
"Tenang Viola, di sini udah ada gue yang akan membantu—" Grace mengelus pipi Viola sayang.
"—dia menghabisi nyawa lo!"
'PLAK'
'PLAK'
'BUGH'
"Uhuk ... uhukk uhukk," Viola terbatuk. Perutnya sangat sakit setelah mendapatkan tinjuan di sana.
"Ber—nad?" nafas Viola tersengal-sengal. Viola menangis, ia tak menyangka Grace melakukan itu padanya. Oh ternyata Grace memang datang sebagai Dewi, tapi Dewi Medusa.
"Se-sebenarnya apa mau kalian? Apa salahku ... pada kalian? Grace, ke-kenapa lo tega ngelakuin ini?" tanya Viola dengan sisa tenaga yang ia miliki. Ia ingin pingsan, namun tidak bisa. Rasanya Tuhan ingin Viola merasakan sakit ini lebih lama.
"Lo emang pantas dapatkan ini! Lo udah ngerebut semua yang seharusnya jadi milik gue!" ucap Grace murka.
Viola mengernyit bingung. Apa maksud Grace? Merebut semua? Bahkan rasanya Viola selalu mengalah untuk Grace. Bagian mana Viola merebut itu?
"A-apa maksud lo?"
"Jangan pura-pura enggak tau! Dari SMA Lo selalu ngerebut orang yang gue incar, lo selalu ngerebut perhatian guru maupun teman yang harusnya perhatian itu buat gue! Karna gue lebih dulu masuk SMA itu daripada lo!"
Memang, Viola adalah murid pindahan. Awalnya ia senior high school di Filipina, namun karena suatu hal ia harus pindah ke Indonesia lagi. Dia berteman dengan Grace dari SMP, karena mereka satu sekolah. Dan ada saat SMA Viola pindah ke Filipina.
"... sampai kuliah pun Reynald yang harusnya jadi milik gue berpaling karena lo! Tapi gue bersyukur lo enggak bisa bertahan sama dia karena dia lebih memilih Lumira, usaha gue enggak sia-sia buat ngehasut dia." Grace tertawa iblis setelah mengatakan itu.
Viola tak kuasa lagi menahan isakannya, ternyata orang terdekatnya sendiri yang membuat hubungan asmaranya selalu berakhir kandas. Wajar saja para mantan Viola selalu memutuskan hubungannya secara sepihak dengan alasan yang tidak jelas. Ternyata Grace dalang dari semuanya. Inilah membuat Viola takut akan seorang sahabat, ia takut akan seperti ini. Musuh dalam selimut, tidak salah dengan peribahasa itu.
"Bukan itu yang buat gue murka saat ini! Tapi ... saat lo ngambil Ardo dari gue!" teriak Grace di iringi tamparan melayang ke pipi Viola. Pipi Viola seakan mati rasa, karena tamparan bertubi-tubi ia dapatkan.
__ADS_1
Viola memejamkan matanya menghalau rasa sakit di badannya terutama bagian perut yang serasa diaduk aduk. "Gr—ace, l-lo tau kan gu-gue dijodohin—"
"Ya! Sebelum dijodohkan dengan lo, Ardo udah dijodohin dengan gue! Gue frustasi ketika keluarganya memutuskan perjodohan ini secara sepihak! Dan itu semua gara-gara lo! Gue sakit saat lo bersanding dengan Ardo! Gue benci lo, VIOLA! Gue benci KALIAN BERDUA!"
Viola menggeleng sambil menangis. Kalau tau Ardo sudah dijodohkan dengan Grace mungkin Viola akan mengalah, mungkin Grace enggak akan murka padanya. Mungkin sekarang mereka sudah bahagia, mungkin--
"Dan gara-gara Ardo juga adikku meninggalkan dunia ini," Viola menoleh kearah Anton yang sudah terduduk lemah.
"Hiks a-apa maksudmu?"
"Kau tidak tau seberapa brengseknya suamimu itu? Baiklah akan ku ceritakan sebuah kisah lama ini. Dan akan kupastikan jika kau merasa akan layak mati setelah mendengar fakta ini," Viola masih terdiam sambil sesegukan.
" ... aku memiliki seorang adik, mungkin seusia denganmu. Namanya Rosie. Dia adalah gadis periang dan jarang sekali bersedih hingga kejadian itu ... "
Flashback on
Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya gadis itu tersenyum, ia sangat bahagia setelah mendapat perhatian kecil dari sang pujaan hati. Hanya perhatian kecil tapi sungguh hal sekecil itu dapat membuat bunga dihatinya mekar dengan sempurna.
"Halo kakakku," gadis bernama Rosie itu memeluk kakak lelaki yang berdiri di hadapannya. Dirumah itu hanya ada Anton dan Rosie. Ayah dan ibunya sudah lama bercerai. Ayahnya pergi entah ke mana sedangkan ibunya sudah meninggal karna terus terusan sakit.
Anton terkekeh dan membalas pelukan adiknya. "Princess ku kayaknya bahagia banget? Ada apa? Cerita ke kakak dong," pinta Anton.
Tiba tiba wajah Rosie merona. "Eum itu, kak Ardo tadi membersihkan wajah Rosie saat terkena lencitan air, Kak. Rosie bahagia sekali,"
Anton termenung.
Tidak boleh!
Ardo tidak boleh bersikap seperti ini jika tidak menyukai Rosie. Perlakuan nya itu hanya akan membuat Rosie semakin patah hati.
Anton tau, sahabatnya itu— Ardo tidak menyukai adiknya entah apa alasannya.
__ADS_1
"Kak Anton! Iih kakak kok melamun sih! Denger gak apa yang Rosie ceritain?" kesal Rosie.
"Hah? E-eh. Kakak denger kok," Anton tersenyum seraya mengelus rambut Rosie.
"Rosie, seharusnya kamu jangan berharap banyak dengan Ardo," ucap Anton lembut.
Seketika raut wajah Rosie berubah masam, ia tau kakaknya pasti tidak menyukai itu. "Kenapa, Kak? Apakah Rosie tak berhak bahagia?"
"Bu-bukan begitu— Rosie! Rosie!" teriak Anton saat melihat Rosie langsung berlari ke kamarnya.
Anton mengusap wajahnya kasar. Anton sudah tidak tau lagi gimana caranya berbicara pada adiknya itu.
***
"Minumannya Kak,"
"Diminum ya, Kak. Rosie bikinnya penuh cinta hehe,"
"Aku ada tissue Kak,"
"Sini deh, aku aja lapin keringat Kakak,"
"Kakinya aku pijit ya?"
"Stop! Jangan sentuh gue!!" Ardo menepis tangan Rosie kasar.
"Aku kan cum—"
"Udah berapa kali gue bilang sama lo! Jangan ganggu gue! Jijik gue sama lo itu!"
"Tapi—"
__ADS_1
"Tapi apa?! Gue udah muak sama semua perhatian lo! Gue muak sama semua tingkah laku lo! Gue juga muak dengan wajah lo! Dasar wanita murahan!"