari mata Viola tapi dengan cepat ia menghapusnya, karena ia sudah berjanji bahwa dia tidak akan menangis karna kesedihan lagi dia akan berusaha kuat demi Ardo, demi putranya, demi putrinya di surga.
"Kamu lagi mimpi kan? Sama kayak aku kemarin,"
"Kamu ketemu anak kita enggak? Kemarin aku ketemu loh, dia mirip banget sama kamu. Rambut nya aja mirip aku, aku cemburu tau enggak sih,"
"Maafin aku ya. Aku gak bisa jaga putri kita dengan baik," ucapnya. "Tapi aku janji, aku nggak akan nelantarin kalian berdua, aku janji, aku bakal menebus semuanya." Viola merasakan angin membelai lembut kepalanya padahal ruangan ini tidak ada ventilasi yang menyebabkan angin masuk, Viola sadar bahwa yang membelai rambutnya adalah Ardo. Viola menengadah ke atas agar air matanya tidak keluar.
"Aku tau kamu denger, aku mau bilang sesuatu ke kamu,"
Viola mendekati telinga Ardo lalu berbisik. "Aku ... ah gak jadi, nanti aja," Viola menjauhkan lagi wajahnya.
"Kamu penasaran enggak? Kalo penasaran makanya bangun,"
Viola memperhatikan wajah Ardo dengan teliti. "Kamu ... ganteng," pipi Viola terasa panas setelah mengatakan itu. "Aku ... boleh cium kamu?" lagi-lagi pipi Viola memanas.
Dengan malu-malu Viola mendekatkan wajahnya lalu mencium pipi Ardo yang semakin tirus.
Cup
__ADS_1
Bersamaan dengan itu pula mata Ardo terbuka perlahan. "Viola ... "
The magic of a kiss~