
Anton menitikkan air mata saat membaca surat dari Rosie tersebut. Ia tak percaya dengan kenyataan yang selama ini tidak ia ketahui.
"Jadi ... lo—" Ardo mengangguk.
"—Ta-tapi, bagaimana bisa lo ada disana waktu itu?"
Ardo menghembus kan nafasnya sebentar, lalu cerita itu pun mengalir.
Flashback on
Sudah tiga minggu berlalu saat Ardo membentak Rosie. Sebenarnya Ardo merasa sangat bersalah dengan gadis itu. Tapi mau bagaimana lagi, ego lebih kuat dibanding segalanya.
Hari ini Ardo memutuskan untuk meminta maaf pada Rosie. Ardo harus melawan ego-nya. Kalau tidak maka seumur hidup Ardo akan dihantui rasa bersalah.
Ardo bergegas pergi kerumah Anton dan Rosie.
Saat Ardo ingin masuk ke gerbang rumah Rosie, Ardo dikejutkan dengan Rosie yang baru saja keluar. Penampilan Rosie jauh dari kata rapi.
Rosie memasuki taksi yang mungkin sudah di pesannya.
Karna penasaran, Ardo pun mengikuti Rosie.
Rosie berhenti di rumah kosong yang jalanannya sangat sepi. Setelah membayar taksi Rosie pun masuk ke rumah itu dengan tergesa-gesa.
Ardo yang melihat itu merasa ada yang aneh namun Ardo masih belum turun dari mobilnya.
Hingga terdengar suara teriakan dari dalam rumah itu membuat Ardo kaget dan langsung bergegas masuk menyusul Rosie.
Betapa kaget nya Ardo saat melihat Rosie yang sudah bersimbah darah. Dengan pisau ditangannya.
"ROSIE!" teriak Ardo. Ardo langsung memangku kepala Rosie
"Ka-kak A—rdo," ucap Rosie yang sudah hampir sekarat.
"Bertahanlah Rosie. Kita ke rumah sakit—"
Dengan lemah Rosie meletakkan jari telunjuk nya ke bibir Ardo. "Gak ... us—sah Kak. Ro—rosie ha-rus ... pergihh,"
"Ro-sie mo-hon, berikan ... ini pada k-kak Anton. Bi-bilang padanya bahwa Rosie ... sayang padanya," Ardo mengambil kertas itu lalu memasukkan ke saku celananya.
"Rosie ... lo harus kuat, gue akan bawa lo ke rumah sakit pokoknya."
"Ga-gausah kak, Rosie ... Rosie minta-maaf ... sudah mengganggu hidup kakak—"
"No Rosie. Gue yang minta maaf. Maafin gue ... gue udah—"
"Rosie udah ma—maafin kakak." Rosie tersenyum dan seketika itu pula senyum itu menjadi pengantar kematiannya.
"Rosie ... Rosie ... bangun Ros—"
"APA YANG LO LAKUKAN PADA ADIK GUE, BRENGSEK!!!"
Flashback off
"Rosie sangat menyayangi kamu, Antonio." tutup Ardo pada ceritanya. "Jika saja saya langsung masuk, mungkin Rosie masih berada disini sekarang. Saya minta maaf udah gak bisa nolong Rosie waktu itu," ucap Ardo lirih. Viola mengusap bahu Ardo untuk menenangkan suami nya itu. Ia memaksa ikut meskipun menggunakan kursi roda.
"Jadi ... selama ini gu-gue salah paham?" sekali lagi, Anton masih tidak percaya dengan kenyataan itu.
"Menurut ngana?" Viola berucap ketus. Enak aja si Anton itu, Viola udah dibuat babak belur gini.
"Ta-tapi kenapa lo gak bilang dari dulu?" tanya Anton lagi.
Ardo menatap Anton datar. "Saya sudah jelaskan, tapi kamu enggak percaya, kamu malah menghilang. Saya tidak masuk penjara karena buktinya tidak cukup. Saya udah cari kamu ke mana-mana tapi tetap saja hasilnya sama. Lalu kamu muncul sebagai CEO Hunter Group," Viola terpana mendengar penjelasan Ardo. Baru kali ini ia mendengar Ardo berbicara panjang seperti itu. Maksudnya panjang lebar tetapi tidak dengan mulut cabenya.
"Gue ke Inggris. Gue buka usaha di sana," ucap Anton. "Dengan kerja keras gue bisa bikiin perusahaan gue jadi perusahaan besar. Gue lakuin itu semua buat balas dendam dengan lo," lanjutnya.
Ardo mengangkat sebelah alisnya masih dengan wajah datar andalannya. "Saya tidak bersalah,"
"I-iya. Gu-gue minta maaf," Anton menunduk sebentar lalu mendongak lagi. "Bisakah kita berteman lagi?" tanya Anton.
Ardo hanya memandang Anton datar.
Anton tersenyum miris. Ia bodoh sekali meminta hal itu setelah apa yang ia lakukan pada Viola. "Gue tau. Gue udah tau jawaban lo—"
__ADS_1
"Masih kuat kalau kamu saya pukul lagi? Uang kamu masih banyak buat biaya kalau kamu koma lagi?" tanya Ardo.
"Lo—lo mau maafin gue?" tanya Anton lagi.
"Tergantung, kalau kamu masih hidup jika saya pukul lagi saya akan maafin kamu," ucap Ardo. "Semua yang kamu lakukan pada istri saya maka kamu juga akan merasakannya,"
"Gue enggak akan mati hanya karena pukulan, thanks Do," ucap Anton.
"Lo gak mau minta maaf sama gue?" tanya Marvel yang baru bersuara. Marvel baru datang dari kantornya.
Anton menoleh ke arah Marvel. "Gue juga minta maaf sama lo. Maafin gue, kita berteman kan?"
"Sama kayak Ardo. Gue gebukin lo dulu karna udah bikin adek gue kayak gini, baru gue maafin lo," ucap Marvel.
Seketika senyum Anton merekah yang membuat Anton semakin tampan walau banyak noda biru di wajahnya. "Terserah. Yang penting gue dapat maaf dari kalian. Dan juga kita bisa berteman lagi ... jadi semuanya udah selesai?" tanya Anton.
"Belum,"
Semua mata memandang ke arah Milen yang berbicara tadi. Milen datang bersama Marvel, mereka bertemu di parkiran.
"Apalagi?" tanya Viola bingung.
"Aku masih penasaran sama temen wanita kamu, Viola,"
"Ah ya, bagaimana keadaan Grace? Dia sedang hamil," ucap Anton.
"Hamil?!"
"Dia hamil, dan katanya itu anak Ardo. Makanya gue pengen banget balas dendam sama Ardo, dia udah ngehancurin dua orang wanita—"
"Antonio," peringat Prilly.
"Maksud gue, dulu sebelum gue tau kebenarannya," sambung Anton.
Viola diam, hatinya sakit setelah mendengar bahwa Ardo sudah menghamili sahabatnya sendiri. Tak terasa air mata pun mulai menggenangi mata indah itu.
"Saya tidak pernah sekalipun menyentuh wanita selain Viola!" tegas Ardo.
Viola menggeleng. "Aku—aku percaya, tapi—"
"Demi Tuhan, Viola! Saya tidak pernah melakukan hal itu bahkan untuk memikirkannya saja tidak pernah!"
Viola menangis tergugu. Ia tidak tau kenapa ia menangis, ia percaya Ardo hanya saja ia kesal dengan Grace, wanita itu benar-benar licik. "A-aku percaya,"
"Wanita Rubah," desis Milen.
"Jadi, kapan kalian akan menikah?" tanya Marvel memecah keheningan yang tercipta.
"Pastinya setelah keadaan semua benar-benar beres," ucap Anton. Lalu Anton beralih ke Viola yang masih sesegukan.
"Viola," panggil Anton.
"Hm?"
"Aku minta maaf, kamu boleh balas tamparanku," ucap Anton
"A-aku udah maafin kamu," ucap Viola. Sebenernya masih ada dendam dihati Viola, namun ia menepis itu karena semua ini bukan sepenuhnya salah Anton.
"Kamu enggak benci sama aku kan?" tanya Anton lagi.
Viola menggeleng. "Kalo aku benci sama kamu yang ada Prilly juga ikut-ikutan benci aku," jawab Viola.
Mereka tertawa mendengarnya, ya tawa sumbang.
"Bagus! Kalian ketawa disini! Sedangkan kita khawatir setengah mati!" ucap orang yang sangat dikenali Ardo dan Viola.
"Mami,"
"Mama,"
"Tante,"
"Kamu gak papa kan sayang? Ardo! kamu ini udah mama bilang jagain Viola! Tapi kamu itu bandel banget di bilangin," ceramah Mama Lia. "Siapa yang nyulik kamu? Katakan! Biar Papa ngutus orang itu buat masuk penjara!" marah Mama Lia.
__ADS_1
"Udah ma. Viola gak papa kok," pujuk Viola.
"Gak papa gimana? Orang kamu bonyok gitu, mami dan papi itu susah payah ya gedein kamu supaya kamu itu jadi cantik! Bukan malah bonyok gini!" ucap mami Tania marah, enak saja maen pukul anak orang!
Kemudian pandangan mami Tania beralih ke arah ranjang. "Itu siapa? Dia yang nyulik kamu? Iya?! Mami harus kasi pelajaran—"
"Eit, tunggu mi, ini cuma salah paham. Semuanya udah beres, dia memang yang culik Viola tapi dia terkena hasutan Grace, Mi." Marvel menjelaskan semuanya dengan memeluk Mami Tania yang emosi. Tidak mudah menenangkan emak-emak itu ngamuk
"Grace?"
"Iya mi, Grace,"
"Lalu, dimana Bernardo itu?!"
"Kabur," jawab mereka.
"Wanita ular! Mami harus telpon papi—"
"Enggak usah tante, aku udah ngelacak keberadaan dia, kalau ada kemajuan nanti aku kabari," ucap Milen.
"Kamu siapa?" tanya Mami Tania pada gadis roker itu. Teman siapa lagi ini? Kok bisa berteman sama anak funk?
"Dia Milen, Milen yang ini." Mama Lia memberikan majalah yang berisi foto model internasional Lionel Milenych Palvin. Kebetulan di ruangan itu ada majalah yang berisikan model-model internasional salah satunya Milen.
Mami Tania mengambil majalah itu. Ia mengernyit bingung, Milen di majalah ini sangat cantik dan anggun sedangkan yang di ruangan Anton ini adalah wanita roker yang urak-urakan. "Kok bisa?" Milen hanya menggaruk tengkuknya tak gatal. Ia pun sulit untuk menjelaskannya.
"Hei kamu!" tunjuk Mami Tania pada Anton. Amarahnya tersulut lagi saat melihat lelaki itu.
Mami Tania maju kearah Anton namun dengan cepat Marvel menangkapnya. "Lepasin Marvel! Mami mau kasi dia pelajaran—"
"Udah mi, udah. Dia udah kita kasi pelajaran, Mi. mami tenang aja," ucap Marvel menenangkan.
"Tapi—"
"Dia enggak sepenuhnya salah, mi," jawab Viola yang sedari tadi diam. "Aku udah maafin dia," lanjutnya. Akhirnya mami Tania bisa bernafas lega meskipun dalam hatinya ia ingin sekali menjebloskan Anton ke dalam jeruji besi.
"Maafkan saya, tante," ucap Anton menunduk.
"Enak ya, udah bikin anak orang bonyok, kamu cuma minta maaf doang! Sini kamu saya bonyokin juga!" Anton hanya terdiam menunduk. Ia tau kesalahannya sangat fatal, maka dari itu dia siap menerima segala resikonya.
"Kamu Anton kan?" tanya Mama Lia yang merasa kenal dengan Anton.
"Iya tante. Saya Anton teman Ardo," jawab Anton.
"Mama dan Mami siapa yang ngasih tau kita disini?" tanya Ardo.
"Gue yang ngasih tau hehe," ucap Dion yang baru masuk dengan gadis seumuran dengannya. "KAK MILEN?!" Dion langsung menghambur pada wanita dengan dandanan ala roker itu.
"Hais bocil ini," decak Milen tapi tak ayal ia pun membalas pelukan Dion. Mereka memang akrab banget, sudah seperti kakak adik yang sebenarnya bukan.
"Kakak kenapa enggak bilang kalo udah pulang?" tanya Dion sudah melepas pelukannya.
"Emang situ siapa saya?" tanya Milen, ia menoyor kepala Dion.
"Kak Milen," rengek remaja itu. Semua itu tidak luput dari pandangan Marvel.
"Kamu tau dari siapa kita disini?" tanya Viola.
"Bang Marvel," jawab Dion menunjuk Marvel yang sedang makan Apel.
"Itu ... siapa?" tunjuk Viola ke arah gadis yang bersama Dion. Gadis itu menunduk malu.
"Saya Ana kak," jawab gadis bernama Ana itu.
"Dia pacar aku," jawab Dion sombong.
"Pacar? Bukannya kamu baru putus ya? Kok udah dapet lagi?" Viola bertanya lagi.
"Orang ganteng mah bebas, Kak. Buka lowongan dikit yang daftar bejibun,"
Mereka hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Dion.
Dasar playboy!
__ADS_1