
Sudah dua minggu berlalu sejak kejadian 'itu', berterima kasihlah pada mama Lia dan mami Tania yang mempunyai ide sangat brilliant itu, berkat merekalah Ardo dan Viola semakin lengket. Sudah banyak kemajuan di antara keduanya. Hanya saja, kata 'cinta' belum terucap sampai sekarang.
Saat ini Viola sedang berbelanja bahan makanan di mall. Ia teringat akan Ardo, dengan cepat ia mengetikkan pesan.
To : Icecream
Aku lagi blanja mkanan nih. Kmu mau aku msakin apa? Skalian biar di beliin bhannya.
Tak berapa lama Ardo membalas pesan Viola.
From: Icecream
Yg pntng jgn pdas. Kmu hti2 blnjany :')
Viola tersenyum saat membaca pesan yang teramat singkat dari Ardo. Perhatian kecil Ardo membuat Viola semakin mencintai nya.
Ya, Viola mencintai Ardo. Entah kapan rasa itu tumbuh tapi yang jelas ia sudah mencintai suaminya itu.
Rencananya Viola akan mencari momen yang pas untuk mengungkapkan perasaan nya itu. Ia berharap jika Ardo mempunyai rasa yang sama padanya. Jikapun Ardo tidak mencintai dirinya maka Viola akan berusaha membuat Ardo jatuh cinta padanya meskipun akan sulit mengejar cinta seorang Adelardo Cetta Vazquez.
Enggak masalah 'kan jika sesekali kaum telur mengejar kaum sp*rma? Kasian kaum sp*rma yang selalu ngejar terus hehe.
Viola sedang memilih-milih minyak makan, ia mencari yang murah tapi berkualitas. Bagian lorong minyak makan ini hanya ada Viola, ia belum melihat ada orang lain yang berada di sini, mungkin mereka pada banyak minyak makan jadi enggak ada yang mau beli.
Entahlah yang jelas mall ini serasa sepi sekali, Viola mengendikkan bahunya acuh lalu memilih lagi minyak makan dengan harga murah dengan isi banyak dan kualitas bagus itu.
"Mbak," seseorang menepuk bahu Viola. Wanita itu menoleh, ia mendapati seorang tersenyum manis padanya.
Viola membalas senyum pria itu. "Iya—"
Gelap.
Viola tak merasakan apa apa lagi. Pemandangan nya gelap dan saat itulah Viola pingsan.
***
Huekk ...
Sudah satu minggu terakhir ini wanita itu terus merasa mual-mual disertai demam yang tak kunjung sembuh. Ia sudah minum paracetamol dan obat lainnya namun rasa pening itu tak kunjung reda.
Sudah tiga minggu sejak kepulangannya ke tanah air, sudah tiga minggu pula kejadian dimana ia bertemu dengan pria yang dicintai sekaligus orang yang dibencinya itu.
Ia berdiri di depan wastafel, tangannya gemetar saat melihat dua garis merah yang berada di testpack yang baru ia beli tadi pagi.
__ADS_1
Wanita itu menutup mulutnya tak percaya. Tanpa sadar air mata mulai mengalir membentuk sungai di pipinya yang semakin tirus. "Ti-tidak mungkin,"
***
Ardo memasukkan password apartemennya, ia yang yang baru pulang dari kantor itu mengernyit bingung ketika ia masuk lampu apartemen belum menyala. Padahal ini sudah menunjukkan pukul setengah 7 malam.
Ardo lalu menghidupkan lampu sambil mencari keberadaan Viola.
"Viola," panggil Ardo.
"Viola, lampu dinyalaain dong! Saya masih mampu beli listrik, bahkan PLN nya sekalipun kalau saya mau bakal saya beli," katanya. Namun belum ada jawaban dari Viola.
Mungkin mandi, fikir Ardo.
Namun setelah ia mengecek ke kamar mandi, dapur, tempat mencuci bahkan tempat menjemur pun Viola tidak berada di sana.
"Viola!"
Merasa tidak ada sahutan, Ardo kembali memanggil Viola. "Viola," masih tidak ada sahutan.
"VIOLA!!!" Habis sudah kesabaran Ardo.
Ardo pun mencoba menghubungi ponsel Viola. Karena ia yakin Viola tidak memiliki kuota, itulah yang sering di keluhkan Ardo. Viola jarang mengisi kuota di ponselnya karena di rumah sudah ada wi-fi, itulah jawabannya.
"Tekan 1 untuk meneruskan--"
"Shit!" Di saat-saat ini mengapa ia harus operator yang menjawab telpon Ardo? Ardo mulai panik, perasaan tidak nyaman pun tiba-tiba menyerangnya.
"Kerahkan semua anak buahmu! Cari tau keberadaan istri saya, sekarang!" perintah Ardo pada Reon asisten pribadinya.
"Baik,"
Ardo sudah kelimpungan mencari Viola. Ia memutuskan untuk menelpon sahabat Viola saja, siapa tau dia sedang berkunjung kerumah sahabatnya.
"Hallo? Grace, di mana Viola?"
"Viola? Gue belum ketemuan sama dia, kenapa?"
"Viola ... dia tidak ada dirumah," lirih Ardo.
"Waitt!! Kok? Kok bisa? Mungkin pulang kerumah ortunya atau ortu lo,"
"Nggak ada, saya sudah telepon mereka,"
__ADS_1
"Ok ok Ardo, tenang. Gue akan bantu lo cari Viola. Gue juga akan hubungi Marvel. Lo, lo tenang, Viola pasti ketemu," ucap Grace yang mencoba menenangkan Ardo, ia juga khawatir sebenarnya.
Ardo mengusap wajahnya kasar. Ardo tak bisa berfikir jernih jernih sekarang. Banyak fikiran negatif langsung mengisi kepalanya.
Bagaimana jika Viola diculik?
Bagaimana jika Viola di rampok?
Bagaimana Viola dibunuh— tidak tidak itu tidak akan mungkin, dan Ardo tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Tidak akan!
Ardo meremas rambutnya kasar. Mungkinkah ia harus meminta bantuan Milen? Ya bukan ide yang buruk, wanita itu pasti bisa menolongnya karena Milen merupakan mantan agen mata-mata yang handal sebelum memutuskan masuk ke dunia permodelan. Ia tidak mungkin membuat laporan ke polisi, karena polisi tidak akan memprosesnya sebelum 24 jam kehilangan.
"Halo,"
"Bantu saya cari Viola,"
"Viola ke mana?"
"Saya tidak tau, tapi firasat saya mengatakan Viola tidak baik-baik saja sekarang,"
"Baiklah aku tau insting seorang Vazquez selalu benar, kapan terakhir kali kamu menemui Viola?"
"Dia bilang, dia pergi belanja di mall,"
"Mall mana?"
"Tidak tau,"
"Baiklah, kerahkan saja semua anak buahmu, aku akan mencoba melacak cctv mall terdekat di apart kalian."
Ardo langsung menutup teleponnya, ia hanya memberitahu Marvel. Karena jika ia memberi tahu para orang tua maka mereka akan sangat heboh, dan akan memperlambat pencarian Viola.
Tring.
Suara pesan masuk dari nomor tak dikenal membuyarkan lamunan Ardo.
From: +628237474++++
Datang ke alamat xxx jika ingin istrimu selamat. Jangan bawa polisi atau sebagainya, jika kau membawanya maka akan kupastikan kau hanya akan membawa pulang jasad istri tercintamu ini.
"BRENGSEK!!"
***
__ADS_1