Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez

Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
20 (Season 02)


__ADS_3

Yo gaes, pada chapter ini kita akan berbicara tentang daerah saya tinggal. Mulai dari bahasa, wisata, hingga makanan.


Jadi kalau mau skip ya skip aja, tapi meskipun skip tapi tolong jempolnya jangan diskip juga :(


***


Bandar Udara Rahadi Usman, Ketapang, Kalimantan Barat.


Hari ini Ardo membawa keluarganya untuk pergi ke Kalimantan. Masih ingat kan Ardo harus meresmikan sebuah resort di sana? Ya dua hari lagi ia akan meresmikannya.


"Ayah! Varo mau minum," ucap Varo. Mereka masih menunggu keluarga Viola datang menjemput.


"Ini," Ardo membuka segel dari air mineral merek Aqu* itu.


Varo menggeleng. "Tawar, ndak enak! Varo mau yang ada rasanya," jawabnya.


"Ayo kita beli di sana," tunjuk Ardo pada salah satu kedai di bandara itu. "Yang, kita ke sana dulu, mau nitip enggak?"


"Enggak deh, jangan lama-lama. Nanti sepupuku dateng,"


Ardo mengangguk, lalu menggendong Varo menuju kedai.


Tak berapa lama seorang pria mendatangi Viola.


"Viola?"


Viola menoleh. "Eh Bang Dimas, bentar tunggu suamiku dulu lagi beli minum buat Varo."


Dimas adalah salah satu sepupu Viola di sini, Dimas merupakan anak dari adik mami Tania. Dimas juga yang mengelola kafe milik Viola di sini.


"Siapa namanya?" tunjuk Dimas pada Keo yang terlelap dalam gendongan Viola.


"Alceo, panggil Keo jak,"


"Eh, maseh ingat e bahase Ketapang nin?(Masih ingat bahasa Ketapang?)" Dimas berjengkit kaget, ia fikir Viola sudah lupa bahasa daerah sini.


"Masehlah, bende tiap kali nelpon nenek pakek bahase Ketapang jak am, nenek te mane tau bahase Indo, (Masih dong, setiap kali nelpon nenek pasti pakai bahasa Ketapang, nenek kan enggak tau bahasa Indo)"


"Suami kau ngerti dak e? (Suami kamu ngerti enggak?)"


"Tah am, endak tau gak am, (Entahlah, enggak tau)" ucap Viola sambil tertawa.


"Bunda! Varo beli maga-maga, Bunda mau?"


"Enggak, buat Varo aja," kata Viola. "Mas, ini sepupuku, Bang Dimas." Viola memperkenalkan Dimas. "Bang Dimas ini Mas Ardo, suamiku."


Mereka bersalaman lalu menyapa untuk basa-basi. Sebenarnya mereka sudah saling kenal tapi kalau bertemu baru kali ini.


"Kate umak t kau suruh nginap lok kerumah, die tegenang dengan kau. Terakher kau kesenek kan waktu kau SMA, (Kata ibuku, mampir kerumah dulu, dia kangen. Terakhir kamu ke sini kan waktu SMA)"


Viola memandang Ardo. "Gimana, Mas?"

__ADS_1


"Apa?" tanya Ardo bingung, ia kurang paham dengan ucapan sepupu istrinya ini. Selain menggunakan bahasa Melayu mereka juga berbicara sangat cepat.


"Bibiku nyuruh kita mampir dulu,"


"Boleh deh, kan peresmiannya juga lusa," jawab Ardo.


"Yaudah, ayo."


Mereka pun masuk ke dalam mobil milik Dimas.


"Masih jadi dosen Mas?" tanya Ardo.


Dimas mengangguk. "Masih, lumayan lah buat uang tambahan, modal nikah." Dimas tertawa. Ya Dimas masih lajang di usia tiga puluh dua ini. Sebenarnya Dimas adalah salah satu pengusaha bouksit terbesar di Kalimantan. Dosen hanya kerjaan sampingan untuknya. Bukan materi yang membuatnya belum menikah tetapi belum menemukan yang pas saja. Masalah wajah sih Dimas terbilang ok, karena jika ia berada dikeramaian pasti akan menjadi pusat perhatian.


"Endak maok ke mall lok e nin? Sesekali singgah lok ke sian, (Enggak ke mall dulu? Sekali-sekali mampir ke sana,)" tanya Dimas ketika mereka melewati pusat perbelanjaan terbesar di Ketapang.


"Usaham lok, melas same Keo, (Enggak, kasihan Keo)" jawab Viola. Karena ini merupakan perjalanan jauh pertama bagi bayi itu.


Tak berapa lama mereka pun sampai dikediaman Dimas. Jarak antara bandara dan rumah Dimas hanya dengan waktu tempuh 10 menit saja. Jika di sini seperti di Jakarta mungkin akan memakan waktu setengah jam ditambah macet.


Di sini tidak pernah mengalami kemacetan pada hari biasa, macet biasanya jika ada pawai atau arak-arakan saja. Seperti pawai malam takbiran, arak-arakan malam tahun baru Cina, dan acara lainnya. Tapi macetnya enggak parah, enggak sampai para kendaraan tidak bisa bergerak. Ya bisa dikatakan kota kecil ini masih bebas dari yang namanya macet.


Di teras rumah, sudah ada seorang wanita paruh baya menunggu kehadiran Viola.


Viola turun lalu menyalimi wanita berkerudung yang duduk di kursi roda itu. "Ape kabar, Bik Tia?"


Wanita itu tersenyum. "Kabar baik, tegenang Bibik same kau nin, (Bibi kangen)" ucap Bi Tia, wanita itu memeluk tubuh Viola lalu mencium pipinya.


"Bi," Ardo tersenyum tipis lalu menyalimi Bi Tia. Bi Tia tersenyum lalu mengusap kepala Ardo.


"Varo salim sama nenek dulu," ucap Ardo. Dengan patuh bocah itu menyalimi nenek kemenakannya itu.


Bi Tia mencium pipi Varo. "Udah besar ye Varo sekarang,"


Mata Varo membulat. "Nenek bise ngomong upin ke?" tanya Varo dengan binar matanya.


Bi Tia tertawa. Ia mencium pipi Varo lagi. "Biselah, kan Nenek same orang melayu. Upin kan orang melayu," kata Bi Tia. Tidak sulit untuknya berbahasa seperti kartun itu. Karena memang bahasa orang Ketapang rata-rata adalah bahasa Melayu.


"Iyelah Nenek!" jawab Varo, bocah itu kesenangan ketika ada orang yang berbicara sama seperti kartun kesukaannya itu.


"Yum masok, Nenek dah siapkan pemakanan. Varo suke semangke kan?"


Varo mengangguk. Lalu mereka memasuki rumah besar itu. Bocah itu sedari tadi memperhatikan Bi Tia. "Nenek, Nenek tak bise jalan ke?" tanya Varo.


Bi Tia menggeleng. "Tak, Nenek tak bise jalan. Kaki Nenek sakit,"


Mulut Varo membentuk hurup 'o'.


Bi Tia adalah seseorang yang mengidap diabetes. Awalnya ia tidak memakai kursi roda, tetapi setelah kecelakaan beberapa tahun lalu menyebabkan kakinya sulit untuk bergerak. Hingga sekarang Bi Tia masih menggunakan kursi roda.


"Kitak istirahat jak lok, nantik gik barok ngomong. Nginap senek mah kan? (Kalian istirahat dulu, nanti kita ngobrol lagi, bermalam di sini kan?)

__ADS_1


"Iye, Bik."


"Mas, ajak am Viola dengan suaminye ke kamar," suruh Bi Tia pada Dimas.


"Yum ku tunjukkan kamarnye,"


Lalu mereka mengikuti Dimas untuk beristirahat.


Sedikit tentang keluarga Bi Tia, mereka hanya tinggal berdua di rumah yang besar ini. Suami Bi Tia sudah meninggal sewaktu Dimas berumur empat tahun karena tertimpa tanah sewaktu ia turun langsung menambang emas dulu. Sedangkan keluarga yang lain berada di Kendawangan lumayan jauh dari kota Ketapang.


Mami Tania memiliki dua saudara, adik nomor dua adalah Bi Tia dan nomor tiga namanya Jordan. Jordan tinggal di Kendawangan bersama sang ibu, nenek Viola. Dan resort yang Ardo bangun adalah di Pulau Sawi yang berada di Kendawangan.


***


"Bik, kami pegi lok ye, Bibik ati-ati di rumah. Balek dari peresmian nantik kami singgah ke senek gik mah sebelom balek ke Jakarta, (Bi, kita pergi dulu, Bibi hati-hati di rumah. Pulang dari peresmian kita mampir lagi sebelum pulang ke Jakarta,)" pamit Viola. Pagi ini mereka harus pergi ke Kendawangan dengan menempuh waktu sekitar tiga jam, setelah itu mereka akan naik kapal nelayan untuk sampai ke Pulau Sawi sekitar satu jam.


"Salok, Bibik maok bekalek kitak supaye endak uyoh beli gik, (Sebentar dulu, Bibi mau bekalin kalian sesuatu supaya enggak repot beli lagi,)"


"Mak Usu, tolong gak ambikkan keredus yang udah saye siapkan te, (Mak Usu (panggilan untuk anak bungsu tetapi pangkat ibu) tolong ambilin kardus yang udah saya siapin,)" panggil Bi Tia ada salah satu pembantunya.


Seseorang paruh baya datang membawa dua kotak kardus yang entah Viola tidak tau apa isinya.


"Wai Bik, usah repot-repot am. Kami bah nantik beli mah, (Enggak usah repot-repot, Bi. Kita nanti juga beli kok,)" ucap Viola.


"Eh adak mah, bawak jak bah. Untuk Varo, ye Varo?"


Varo mengangguk digendongan ayahnya. "Iye, Nek."


"Hah kan, pegim Mas masokkan dalam kap mobel nan, (Tuh kan, pergilah Mas masukkan dalam bagasi mobil,)" suruh Bi Tia pada Dimas.


"Dimas enggak ke kampus?" tanya Ardo. Bukannya hari ini Dimas ada mata kuliah?


"Enggak, Mas. Ijin dulu, kan mau nganterin kalian. Aku juga mau liburan," kekeh Dimas. "Udah siap nih mobilnya,"


"Ha kami berangkat lok, Bik. Makaseh pebekalannye nin," Viola menyalimi Bi Tia.


Bi Tia menciumi wajah Viola, Keo dan juga Varo. Sedangkan Ardo ia hanya mengusap surai lebat laki-laki itu.


"Ati-ati, asal udah nyampe berik tau Bibik, (hati-hati, kalau udah sampai kasi tau Bibi,)"


Bi Tia melambaikan tangannya.


Lalu mobil mereka berjalan menuju arah Pelang-Kendawangan.


***


Cuma mau kasi tau, saya bakal bikin beberapa chapter untuk bercerita tentang perjalanan Ardo dan Viola selama berada di Ketapang.


Salam dari orang Ketapang, Kalimantan Barat. Coba sebutkan asal kalian dong ehehe.


Oh iya jempol yaa jangan lupa :)

__ADS_1


See u :*


__ADS_2