Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez

Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
23 (Season 02)


__ADS_3

Setelah mendengarkan beberapa persyaratan sebelum menyelam permukaan atau snorkeling, mereka langsung menuju ke spot terbaik untuk snorkeling di Pulau Sawi ini yaitu Kampung Nemo. Yang mana kita akan dapat melihat secara langsung ikan-ikan orange itu. Tidak hanya ikan, bahkan penyu dan biota bawah laut pun akan terlihat karena air yang jernih kontras sekali dengan pasir putihnya.


Lelah bersnorkeling, Viola dan yang lain kembali merapat ke pulau.


"Bunda! Varo liat Patrick!" seru Varo. Bocah itu emang hampir mengambil bintang laut tersebut jika saja tidak dilarang sang tour guide.


"Oh ya? Terus Varo liat apa lagi?" tanya Viola. Di dalam air tadi, tidak lupa ia mengabadikan pemandangan bawah laut itu dengan go pro miliknya.


"Varo cari spongebob tapi ndak ada, di mana Bunda? Varo mau liat tuan Crab, Shandy, sama yang idung besarrr itu,"


"Itukan cuma kartun, kata mama enggak ada," jawab Yaya yang sedari tadi jengah dengan ucapan Varo.


"Gimana? Seneng berenangnya?" tanya Prilly ia membawa Keo dan juga Alea. Keo berada di gendongan Prilly sedangkan Alea berada di kereta bayi.


"Seneng Mama! Yaya banyak liat ikan-ikan cantik! Seperti Yaya!" seru gadis kecil itu.


"Yaya jelek! Ndak cantik!" kata Varo.


Viola menggeleng melihat tingkah putra bungsunya itu. "Varo enggak boleh gitu,"


"Varo bener Bunda, Yaya jelek! Wlee Yaya jelek," ejek Varo lagi.


"Mama, Varo ngejek Yaya. Yaya cantik kan, Ma?"


Prilly tertawa. "Anak Mama emang cantik, ayo ganti baju dulu entar masuk angin," ucap Prilly.


"Keo pegangin dulu, nunggu bapaknya selesai mandi baru di ambil, enggak papa kan?" tanya Viola, ia menyengir.


Prilly memutar bola matanya. "Enggak papa, santai aja kayal sama siapa,"


Viola tertawa. "Kali aja aku ngerepotin, nanti aku beliin amplang deh," kikik Viola.


"Kamu tuh ngerepotin banget, untung aja temen aku kalau enggak udah aku culik si Keo jadiin adik Yaya lagi," kelakar Prilly.


Varo memanyunkan bibirnya. "Ndak boleh, Keong adik Varo bukan adik Yaya, Yaya kan udah ada Yeya! Keong punya Varo," kata Varo. Bocah itu menarik tangan ibunya. "Bunda ambil Keong, nanti dibawa Tante Ili, Keong kan adik Varo," rengeknya.


"Varo cengeng ya Ma," kikik Yaya, gadis itu tertawa sambil menutup mulutnya.


Varo mengusap air matanya. "Ndak, Varo ndak nangis," elaknya. "Bunda ambil Keong, cepetan,"


Prilly tertawa melihat keposesifan Varo dengan adiknya itu. "Tante bawa ke rumah ah dede Keo nya," canda Prilly.


"Jangan!" lalu Varo berlari, ternyata ia menghampiri ayahnya yang sudah mandi dan berganti baju.


"Varo kok belum ganti? Nanti masuk angin lho," kata Ardo ia menyamai tinggi anaknya itu.


"Hiks, hiks, Ayah, Tante Ili mau ambil Keong, katanya Keong jadi adik Yaya. Hiks Keong kan adik Varo, hiks ambil Keong Ayah," adu Varo, ia menarik tangan ayahnya. Sedangkan kedua ibu itu sudah terbahak melihat tingkah Varo.

__ADS_1


"Cepetan Ayah, nanti Keong dibawa Tante Ili hiks,"


"Tante Ili cuma bercanda, sayang."


"Endak! Tante Ili ndak bohong, hiks Ayah cepetan! Varo endak bisa gendong Keong," ucap Varo lagi, air matanya sudah banjir membanjiri pipinya.


Ardo mengusap air mata Varo lalu mengecup pipi anaknya. "Yaudah Ayah ambil Keo dulu," lalu Ardo berjalan mengambil Keo.


"Siniin anak saya," ucapnya.


"Nah Keo udah sama Ayah, Varo enggak usah nangis lagi," ucap Ardo, sekarang Keo sudah berada di gendongannya.


"Varo ndak nangis,"


"Varo bohong, tadi Yaya liat Varo nangis," ucap Yaya.


"Yaya diem dong, Varo endak mau jadi pacar Yaya," ancam Varo.


"Yaya mau jadi pacar Varo," ucap Yaya.


Mata Prilly membola mendengarkan ucapan bocah empat tahun itu. "Masih kecil enggak boleh pacaran," ucap Prilly.


"Ganti baju, Yang. Entar sakit, Varo juga digantiin, aku enggak mau ya denger kamu ngeluh demam nanti," ucap Ardo.


Viola mengangguk lalu mereka pun bersalin baju.


***


Dimas mengerutkan dahinya kala mendapatkan voice call dari sepupunya, Marvel. Tumben sekali ia menelpon, dan untungnya di sini sudah ada wi-fi jadi tidak sulit untuk terhubung ke internet.


"Hallo, Assalamualaikum?"


"Waalaikum salam, lagi dimna Dim?" tanya Marvel di seberang sana.


"Masih di Pulau Sawi, kenapa?"


"Viola dengan suaminya ada sama kamu?"


"Ada nih, mereka lagi makan, ada apa sih?"


"Papi masuk rumah sakit, jantungnya kambuh," jawab Marvel. "Kalau bisa bilangin ke Viola supaya pulang cepat, mami drop banget. Aku enggak tau cara nenanginnya,"


"Innalillahi, iya Mas iya, aku kasi tau Viola dulu, makasih ya Mas udah ngasi tau,"


"Iya, udah dulu aku lagi ngurus administrasi, Assalamualaikum,"


"Waalaikum salam,"

__ADS_1


Dimas memasukkan handphone ke dalam salah satu saku celananya.


Lalu ia mendekati mereka yang sedang menikmati santapan siang itu.


"Ngape, Bang? Macam orang uyoh gian te? (Kenapa, Bang? Kaya orang susah gitu?)" tanya Viola melihat raut kegelisahan dari sang sepupu.


"Bapak kau, masok rumah sakit, jantungnye kamboh, (ayah kamu, masuk rumah sakit, jantungnya kambuh,)" jelas Dimas.


Viola menatap Dimas tak percaya. "Eh bebujor sikit, sebagos-bagosnyem waktu kami pegi te, (Yang bener dong, waktu kita berangkat papi masih sehat kok,)" ucap Viola masih tidak percaya. Soalnya kemarin mereka sempat berpamitan dengan papi Galih dan beliau sama sekali tidak sakit.


"Yaklah, abang kau bah tadik nelpon aku, (Ya ampun, abang kamu tadi udah nelpon aku,)" ucap Dimas lagi.


"Mas, ayo pulang. Papi masuk rumah sakit," ajak Viola. Dadanya sudah bergetar, ia takut terjadi apa-apa dengan ayahnya yang sudah menua itu.


"Bang, salamkan ke nenek ye bile-bile nantik kami ke senek gik mah, (Bang, sampaikan salamku ke nenek, kapan-kapan kita ke sini lagi,)" ucap Viola.


"Iye, nenek pun dadak disenek ak, nun a ke Sintang nyan ngikot om Jordan dengan bininye, (iya, nenek juga enggak ada di sini, di Sintang ikut om Jordan dan istrinya,)"


Setelah berpamitan ke penduduk setempat akhirnya merekapun pulang ke Ketapang kota. Selama perjalanan tidak henti-hentinya Viola berdoa untuk keselamatan sang papi.


Untuk masalah tiket pesawat Dimas sudah memesankan untuk Viola sekeluarga beserta Anton dan keluarganya. Masalah barang oleh-oleh nanti saja akan Dimas kirimkan ke Jakarta. Yang terpenting Viola bisa sampai ke sana tepat waktu.


"Bang, kami balek lok, salam ke bik Tia," pamit Viola setelah beberapa jam mereka sampai di bandara.


"Iye, salam gak am ke keluarge senun. Kalo misal ade waktu kami ade mah bejalan ke senun an, (Iya, salam juga dengan keluarga di sana, kalah ada waktu kami juga akan berkunjung ke sana,)" jawab Dimas. "Mudah-mudahan om Galih cepat sembuh," doa Dimas.


"Aamiinn,"


Laku satu persatu dari mereka memasuki pesawat.


***


Jakarta.


"Tenang sayang, jangan panik," ucap Ardo menenangkan Viola karena istrinya itu nampak gelisah dari mereka masih di Ketapang.


Ardo meraih Viola dalam pelukannya. Sekarang mereka sedang berada dalam taksi yang membawa mereka ke RSUD, sedangkan Alvaro dan Alceo, mereka menitipkan nya ke Anton dan Prilly untuk dibawa ke rumah mama Lia.


"Aku takut papi kenapa-kenapa, Mas. Papi itu jarang sakit," lirih Viola.


Sebelum Viola menikah papi Galih memang jarang sekali sakit demam apalagi sampai masuk rumah sakit begini. Pastinya sakit papi enggak main-main.


"Maka dari itu, papi pasti kuat kok," hibur Ardo lagi. "Kita berdoa saja semoga papi enggak papa, kamu istirahat dulu kalau udah sampai nanti aku bangunin,"


Viola mengangguk lalu mencoba untuk memejamkan matanya dalam dekapan sang suami, tak lupa ia berdoa untuk keselamatan sang papi.


***

__ADS_1


Jempol dan komentar jangan lupa :)


__ADS_2