
Lima bulan kemudian,
Keadaan Ardo sudah pulih kembali dan mulai beraktivitas seperti sedia kala, seperti ke kantor ia sudah mulai bekerja dari satu minggu yang lalu.
Semuanya berjalan normal, tapi tidak bagi hati Viola. Ia masih bingung dengan hubungan mereka. Dia ingin menanyakan tapi malulah, dulu dia juga mengorbankan harga dirinya saat mengungkapkan perasaan nya pada si Kulkas itu. Dan sekarang Viola harus mati-matian menjaga mulutnya agar tidak mengungkapkan hal yang aneh-aneh.
Mengenai jantung, jantung Viola masih saja berdetak kencang saat berada di dekat Ardo. Seperti sekarang saja contohnya, padahal dia hanya ingin mengingatkan Ardo makan siang.
"Ardo, makan siang dulu," katanya lalu ia mengarahkan pandangannya pada bayi di pangkuan Ardo. "Varo, sini sama bunda."
Alvaro Zeusares Vazquez, bayi yang biasa dipanggil baby Varo itu sudah berumur delapan bulan. Bayi lucu itu merupakan paduan yang pas antara Ardo dan Viola. Pipinya yang gembul membuat siapa saja ingin mencium bahkan mencubit pipinya, dan hal itu membuat Viola kalang kabut. Mau negurin enggak enak, ya beginilah Viola suka gak enakan sama orang meskipun orang suka enakan sama Viola. Semoga kalian enggak bingung kata-katanya.
"Bubububu," ucap baby Varo. Ia meronta dalam pelukan ayahnya. Ardo memberikan baby Varo pada Viola lalu memandang Viola intens. Viola dibuatnya salah tingkah, Ardo dapat melihat rona merah di pipi istrinya itu.
"Makan di luar saja, kita makan bertiga," kata Ardo dengan mata yang menusuk ke mata Viola.
Sialan, Ardo!
Baby Varo hanya menatap kedua orang tuanya dengan mata berkedip lucu.
"Bububu ..." bayi lucu itu lagi-lagi bergumam sambil menepuk dada Viola dengan matanya sudah berair. Bayi itu kelaparan ternyata, Viola yang peka pun langsung mencari tempat duduk yang nyaman untuk menyusui putra menggemaskannya itu. Langsung saja Viola membuka tiga buah kancing bajunya, mata baby Varo berbinar lalu mengisap pabrik susu yang rasanya tidak akan ia dapatkan dari manapun.
Viola tidak malu untuk menyusui bayinya di depan Ardo, Ardo pun tidak bereaksi apa-apa melihat itu. Tapi hal itu membuat Viola semakin takut jika Ardo tidak akan pernah mencintainya. Selama mereka melanjutkan pernikahan, mereka tidak pernah melakukan hal yang biasa dilakukan oleh suami istri.
Bukannya Viola haus akan sentuhan, tapi istri mana yang tidak berfikir macam-macam jika suaminya tidak pernah menyentuhnya, sedangkan seorang pria matang biasanya haus akan sentuhan.
"Aku mau ganti baju baby Varo dulu, kamu tunggu aja," ucap Viola melangkah keluar.
Sepeninggal Viola, Ardo mengeluarkan ponselnya lalu menelpon seseorang.
"Sudah?"
"100%"
Ardo menutup panggilan itu lalu tersenyum miring. "Tunggu saja,"
***
"Kita mau makan di mana?" tanya Viola saat Ardo sudah berada di dalam mobil. Baby Varo duduk anteng di pangkuan Viola. Viola heran, apakah bayinya nanti akan mengikuti jejak es ayahnya? Secara bayi itu tidak sering mengoceh seperti bayi lainnya. Semoga saja enggak, gila aja yekhan Viola akan dikelilingi oleh kutub dong, dan secara perlahan ia akan menjadi seperti orang-orang suku eskimo.
Ardo menatap Viola sebentar. "Ikut saja," jawab Ardo sekenanya.
"Do, please. Nggak usah deh ngeluarin es kamu di depan putraku," Viola memperhatikan baby Varo yang sedang mengucek matanya, tanda ia akan mulai terlelap. "Aku enggak mau putraku ketularan dingin kayak kamu,"
"Dia juga putra saya,"
"Oh gitu, aku hampir lupa siapa ayah Varo," celetuk Viola.
Hening
"Sebenarnya kita mau makan kemana?" lagi, Viola merutuki mulutnya yang gatal ingin bertanya itu. Lihat Ardo sama sekali tidak menggubrisnya. Viola sempat berfikir apakah keputusannya untuk menerima Ardo itu sudah benar? Ah sial Viola baru ingat bukankah Ardo memintanya untuk melanjutkan pernikahan?
"Aku nyalain radio, boleh?"
"Hmm,"
Viola berdecak. Jika saja baby Varo enggak tidur mungkin ia tidak akan kesepian seperti ini. Ya setidaknya ada lah yang dapat dia cium atau apa gitu.
Viola lalu memutar radio itu.
Hallo semuanya, selamat bergabung buat para orang-orang yang cintanya bertepuk sebelah tangan.
Bagi kalian yang pernah ditolak cintanya, jangan sedih, jangan putus asa, apalagi sampai bunuh diri. Karena, gue yakin lelaki atau wanita tidak hanya ada dia di dunia ini—"
Tiba-tiba siaran itu berganti, dan pelakunya adalah Ardo.
Lagu ini request dari sahabat kita yang cintanya bertepuk sebelah tangan—
Lagi-lagi Ardo mengganti siaran itu. Bukan diganti melainkan mematikan radio itu. "Putar lagu saja," ucapnya. Lalu ia memutar lagu.
Aku mencintaimu tanpa syarat,
Aku rela menunggu sangat lama,
Katamu suatu saat aku pasti ... jadi cintamu—
Tiba-tiba lagu itu menjadi instrumen Mozart. Viola mendelik kesal.
"Kok diganti sih?!" ketus Viola.
"Instrumen itu aja, lebih bagus untuk otak, terutama baby Varo dan ... " sahut Ardo. Ia lalu memandangi jalanan depannya, "kamu." Lanjutnya.
Viola mendengus kesal. Emang otaknya lagi bermasalah, gitu? Dasar suami jelek.
Jadilah sepanjang perjalanan instrumen itu yang menjadi hiburan mereka.
Perjalanan mereka memakan waktu harmpir satu jam lebih itu akhirnya sampai juga. Ternyata Ardo mengajak Viola makan di sebuah Restoran berbintang di dekat pantai. Pantas saja lama!
"Kamu masuk duluan, bilang saja atas nama Ade," Ardo langsung pergi meninggalkan Viola yang masih kebingungan. Baby Varo sudah di ambil Ardo, jadilah dia sendirian disini.
__ADS_1
"Jadi? Aku ditinggal gitu? Astaga! Dasar kulkas, bisa-bisanya dia ninggalin tanpa kepastian gini," dumel Viola namun ia tetap memasuki restoran itu. Kayaknya Ardo itu sama kaya keturunan nabi Adam yang lain, yaitu meninggalkan tanpa kepastian.
Sesampainya di dalam, Viola celingak celinguk mencari meja resepsionis di restoran ini.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Meja atas nama Ade,"
"Mari saya antar,"
Viola pun mengikuti si resepsionis tadi.
"Ruangannya di nomor 1. Silahkan, semoga anda menyukai pelayanan kami,"
"Terima kasih,"
Viola langsung membuka pintu itu. Mata Viola terbelalak melihat pemandangan di depannya ini.
Dia tidak salah ruangan kan?
"Mbak, saya ... loh si mbak tadi mana?" tanya Viola pada dirinya sendiri ketika tidak mendapati mbak yang mengantarnya tadi.
Karena penasaran Viola masuk kedalam ruangan itu. Ia jatuh cinta pada ruangan yang sudah di desain sangat indah ini. Tempat ini sangat romantis sekali. Dindingnya terbuat dari kaca transparan dengan tirai putih yang menutupi nya. Jika tirai itu dibuka maka hamparan pasir pantai dengan air lautnya akan terlihat disana. Meja dan kursi di ruangan sudah ditata sedemikian rupa dengan bunga mawar dalam vas bening sehingga tempat itu terasa semakin romantis saja kesannya.
Apakah Ardo mengajaknya lunch romantis?
Ahh ... membayangkan saja sudah membuat pipi Viola memanas.
Ardo sangat beda sekali, orang biasanya akan dinner romantis dia malah lunch romantis. Boleh nggak sih ia makan sekarang? Kalau lagi seneng bawaan nya pengen makan terus hehe.
Eh tapi, Ardo nya kemana?
Tiba-tiba saja 4 orang pelayan datang dengan membawa makanan. Tapi kan Viola belum pesan.
"Maaf Mbak, Mas. Tapi saya belum pesan apa-apa?" ucap Viola
"Sudah di pesankan, Mbak,"
"Loh? Siapa? Laki-laki?"
"Iya,"
"Gendong bayi?"
"Iya,"
"Terus di mana mereka sekarang?"
30 menit berlalu namun Ardo tak kunjung datang. Terpaksa Viola memakan makanan itu sendiri. Ahh ... hilang sudah harapannya untuk lunch romantis bersama Ardo.
Baru saja beberapa suap Viola makan seseorang masuk keruangan itu dengan nafas terengah-engah. "Mbak, Mbak Viola kan?" tanya orang itu sambil mengatur nafasnya.
Viola mengangguk. "Iya, saya Viola. Kenapa?" Viola merasakan perasaan tidak enak.
"Su-suami Mbak huh huh pantai ... ombak—bayi itu—" dengan terbata-bata orang itu mengucapkan nya. Jantung Viola pun langsung berdetak kencang.
Ia tidak merespon apa-apa, Viola langsung berlari menuju pantai. Ia tak perduli lagi dengan teriakan orang yang di tabraknya.
Perasaan Viola tak menentu sekarang ini. Viola merasakan jantungnya di cabut secara paksa.
"ARDO! VARO!!" Viola berteriak nyaring saat berada di pantai itu, tidak ada sahutan sama sekali yang ada hanya suara deruan ombak yang saling menghempaskan gelombangnya.
Air mata Viola luruh saat melihat ombak yang begitu tinggi dengan angin kencang di sekitar pantai. Fikiran-fikiran buruk pun menggerayangi otaknya.
"Ardo ... hiks ... Varo! Jangan tinggalin bunda," Viola terduduk di pasir menghadap ke lautan seraya menangis tersedu-sedu.
"Ardo, Varo! Kalian di mana?!" lagi-lagi Viola berteriak. Enggak bisa ya Viola itu hidup nyaman bersama keluarganya? Ada aja cobaan yang menimpa keluarga kecil yang baru ia bangun. Apakah dulu dia ini reinkarnasi pendosa, sehingga dia harus menanggung akibatnya sekarang? Ia ingin bahagia, itu saja.
Tiba-tiba sebuah tangan mungil mengulurkan setangkai bunga mawar merah ke hadapannya. Viola mendongak, ia mendapati seorang gadis kecil dengan gaun putih yang memberikannya bunga itu.
Apa ini, pertanda apa lagi?
Viola menerima bunga itu dengan bingung. Kemudian gadis kecil tersebut berlari berdiri agak jauh dari Viola.
Apa yang dilakukan anak itu?
Kemudian ada anak laki-laki dengan memakai kemeja putih dan membawa setangkai bunga Lily lalu memberikan lagi kepada Viola. Anak lelaki itu berlari dan berdiri di samping anak perempuan tadi.
Lalu, anak perempuan lainnya menyusul dan memberikan setangkai bunga Aster. Kemudian berdiri di samping anak lelaki tadi.
Begitulah, seterusnya hingga menjadi tiga pasangan dengan memberikan Viola setangkai bunga yang berbeda. Anak-anak itu berdiri berdampingan dan tersenyum kearah Viola.
Viola mengernyit dengan masih terisak.
"Apa yang—"
"Viola,"
Viola berbalik mendengar namanya di panggil. Matanya terbelalak melihat pria yang sedang menggendong bayi dibelakang nya ini. Ia ingin berlari dan menghambur ke pelukan pria itu namun dengan cepat pria itu mencegat nya.
__ADS_1
"Tetap di situ,"
Pria itu menghampiri Viola dan memberikan sebucket besar bunga Lily. Viola menangis menerima bunga itu. Dan Viola baru sadar, kapan Ardo mengganti pakaiannya dan baby Varo menjadi kemeja putih? Mengapa mereka sangat mirip sekali?
"Kemana—"
"Menurut orang ini pasti belum romantis. Tetapi menurut saya ini adalah yang paling romantis, tidak mudah bagi pria seperti saya ini berdiri dan menyatakannya padamu," ucap Ardo. Baby Varo yang doyan tidur itu hanya memainkan kelopak Lily, sesekali ia menggigit kelopaknya.
"Saya tidak akan mengulangnya lagi, jadi dengarkan baik-baik," lanjutnya.
"Aku mencintaimu,"
Ini prank?
Tolong yang buat prank hentikan semua ini, Viola nggak mau kalau ternyata hanya prank sedangkan ia sudah berharap lebih.
"Mungkin ini terlalu to the point, tapi ketahuilah saya sulit sekali merangkai kata-kata. Ini saja sudah bagus sekali. Semuanya ini 'pun saya mendapatkan nya dari google, "
Astaga! Kenapa jujur sekali. Viola tertawa dibalik isakannya.
"Viola, maafkan saya karena banyak salah denganmu, maafkan saya yang belum bisa menjdi suami terbaik buat kamu, dan ayah terbaik buat Varo. Tapi ketahuilah, saya mencintai semua yang ada pada dirimu, saya mencintai banyak kekuranganmu dan saya menghargai sedikit kelebihanmu,"
Ok! Abaikan saja!
Ardo menekuk lututnya lalu mengeluarkan cincin yang berada dalam sakunya itu. Sedangkan baby Varo sudah bermain di atas pasir, untung saja bayi itu tidak nakal, jadi dia duduk asik dengan kelopak Lily yang bentuknya sudah tidak berupa.
"Beranjak tua lah bersamaku," dengan sekali tarikan nafas Ardo mengatakan itu.
Nafas Viola tercepat. Astaga! Dia tidak bisa berbicara apa-apa lagi. Syaland sekali si Ardo ini! Sekali manis, manis nya enggak nahan.
Viola baru sadar anak-anak tadi ternyata sudah berada didepannya dibelakang Ardo. Dan anak-anak itu membawa semacam tulisan ... Astaga!
VIOLA WILL YOU MARRY ME?
Ya Allah! Viola membungkam mulut nya tak percaya. Benarkah ini?
Ingin rasanya dia melompat-lompat di sana dan berenang dari samudra Hindia ke samudra Pasifik dan kembali lagi kemudian mengikat Ardo ke ranjang! Ok Viola mulai lebay dan mesum.
"Viola, will you marry me ..." Ardo menatap mata Viola.
"... again? " Ardo masih bertekuk di hadapan Viola.
"SAY YES!!!"
Viola mendengar suara teriakan orang di belakangnya lalu menoleh ke belakang. Di sana sudah ada orang tua Ardo dan Viola, Marvel, Anton, Prilly yang juga mengendong anaknya, Millen yang mengenakan dress, dan juga Dion menggandeng wanita lagi. Sekali lagi Viola tidak percaya ini.
"Viola, will you—"
"YES! YESS! I will," teriak Viola disertai anggukan bersemangat nya.
Ardo tersenyum lebar lalu menyematkan cincin ke jari manis Viola. Ardo pun berdiri kemudian memeluk erat Viola dengan mengucapkan kata cinta.
"Saya akan ulangin ini hanya demi kamu, I love you,"
Viola tertawa dalam pelukan Ardo. "Me too, Kulkas," lalu mereka mendengar suara tangis baby Varo yang menatap kedua orang tuanya itu, semuanya tertawa melihat tingkah baby Varo yang seakan akan iri melihat kedua orang tuanya.
Ardo terkekeh, lalu menggendong putranya. Kemudian i dan Viola mengecup pipi baby Varo yang memerah. "Kami juga mencintaimu," ucap mereka bersamaan. Tak lupa Dion menjepret moment bahagia keluarga kecil itu.
Akhir yang manis bukan? Di balik semua masalah yang kita hadapi pasti akan ada hikmahnya. Sehabis ini Ardo berharap ia akan bisa mengganti semua air mata Viola dahulu dengan air mata bahagia. Ya dia hanya bisa berharap semuanya menjadi kenyataan di kemudian hari.
.
.
.
"Kamu cantik kalo pake dress,"
"Pardon?"
"Tidak,"
***
End :')
Happy 500k readers🎊🎊🎉🎉🎉
Sesuai janji, ini saya update epilognya (nggak punya prolog tp punya epilog wkwk). Panjang lho, 2000 kata ini hehe. Bismillah, semoga cerita ini bisa tembus 1 M aamiin🙏
Alhamdulillah akhirnya cerita ini bisa selesai juga. Terimakasih buat para reader tercinta yang sudah setia membaca ini, terima kasih buat kecepatan jempol kalian. Saya ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya.
Jangan hapus dulu cerita ini dari favorit kalian, karena saya berencana mau kasi sedikit part tambahan setelah Ardo dan Viola kembali bersama, karna menurut saya masih banyak yang belum terungkap dari cerita ini. Dan tentu saja jika kalian mau, kalau nggak mau artinya cerita ini hanya sampai di sini.
Tapi, kalian mau nggak?
Dan ada beberapa yang mau season dua, rencanya juga saya mau bikin, tapi bukan lagi kisah Ardo dan Viola melainkan anak-anaknya, ya Varo akan punya adikkk ehehe. Untuk kelanjutan dari ceritanya akan saya umumkan di sini, so jangan hapus dulu yaa nantikan kelanjutannya ehehe :)
Selamat sore :) eh udh sore belum? Wkwk
__ADS_1
500 jempol bisa nggak ya🙈