
Sudah berpuluh-puluh pesan yang dikirimkan Viola untuk Ardo, Namun Ardo sama sekali tidak membalas nya. Jangankan membalas, membacanya saja tidak.
Apa jangan jangan Ardo gak suka dengar aku hamil?
Apa jangan jangan Ardo gak nerima ini anaknya? Dan nyuruh--
Viola menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin Ardo menyuruhnya aborsi. Akh sial! Seharusnya kata kata itu tidak boleh di ucapkan ataupun terfikirkan oleh Viola.
Viola mengelus sayang perut nya yang sudah sedikit membenjol itu.
"Sayang, nanti kamu panggil ibumu ini apa?"
"Ibu? Bunda? Mama? Mami? Mom atau ... Mommy?"
"Kayaknya bunda aja ya? Lebih enak dengernya,"
"Sayang, kamu kangen ayah enggak? Kok Bunda kangen sama ayah ya? Tapi, ayah kangen kita gak ya?"
Kembali air mata Viola menetes. Viola sangat rindu Ardo, meskipun baru satu hari di tinggal namun rindu Viola seperti di tinggal bertahun-tahun. Hormon sialan! Viola benci ini, ia benci kenapa ia lemah sekali, ia benci dengan dirinya yang sekarang.
Viola beranjak dari sofa menuju ke kamarnya. Hari sudah gelap dan Viola pun tertidur. Viola berharap di pagi harinya Ardo ada di samping Viola dan memeluk erat tubuhnya, menyalurkan kehangatan yang belum ia dapat selama beberapa hari ini.
Namun harapan tinggal harapan. Keesokan harinya Viola tidak mendapati Ardo di sampingnya. Ardo tidak pulang.
Viola merasakan perut nya bergejolak. Ia berlari ke wastafel lalu memuntahkan isi perutnya.
Huekkk ...
Huekkk ...
Huekkk ...
Hanya cairan bening yang keluar dari mulut Viola seperti hari-hari kemarin, kata dokter itu wajar jika kandungan memasuki trimester pertama. Usia kandungan Viola baru jalan 8 minggu. Ia membasuh mulutnya dan mengelap nya dengan tissue kemudian mengelus perutnya lagi.
__ADS_1
"Seneng banget ya nyiksa Bunda," ucap Viola seraya tersenyum.
"Kita bikin sarapan yuk. Bunda laper,"
Viola lalu membuat sarapan untuk dirinya dan juga baby dalam perutnya. Sarapan pagi ini Viola membuat nasi goreng saja. Viola membuat banyak nasi goreng. Firasat nya mengatakan bahwa Ardo akan pulang pagi ini.
Dan benar saja, saat Viola asik menyantap nasi goreng nya Ardo muncul di balik pintu apartemen dengan gontai. Ardo nampak kurang tidur, terlihat dari kantong mata Ardo yang sudah agak kehitaman. Kenapa enggak tidur?
Viola menghentikan suapannya, lalu tersenyum pada lelaki itu. "Ardo baru pulang? Ayo sarapan dulu. Aku bikin banyak ini," ajak Viola
"Saya capek," sahut Ardo datar lalu masuk ke kamarnya.
Lagi-lagi Viola meneteskan air mata. Hormon kehamilan ini benar-benar membuat Viola jadi cengeng. Sudah tau kan Viola benci hormon ini?
Tak habis akal, Viola membawa sepiring nasi goreng beserta secawan air putih itu untuk Ardo. Viola masuk ke kamar kemudian meletakkan nampan berisi makanan itu di atas nakas.
Viola mencari keberadaan Ardo namun Ardo tidak ada. Lalu Viola melihat pintu ruangan kerja Ardo terbuka. Feeling Viola mengatakan pasti Ardo ada di sana.
Dan benar! Ardo disana sedang mengerjakan sesuatu. Viola menggelengkan kepalanya lalu mendekat ke arah Ardo.
Ardo tidak memperdulikannya ia malah masih berkutat dengan laptopnya sesekali ia memijat pelipisnya. Viola merasa kasihan dengan suaminya itu, ia merasa membicarakan kehamilan bukan waktu yang tepat kemarin, tapi mau bagaimana lagi salahkan saja Viola yang gegabah ini.
"Ardo, kamu bisa makan dulu, habis itu baru lanjutkan lagi," ucap Viola selembut mungkin.
Ardo masih tidak menjawabnya, Viola berinisiatif untuk menyuapi Ardo. "Aku suapiโ"
"Bisa tidak kamu diam?!" Bentak Ardo. "Saya pusing Viola!" lanjutnya.
Viola terkejut lalu tersenyum miris. "Kamu kenapa sih? Salah ya aku khawatir sama suami aku sendiri?" tanya Viola. Ia menghapus air mata sialan yang entah darimana datangnya itu. "Apa pekerjaan lebih penting daripada kesehatan kamu sendiri?" lanjutnya.
"Pekerjaan lebih penting bagi saya! Saya kerja mati-matianโ"
"JIKA PEKERJAAN LEBIH PENTING BAGAIMANA DENGAN AKU?! APA AKU TIDAK PENTING BAGIMU?!" Viola yang sudah kesal dengan Ardo 'pun langsung meluapkan amarahnya.
__ADS_1
Ardo terdiam mendengar teriakan Viola.
"Keluar," ujar Ardo datar.
Viola tidak bergeming dan hal itu membuat Ardo semakin marah.
"KELUAR!" bentak Ardo.
Viola lagi lagi terkejut mendengar bentakan Ardo. Ia pun berlalu namun berhenti lagi ketika berada di depan pintu. "Makanlah sarapan di atas meja itu. Setidaknya isi perutmu dulu. Dan ketahuilah ..."
"... Aku dan baby akan selalu mencintaimu,"
***
Sore harinya Viola pulang ke apartemen, seperti biasa aprtemen itu kosong. Viola teringat akan baju kotornya menumpuk, ia pun segera pergi ke tempat pencucian baju.
Viola memilih pakaian kerja Ardo karena ia akan mencucinya dengan tangan, ia takut kemeja Ardo akan rusak jika dicuci menggunakan mesin.
Saat Viola mencuci kemeja Ardo yang terakhir ia dikejutkan dengan noda lipstik yang menempel di bahu baju Ardo, dan itu adalah kemeja tadi yang ia pakai. Lagi-lagi Viola menangis, ia berfikir Ardo selingkuh darinya. Ia masih dengan sabar mencuci pakaian Ardo hingga menjemurnya, mata Viola sudah bengkak ia ingin berpikiran positif tapi tetap saja air mata itu terus mengalir.
Tapi, mana mungkin Ardo selingkuh, orang Ardo aja lempeng banget, pikirnya.
Mungkin nanti Viola akan menanyakan ini, tapi bukankah Viola terdengar sepeti wanita yang possessif?
Ting tong
"Ah mungkin Ardo," ucapnya lalu bergegas membuka pintu.
"Udah pulangโ" Viola terkejut bukan main ketika bukan Ardo yang datang melainkan wanita cantik dengan postur tubuh bak model papan atas.
***
(Mau kabur duluuu, takut ditimpuk nitijen๐๐๐)
__ADS_1
(Ayoo hujatlah Ardo dengan kiloan cabe kalian๐๐๐๐๐๐๐๐)