Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez

Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
Empatpuluhenam


__ADS_3

Grasak grusuk suara sudah terdengar saat pemberitahuan akan diadakan pertemuan antar karyawan satu jam yang lalu.


Banyak yang bertanya-tanya, apa yang akan disampaikan dalam pertemuan dadakan ini. Tidak biasanya CEO di sini mengadakan pertemuan sesama karyawan apalagi dadakan seperti ini.


Hal ini baru terjadi sekali selama Ardo menjabat sebagai bos baru mereka. Mereka hanya tidak menyangka saja bahwa bos yang terkenal dingin, ketus juga irit bicara itu mau mengadakan pertemuan. Pastinya pasti ini adalah hal yang sangat penting.


Pemecatan besar-besaran karena perusahaan bangkrut kah?


Kenaikan gaji kah?


Atau pengurangan gaji?


Banyak pertanyaan yang berada di kepala beribu pekerja yang berkumpul di sana hingga suara bass terdengar sangat dingin itu menginstruksi mereka.


"Selamat siang,"


Dan seketika itu pula suara suara di sana menjadi tidak kedengaran lagi layaknya kita berada di dalam gua di tengah-tengah hutan belantara.


"Terima kasih karena sudah mengikuti perintah saya,"


Tanpa banyak basa-basi Ardo langsung ke inti pertemuan ini. "Saya ingin memperkenalkan istri saya pada kalian,"


Semua orang disana terkejut,


Mungkinkah orang yang digendongnya tadi?


"Tapi sebelumnya saya ingin mengulang kembali tentang kedisiplinan, kesopan santunan, tata krama, dan sebagainya."


"Apakah selama hidup ini kalian belajar tentang pendidikan moral?"


Semua orang disana mengangguk sambil berpandangan pada sesama rekannya. Mereka bingung, kenapa bos nya ini bertanya seperti itu, sudah pasti mereka belajar tentang pendidikan itu jika tidak mana mungkin mereka bisa sampai di sini.


"Kalian pasti sudah menanda tangani perjanjian kontrak tentang kedisiplinan, kesopan santunan, tata krama, sebelum kalian bekerja di sini, bukan?" lagi lagi mereka mengangguk, tidak ada yang berani berbicara.


Di kantor Ardo, tata krama mereka memang di uji sebelum masuk setelah kecerdasan dan ketangkasan dalam bekerja. Ardo harus pandai menyeleksi rekan kerjanya, tapi meskipun begitu masih saja ia kecolongan tentang perbuatan jahat karyawannya itu.


"Kasus pembully-an." Ardo menatap datar ke arah wanita yang membully Viola tadi.


"Apakah pembully-an itu dibolehkan di sini? Saya rasa ini adalah pertanyaan paling bodoh yang saya tanyakan."


Hening.


"Saya bertanya! Kenapa tidak dijawab?!" tanya Ardo marah. Sungguh ia ingin memakan orang saat ini.

__ADS_1


"Tidak Pak!" sahut mereka serempak. Semoga saja mereka tidak dipecat karena tidak menjawab pertanyaan King es itu.


"Lalu, kenapa hal tersebut masih saja terjadi di sini? Apa kalian tidak bisa membaca kontrak? Buta? Atau pikun?" semua orang yang disana terkejut tak terkecuali dengan ketiga wanita itu.


Hah? Kok bisa? Bukannya si tukang bully udah di keluarkan?


Ini pak bos ngapain lagi mandang ke arah kita,


Apa jangan jangan lo ya!


Eh sembarangan!


Wah cari mati kali! Udah enak-enak kerja disini eh berbuat ulah lagi,


Emang ada ya? Kok kita engga tau!


Aduh mati gue! Semoga bukan gue, tapi kan gue enggak ngelakuin apa-apa.


Emang siapa sih?


Dasar bodoh tu orang. Nyerahin diri ke kandang macan namanya,


Ardo yang mendengar bisik bisik itu masih tetap diam juga masih menatap datar wanita tadi. Ardo melanjutkan kata-katanya lagi, pandangan menusuknya mampu menembus dinding-dinding beton jika ini adalah kartun.


Jederrrr!!


Bagai tersambar petir wajah ketiga wanita itu pucat pasi.


Istri?!


Ini emang cari mati nih orang!


Lah? Kapan istri pak bos datang?


Apa jangan-jangan yang digendong pak bos tadi ya?


Ah! Iya! Mungkin wanita yang digendong pak bos tadi,


Aduhh bener bener cari mati tuh orang!!


Melihat wajah pucat pasi wanita itu membuat Ardo tersenyum miring. Walau hanya tersenyum miring namun itu adalah hal langka bagi karyawan yang melihatnya, kaum hawa pun di buat dag dig dug dibuatnya. Tetapi tidak bagi ketiga wanita tadi, mereka melihat wajah Ardo itu bagai malaikat pencabut nyawa yang dikelilingi aura kegelapan.


"Apa yang akan terjadi jika salah satu karyawan melanggar hal tersebut?"

__ADS_1


"Dipecat secara tidak hormat dan tidak mendapat akses melamar di perusahan lain!"


"Ada lagi?"


"Tidak mendapat pesangon tapi mengganti gaji yang telah diberikan padanya,"


"Bagus," ucapnya. "Sekarang saatnya kalian mengetahui siapa istri saya,"


Sekretaris Ardo mengangguk hormat ketika Ardo memberikan isyarat padanya.


Tak lama kemudian munculah Viola dengan dress sederhana yang membuat auranya semakin menawan.


Viola menggerutu tak jelas dengan wajah yang ditekuk. Oh jangan lupakan kaki Viola yang pincang. Bagaimana Viola enggak kesal dengan Ardo, saat Viola keluar dari kamar mandi Ardo sudah tidak ada. Ardo hanya meninggalkan note kecil yang mengharuskan Viola menggunakan dress ini.


Wajah kesal Viola membuat Ardo ingin tertawa. Tapi tidak mungkin kan seorang Ardo tertawa di depan orang banyak?


"Apa sih? Udah tau kaki aku sakit eh malah ditinggal lagi! Tau gak? Aku hampirโ€”" ucapan Viola terpotong saat Viola melihat beribu pasang mata memperhatikan mereka.


Dan saat itulah Viola terkejut bukan main saat menyadari ada pertemuan di sini.


"Perkenalkan istri saya, Viola Ardelia Vazquez." Semua orang terkejut tak terkecuali Emi yang tadi pagi memesankan Viola agar tidak mendekati Ardo. Tapi bagaimana jika istri tidak mendekati suaminya?


Viola yang terkejut itu hanya bisa terdiam.


Kok ada kupu-kupu ya diperut gue? Plis tahan gue, gue mau terbang!


Oh! Jangan lupakan lagi wajah ketiga wanita yang membully Viola itu semakin pucat pasi saat Ardo memperkenalkan Viola sebagai istrinya. Darah yang mengalir pada tubuh mereka pun rasanya tidak mengalir lagi.


"... perlakukan istri saya layaknya manusia pada umumnya, terima kasih."


"Surat pemecatan sudah sampai di meja kalian, angkat kaki sekarang atau satpam yang menyeret kalian? Saya tidak suka ada bakteri di kantor ini!" Mereka langsung pingsan seketika mendengar ucapan Ardo, gelandangan lah akhirnya mereka.


Ardo merengkuh pinggang Viola. Viola yang baru tersadar tersebut hanya tersenyum malu malu melihat perlakuan Ardo, juga jangan dilupakan lagi pipi gadis itu yang sudah memerah. Sialan! Viola kok Viola jadi bucin gini!


Baru pengakuan istri aja Viola udah mau terbang, apalagi pengakuan cinta?


***


(Nihhh saya update lagi๐Ÿ™„ makanya komentar yang banyak dongg, sama jempolnya juga. Biar saya tambah semangat lagi nulisnyaaa ehe, tau nggak komentar kalian itu bikin saya pengen publis mulu, makanya komentar jangan lupa. Aduh apa sih saya ngomongnya kebalik-balik๐Ÿ˜‚ jadi intinya komen sama jempolnya jngn lupa๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜Š)


(Selamat malam sayangsayangnyaaaa acuhhhh๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜ #nggak tau nyampe ke kalian malem atau pagi, yang penting saya publis nya malem ehe)


(Oh iya, HABEDE BUAT ICHING OPPA๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐ŸŽ‰๐ŸŽ‰๐ŸŽ‰)

__ADS_1


__ADS_2