Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez

Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
03 (Season 02)


__ADS_3

Haiii,, saya kembali lagi nihh.


Minta VOTE nya dong buat novel ini, hehe.


Jangan lupa klik jempol sama komentar biar saya lebih semangat lagi dalam menulisnya.


Ok selamat membaca, semoga suka yaa😊


***


"Reynald?!"


Reynald tersenyum. "Boleh aku duduk?" tanya Reynald.


Viola gugup, ia menoleh ke kiri ke kanan. Bisa berabe nih kalo bapaknya Varo liat. Bakal ada perang es kutub lagi, batin Viola.


"Viola? Boleh aku duduk?" tanya Reynald lagi.


Viola mengangguk kaku. "I-iya duduk aja," katanya. Viola langsung menggeser tubuhnya ke area paling pojok kursi taman. Bukan apa, jaga-jaga aja pemirsa siapa tau si Ardo dateng kan seenggaknya dia ngeliat duduknya jauhan.


"Kamu lagi check up ya?" tanya Reynald membuka suara.


"Iya, kok tau?"


"Itu," tunjuknya pada perut buncit Viola.


Eh iya, tentu saja Reynald tau orang anaknya bapak Ardo udah besar di perut Viola.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Viola.


"Kan aku dokter, di sinilah tempat seorang dokter."


Eh iya(2), Reynald itu dokter teman-teman ya wajar dia di sini. Aduh Viola, kok lupa? Atau gugup karena ketemu mantan?


Viola terkekeh sumbang. "Iya ya, aku lupa."


Reynald mengangguk. "Mungkin kamu juga lupa dengan kenangan kita,"


Haduh! Apaan seh? Kenangan mana? Viola lupa.


"Kamu ngapain nyamperin aku? Mau ngajak balikan? Aku enggak mau, enggak liat perut udah buncit diisi anak suamiku?" ucap Viola.


"Enggak--"


"Enggak? Enggak apa apa, gitu? Kamu mau bilang bakal nerima aku apa adanya, terus kamu mau bilang tinggalin suamiku dan balik ke kamu, iya? No, big no! Kalo kamu mau bilang gitu, lebih baik bilang sama mantan mantan kamu yang lain aja! Ke aku enggak mempan!" ketus Viola. Enak aja mau ngajak balikan, orang udah cinta mati sama si Bapak Varo dan anak yang dikandungnya ini.


Reynald bengong dengan mata berkedip-kedip. "Aku--"


"Aku apa lagi? Kamu masih keukeuh mau balik sama aku, iya? Enggak malu ya, jadi pebinor? Aku udah punya suami dan udah punya buntut tiga! Jadi stop minta balikan!" potong Viola lagi. Kayaknya si Reynald ini pantang mundur dapetin Viola, kalau Reynald seperti itu Viola juga pantang mundur menolak Reynald, biar mereka sama-sama maju mundur syantiekk.


"Jadi bener ya kata Grace waktu itu," ucap Reynal. Ia memandang sepatu pantofel miliknya.


Dahi Viola mengerut, apa lagi ini?


"Grace bilang, kamu hamil dan usia kandungan kamu udah trimester kedua."


"Kan aku emang hamil, udah masuk trimester kedua juga," balas Viola, dia bener kan terus apa masalahnya? "Kamu ketemu Grace? Kapan?" tanya nya lagi, soalnya Viola udah lama banget nggak dengar kabar Grace.


"Dulu, tiga bulan sebelum aku nikah sama Mira."


Hah? Gila aja! Siapa yang buntingin coba? Orang Ardo kok yang bobolin, enggak ada orang lain.


"Kamu jangan mengada-ngada ya, aku enggak pernah tuh hamil sebelum nikah kaya istri kamu itu," ketus Viola.


Dan kali ini gantian dahi Reynald mengerut. "Hamil di luar nikah gimana? Orang Mira masih gadis kok,"

__ADS_1


"Terus kenapa kamu bilang aku hamil duluan? Mulut kamu minta tampol?! Gini-gini aku wanita baik-baik!"


Reynald menghembuskan nafasnya. Sepertinya mereka sama-sama salah paham di sini. "Grace yang bilang gitu, aku percaya aja karena Grace kan sahabat kamu. Awalnya aku enggak percaya sih, tapi karena kamu udah enggak ngehubungin aku lagi ya aku fikir ucapan Grace benar. Aku marah saat itu, tapi karena aku waktu itu lagi ada di Jepang ya aku hanya bisa diam aja. Dan kebetulan waktu itu keluargaku berniat mau ngejodohin aku sama Mira, yaudah aku terima aja," jelas Reynald. Yang di ucapkan Reynald benar adanya, dia juga menerima pernikahannya dengan Mira karena terpaksa.


Viola berdecak kesal. Grace ini benar-benar Medusa dalam dunia nyata. "Kamu tau enggak aku juga dijodohin, siangnya aku dapet undangan kamu malem nya orang tua aku langsung jodohin sama anak sahabat papiku. Sama kayak kamu aku pengen bales dendam ke kamu jadi ya aku terima aja perjodohan ini, tapi ya aku tuh sekarang udah cinta mati sama suamiku, jadi jangan harap aku bakal nerima kamu!"


Reynald terkekeh. "Enggak usah geer, aku nggak ngajak kamu balikan, aku juga udah cinta banget sama istriku."


Tiba-tiba Viola jadi gugup sendiri, mana tadi dia udah pantang mundur menolak lagi. Eh enggak tau nya nggak seperti yang dipikiran Viola. Ck!


Tiba-tiba, suasana jadi hening.


"Jadi kita sama-sama di adu domba sama Grace nih?" kekeh Reynald, entah mengapa rasanya lucu sekali, Viola tidak bersalah begitupun dengan dirinya.


"Iya! Kamu tau enggak, waktu itu dia udah nyekap aku, kamu pasti terkejut kalau aku bilang dia mau bunuh aku--"


"Nih!"


Viola mengambil botol yang baru diberikan kepadanya itu. Lalu ia meminum air mineral yang sudah ia buka tutupnya.


"Terus dia bilang, dia itu udah benci aku dari jaman SMA--"


"Nikmat banget ya gibahnya, Yang."


"Iya nikmat banget, dia juga bilang suka sama kamu ehh-- Yang?" tiba-tiba ucapan Viola terhenti merasakan ada sesuatu yang lain.


Ia menoleh ke samping seketika itu ia melihat seseorang menjulang tinggi dengan mata yang sudah setajam elang. Viola mengusap tengkuk nya yang terasa dingin dan merinding. Viola menyengir saat melihat orang itu ternyata suaminya sendiri.


Ardo mengambil pergelangan tangan Viola. "Pulang," kata Ardo datar.


Viola meneguk ludahnya kasar, alamat perang kutub nih, batinnya.


"Reynal, aku--"


"Enggak usah pamit!" jawab Ardo cepat. Ia melayangkan tatapan es batunya pada Reynald yang masih terdiam melihat drama nyata pasutri itu.


***


"Mas," panggil Viola ketika mereka sampai rumah.


Ardo diam saja, ia berlalu tanpa memperdulikan Viola.


"Ma, Varo mana?" tanya Ardo.


Mama Lia melirik ke Viola yang masih berada di belakang Ardo, ada apa lagi sih? batin Mama Lia. "Di belakang sama Dion," setelah mendapatkan jawaban dari mamanya Ardo langsung menuju arah belakang.


"Kenapa lagi?" tanya Mama Lia pada Viola.


Viola menghela nafas. "Taulah ma, Mas Ardo kan mood nya lagi enggak stabil, jadi yah gitu," jawab Viola. "Aku nyusul dulu ya, Ma."


Mama Lia mengangguk, ada ada saja, batinnya menggeleng.


***


"Varo harus jadi laki-laki penakluk wanita, kayak Om Dion, ok?!"


"Ok Uncle Ion,"


"Satu lagi, kalo Varo dideketin cewe jangan mau ya, harus jual mahal dulu. Kalo mereka udah klepek-klepek banget--"


"Epek-pek apela Uncle? Alo tak paham la,"


"Klepek-klepek, Varo. Kalo klepek-klepek itu--"


"Kamu ngajarin apa sama anak saya?" tanya seseorang.

__ADS_1


"Ngajarin gimana caranya jadi laki-laki sejati dong," cengir Dion.


Ardo mendengus. "Enggak usah macem-macem kamu! Mau saya sunat lagi?!"


Dion bergidik ngeri, ancaman sepupunya ini membuatnya untuk mencetak Dion junior lebih banyak lagi sebelum benar-benar roib alat mencetaknya itu.


"Sunat tu ape, Ayah?"


Ardo gelagapan mendengar pertanyaan dari putra kebanggaannya ini. "Sunat, itu. Ehem tanya Bunda aja ya,"


"Unda, sunat tu ape?" tanya Varo ketika melihat bunda nya masuk ke dalam lingkungan para lelaki itu.


Viola mengernyit. "Apa sayang?"


"Sunat tu ape?"


Viola mendelik, siapa yang berani mencemari otak anaknya yanh masih kecil ini?


"Dion," Dion menggeleng, lalu ia melirik ke sepupunya itu.


Tatapan Viola beralih pada Ardo yang menatapnya datar. Oh iya masih marah.


"Unda, apela?"


"Varo masih kecil, nanti bakalan tau sunat itu apa," itu adalah suara Ardo.


Ardo menggendong Varo. "Varo, kalau kamu punya pacar nanti, kamu enggak boleh ya datengin man.tan kamu lagi, kamu harus jaga perasaan pacar kamu," kata Ardo.


Viola memutar bola matanya malas. Oh masih di ungkit nih? "Varo, kalau kamu udah punya pacar, coba dong dengerin penjelasan dari pacar kamu dulu supaya enggak salah paham dan enggak ngambek-ngambekan," kata Viola. "Itu baru namanya laki-laki sejati,"


"Kamu jangan cemarin otak anak aku ya!"


"Heh, siapa yang nyemarin?! Mas tuh, nanemin yang gak bagus sama Varo." Ketus Viola. "Jangan sok lupa, Varo juga anak aku, kita bikinnya bareng!"


"Diem kamu, aku lagi enggak mau ngomong sama kamu!"


"Mas juga diem, aku lagi nggak mau denger suara kamu!"


"Kamu kok nyolot sih?"


"Mas tuh yang nyolot, pake acara ngambek-ngambekan segala lagi!"


"Viola!"


"Mas Ardo!"


"Aku cinta kamu!"


"Aku lebih cinta kamu!"


Dion hanya bisa menggeleng seraya menutupi telinga Varo agar tidak mendengarkan tingkah absurd kedua orang tuanya itu. Tanpa mereka sadari Varo sudah berada di pangkuan Dion.


"Varo harus contohin Om Dion aja ya, Om Dion adalah lambang dari pria sejati."


"Diam kamu!"


Astagfirullah, Dion hanya bisa berucap dalam hati ketika pasutri itu menatap tajam dirinya seolah Dion adalah parasit yang harus dimusnahkan.


***


Hallo, gimana bonchap ini saya jadiin season 2 aja? Tulis di kolom komentar ya bagusnya gimana eheheh.


Bab ini gimana? Udah mengoc*k perut kalian belum?


600 jempol bisa nggak ya? Ehehe

__ADS_1


Komentar sebanyak-banyaknya, okee! See u gaes😘


__ADS_2